Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tokoh Itu Rian
Salah satu sosok yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok tersebut menoleh dan melihat ke arah mereka dengan senyum yang jahat. “Ah, akhirnya kamu datang, Dinda,” ujarnya dengan suara yang mengenal. “Kita sudah menunggu kamu. Kekuatan yang ada di dalam dirimu adalah kunci untuk membuka pintu akses penuh ke kekuatan primordial. Bersama-sama kita bisa menguasai dunia dengan kekuatan yang tak terbatas!”
Dinda merasa terkejut ketika sosok tersebut melepas topinya dan mengungkapkan wajahnya – ia adalah Rian, seorang pemuda desa yang pergi dari desa beberapa tahun yang lalu dan dianggap hilang. “Rian? Kok kamu bisa melakukan hal seperti ini?” tanya Dinda dengan suara yang penuh dengan kekaguman dan kesedihan.
“Kamu tidak mengerti, Dinda,” jawab Rian dengan suara yang penuh dengan amarah. “Saya juga memiliki bakat untuk merasakan kekuatan alamiah, tetapi Ki Ageng tidak pernah memberi saya kesempatan untuk mengembangkannya. Dia selalu mengatakan bahwa saya belum siap, bahwa hati saya masih penuh dengan keserakahan dan keinginan untuk kekuasaan. Tetapi sekarang saya sudah menemukan cara untuk mendapatkan kekuatan itu dengan sendirinya!”
“Kamu salah besar, Rian,” ujar Ki Ageng dengan suara yang penuh dengan kasih sayang. “Saya tidak melarangmu karena tidak percaya pada kemampuanmu, melainkan karena saya khawatir kamu akan tersesat seperti sekarang ini. Kekuatan alamiah bukanlah sesuatu yang bisa diambil atau dikuasai dengan paksa. Ia harus diterima dengan hati yang bersih dan niat yang benar.”
Tetapi Rian tidak mau mendengarkan nasihat Ki Ageng. Ia mengangkat tangannya dan memberikan perintah kepada orang-orang di sekelilingnya untuk mengaktifkan alat tersebut dengan kekuatan penuh. Energi berwarna ungu tua semakin kuat dan mulai menarik kekuatan alamiah dari dalam tanah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tanah mulai bergoyang dan pepohonan mulai goyah seolah-olah akan roboh kapan saja.
“Kita harus bertindak sekarang, Dinda!” teriak Bara sambil mulai mengatur sistem teknologi yang dibawanya untuk membantu menstabilkan energi yang tidak terkendali. “Saya akan mencoba mengganggu sistem kontrol alat tersebut dari sini, sementara kamu harus menggunakan kekuatanmu untuk menutup pintu akses yang telah dibuka!”
Dinda mengangguk dan mulai menghadapkan diri ke arah sumber air suci. Ia merasakan keberadaan Barong dan Rangda di dalam dirinya mulai muncul dengan kuat, seolah-olah mereka juga merasakan bahaya yang sedang mengancam. Pola cahaya pada tubuhnya mulai muncul dengan jelas, bergantian antara warna emas keemasan Barong dan merah pekat Rangda.
“Barong… Rangda… kita harus bekerja sama lagi,” bisik Dinda dengan suara yang penuh dengan kekuatan. “Kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kekuatan sejati bukanlah untuk menguasai, melainkan untuk melindungi dan menjaga keseimbangan.”
Seperti merespon panggilannya, sosok besar Barong dan Rangda muncul dari belakang Dinda dengan bentuk yang lebih jelas dan kuat daripada sebelumnya. Barong mengeluarkan suara mengaum yang kuat namun penuh dengan kasih sayang, sementara Rangda mengeluarkan suara merintih yang penuh dengan keberanian dan ketegasan.
Di sekitar Dinda, seluruh masyarakat desa mulai berkumpul membentuk lingkaran. Wanita desa menyanyikan lagu-lagu rakyat dengan suara yang penuh dengan kekuatan, sementara para pria desa mengangkat senjata tradisional mereka ke arah langit sebagai simbol dukungan dan perlindungan. Anak-anak desa yang memiliki bakat khusus mulai merasakan energi alamiah dan mengalirkannya ke arah Dinda untuk memberikan dukungan tambahan.
“Kita semua denganmu, Dinda!” teriak seluruh masyarakat desa dengan suara yang menyatu menjadi satu.
Dinda merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir melalui dirinya – bukan hanya kekuatan dari dalam dirinya sendiri, tetapi juga kekuatan dari seluruh masyarakat desa yang percaya padanya. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah langit dan mulai mengirimkan energi tersebut ke arah sumber air suci dan alat yang digunakan oleh Rian serta kelompoknya.
Energi berwarna emas dan merah dari Dinda bertemu dengan energi berwarna ungu tua dari alat tersebut, menciptakan percikan cahaya yang sangat terang. Tanah bergoyang lebih kuat dan suara gemuruh terdengar dari dalam tanah seolah-olah Gunung Lawu sendiri sedang bereaksi terhadap pertempuran kekuatan yang terjadi.
“Saya tidak akan menyerah!” teriak Rian dengan suara yang penuh dengan kemarahan saat ia mencoba untuk mengendalikan alat tersebut dengan kekuatan penuh. Namun ia tidak menyadari bahwa alat tersebut telah mulai menyerap energi negatif darinya dan mulai keluar dari kendali.
“Rian, berhentilah sebelum terlambat!” panggil Dinda dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Kamu masih punya waktu untuk kembali ke jalan yang benar. Kita masih bisa membantu kamu!”
Tetapi sebelum Rian bisa merespons, alat tersebut tiba-tiba meledak dengan suara yang sangat keras, melemparkan Rian dan orang-orang di sekelilingnya ke berbagai arah. Energi yang keluar dari ledakan mulai menyebar ke segala arah dan mengancam untuk merusak seluruh wilayah sekitarnya.
Tanpa berpikir dua kali, Dinda menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengumpulkan energi yang menyebar tersebut. Barong dan Rangda membantu mengarahkan energi tersebut agar tidak menyentuh masyarakat desa atau merusak alam sekitar. Setelah beberapa saat yang tampak seperti selamanya, energi tersebut akhirnya terkendali dan mulai kembali ke dalam tanah dengan sendirinya.
Ketika debu akhirnya hilang dan tanah kembali stabil, Dinda merasa sangat lelah dan hampir jatuh ke tanah jika tidak ditopang oleh Bara. Mereka melihat ke arah tempat Rian dan kelompoknya berada dan menemukan bahwa Rian sedang terlentang di tanah dengan wajah yang penuh dengan keterkejutan dan kesedihan. Orang-orang di sekelilingnya telah kabur meninggalkannya sendirian.
Dinda berjalan dengan langkah yang goyah ke arah Rian dan jongkok di sebelahnya. “Rian,” ujarnya dengan suara yang lemah namun penuh dengan kasih sayang. “Kamu tidak sendirian. Kita semua masih siap membantu kamu untuk kembali ke jalan yang benar.”
Rian melihat ke arah Dinda dengan mata yang penuh dengan air mata. “Aku sudah melakukan hal yang sangat salah, Dinda,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Aku berpikir bahwa kekuatan adalah segalanya, tetapi aku salah besar. Aku hanya ingin diterima dan dianggap penting oleh semua orang.”
“Kamu selalu diterima di desa ini, Rian,” ujar Ki Ageng yang telah mendekati mereka bersama dengan masyarakat desa. “Kesalahan yang kamu lakukan bukanlah akhir dari segalanya. Yang terpenting adalah kamu bersedia untuk belajar dari kesalahan itu dan berubah menjadi orang yang lebih baik. Desa akan selalu terbuka untukmu dan siap membantu kamu mengembangkan bakatmu dengan cara yang benar.”
Rian menangis dengan terisak-isak saat ia mendengar kata-kata Ki Ageng. Ia akhirnya menyadari bahwa kesalahannya telah hampir merusak desa dan kekuatan alamiah yang ia cintai. Ia mengangguk dengan lembut dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat desa atas apa yang telah dilakukannya.
Setelah kejadian itu, mereka semua kembali ke desa dengan hati yang penuh dengan rasa lega namun juga kesedihan. Rian diterima kembali ke desa dan mulai menjalani proses pemulihan serta pembelajaran untuk mengembangkan bakatnya dengan cara yang benar dan penuh dengan rasa tanggung jawab.
Beberapa hari kemudian, ketika suasana di desa mulai kembali normal dan energi alamiah mulai pulih dengan sendirinya, Dinda dan Bara berdiri di tepi sumber air suci yang telah kembali jernih dan tenang. Matahari mulai terbit dari balik Gunung Lawu, menyinari alam sekitar dengan warna-warni yang indah.
“Kita memang berhasil menghadapi bahaya kali ini, tetapi aku merasa bahwa ini bukanlah yang terakhir, Bara,” ujar Dinda dengan suara yang penuh dengan pemikiran. “Ada banyak orang di dunia yang masih mengira bahwa kekuatan alamiah bisa digunakan untuk kepentingan pribadi atau untuk menguasai orang lain.”
“Iya, kamu benar, Dinda,” jawab Bara dengan suara yang serius. “Itulah mengapa kita tidak bisa berhenti bekerja keras. Kita harus terus mengajarkan kepada orang lain tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam dan menggunakan kekuatan dengan cara yang benar.”
“Kita akan kembali ke Jakarta nanti, bukan?” tanya Dinda sambil melihat ke arah Bara.
“Ya, kita akan kembali,” jawab Bara dengan senyum lembut. “Kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan di sana. Tetapi sekarang aku tahu bahwa kita selalu bisa kembali ke desa ini untuk menyegarkan diri dan mengingat akar kekuatan kita. Desa ini akan selalu menjadi rumah bagi kita.”
Dinda tersenyum dan mengangguk. Ia merasakan bahwa hubungan dirinya dengan kekuatan alamiah semakin kuat setelah kejadian kali ini. Ia juga merasa bahwa tanggung jawabnya sebagai pelindung kekuatan primordial semakin jelas – tidak hanya untuk melindungi kekuatan itu dari yang tidak berhak, tetapi juga untuk mengajarkan kepada orang lain tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan hidup berdampingan dengan dunia sekitar mereka.
Di kejauhan, mereka melihat anak-anak desa sedang bermain riang di sekitar sumber air suci, termasuk Siti dan Rama yang kini semakin mahir dalam merasakan energi alamiah. Rian juga ada di sana, membantu mengawasi anak-anak dan belajar bersama mereka tentang cara merawat alam dengan benar.
“Masa depan kita memang masih penuh dengan tantangan, tetapi aku merasa yakin bahwa kita akan bisa menghadapinya dengan baik,” ujar Dinda dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Kita memiliki desa, kita memiliki teman-teman, dan kita memiliki tujuan yang jelas – untuk melindungi dunia ini dan memastikan bahwa keseimbangan alam selalu terjaga. Itulah makna sebenarnya dari kekuatan yang kita miliki.”
Bara mengangguk menyetujui dan melihat ke arah Gunung Lawu yang megah dan gagah berdiri di kejauhan. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan akan ada banyak rintangan yang harus dihadapi. Namun dengan dukungan satu sama lain dan dengan akar kekuatan yang kuat dari desa, ia yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala tantangan yang datang dan membangun masa depan yang lebih baik bagi semua orang.