NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Liora, malam ini akan ada pesta kecil khusus keluarga Collins. Ini perayaan karena putri kesayangan Ibu telah kembali."
Liora tertegun, menatap Mauren. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali.
"Mendadak?"
“Tidak, sayang. Memang Ibu sudah merencanakannya dari sebelum-sebelumnya.”
Mauren tersenyum lembut sembari merapikan helaian rambut Liora yang jatuh di sisi wajahnya.
"Bahkan sebelum kau pulang, Ibu sudah meminta pelayan menyiapkan semuanya."
Liora menghela napas pelan. "Pesta keluarga?"
"Ya."
"Benar-benar hanya keluarga?"
Mauren mengangkat alis. "Kenapa? Kau takut ada orang lain?"
"Bukan begitu ibu."
Liora buru-buru menggeleng. Hanya saja, entah mengapa mendengar kata pesta membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah ini, Liora masih belum sepenuhnya terbiasa dengan suasana keluarga Collins. Ada begitu banyak hal yang berubah. Bahkan dirinya sendiri merasa seperti orang asing yang tiba-tiba kembali masuk ke dalam kehidupan yang dulu pernah menjadi miliknya.
Mauren menatap putrinya beberapa saat. "Kau tidak perlu memikirkan apa pun sayang. Malam ini hanya untuk merayakan kepulanganmu."
"Aku bahkan belum sempat beradaptasi dengan rumah ini."
"Justru karena itu."
Mauren menggenggam tangan Liora. "Ibu ingin semua orang melihat sendiri bahwa putri Ibu sudah kembali."
Liora tersenyum tipis. "Ibu selalu berlebihan."
"Tentu saja. Karena kau putri Ibu."
Kalimat sederhana itu membuat senyum Liora perlahan mengembang. Namun, belum sempat ia menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang pria berjalan mendekat dengan langkah tenang. Setelan hitam yang dikenakannya tampak begitu sempurn.
Pria itu adalah Marco.
Berbeda dengan ekspresi dinginnya yang biasa, malam ini Marco tampak cukup sibuk. Jas hitamnya bahkan sudah dilepas dan diserahkan kepada salah satu pelayan. Kemeja putih yang dikenakannya digulung hingga siku, memperlihatkan kedua lengannya yang sesekali digunakan untuk membantu memindahkan beberapa dekorasi.
Liora menatapnya beberapa detik. "Marco?"
Pria itu berhenti. Tatapannya beralih kepada Liora, kemudian kepada Mauren.
"Apa?"
Liora mengerutkan kening. "Kau membantu mempersiapkan pesta untukku?"
Marco melirik sekeliling ruangan. "Seperti yang kau lihat."
Mauren tertawa kecil. "Jangan salah sayang. Sejak pagi dia sudah ikut mengatur semuanya."
"Karena kalian semua tidak bisa mengurusnya dengan benar."
Mauren langsung mendelik. "Marco."
"Apa?"
"Ini pesta untuk putriku Liora."
Marco terdiam. Kemudian tatapannya kembali jatuh kepada gadis yang berdiri di samping Mauren.
"Karena itu aku membantu."
Liora sedikit tertegun. Ada sesuatu yang terasa aneh mendengar kalimat itu dari bibir Marco.
Pria itu memang selalu bersikap tenang dan cenderung dingin. Bahkan sejak Liora mengenalnya, Marco tidak pernah menjadi tipe orang yang mudah menunjukkan perasaan. Namun malam ini berbeda.
Dia benar-benar ikut mempersiapkan semuanya. Bukan sekadar datang sebagai tamu. Liora menatap ruangan yang perlahan berubah menjadi tempat pesta kecil keluarga Collins. Beberapa pelayan sibuk membawa rangkaian bunga, sementara meja panjang di tengah ruangan mulai dipenuhi hidangan yang sudah disiapkan.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kecil dengan beberapa bingkai foto. Liora yang semula hanya melihat sekilas, mendadak berhenti. Langkahnya perlahan membawa gadis itu mendekat.
Mauren memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Liora?"
Liora tidak menjawab. Matanya terpaku pada foto-foto yang tersusun rapi di atas meja.
Foto pertama memperlihatkan seorang anak perempuan kecil dengan rambut panjang berwarna pirang, yang dikuncir dua. Wajahnya masih bulat dengan pipi sedikit berisi. Gadis kecil itu berdiri di tengah taman sambil memegang boneka beruang yang ukurannya hampir sebesar tubuhnya.
Liora mengerjapkan mata. "Itu..."
Mauren tersenyum. "Ya."
Liora mengambil salah satu bingkai. "Kenapa foto ini ada di sini?"
"Karena Ibu ingin menyimpannya."
"Tapi ini foto ketika aku berumur lima tahun."
"Justru itu."
Mauren berjalan mendekat. "Semua orang harus melihat bagaimana lucunya putri Ibu ketika kecil."
Liora langsung memprotes. "Ibu!"
Marco yang berada tidak jauh dari mereka melirik.
Sudut bibirnya tampak bergerak sedikit. Liora menyadarinya.
"Marco."
"Hm?"
"Jangan tertawa."
"Aku tidak tertawa."
"Kau hampir tertawa."
Marco mengalihkan pandangan. "Aku hanya melihat foto gadis culunku."
Liora mendengus. Ia kembali melihat deretan foto tersebut. Ada begitu banyak kenangan di sana. Liora kecil sedang duduk di atas ayunan. Liora dengan gaun putih ketika menghadiri pesta ulang tahun pertamanya bersama keluarga Collins.
Liora yang terlihat kesal karena wajahnya terkena krim kue. Ada pula satu foto yang membuat langkahnya berhenti lebih lama.
Dalam foto itu, Liora masih sangat kecil. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh noda cokelat, sementara seorang pria muda berdiri di belakangnya sambil memegang kedua bahunya.
Marco.
Liora menatap foto itu tanpa berkedip.
"Kau ingat?" tanya Mauren pelan. Liora mengangguk kecil.
"Sedikit."
Marco berjalan mendekat. Matanya ikut jatuh pada foto tersebut.
"Ini waktu kau kabur dari ruang makan."
Liora menoleh cepat. "Aku tidak kabur."
Marco mengangkat alis. "Kau lari."
"Aku masih kecil."
"Kau tetap lari."
"Karena kau mau memaksaku makan sayuran!"
Marco terdiam sebentar. "Itu bukan alasan untuk menyembunyikan brokoli di bawah meja."
Mauren spontan tertawa.
Liora membelalakkan mata. "Ibu juga tahu?"
"Tentu saja Ibu tahu."
Liora menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa semua orang masih mengingatnya?"
"Karena kau sangat merepotkan waktu kecil."
"Marco!"
Pria itu akhirnya benar-benar tersenyum tipis.
Senyum yang begitu singkat hingga hampir tidak terlihat. Namun Liora melihatnya.
Untuk beberapa detik, suasana di antara mereka terasa begitu ringan. Seolah bertahun-tahun yang telah memisahkan Liora dari rumah ini tidak pernah benar-benar ada.
Tangannya kembali menyentuh bingkai foto tadi.
Ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Dia memang tidak mengingat semua hal. Banyak bagian dari masa kecilnya terasa seperti potongan-potongan kecil yang hilang dari ingatan.
Tetapi melihat foto-foto ini membuatnya sadar akan satu hal. Dirinya pernah benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini. Bukan sekadar seseorang yang datang dan kemudian pergi.
Melainkan seorang anak yang pernah berlari di lorong rumah ini, membuat kekacauan, menangis karena hal sepele, dan tertawa bersama orang-orang yang sekarang berdiri di sekelilingnya.
Mauren menyentuh pundaknya. "Maka dari itu Ibu ingin pesta ini."
Liora menoleh. "Untuk foto-foto ini?"
"Bukan." Mauren tersenyum lembut. "Untuk membuat kenangan baru."
Liora terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, terasa jauh lebih dalam daripada yang seharusnya.
Marco mengambil satu bingkai foto dari meja, kemudian memandangnya sebentar.
"Foto yang ini jangan dipasang."
Liora mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Memalukan."
Liora langsung merampas bingkai itu dari tangan Marco. Matanya membesar.
"Ini foto aku sedang menangis?"
Marco mengangguk.
"Karena?"
"Karena kau kehilangan boneka."
Liora menatap foto itu. Wajah kecilnya memang benar-benar tampak mengenaskan. Kemudian ia membaca tulisan kecil di bagian bawah bingkai.
Liora, usia enam tahun. Menangis selama tiga puluh menit karena Marco menyembunyikan boneka kesayangannya.
Liora perlahan menoleh.
"MARCO!"
Mauren tertawa semakin keras. Marco sudah berjalan menjauh.
"Marco Collins!"
"Aku tidak menyembunyikannya."
"Di foto tertulis namamu!"
"Itu tulisan kak Mauren."
"KAU YANG MENYEMBUNYIKANNYA!"
Marco berhenti di tengah langkah. Ia menoleh santai.
"Dan aku juga yang menemukannya."
Liora terdiam.
Marco mengangkat dagu sedikit. "Jadi, kau seharusnya berterima kasih kepada pamanmu."
"Paman apanya?"
"Keponakan angkat yang tidak tahu berterima kasih."
Liora mendengus kesal. Namun tanpa sadar, senyumnya muncul. Mauren memperhatikan keduanya dengan mata yang tampak berkaca-kaca. Mungkin bagi orang lain, pertengkaran kecil itu tidak berarti apa-apa.
Tetapi bagi Mauren, melihat Liora kembali berdiri di rumah ini dan bertengkar dengan Marco seperti dulu adalah sesuatu yang sudah lama ia rindukan.
Ia menatap putrinya. Putri kesayangannya. Yang akhirnya kembali.
Dan malam ini, seluruh keluarga Collins akan merayakannya. Tanpa Liora tahu bahwa di balik pesta sederhana tersebut, ada seseorang yang sejak tadi diam-diam mengawasi seluruh persiapan.
Seseorang yang bahkan tidak pernah muncul dalam foto-foto masa kecil Liora. Seseorang yang seharusnya tidak memiliki tempat dalam kehidupan gadis itu. Namun, malam ini, namanya akan kembali disebut di meja makan keluarga Collins.