Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Topeng yang Tertutup (Yeon woo)
Singkat cerita, Yeon-woo datang ke sebuah kantor kecil terpencil untuk wawancara kerja yang ditawarkan oleh temannya. Di sana ia bertemu dengan seorang pria berwajah dingin.
“Kau yang bernama Yeon-woo?” tanyanya datar.
“Iya, benar saya.”
“Kau benar-benar ingin bekerja sama denganku?”
“Iya, dengan senang hati.”
“Kau sudah tahu berapa bayarannya?”
“Sudah, saya tahu.”
“Baik. Apapun tugasnya, kau siap melakukannya?”
“Iya, saya bersedia.”
Pria itu mengangguk pelan, lalu melontarkan kalimat yang membuat Yeon-woo terdiam bingung. “Bagus. Tapi sebelum aku menerimamu, aku harus melihat dulu apakah tubuhmu layak untuk bekerja di sini.”
“Maksud Bapak bagaimana? Saya tidak mengerti.”
“Tenang. Bukan aku yang akan melihatnya tanpa busana, tapi ada orang lain yang bertugas melakukannya—dan dia perempuan.”
Hati Yeon-woo mencelos perlahan, kebingungan menyelimuti pikirannya. “Kenapa harus sampai begitu? Bukankah ini hanya siaran langsung biasa saja?”
Yeon-woo dengan langkah ragu memasuki ruangan kecil di sebelah. Di sana sudah menunggu seorang wanita yang tatapannya dingin dan tanpa ekspresi. Pintu tertutup rapat di belakangnya.
“Lepaskan pakaianmu,” ucap wanita itu singkat, tanpa basa-basi.
Tangan Yeon-woo gemetar pelan. Rasa malu dan takut bercampur aduk, namun ingatannya pada janji bayaran besar membuatnya tetap berusaha menurut perlahan. Ia melepas seragamnya satu per satu, hingga akhirnya berdiri di sana dengan tubuh yang terasa begitu telanjang dan rentan.
Wanita itu mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki, mencatat sesuatu di buku kecil yang dipegangnya. Tidak ada satu kata pun yang terucap, hanya tatapan yang seolah menilai barang, bukan manusia.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka perlahan. Yeon-woo keluar dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar hebat saat merapikan sisa pakaiannya. Matanya tak berani menatap siapa pun, seolah bagian dari dirinya ikut tertinggal di dalam sana.
Pria itu sudah menunggu di meja kerja, menyambutnya dengan senyum tipis yang sama sekali tidak hangat.
“Bagus. Kau diterima,” ucapnya singkat. “Mulai besok kau sudah harus siap siaran sesuai jadwal yang kuberi. Ingat—jangan sampai mengecewakan kami. Uang yang kau terima sudah menjadi tanggung jawabmu.”
Yeon-woo hanya mengangguk pelan, suaranya hilang tertelan rasa perih. Ia menyadari, langkah kakinya melangkah keluar membawa beban yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apa yang awalnya terlihat seperti kesempatan baik, kini terasa seperti rantai yang mulai mengikat pergelangan tangannya erat.
Di sisi lain pandangan, Seung-hyun kembali berdiri di sudut ruangan, wajahnya menahan amarah yang mendidih. “Dia tidak tahu… dia sama sekali tidak tahu apa yang baru saja ia sepakati,” bisiknya parau.
Hari-hari berikutnya Yeon-woo mulai menjalani apa yang disepakati, namun ternyata jauh dari bayangannya. Pria itu menetapkan aturan yang tak bisa dilanggar: saat siaran langsung, ia harus mengenakan pakaian terbuka dan menari dengan gerakan yang menggoda, namun wajahnya harus tertutup rapat oleh topeng kain hitam.
“Selama penonton memberi hadiah besar, kau harus melakukan apa yang mereka minta,” tegas perintahnya. “Bahkan jika mereka meminta kau melepas sebagian pakaianmu—tunggu sampai hadiahnya masuk dulu, baru kau lakukan. Dan ingat, setiap gerak-gerakmu terpantau langsung oleh akunku. Aku tahu apa yang kau lakukan, dan apa yang tidak kau lakukan.”
Yeon-woo hanya bisa menurut. Di balik topeng itu, air matanya menetes tanpa suara. Dulu ia menari karena senang, kini ia bergerak hanya demi uang dan rasa takut. Setiap kali ada permintaan yang membuatnya malu dan sakit hati, ia terpaksa menurut—karena di layar itu, sosok sang bos selalu mengawasi dari balik nama yang tak terlihat.
Soo-jin merasakan betapa hancurnya hati gadis itu, terjebak antara kebutuhan dan rasa malu yang tak berujung. Seung-hyun mengepalkan tangan sekuat tenaga, menahan amarah yang meluap melihat ketidakberdayaan Yeon-woo.
Seiring berjalannya waktu, permintaan penonton semakin menjadi-jadi. Apa yang dulunya hanya tarian sederhana, kini berubah menjadi hal-hal yang semakin melukai harga dirinya. Setiap kali Yeon-woo ragu atau menolak sedikit saja, pesan singkat dari akun bernama "Titik" langsung muncul di layarnya—berisi ancaman mengungkap identitas aslinya ke seluruh sekolah, atau menagih kembali semua uang yang sudah ia terima sekaligus.
“Kau sudah terikat,” begitu pesan yang selalu berulang. “Tidak ada jalan pulang.”
Yeon-woo mencoba bertahan, mencoba memenuhi permintaan itu sambil berharap suatu saat semuanya akan berakhir. Namun jumlah penonton yang berkurang sedikit saja membuat ancaman itu semakin keras dan mengerikan. Ia merasa seperti burung dalam sangkar yang perlahan dipatahkan sayapnya sendiri, tak berani berteriak minta tolong karena takut aibnya terbongkar dan ibunya ikut malu.
Di dalam ingatan ini, Soo-jin dan Seung-hyun merasakan setiap getaran ketakutan di hati Yeon-woo—rasa sepi yang mencekam, saat ia menyadari bahwa tak ada satu pun yang bisa ia percayai.
Hari itu penontonnya sangat sedikit. Hanya beberapa nama yang berdatangan, dan tak satu pun memberi hadiah besar seperti dulu. Pesan singkat dari akun "Titik" langsung memenuhi layar ponselnya, semakin tajam dan mengancam.
“Kau tidak berguna lagi. Uang itu harus dikembalikan hari ini juga. Atau semua orang di sekolah, semua tetangga, bahkan ibumu akan tahu apa yang kau lakukan di balik topeng itu.”
Tangan Yeon-woo gemetar hebat. Air mata mengalir deras di balik topeng yang tak pernah boleh dilepas. Ia melihat jendela kamar, melihat ke jalan di bawah—terbayang wajah ibunya yang selalu tersenyum menyambutnya pulang, terbayang tatapan teman-temannya yang penuh hormat.
Jika semua itu terbongkar… lebih baik aku pergi duluan, bisik hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyalakan siaran langsung terakhir kalinya. Ia tidak lagi menari, tidak lagi menyapa. Ia hanya berdiri diam, air mata menembus kain topeng yang menutupi wajahnya, sementara penonton yang hadir hanya bertanya-tanya dan berkomentar seenaknya.
Soo-jin menutup mulutnya menahan isak tangis. Seung-hyun memalingkan wajah, dadanya sesak bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit melihat ketidakberdayaan gadis itu yang berjuang sendirian sampai titik terakhir.
Dalam kesedihan dan keputusasaan yang luar biasa, Yeon-woo mengikuti permintaan penonton untuk melepas sebagian bajunya. Tapi di saat itu juga, rasa malu dan penderitaan yang ia rasakan mencapai puncaknya. Tanpa sadar, ia menemukan sesuatu di dekatnya dan mulai menyakiti dirinya sendiri di pergelangan tangannya—darah mulai keluar, dan ia merasakan tubuhnya lemah.
Ia jatuh ke lantai, tak berdaya. Semua yang terlihat matanya hanyalah kegelapan dan rasa sepi yang mendalam. Di saat itu, ia merasakan bahwa tidak ada lagi jalan keluar dari penderitaan ini. Dan seperti itu, nyawanya perlahan lenyap.
Di dalam ingatan ini, Soo-jin akhirnya tak sanggup lagi. Ia menangis dengan terdengar, menangis atas kesedihan yang dialami Yeon-woo yang harus berjuang sendirian. Seung-hyun menggenggam tangannya erat, matanya juga basah ia menyesal tidak bisa datang lebih cepat.