Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL30
MALAM YANG TERLALU SUNYI
Nama Hannah terus berkedip di layar. Untuk beberapa detik, Romi hanya menatapnya tanpa bergerak. Baru saja ia tiba di rumah setelah berpamitan dari rumah Jelita ketika panggilan itu masuk. Entah mengapa, ia merasa perlu mengembuskan napas lebih dulu sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Halo, Na."
Suara Hannah langsung menyambut dari seberang.
"Mas, belum tidur?"
"Belum."
"Baru sampai rumah?"
"I-iya, baru aja."
Hannah terdengar menghela napas pelan.
"Aku mau ngomong sesuatu sama Mas."
Nada suaranya membuat Romi spontan bersandar pada tiang teras. Ia menatap jalan kompleks yang mulai lengang.
"Ada apa?"
"Hmm... tapi janji jangan marah ya?"
Romi tersenyum tipis.
"Aku belum tahu apa itu, gimana mau marah?"
Hannah ikut tertawa kecil, meski terdengar hambar.
"Hmm… Mas, kayaknya... aku harus lebih lama di sini."
Senyum di wajah Romi perlahan memudar.
"Lho, bukannya besok semua kerjaanmu selesai?"
"Harusnya begitu. Tapi tadi sore ada meeting lagi sama pihak klien. Mereka minta beberapa pembahasan tambahan sekalian diselesaikan sekarang. Katanya lebih efektif daripada nanti aku harus bolak-balik Jakarta sama Singapura."
"Lalu?"
"Aku udah coba nego."
"Hasilnya?"
"Mereka tetap pengin aku stay."
"Berapa lama?"
"Mungkin empat atau lima hari lagi."
Romi tidak langsung menjawab.
Jujur saja, kabar itu sedikit mengecewakannya. Namun bukan Hannah yang pantas menerima kekecewaan tersebut.
"Ya udah."
"Mas nggak marah?"
Terdengar hembusan napas dari seberang telepon.
"Marah juga buat apa? Ini kan kerjaanmu."
"Ya tetap aja aku ngerasa bersalah sama Mas."
"Nggak usah ngerasa gitu makanya. Mas ngerti kok."
"Tapi aku ninggalin kamu terus."
"Aku bukan bayi loh, Na, bisa jaga diri. Toh bukan baru kali ini juga kamu dinas luar, kan? Ya walau baru kali ini sih kamu perginya lebih lama."
"Aku tahu, tapi bukan itu maksudku."
"Lalu?"
Hannah terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan.
"Aku cuma… aku ngerasa tugas aku sebagai istri jadi berantakan."
Romi mengusap tengkuknya pelan.
"Kamu terlalu keras sama diri sendiri, Na."
"Aku cuma... nggak enak sama kamu."
"Nggak ada yang perlu nggak dienakain. Nggak usah dipikirin."
"Tapi aku kangen, Maaas."
Kalimat sederhana itu membuat pandangan Romi terangkat ke langit malam. Lampu-lampu jalan mulai menyala, sementara angin malam berembus pelan melewati wajahnya.
"Aku juga."
Suara Hannah terdengar sedikit lebih ceria.
"Aku janji begitu semua selesai langsung pulang."
"Aku tunggu."
"Mas juga jangan telat makan ya."
"Iya."
"Jangan lembur terus. Istirahat, kamu bukan robot."
"Iya."
"Terus jangan tidur terlalu malam juga."
Romi terkekeh pelan.
"Perasaan pesannya banyak banget."
"Soalnya aku nggak bisa ngawasin Mas langsung."
"Baik, Bu Hannah."
"Maaas."
"Hm?"
"Makasih ya."
"Karena?"
"Udah selalu ngerti aku. Selalu ngerti juga pekerjaanku."
Romi tersenyum kecil.
"Sama-sama. Hati-hati kamu di sana."
"Iya."
"Selamat istirahat."
"Selamat malam, Mas."
Sambungan telepon pun berakhir.
Romi tetap berdiri beberapa saat di teras. Tatapannya kosong mengarah ke jalan kompleks yang semakin sepi.
Empat atau lima hari seharusnya hanya berlalu begitu saja. Namun malam itu, Romi baru menyadari bahwa menunggu seseorang pulang ternyata mampu membuat waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.
Ia baru saja hendak membuka pintu rumah ketika ponselnya kembali bergetar. Nama Jelita kembali muncul di layar. Dahi Romi langsung berkerut.
"Jam segini?"
Ia membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Belum sempat ponsel dimasukkan ke saku, layar kembali menyala.
Mas, masa dianggurin?
Romi mengembuskan napas.
"Anak ini..."
Ia tetap tidak membalas. Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi kembali muncul.
Foto diterima.
Romi sempat ragu sebelum akhirnya membukanya. Ternyata bukan foto wajah, apalagi sesuatu yang aneh. Hanya sudut ruang keluarga dengan pencahayaan hangat. Sebuah novel terbuka di atas meja kecil, secangkir cokelat panas yang masih mengepul, serta selimut yang menutupi sepasang kaki seseorang yang sedang berselonjor di sofa. Suasana itu terlihat begitu nyaman. Di bawah foto tersebut hanya ada satu kalimat.
Tempat ngobrol malam ini masih kosong. Sayang banget ya kalau cuma ditemenin segelas cokelat.
Romi memijat pelipisnya pelan.
"Jelita memang nggak ada obatnya."
Belum sempat ia menutup layar, pesan lain kembali masuk.
Tenang aja, Mas. Aku cuma iseng. Jangan dikerutin terus tuh dahinya. Nanti cepat tua, lho.
Tanpa sadar sudut bibir Romi sedikit terangkat. Wanita itu memang selalu berhasil membuatnya kesal, tetapi rasa itu tak pernah benar-benar bertahan lama. Ia mengunci layar ponselnya, lalu memasukkannya ke saku.
Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, bunyi notifikasi kembali terdengar. Kali ini Romi sempat berpikir untuk mengabaikannya. Namun sialnya, tangannya sudah lebih dulu meraih ponsel itu.
Kalau nggak mau ngobrol juga nggak apa-apa. Selamat istirahat, Mas. Jangan lupa sarapan besok. Aku tahu kalau lagi sendiri kamu suka asal makan.
Romi membaca pesan itu dua kali. Jemarinya berhenti di atas layar. Beberapa detik berlalu tanpa ada balasan yang ia ketik. Kalimat tersebut tidak lagi terdengar seperti godaan, melainkan lebih seperti perhatian. Ia menggeleng pelan sambil mengunci layar ponselnya.
"Terlalu banyak mikir."
Meski begitu, kali ini ia tidak menghapus pesan itu.
Romi menekan sakelar di dekat pintu. Lampu ruang tamu langsung menyala, menerangi ruangan yang tetap rapi seperti pagi tadi. Tidak ada suara langkah kaki yang menyambut. Tidak ada aroma masakan yang baru matang. Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan. Kehangatan yang baru beberapa menit lalu ia rasakan tidak ikut pulang bersamanya.
Hari itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Bukan karena pekerjaannya bertambah, melainkan karena terlalu banyak hal yang terus berputar di kepalanya. Permintaan maaf kepada Jelita yang tak pernah ia bayangkan akan terucap, kabar Hannah yang harus memperpanjang pekerjaannya di Singapura, hingga pesan-pesan usil Jelita yang terus bermunculan di layar ponselnya. Semuanya datang silih berganti, tidak memberinya kesempatan untuk benar-benar menenangkan pikiran.
Romi mengusap wajah.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi sama hidupku belakangan ini?"
Tak ada jawaban. Rumah itu kembali tenggelam dalam keheningan saat Romi melangkah menuju kamar. Setiap sudutnya masih tampak sama seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Namun malam itu, semuanya terasa berbeda.
Begitu pintu kamar terbuka, pandangan Romi langsung tertuju pada ranjang berukuran king yang kini hanya ditempati satu orang. Sisi tempat tidur milik Hannah masih tertata rapi. Bantalnya tetap berada di tempat semula, bahkan selimutnya masih terlipat seperti saat Hannah berangkat beberapa hari lalu.
Romi duduk di tepi ranjang. Tanpa sadar telapak tangannya menyentuh bantal milik sang istri. Masih ada samar aroma parfum yang biasa dipakai Hannah.
"Kamu benar-benar ninggalin jejak di mana-mana, ya."
Ia bangkit mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Romi keluar dengan kaus sederhana dan celana santai. Tubuhnya memang terasa lebih segar, tetapi kepalanya tetap dipenuhi berbagai pikiran.
Saat hendak mematikan lampu kamar, ponselnya kembali berbunyi.
Drttt...
Satu pesan baru.
Good night, Mas. Besok semangat kerjanya. Jangan kebanyakan bengong.
Romi memandangi pesan itu cukup lama. Jempolnya sempat bergerak di atas kolom balasan, tetapi akhirnya kembali ia urungkan. Layar ponsel dimatikan, lalu diletakkan di atas nakas sebelum ia merebahkan tubuh di atas ranjang.
Pandangannya mengarah ke langit-langit kamar. Biasanya, pada jam seperti ini Hannah masih sibuk mengeringkan rambut di depan meja rias sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari. Kadang mengeluh soal pekerjaan, kadang tertawa sendiri karena tingkah rekan-rekannya di kantor, dan kadang mengingatkannya agar tidak tidur terlalu larut. Hal-hal sederhana yang selama ini terasa biasa saja. Namun malam itu, semuanya menghilang, menyisakan rumah yang terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Romi memejamkan mata. Namun yang bergantian muncul di kepalanya bukan hanya wajah Hannah, melainkan juga senyum Jelita sore tadi ketika mengatakan harusnya datangnya buat ngedate, disusul pesan-pesan usil yang sejak tadi memenuhi layar ponselnya.
Ia langsung membuka mata lagi, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa malah kepikiran begitu..."
Romi membalikkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata. Namun semakin ia mencoba melupakan hari itu, semakin jelas semua percakapan kembali terngiang di kepalanya. Suara Hannah yang menahan rasa bersalah, permintaan maaf yang ia ucapkan kepada Jelita, tawa wanita itu, hingga pesan-pesan usil yang masih tersimpan di ponselnya terus bergantian memenuhi pikirannya.
Ia mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata sekali lagi. Bukannya rasa kantuk yang datang, pikirannya justru kembali dipenuhi satu pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.
Kenapa justru Jelita yang terus muncul?
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐