Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Jalan Pintas di Dunia Digital
Sakit hati yang teramat mendalam benar-benar merusak fungsi tubuh Bagus. Pemuda itu tidak bisa memejamkan mata sama sekali selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata di atas kasur lantai kamarnya yang tipis, suara tawa merendahkan milik Sri dan bayangan kotak merah yang melayang ke dalam tempat sampah basah selalu kembali hadir meneror pikirannya.
Di dalam kamar kosnya yang sempit, pengap, dan hanya diterangi oleh lampu neon lima watt yang berkedip-kedip redup, Bagus terus-menerus memandangi layar ponselnya. Jempolnya berulang kali menyegarkan halaman akun Instagram Sri. Hasilnya tetap sama. Profil gadis itu kini terkunci, dan nomor WhatsApp Bagus pun sudah resmi diblokir dengan tanda centang satu abu-abu.
Rasa cinta yang awalnya begitu besar dan tulus, kini telah mengalami metamorfosis yang mengerikan. Perasaan itu bercampur aduk dengan ambisi gelap yang meledak-ledak untuk membuktikan diri. Dada Bagus bergemuruh hebat setiap kali mengingat kalimat Sri tentang kasta dan level sosial mereka yang berbeda jauh. Bagus tidak terima. Ia ingin membalikkan keadaan. Ia ingin Sri suatu hari nanti datang merangkak, berlutut di lantai kamarnya yang kotor, menyesali setiap kata makian yang pernah diucapkannya, dan melihat dirinya sebagai satu-satunya pria yang paling berharga di dunia ini.
Bermodal rasa penasaran yang dipicu oleh keputusasaan, Bagus mulai berselancar di internet menggunakan sisa kuota datanya. Dengan memanfaatkan jaringan seluler yang tidak seberapa, ia menembus sisi-sisi gelap dunia maya. Bagus sengaja melewati situs-situs berita umum dan langsung masuk ke dalam sebuah forum diskusi supranatural tersembunyi yang berbasis di luar negeri. Di sana, di balik akun-akun anonim, Bagus mulai mencari tahu segala hal tentang ilmu pengasihan, pemikat, dan penakluk hati.
Bagus sebenarnya masih memiliki sisa hati nurani. Ia sengaja mengabaikan sub-forum ilmu hitam ekstrem yang menawarkan jasa santet, teluh, atau pesugihan nyawa. Bagus tidak memiliki niat sedikitpun untuk mencelakai fisik Sri atau membuatnya gila. Pemuda itu hanya mencari jenis ilmu pengasihan yang paling ampuh, paling instan, dan paling sakti di nusantara, agar Sri bisa jatuh cinta setengah mati dan terkunci hatinya hanya untuk Bagus seorang.
Dari ratusan utas diskusi yang ia baca hingga larut malam, satu nama terus-menerus muncul sebagai rekomendasi teratas di kolom komentar para sesepuh forum. Nama itu adalah "Aji Jaran Goyang"—sebuah ilmu pelet kuno dari zaman kerajaan yang konon memiliki daya pikat paling agresif dan paling kuat yang pernah tercipta di tanah Jawa. Siapa pun target yang terkena ajian ini, jiwanya akan langsung terikat mati.
Niat Bagus sudah bulat. Melalui fitur pesan pribadi dan bantuan perantara dari seorang admin forum yang menggunakan nama samaran misterius, Bagus akhirnya berhasil mendapatkan apa yang ia cari. Sang admin memberikan sebuah nomor kontak pribadi serta sebuah tautan titik koordinat GPS yang mengarah ke sebuah rumah tua di pinggiran kota yang sepi dan jauh dari pemukiman padat. Rumah itu adalah tempat tinggal seorang praktisi spiritual yang dikenal dengan sebutan Ki Demang.
Keesokan harinya, tanpa mempedulikan orderan ojek online yang masuk ke ponselnya, Bagus langsung tancap gas mendatangi lokasi tersebut. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam membelah jalanan berbatu dan rimbunan pohon bambu, Bagus tiba di depan sebuah rumah Joglo tua berdinding kayu jati kuno.
Di dalam ruangan tengah yang remang-remang dan berbau wewangian aromaterapi mewah bercampur asap dupa yang tipis, Ki Demang sudah duduk bersila. Pria paruh baya berambut panjang itu menatap tajam ke arah mata Bagus, seolah-olah bisa membaca seluruh beban penderitaan dan dendam yang sedang bergolak di dalam kepala pemuda itu.
"Kamu ingin wanita itu kembali bertekuk lutut di hadapanmu, kan?" tanya Ki Demang dengan nada suara yang sangat tenang namun berwibawa, memecah keheningan ruangan.
Bagus tersentak, lalu mengangguk cepat tanpa ragu. "Iya, Ki. Saya butuh bantuan Anda."
Ki Demang tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan. "Jaran Goyang ini bukan mainan, Anak Muda. Ini adalah ilmu lama yang sangat sakti dan agresif. Begitu energinya berhasil menembus pagar gaib tubuhnya, jiwa wanita itu akan terus-menerus dibayangi oleh wujudmu. Pikirannya akan terikat. Dia tidak akan pernah bisa tidur nyenyak sebelum mendengar suaramu atau menatap matamu langsung."
Bagus menelan ludahnya sendiri yang terasa kering di tenggorokan. Ada rasa nyeri yang sempat terlintas di hatinya, namun bayangan wajah sombong Sri langsung menghapus rasa takut itu dalam sekejap. "Ilmu ini amankan, Ki? Saya tidak mau dia celaka secara fisik atau sampai gila. Saya cuma mau dia sadar, menyesal, dan mencintai saya melebihi apa pun."
"Semuanya akan aman, asalkan kamu kuat menjalani semua proses dan syarat-syarat yang saya berikan," jawab Ki Demang sambil mengulurkan tangannya.
Di atas telapak tangan Ki Demang, terdapat botol kecil minyak mistis berwarna kekuningan yang kental, bersama secarik kertas merang tua berisi guratan mantra kuno bertuliskan aksara Jawa. Ki Demang mendekatkan wajahnya ke arah Bagus, memberikan peringatan terakhir dengan tatapan mata yang mengunci saraf. "Malam Selasa Kliwon besok, tepat saat tengah malam, ritual pertamamu harus sudah kamu mulai. Jangan ada satupun tata cara yang bolong jika kamu tidak mau energinya berbalik menghancurkan pikiranmu sendiri."
“Cinta yang ditolak dengan kejam sering kali melahirkan kegelapan yang paling pekat. Ketika ketulusan dianggap sampah, jangan salahkan jika jalan terkutuk diambil demi sebuah pembalasan. Bijaklah dalam mengambil dan menentukan keputusan”
— Sang Alifas Yang Merumput