Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat pelindung
Sepanjang malam yang merayap dingin, Arkan sama sekali tidak membiarkan matanya terpejam. Pria itu tidak kembali ke kamar tamu yang kini menjadi kamarnya.
Ia memilih untuk tetap duduk termenung di atas sebuah sofa kecil di koridor lantai dua, menatap lurus ke arah pintu kamar tamu yang ditempati oleh Ayu dan Salsa. Pintu itu sengaja dibiarkan sedikit terbuka atas perintahnya, sebuah celah kecil yang memungkinkannya untuk tetap memantau sekaligus mendengar setiap pergerakan dan suara yang berasal dari dalam ruangan sana.
Di tengah keheningan malam yang mencekam, telinga Arkan yang tajam sayup-sayup bisa menangkap suara Salsa yang sedang bernyanyi dengan nada lirih dan sumbang.
Wanita itu masih saja menyanyikan lagu nina bobo yang sama, tiada henti menimang dan mencoba menidurkan bayi boneka plastik di dalam dekapannya. Namun, ada pemandangan lain yang jauh lebih meremukkan batin Arkan saat ia mengintip dari celah pintu.
Ayu dan Salsa memilih tidur di atas tikar tipis daripada ranjang yang lebar dan empuk. Meski sudah dibujuk, Salsa tetap tidak mau.
Ayu tampak berbaring dengan posisi miring tepat di belakang tubuh ibunya. Tangan mungil anak perempuan itu bergerak secara konstan, menepuk-nepuk pelan punggung Salsa untuk memberikan rasa aman agar sang ibu tidak lagi mengamuk atau meracau ketakutan.
Arkan meringis tertahan, meremas dadanya sendiri yang terasa didera rasa nyeri yang teramat luar biasa melihat pemandangan yang begitu tidak selaras tersebut.
Putrinya, darah dagingnya sendiri. Anak kandung yang terlahir dari sebuah malam kelam yang dulu tidak pernah ia inginkan kehadirannya, anak yang dulu ia tuduh sebagai benih sialan yang sengaja ditanam Salsa untuk menjebaknya, sekarang justru tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang sangat kuat. Jiwanya sekeras karang di tengah hantaman ombak samudra.
Di balik rasa perihnya, Arkan merasakan secercah rasa syukur yang teramat mendalam bergejolak di hatinya. Ayu terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang sangat sehat, fisik yang lengkap, dan tumbuh cerdas tanpa kekurangan suatu apa pun.
Padahal, jika mengingat kembali penjelasan medis dari Dokter Hendra mengenai kondisi Salsa yang dicekoki berbagai macam obat-obatan psikotropika dosis tinggi dalam jangka waktu yang lama, secara logika medis tentu saja sangat tidak memungkinkan bagi seorang janin untuk bisa tumbuh dengan begitu sehat dan selamat di dalam rahim yang diracuni zat kimia keras.
Namun, mukjizat itu nyata adanya bagi putri kecilnya. Janin Ayu justru tumbuh dengan begitu kuat dan tangguh di dalam rahim Salsa yang terluka.
Dialah satu-satunya makhluk hidup yang setia menemani dan menguatkan Salsa di dalam dinginnya sel kurungan rumah sakit jiwa itu. Gadis kecil itu tampaknya sudah belajar menjadi seorang pejuang sejati semenjak ia masih berupa embrio di dalam kandungan ibunya.
Arkan kini sangat yakin, Tuhan sengaja mengirimkan Ayu ke dunia ini sebagai sosok malaikat pelindung yang bertugas untuk menjaga sisa-sisa napas kehidupan Salsa.
Sementara dirinya sendiri? Arkan tersenyum getir di dalam kegelapan. Dirinya tidak lebih dari sosok iblis keji yang telah menghancurkan hidup mereka berdua, sumber dari segala mata air penderitaan yang melanda anak dan istrinya.
Arkan menarik napasnya dengan sangat dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa pengap. Rongga dadanya terus-menerus terasa sesak, seolah dihimpit oleh sebongkah batu besar yang bernama penyesalan dan rasa bersalah.
Di dalam keputusasaannya malam itu, Arkan bahkan sempat berpikir bahwa mati mungkin akan jauh lebih mudah daripada harus menanggung siksaan batin yang menguliti jiwanya setiap detik.
Namun, ia segera menepis pikiran egois itu. Jika dia memilih mati dan pergi dari dunia ini, lalu siapa yang akan menjaga Ayu dan Salsa?
Siapa yang memiliki kekuatan kekuasaan dan harta untuk menjamin keselamatan mereka dari ancaman Nabila?
Siapa yang akan bertanggung jawab penuh untuk memulihkan seluruh kerusakan yang telah dialami Salsa saat ini? Tidak, dia tidak boleh mati sebelum menebus seluruh dosanya.
"Aku bersumpah, Salsa... aku bersumpah demi sisa hidupku" Bisik Arkan dengan suara parau ke arah celah pintu yang terbuka, air matanya kembali meleleh membasahi pipi.
"Aku rela jika kamu harus membenciku seumur hidupmu. Aku rela jika kamu tidak akan pernah mau melihat wajahku lagi. Asalkan, aku bisa melindungimu dari orang-orang jahat, asalkan kamu bisa sembuh dan kembali tersenyum seperti dulu lagi"
Arkan mengepalkan kedua tangannya dengan tekad yang membakar.
"Apa pun, di dunia ini akan aku lakukan dan aku korbankan demi kesembuhanmu, Salsa. Dan ketika hari itu tiba, ketika kamu sudah sembuh dan kesadaranmu telah kembali utuh, hukumlah aku. Hukumlah aku sesuka hatimu. Cabut nyawaku jika itu bisa memuaskan amarahmu. Akan aku terima semua hukuman darimu dengan lapang dada tanpa pembelaan sedikit pun"
Pagi pun akhirnya menjelang, menggantikan kegelapan malam dengan berkas sinar matahari yang mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden jendela istana Ferdinan.
Di dalam kamar tamu, Salsa dan Ayu sudah kembali berada dalam kondisi yang rapi, bersih, dan beraroma wangi berkat bantuan penuh kesabaran dari Bi Inah dan Bi Sri yang datang sejak subuh membawa air hangat serta pakaian baru.
Arkan, yang hari ini telah menjadwalkan diri untuk mendatangi rumah sakit jiwa swasta tersebut demi memburu kebenaran dan mencari dalang penghancur Salsa, menyempatkan diri untuk melangkah ke depan kamar tamu.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam formalnya yang rapi, namun wajahnya tampak sangat pucat dengan kantung mata yang menghitam karena tidak tidur semalaman.
Arkan berniat untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, ingin menyapa atau sekadar melihat kondisi putrinya di pagi hari yang sudah cantik dengan baju barunya.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti total tepat di ambang pintu. Sebuah percakapan di dalam ruangan menahan tubuhnya agar tidak merusak momen tersebut.
"Ibu... Ibu, lihatlah! Sekarang Ayu punya baju baru yang sangat bagus! Warnanya merah muda, Ayu suka sekali Bu!"
Suara Ayu terdengar begitu ceria, memecah kesunyian pagi dengan binar kebahagiaan anak-anak yang polos. Bocah kecil itu tampak berdiri anggun di depan ibunya yang masih duduk bersandar di pojok lantai.
Ayu kemudian berputar-putar dengan riang, membuat gaun merah muda berbahan tile mewah yang ia kenakan mengembang dengan sangat indah bagai kelopak bunga yang mekar.
"Ayu cantik kan, Bu? Ibu suka tidak melihat Ayu memakai baju ini?" Tanya Ayu dengan mata yang berbinar-binar penuh harap, menatap wajah ibunya, meskipun pada akhirnya hanya kebisuan dan tatapan kosong yang ia dapatkan sebagai jawaban.
Salsa sama sekali tidak merespons pergerakan Ayu. Tatapan matanya tetap tumpul. Namun hal itu sama sekali tidak melunturkan senyuman di wajah manis Ayu. Anak itu justru berlutut, mendekati ibunya, lalu mengelus kain dress baru yang dikenakan Salsa.
"Baju Ibu juga sangat bagus hari ini. Rambut Ibu sudah tidak gembel lagi, sudah disisir rapi sama Bibi, dan harum sekali. Ibu jadi kelihatan makin cantik" Ucap Ayu dengan nada bangga.
Ayu kemudian memajukan tubuh kecilnya, melingkarkan kedua lengan mungilnya untuk memeluk erat tubuh Salsa.
Sebuah pelukan hangat penuh ketulusan anak kepada ibunya, meskipun pelukan itu tidak mendapatkan balasan apa pun dari Salsa. Sepasang tangan Salsa yang kaku tetap sibuk mencengkeram dan memeluk erat Ayu si boneka plastik kumal di dadanya, mengabaikan keberadaan anak kandungnya yang asli.
"Ayu sayaaaaang sekali sama Ibu" Bisik Ayu dengan suara yang melembut, menyandarkan kepalanya di atas bahu kurus Salsa.
"Ayu janji akan terus menjaga dan melindungi Ibu dari orang-orang jahat di luar sana. Ayu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Ibu lagi. Ayu akan selalu ada di samping Ibu, selamanya!"
Berdiri di balik dinding luar pintu, Arkan memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya kembali dihantam oleh rasa sesak yang teramat paku, seolah seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis.
Keberaniannya untuk melangkah masuk ke dalam kamar seketika sirna tanpa sisa. Ia merasa kehadirannya yang mengenakan pakaian mewah dan rapi hanya akan menjadi noda hitam yang merusak kesucian momen pernyataan cinta seorang anak kepada ibunya.
Arkan akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia memilih untuk membalikkan tubuhnya yang terasa kaku, melangkah pergi meninggalkan koridor kamar tersebut dengan kepala tertunduk dalam.
Pria itu berjalan menuju lobi utama, membawa serta air matanya yang tampaknya tidak akan pernah kunjung habis mengalir atas semua kesalahannya.
emang saudaranya setan kau Jull,suka manipulatif.
julian gak punya perasaan egois memaksakan dirinya menikah sama salsa, salsa keadaan amnesia tidak punya perasaan sama julian. salsa menikah sama julian punya hutang budi julian yg merawatnya...
semoga arkan dapat mencegah jangan sampai julian menikahi salsa, ayo ayu sayang bilang sama ayah ibu mau menikah sama om dokter...
Kasian ayu jauh dari ibunya merasa sedih gak sampai gak semangat sekolah, dokter gendeng ini enaknya diapain ya🤭
naluri keibunya muncul salsa gak tega menolak keinginan ayu, ikut mengantarkan ayu pulang...
arkan ikuti aja permainannya dokter gendeng itu, cari waktu yg tepat menggagalkan pernikahannya julian dan salsa...
memanfaatkan keadaan salsa yg lagi amnesia, arkan emang bersalah dulu menyakiti salsa menderita...
tapi arkan telah menyesali perbuatannya dan merasa bersalah sama salsa, demi kesembuhan salsa rela dan ikhlaskan salsa bersama julian...
klo julian tulus mencintai salsa bisa menerima ayu juga, gak misahkan ayu dan salsa membawa ayu pergi juga ERAM salsa...
dasar dokter julian egois dan modus aja dokternya salsa ada maksud dan tujuannya...
jangan terlalu penurut Saaaa
jangan terlalu percaya dengan orang yg katanya menolong muuu
pembohong besar!
jangan sampai menikah
benar2 akan kehilangan ini yuuuu
ban**** banget ini dokter gelo sontoloyo Arrrrr jangan biarkan sia2 usaha muuu
gaaasss hancurkan ,geram sangat 😡