Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 26
Setibanya di ruang medis markas, langkah Praka Dadang dan Rahma terhenti di depan sebuah pintu kayu jati. Tepat pada saat itu, seorang pria bertubuh tegap dengan seragam dinas harian TNI Angkatan Darat plus jas putih dokter baru saja tiba dan hendak membuka pintu ruangannya. Pria itu adalah Mayor Adnan, sang dokter militer yang usianya tampaknya tidak berbeda jauh dengan Kapten Sakti.
Rahma pun segera menyapa dengan sopan. "Selamat pagi, Dokter," ucapnya lembut.
Mayor Adnan menoleh. Saat tatapan matanya jatuh pada wajah Rahma, sang Mayor sempat tertegun beberapa detik. Keningnya berkerut, merasa tidak asing dengan wajah wanita di hadapannya. Begitu pula dengan Rahma yang merasa memori otaknya sedang berputar mengenali sosok di depannya.
"Rasanya saya pernah bertemu dengan Anda..." Mayor Adnan menggantungkan kalimatnya, mencoba mengingat. "Ah! Kalau tidak salah di Universitas Padjadjaran. Kamu... mahasiswi bimbingannya Profesor Asha, kan?"
Mata Rahma seketika berbinar cerah. "Wah, betul sekali, Dokter! Rasanya saya juga pernah melihat Dokter saat Dokter bertamu ke ruangan Profesor Asha di kampus!" ujarnya sumringah.
Akhirnya, keduanya pun saling melempar senyum dan bertukar sapa dengan akrab. Rupanya, di balik statusnya sebagai dokter militer yang disegani, Mayor Adnan diam-diam sedang gencar mengincar Profesor Asha, seorang profesor muda berparas cantik di kampus Rahma yang memang menjadi idaman banyak pria.
Praka Dadang yang masih berdiri di samping mereka hanya bisa melongo. Ia sempat memperhatikan keakraban Rahma dengan sang Mayor yang selama ini terkenal sangat dingin dan kaku jika berhadapan dengan orang asing. Merasa kehadirannya sudah tidak diperlukan lagi, Praka Dadang langsung mengambil posisi siap.
"Siap, mohon izin, Mayor Adnan, Bu Komandan, saya izin undur pamit kembali ke pos penjagaan," ujar Dadang memberi hormat tegas, yang langsung diangguki oleh Mayor Adnan. Dadang pun melangkah pergi, meninggalkan istri komandannya bersama sang dokter militer.
Setelah Praka Dadang pergi, Rahma langsung mengubah raut wajahnya menjadi serius. Ia mulai menjelaskan maksud kedatangannya. "Dokter Adnan, sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin meminta bantuan. Suami saya, Kak Sakti, saat ini sedang sakit di rumah dinas. Badannya demam tinggi, menggigil, dan lemas sekali sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur."
Mendengar penjelasan Rahma, Mayor Adnan spontan membelalakkan matanya, terkejut bukan main.
"Hah? Kapten Sakti bisa sakit juga?" ucap Mayor Adnan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Rahma yang mendengar respons spontan itu sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya tersenyum geli. Rupanya, reaksi Mayor Adnan sama persis dengan pikirannya tadi pagi, menganggap Kapten Sakti seperti manusia robot yang kebal terhadap penyakit.
Mayor Adnan terkekeh pelan melihat Rahma tersenyum. "Maaf ya, Rahma. Saya juga mau minta maaf karena waktu hari pernikahan kalian kemarin saya tidak bisa hadir. Ada urusan keluarga mendesak di luar kota yang tidak bisa ditunda," ujarnya tulus. "Ya sudah, kalau begitu mari kita langsung ke rumah dinas kalian. Saya ambil tas medis dulu."
Tak butuh waktu lama, Mayor Adnan sudah keluar dengan tas peralatan medisnya. Namun, saat mereka tiba di parkiran dan sang Mayor melihat Rahma berjalan santai menuju motor Kawasaki Ninja 250R hitam milik Sakti, ia kembali dibuat terkejut.
Mayor Adnan memperhatikan bagaimana Rahma dengan luwes memasang helm dan menaiki motor sport berkapasitas mesin besar itu.
'Wah, luar biasa memang istrinya Kapten Sakti. Di balik wajah polosnya, ternyata dia terlihat garang juga seperti suaminya!' batin Mayor Adnan kagum dalam hati.
"Dokter Adnan, saya duluan di depan ya, biar Dokter bisa mengikuti saya dari belakang," ujar Rahma dari balik kaca helmnya.
"Oh, iya, silakan, Rahma. Jalannya pelan-pelan saja," sahut Mayor Adnan yang segera masuk ke dalam mobil dinasnya.
Mesin motor sport itu kembali menderu, memimpin jalan di depan mobil Mayor Adnan, membelah jalanan asrama menuju rumah dinas untuk segera menyelamatkan sang Singa Lapangan yang kini tengah terbaring tak berdaya.
*
*
Sekitar sepuluh menit kemudian, deru mesin motor Kawasaki Ninja dan mobil dinas Mayor Adnan akhirnya berhenti tepat di pekarangan rumah dinas Sakti. Rahma dengan gesit menurunkan standar motor, melepas helmnya, dan bergegas melangkah masuk ke dalam rumah yang kemudian disusul oleh Mayor Adnan dari belakang.
Rahma langsung membuka pintu kamar utama, menuntun sang dokter militer untuk menemui suaminya. Kemunculan Mayor Adnan bersama dengan Rahma yang tampak begitu kompak sontak membuat Sakti yang sedang berbaring lemas sedikit terkejut. Ia berusaha menegakkan punggungnya meski kepalanya masih terasa sangat berat.
"Mayor Adnan...!" ucap Sakti pelan, suaranya terdengar parau dan serak.
"Ya ampun, komandan galak kita akhirnya tumbang juga. Baru beberapa hari jadi pengantin baru, sudah langsung KO!" seloroh Mayor Adnan dengan senyuman geli yang mengembang lebar di wajahnya, menatap sang komandan lapangan yang biasanya garang kini benar-benar tak berdaya di atas kasur.
Sakti yang mendengar ejekan terstruktur itu seketika menatap tajam dengan raut wajah geram.
'Diam kau, Mayor sialan! Kalau aku tidak sedang sakit begini, sudah kusumpal mulut tengil mu itu dengan sepatu lars!' batin Sakti luar biasa kesal, menahan diri agar tidak melempar bantal ke wajah rekannya itu.
Melihat kilatan emosi di mata Sakti, Mayor Adnan akhirnya menyudahi candaannya. Ia segera duduk di tepi ranjang dan mulai mengeluarkan stetoskop serta termometer dari dalam tas medisnya untuk memeriksa kondisi kesehatan Sakti secara menyeluruh.
Setelah beberapa menit memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, dan tekanan darah Sakti, Mayor Adnan mengemas kembali peralatannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Anda ini terlalu kelelahan dan kurang beristirahat, Kapten. Mentang-mentang jadi pengantin baru, semangat ngegas terus semalaman. Untung saja istrimu ini fisiknya masih kuat dan tidak ikut tumbang!" ujar Mayor Adnan asal ceplos tanpa filter, kembali menyiram bensin ke dalam api kekesalan Sakti.
Rahma yang berdiri di samping kasur seketika mematung dengan wajah yang mendadak memanas, sementara Sakti meremas ujung selimutnya menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
'Cih! Apa maksudnya si dokter tengil ini berbicara seperti itu? Memangnya aku lelah karena apa?! Sudah tahu seminggu sebelum pernikahan agenda latihan markas sedang padat-padatnya dan aku kurang istirahat. Mengada-ada saja!' keluh Sakti bergejolak dalam hati, merasa harga dirinya tercoreng di depan istrinya sendiri.
Setelah selesai mendiagnosis, Mayor Adnan mengeluarkan beberapa strip obat dan botol vitamin dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Rahma.
"Rahma, tolong ya nanti obat yang ini diminum tiga kali sehari sesudah makan. Diperhatikan dengan teratur, soalnya suamimu ini paling alergi dan keras kepala kalau disuruh minum obat!" ujar Mayor Adnan yang sudah hafal betul tabiat buruk Sakti selama di barak militer.
Rahma tersenyum tipis dan mengangguk paham. Memang sedari dulu, sejak zaman Rahma masih remaja, Sakti terkenal paling anti dan tidak suka meminum obat jika hanya sakit ringan.
"Baik, Dokter Adnan. Terima kasih banyak sebelumnya sudah mau datang ke sini," sahut Rahma tulus.
"Sama-sama. Jangan sungkan-sungkan ya, Rahma. Kalau kondisi kapten Sakti memburuk atau ada apa-apa, kamu bisa segera kabari saya langsung. Oh iya, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu sebentar saja di luar, boleh?" tanya Mayor Adnan ramah.
Mendengar ajakan tersebut, ditambah melihat keakraban Rahma dengan sang Mayor yang ia ketahui selama ini terkenal sangat dingin, kaku, dan cuek terhadap orang baru membuat dada Sakti mendadak terasa terbakar. Ia tidak terima melihat interaksi manis itu di depan matanya sendiri.
Di balik selimut tebalnya, tangan kekar Sakti diam-diam mengepal kuat. Matanya menatap punggung Mayor Adnan dan Rahma yang mulai berbalik arah dengan tatapan penuh selidik dan gelisah.
'Apa-apaan ini? Kenapa Rahma dan Mayor sialan itu bisa begitu akrab sampai panggil nama langsung? Apakah... apakah mereka sudah saling mengenal di luar sana sebelumnya tanpa sepengetahuanku?!' batin Sakti bergemuruh hebat, mendadak ada rasa tidak rela yang mencubit hatinya dengan kencang.
Bersambung...
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi