NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Malam Sebelum Bencana

Embun pagi masih menggantung di ujung dedaunan ketika cahaya matahari perlahan menyinari Desa Tagawa, sebuah desa kecil yang berdiri di wilayah kekuasaan empire Krusador di perbatasan timur Benua Aldabaron. Desa itu bukanlah tempat yang terkenal ataupun memiliki benteng megah seperti Benteng Lodrie maupun pelabuhan besar seperti Kurakus, melainkan sebuah permukiman sederhana yang dihuni para petani, pemburu, penebang kayu, serta beberapa pandai besi yang hidup berdampingan selama puluhan tahun. Walaupun berada di daerah perbatasan, kehidupan mereka relatif damai semenjak kedua kekuatan besar di benua tersebut menandatangani perjanjian damai bertahun-tahun silam, sehingga anak-anak masih dapat bermain tanpa rasa takut, para pedagang masih berani melintasi jalan perbatasan, dan para petani tetap mengolah ladang tanpa membayangkan bahwa kedamaian itu sesungguhnya sedang berada di ambang kehancuran.

Di salah satu rumah kayu yang berdiri menghadap hamparan sawah dan hutan pinus, seorang pemuda berusia delapan belas tahun baru saja menyelesaikan latihan pedangnya. Tubuhnya dipenuhi peluh, sementara napasnya tetap teratur meskipun ia telah mengayunkan pedang kayu ratusan kali sejak matahari belum terbit. Pemuda itu adalah Ryosuke Tagawa, putra sulung keluarga Tagawa yang dikenal di desa sebagai pribadi pendiam, rajin bekerja, dan tidak pernah menolak membantu siapa pun yang membutuhkan tenaganya. Di sampingnya tergeletak sebuah katana sederhana yang selalu dirawat dengan penuh hormat, Nichirin-gatana, pedang warisan keluarganya yang selama ini belum pernah digunakan dalam pertempuran sungguhan, namun telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak sang ayah mulai mengajarkan ilmu pedang ketika usianya masih belia.

Ayah Ryosuke, Haruto Tagawa, keluar dari rumah sambil membawa dua cangkir teh hangat, kemudian menyerahkan salah satunya kepada putranya tanpa banyak bicara. Keduanya telah terbiasa berbincang dalam keheningan, karena bagi Haruto, seorang pendekar tidak selalu menunjukkan kekuatannya melalui kata-kata, melainkan melalui keteguhan hati dan disiplin yang dijalani setiap hari. Setelah memperhatikan gerakan putranya beberapa saat, Haruto mengangguk pelan, lalu berkata bahwa ayunan pedangnya semakin stabil, hanya saja langkah kakinya masih terlalu mengandalkan tenaga sehingga mudah ditebak apabila suatu hari harus menghadapi lawan yang benar-benar berpengalaman.

Ryosuke hanya tersenyum tipis sambil menerima nasihat itu dengan hormat. Baginya, latihan setiap pagi bukanlah beban, melainkan cara untuk menghormati ajaran keluarganya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan menggunakan kemampuan tersebut dalam peperangan, sebab selama hidupnya ia hanya mengenal kisah perang dari cerita para pengelana yang singgah di desa. Dunia di luar sana terasa begitu luas, sedangkan Desa Tagawa merupakan tempat yang selalu membuatnya ingin pulang.

Tak lama kemudian, aroma masakan memenuhi halaman rumah ketika ibunya, Airi Tagawa, memanggil mereka untuk sarapan. Perempuan itu dikenal hampir oleh seluruh penduduk desa karena keramahannya, sementara adik perempuan Ryosuke yang masih berusia dua belas tahun, Hana, sudah lebih dahulu duduk di meja makan sambil menggerutu karena kakaknya kembali menghabiskan waktu terlalu lama berlatih hingga makanan hampir menjadi dingin. Suasana sederhana itu dipenuhi tawa kecil yang terasa hangat, sesuatu yang begitu biasa sehingga tidak seorang pun menyadari betapa berharganya setiap detik yang sedang mereka lalui.

Setelah sarapan selesai, Ryosuke membantu ayahnya memperbaiki pagar ladang, mengangkat karung hasil panen, lalu mengantarkan beberapa peralatan kepada tetangga. Sepanjang perjalanan ia menyapa hampir setiap orang yang ditemuinya, menerima balasan senyum dari para warga yang telah mengenalnya sejak kecil. Bagi mereka, Ryosuke bukanlah pendekar hebat ataupun calon pahlawan, melainkan pemuda baik hati yang selalu siap membantu tanpa mengharapkan imbalan.

Menjelang siang, keramaian mulai memenuhi alun-alun desa ketika seorang pedagang keliling tiba bersama kereta yang dipenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Kedatangannya selalu menjadi hiburan kecil bagi penduduk, sebab selain membawa barang dagangan, ia juga membawa kabar dari berbagai penjuru Aldabaron. Anak-anak berlarian mengelilingi kereta, sementara para orang tua mulai menanyakan harga garam, kain, dan alat pertanian yang baru.

Di antara percakapan itu, sang pedagang bercerita bahwa hubungan antara Empire Krusador dan Green Continent belakangan terasa semakin tegang. Ia mendengar kabar bahwa beberapa bangsawan Krusador mulai memperdebatkan isi perjanjian damai, sementara pasukan di wilayah utara terlihat semakin sering berlatih menggunakan Meriam Rune yang baru. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang benar-benar percaya bahwa perang akan kembali pecah. Perjanjian damai telah berlangsung cukup lama sehingga banyak orang menganggap kedua pihak tidak akan cukup bodoh untuk menghancurkan kestabilan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Haruto hanya mendengarkan tanpa memberikan tanggapan panjang. Seusai pedagang itu pergi, ia menatap garis hutan di kejauhan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Entah mengapa, hatinya terasa sedikit gelisah, seolah angin yang bertiup dari arah utara membawa firasat buruk yang tidak mampu dijelaskan oleh logika.

Sore hari berlalu dengan tenang. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan semburat jingga yang memantul di permukaan sungai kecil di pinggir desa. Ryosuke kembali berlatih beberapa gerakan dasar menggunakan Nichirin-gatana, sementara Hana duduk di atas batu sambil memperhatikan kakaknya dengan wajah penuh kekaguman. Gadis kecil itu berkata bahwa suatu hari nanti Ryosuke pasti akan menjadi pendekar terkenal yang melindungi banyak orang. Mendengar ucapan itu, Ryosuke hanya tertawa pelan dan menjawab bahwa ia tidak pernah bermimpi menjadi pahlawan. Baginya, hidup damai bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Malam perlahan turun menyelimuti Desa Tagawa. Satu demi satu rumah menyalakan lampu, suara serangga malam menggantikan kicauan burung, dan kehidupan desa kembali menjadi tenang seperti malam-malam sebelumnya. Setelah makan malam bersama, keluarga Tagawa berkumpul di ruang utama rumah sambil berbincang ringan mengenai rencana panen berikutnya, perbaikan atap gudang, dan festival desa yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa percakapan sederhana itu akan menjadi makan malam terakhir mereka sebagai sebuah keluarga.

Di saat seluruh desa mulai terlelap dalam ketenangan, jauh di balik hutan yang memisahkan wilayah Green Continent dengan Empire Krusador, puluhan bayangan bergerak tanpa suara di bawah langit yang gelap. Para prajurit elit mengenakan zirah hitam menutupi lambang kekaisaran mereka, sementara kereta-kereta perang yang membawa Kristal Rune berkualitas tinggi berhenti di balik pepohonan agar tidak memantulkan cahaya bulan. Beberapa teknisi mulai memasang komponen sebuah meriam berukuran besar yang bentuknya berbeda dari Meriam Rune biasa. Permukaan logamnya dihiasi pola menyerupai tulang dan urat makhluk buas, sedangkan inti kristal di bagian tengahnya memancarkan cahaya merah gelap yang berdenyut seperti jantung hidup.

Seorang perwira memandang ke arah Desa Tagawa yang hanya tampak sebagai gugusan cahaya kecil di kejauhan. Dengan suara pelan ia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada seluruh pasukan untuk bersiap menjalankan operasi yang telah dirancang dengan sangat rapi. Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada saksi, dan sebelum fajar menyingsing, desa kecil di perbatasan itu akan lenyap bersama kedamaian yang selama ini dipercaya seluruh Benua Aldabaron.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!