Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Malam yang sedari awal sudah dingin mendadak terasa seperti dikepung oleh radiasi kegilaan tingkat tinggi.
Jarak di antara wajah mereka yang hanya tersisa sekian belas sentimeter membuat Scarlett bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kilat jenaka di dalam sepasang mata heterochromia Millian Vale-Knight berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menantang.
Alih-alih gentar atau terkejut mendengar ancaman brutal Scarlett yang berniat menggigit lidahnya sampai putus, Millian justru menaikkan sebelah alis tebalnya.
Pria itu perlahan menggerakkan kepalanya, sedikit mendongak ke atas untuk semakin memangkas jarak yang tersisa di antara mereka.
Sebuah seringai tipis, angkuh, dan luar biasa menyebalkan terukir sempurna di bibirnya.
"Oh, ya?" bisik Millian dengan suara baritonnya yang serak khas orang yang terjaga di tengah malam.
"Aku malah mendadak penasaran... bagaimana rasanya jika lidahku digigit olehmu? Apa rasanya akan semenarik bualanmu di depan pintu bus siang tadi? Mau mencobanya sekarang, Nona?"
Mendengar tantangan yang begitu tidak tahu malu dan penuh percaya diri dari sang pangeran Bel Air, Scarlett merasakan seluruh sistem di otaknya seakan berteriak histeris.
Pria ini benar-benar tidak punya urat malu!
Namun, bukan Scarlett Langford namanya jika ia langsung tersipu malu seperti gadis-gadis borjuis di drama murahan yang biasa Millian temui.
Alih-alih mundur dengan wajah memerah layaknya kepiting rebus, Scarlett justru memundurkan tubuhnya tegak lurus, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose paling sinis yang bisa ia tunjukkan.
"Ha-ha-ha!"
Scarlett mengeluarkan tawa kering yang sengaja dibuat terdengar sangat jahat, sarkastis, dan penuh cemoohan, menggema pelan di antara kesunyian hutan pinus.
"Dalam mimpimu, Vale-Knight! Kau benar-benar berandal mesum sialan yang tingkat kepercayaan dirinya sudah melampaui batas atmosfer bumi," cibir Scarlett dengan tatapan menghina yang dibuat sejelas mungkin. Ia memutar bola matanya dengan dramatis sebelum melanjutkan, "Aku benar-benar menyesal setengah mati berjalan ke arah sini. Tahu begitu, seandainya kau pingsan atau membeku jadi es di depan bara api ini pun, aku akan memilih untuk menendang tubuhmu ke dalam semak-semak!"
Setelah menumpahkan seluruh kekesalan dan kejengkelannya dalam satu tarikan napas, Scarlett berbalik dengan cepat.
Jaket hijau botolnya mengibas angin malam saat ia mulai menghentakkan kakinya, melangkah lebar-lebar menuju area barisan tenda wanita.
Di dalam benaknya, ia mengutuk dirinya sendiri karena telah bersikap sok tahu dan peduli pada seonggok manusia yang ternyata adalah titisan iblis berwajah malaikat.
Namun, baru saja kakinya melangkah sebanyak tiga kali, suara bariton Millian yang sarat akan nada kemenangan kembali merambat membelah udara malam, menghentikan langkah kaki Scarlett secara instan.
"Hei, Nona Pelayan Gila," panggil Millian, suaranya terdengar sangat santai seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah taruhan besar.
"Jangan lupa untuk memimpikan aku di sisa tidurmu malam ini. Siapa tahu di dalam mimpi, kau tidak seketus ini."
Deg! Deg! Deg!
Langkah kaki Scarlett terkunci mati di atas tanah berumput.
Jantungnya mendadak berdentum tiga kali lebih cepat, menciptakan sensasi hantaman tak kasatmata yang membuat seluruh bulu kuduknya meremang.
Wajahnya yang semula sudah mulai mendingin karena terpaan angin gunung, dalam satu detik langsung menghangat kembali hingga ke ujung telinganya.
Di dalam hatinya, Scarlett berteriak dengan sangat frustrasi, Terlambat, Sialan! Aku bahkan sudah memimpikanmu tidur bersama di atas ranjang sutra beberapa menit yang lalu sebelum aku terbangun dengan napas ngos-ngosan!.
Tentu saja, kalimat pengakuan yang super memalukan itu hanya berani ia teriakkan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Scarlett mengepalkan kedua tangannya erat-erat di dalam saku jaket, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak berbalik dan melemparkan sepatu taktisnya tepat ke arah wajah tampan Millian yang saat ini pasti sedang tersenyum puas di belakang sana.
°°°°°°
Dengan sisa-sisa harga diri dan taring kepercayaan diri yang mencoba ia pertahankan, Scarlett menolak untuk berbalik atau memberikan respons vokal apa pun.
Ia sengaja mempercepat langkah kakinya, nyaris menyerupai setengah berlari, menerobos kegelapan menuju tenda kelompok B-4 dengan hati yang menggerutu tanpa henti.
Sialan. Bajingan bermata aneh. Berandal mesum. Semoga besok pagi dia benar-benar tersedak air mineral saat sarapan! umpat Scarlett dalam hati, mengabsen seluruh kosakata makian yang ia ketahui selama ia merangkak masuk kembali ke dalam tendanya.
Ia membuka ritsleting pintu tenda dengan sedikit sentakan emosi, lalu menutupnya kembali dengan kecepatan tinggi hingga menimbulkan suara gesekan kain parasut yang cukup kentara.
"Uh? Scarlett...?" sebuah suara serak dan bergumam khas orang mengantuk mendadak terdengar dari sudut tenda.
Delaney rupanya sedikit terbangun akibat suara ritsleting yang ditarik kasar oleh Scarlett.
Gadis pirang itu mengucek matanya yang masih setengah terpejam, mencoba memfokuskan pandangan di dalam keremangan tenda.
"Kau... dari mana? Kenapa wajahmu terlihat seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran beruang kutub?"
Scarlett yang sedang berusaha merangkak masuk ke dalam sleeping bag-nya dengan gerakan gusar langsung menegang sesaat. Ia berdeham kecil, mencoba mengatur intonasi suaranya agar terdengar senormal mungkin.
"Bukan apa-apa, Delaney. Aku hanya... baru saja dari toilet luar. Udara di luar sangat dingin, makanya aku sedikit terburu-buru."
Delaney mengangguk-angguk dengan gerakan lambat, otaknya yang masih dipenuhi kantuk tidak mampu memproses kebohongan Scarlett dengan jeli.
"Oh... kupikir kau habis bertemu dengan hantu penampakan yang diceritakan Kak Abner tadi..." gumam Delaney lirih, sebelum tubuhnya kembali ambruk ke atas matras dan dalam hitungan detik, suara dengkur halusnya kembali terdengar memenuhi ruangan.
Scarlett mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia memposisikan tubuhnya telentang, menatap langit-langit tenda dengan mata yang kini sepenuhnya segar benderang.
Sisa-sisa dialog gila dengan Millian di depan api unggun tadi terus berputar di otaknya bagaikan kaset rusak.
"Awas saja kau besok, Millian Vale-Knight. Aku Akan membalas mu besok pagi," bisik Scarlett penuh dendam pada kegelapan, sebelum ia memaksa memejamkan matanya, berdoa dengan sungguh-sungguh agar di sisa tidurnya kali ini, yang muncul di dalam mimpinya adalah karakter kartun Doraemon yang asli, bukannya Doraemon versi berandal mesum berwajah tampan itu.
*. *. *
Sementara itu, di luar sana, di depan sisa bara api unggun yang kian meredup, Millian Vale-Knight masih setia mempertahankan posisi telentangnya.
Namun, jika ada orang yang melihatnya saat ini, mereka pasti akan mengira sang pangeran Bel Air telah tertular kegilaan Scarlett.
Pria itu mendadak menutupi wajahnya sendiri dengan sebelah lengan kekarnya, sementara bahu tegapnya tampak bergetar pelan. Millian sedang tertawa.
Sebuah tawa tanpa suara yang sangat lebar, menertawakan bagaimana reaksi luar biasa menggemaskan sekaligus galak dari gadis beasiswa yang baru saja melarikan diri dari hadapannya.
Mengingat bagaimana mata indah Scarlett berkilat penuh dendam, dan bagaimana bibir mungilnya meracaukan makian "bajingan mesum" dengan begitu berani, membuat sisa-sisa rasa kantuk Millian lenyap sepenuhnya.
Di dalam dadanya, debaran aneh yang sempat singgah karena pengakuan virgin Scarlett tadi kini berubah menjadi sebuah rasa ketertarikan yang sangat Candu.
"Menggigit lidahku sampai putus, huh?" gumam Millian pada langit malam, sudut bibirnya menolak untuk turun dari senyuman sinisnya yang kini terasa jauh lebih hangat.
"Kita lihat saja besok pagi, Scarlett Langford. Siapa yang akan menggigit siapa terlebih dahulu di bawah terik matahari."
Malam itu, di bawah perlindungan pohon-pohon pinus yang menjadi saksi bisu, dua orang manusia dengan tingkat ego dan kepercayaan diri yang sama-sama setinggi langit, tertidur dengan memikirkan satu sama lain dalam kombinasi rasa jengkel dan ketertarikan yang luar biasa berbahaya bagi kelangsungan perkemahan hari esok.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣