NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

​Mobil sedan sport hitam itu membelah jalanan sore Jakarta yang mulai merayap padat. Keheningan di dalam kabin mewah itu terasa sangat berbeda kali ini—bukan lagi keheningan penuh permusuhan seperti hari-hari pertama pernikahan mereka, melainkan sebuah keheningan yang sarat akan kecanggungan yang manis.

​Bita terus menatap lurus ke luar jendela, sengaja memperhatikan deretan lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu. Namun, jemarinya tidak bisa tenang; ia sesekali meremas ujung kemeja flanelnya dengan gugup. Kalimat maut Gus Ibra di restoran kaca tadi siang seolah melekat erat di kepalanya, menolak untuk pergi.

​"Mata saya, perhatian saya, dan tanggung jawab saya... sekarang hanya tertuju pada satu wanita yang saat ini sedang duduk di depan saya..."

​"Kita langsung pulang ke rumah, atau kamu ada barang yang mau dibeli dulu di mall?" suara bariton Ibra tiba-tiba memecah kesunyian, memutus rentetan lamunan Bita. Pria itu bertanya sambil memutar kemudi dengan santai, melirik istrinya sekilas.

​Bita berdeham kecil, mencoba sekuat tenaga untuk menormalkan suaranya yang mendadak serak. "P-pulang aja. Capek gue, pengen rebahan."

​"Baik," jawab Ibra pendek, kembali fokus pada jalanan di depan tanpa berniat menggoda Bita lebih jauh.

​Sesampainya di rumah, Bita langsung melesat menaiki anak tangga menuju lantai dua tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia menutup pintu kamar utamanya rapat-rapat, mengempaskan tubuhnya ke atas kasur king size, lalu menutupi wajahnya dengan bantal.

​"Gila, gila, gila! Kenapa gue bisa se-lebay itu tadi di depan cewek bernama Nadia itu? Malu-maluin banget, astaga!" omel Bita pada diri sendiri dengan suara teredam bantal. Wajahnya kembali terasa hangat setiap kali mengingat bagaimana Ibra menggenggam pergelangan tangannya di depan pelayan restoran. "Gue gak cemburu! Gak mungkin gue cemburu sama cowok kaku kayak dia!"

​Malam harinya, sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Bita merasa hawa di dalam kamarnya agak gerah meskipun pendingin udara sudah menyala. Ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kaca besar yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar di lantai dua.

​Balkon itu didesain sangat luas dengan lantai kayu parket yang dipoles kilap. Dari sana, Bita bisa melihat langsung pemandangan halaman belakang rumah dan kolam renang minimalis yang airnya berkilau indah diterpa lampu sorot malam. Angin malam berembus pelan, menerpa wajah Bita dan menerbangkan beberapa helai rambutnya yang malam ini sengaja ia biarkan terurai bebas tanpa hijab, karena ia tahu area ini sangat privat.

​Sret.

​Suara pintu kaca yang bergeser dari balkon sebelah mendadak memecah keheningan. Kamar Gus Ibra memang terletak persis di sebelah kamar utama, dan balkon mereka hanya dibatasi oleh sebuah sekat kaca.

​"Belum tidur, Tsabita?"

​Bita sedikit tersentak, lalu menoleh ke samping. Ia menemukan Gus Ibra sedang berdiri bersandar pada pagar pembatas besi balkon kamarnya sendiri. Pria itu telah menanggalkan pakaian formalnya, kini hanya mengenakan kaos oblong hitam polos yang pas di tubuh tegapnya dan celana pendek. Penampilannya malam ini terlihat sangat kasual dan santai, namun entah kenapa justru memancarkan ketampanan yang jauh lebih alami di bawah sinar rembulan.

​"Belum. Gerah di dalem, pengen nyari angin," jawab Bita singkat, buru-buru membuang mukanya kembali ke arah kolam renang di bawah.

​Ibra melangkah pelan mendekati sekat, lalu melipat kedua tangannya di atas pagar pembatas, menatap profil samping wajah istrinya. "Teh chamomile dengan madu murninya tidak mau diminum lagi malam ini? Biar tidur kamu lebih nyenyak."

​Bita mendengus kencang, menoleh dengan tatapan mendelik. "Gak usah mulai ngeledek ya, Gus! Gue udah gak stres, dan hormon kortisol gue juga udah normal!"

​Ibra terkekeh rendah—sebuah suara tawa yang sangat jarang ia keluarkan, namun terdengar begitu renyah dan adem di telinga Bita. "Saya tidak sedang ngeledek, Istriku. Saya hanya menawarkan."

​Suasana di antara mereka kembali hening selama beberapa saat. Hanya ada suara jangkrik dari arah taman bawah dan desau angin malam yang lembut. Bita mencengkeram besi pagar balkon, melirik Ibra dari sudut matanya dengan binar penasaran. Ada satu hal yang sejak dua minggu lalu, sejak ia pertama kali mendarat di dunia pesantren, selalu berputar di otaknya tentang pria di sebelahnya ini.

​"Gus," panggil Bita pelan, nadanya beralih agak serius.

​"Ya? Ada apa?" Ibra menoleh sepenuhnya, memberikan atensi penuh pada kalimat yang akan diucapkan Bita.

​"Gue mau nanya hal serius. Beneran serius, gak pake urusan emosi atau cemburu kayak tadi siang di restoran," kata Bita, memutar posisi tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Ibra meskipun terhalang sekat.

​Ibra mengangguk perlahan. "Silakan. Saya akan jawab jika saya tahu."

​"Lo itu... sebenernya dinilai gimana sih di kalangan orang-orang pondok atau keluarga besar kiai?" tanya Bita blak-blakan, matanya menatap menyelidik. "Maksud gue, lo kan seorang Gus, anak tunggal pemilik pesantren besar yang elit. Tapi gaya hidup lo di Jakarta tuh beda banget. Lo main motor sport, lo ngurus bisnis ekspor-impor, pakaian lo branded, terus sekarang malah beli rumah elite di Jakarta Selatan bukannya diem di pesantren ngajar santri. Apa... gak ada pengurus pondok atau santri-santri senior yang nyinyirin hidup lo?"

​Ibra terdiam sejenak mendengar pertanyaan panjang dari Bita. Ia mengalihkan pandangannya lurus ke arah langit malam Jakarta yang bertabur sedikit bintang, seolah sedang merangkai kata-kata yang pas.

​"Ada. Tentu saja ada, Tsabita," jawab Ibra dengan nada suara yang sangat lempeng dan tenang. "Manusia tidak akan pernah kekurangan alasan untuk menilai hidup orang lain hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Beberapa orang di awal sempat berbisik, mengira saya sudah melupakan jalur agama dan terlalu silau dengan kemewahan dunia."

​"Terus, kenapa lo tetep ngelakuin itu? Kenapa lo gak milih jadi Gus yang 'normal' aja? Yang penurut, diem di dalam pondok tiap hari, pakai sarung dan baju takwa, terus fokus ngajar santri dari subuh ketemu subuh?" cecar Bita lagi, benar-benar penasaran dengan jalan pikiran suaminya.

​Ibra memalingkan wajahnya kembali, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Bita dengan tatapan teduh yang selalu berhasil meredam sifat meledak-ledak milik gadis itu.

​"Sebab bagi saya, menjadi seorang Gus bukan berarti menutup mata dari perkembangan dunia luar, Bita," tutur Ibra dengan suara baritonnya yang sarat akan kebijaksanaan. "Abi selalu mendidik saya untuk menjadi pria yang mandiri secara finansial sebelum saya memimpin umat. Beliau pernah berpesan kepada saya saat saya baru lulus dari Yaman, 'Ibra, kalau kamu nanti mau berdakwah atau mengurus pondok pesantren, pastikan tanganmu berada di atas. Jangan sampai kehidupan operasional para santri dan guru bergantung pada sumbangan atau belas kasihan orang lain.' Karena pesan itulah, saya memutuskan untuk turun ke dunia bisnis."

​Bita tertegun mendengar penjelasan tersebut. Mulutnya sedikit terbuka, merasa sisi lain dari pemikiran Gus Ibra ini benar-benar membuka sudut pandang barunya.

​"Lalu soal moge dan kehidupan malam lo di Jakarta?" tanya Bita lagi, suaranya kini melunak tanpa ia sadari.

​"Itu sarana saya untuk melepas penat, sekaligus membuka jaringan relasi," jawab Ibra dengan senyuman tipis. "Dunia bisnis di Jakarta itu sangat dinamis, Bita. Kadang, kesepakatan bisnis bernilai besar justru lahir di atas aspal jalanan saat touring motor bersama, atau di meja kopi kasual, bukan di dalam ruang rapat yang kaku. Tapi, sejauh apa pun saya melangkah ke dunia luar, saya selalu tahu ke mana arah kiblat dan jalan pulang saya. Pondok pesantren adalah rumah dan tanggung jawab akhir saya. membangun fondasi ekonomi yang kuat agar nanti saat saya sepenuhnya memegang tongkat kepemimpinan dari Abi, pesantren kita sudah mandiri secara ekonomi dan tidak bisa disetir oleh kepentingan politik mana pun."

​Kata 'pesantren kita' yang diucapkan Ibra entah kenapa memberikan efek kejut yang aneh di dalam dada Bita. Ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, menyadari bahwa pria berwibawa ini secara tidak langsung telah melibatkan masa depan Bita ke dalam rencana hidupnya.

​Ibra memajukan sedikit tubuhnya ke arah sekat pembatas, menatap Bita dengan pandangan yang lebih dalam dan penuh selidik. "Sekarang, gantian saya yang ingin bertanya kepada kamu, Tsabita."

​Bita mendadak memasang mode waspada, menaikkan sebelah alisnya. "Tanya apa? Jangan yang aneh-aneh ya."

​"Kenapa kamu memilih untuk menjadi anak yang begitu pemberontak, Bita?" tanya Ibra, suaranya terdengar sangat tulus, murni karena ingin mengenal istrinya lebih jauh, bukan untuk menghakimi. "Papa kamu pernah bercerita kepada Abi, bahwa kamu dulu adalah anak perempuan yang sangat manis, penurut, dan ceria saat masih kecil. Tapi sejak masuk bangku SMA, kamu berubah total. Suka pulang subuh, pergi ke tempat hiburan, dan sengaja membuat masalah agar Papa kamu marah. Kenapa?"

​Mendengar pertanyaan itu, senyuman tipis di wajah Bita seketika runtuh. Dadanya mendadak terasa sesak saat sebuah luka lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam di bawah kedok "gadis nakal" kembali terusik oleh pertanyaan Ibra.

​Bita memalingkan wajahnya, mencengkeram pagar besi balkon dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya mendadak terasa panas dan berkaca-kaca.

​"Karena... karena gue ingin diperhatikan, Gus," ucap Bita, suaranya mulai bergetar menahan luapan emosi yang membubung tinggi.

​Ibra tetap diam di posisinya, memberikan ruang penuh bagi Bita untuk menumpahkan segala keluh kesahnya tanpa memotong seuntai kalimat pun.

​"Lo tahu sendiri kan? Mbak Safira itu anak emas Papa. Dia pinter, dia sholeha, dia penurut, dia selalu juara kelas, bahkan dia penghafal Al-Qur'an, pokoknya persis banget kayak kriteria anak idaman yang selalu Papa dan Mama bangga-banggain di depan temen-temen bisnisnya. Sedangkan gue? Apa pun yang gue lakuin, selalu salah dan selalu dibanding-bandingin sama Mbak Safira."

​Bita menjeda kalimatnya, menarik napas pendek yang terasa sangat berat karena dadanya naik turun menahan tangis yang mulai pecah.

​"Gue dapet nilai ujian bagus di sekolah, Papa cuma bilang 'tingkatkan lagi biar bisa dapet beasiswa kayak kakakmu'. Gue nyoba belajar masak di dapur, Mama cuma ngicipin sedikit terus bilang 'rasanya masih kurang, masih enakan buatan Safira'. Lama-lama gue capek, Gus! Gue ngerasa eksistensi gue di rumah itu sama sekali gak dianggap ada! Gue ngerasa Papa dan Mama gak butuh anak kayak gue!" ucap Bita, air matanya kini mengalir makin deras.

​Ia menghapus air mata itu dengan kasar menggunakan ujung lengan kaos oversized-nya. "Makanya gue milih berontak. Gue cari perhatian dan kesenangan di luar rumah. Gue pergi dugem, gue minum sampai mabuk, gue temenan sama anak-anak sirkel yang hobinya hura-hura. Karena cuma di tempat-tempat dunia malam itu gue ngerasa diperhatiin. Cuma di sana orang-orang gak bakal nanya 'lo adiknya Safira yang pinter itu ya? Kok beda banget bak langit dan bumi?'. Di luar sana, gue adalah Tsabita, diri gue sendiri, bukan sekadar bayang-bayang atau sisa-sisa kesempurnaan Mbak Safira. Dan disaat gue pulang pagi disitu orang tua gue marahin gue habis-habisan. Mereka akan ngomel panjang lebar dan itu membuat gue merasa kembali di perhatikan. Dan keterusan sampai mereka nyerah ngadepin gue. Dan mereka gak mau dan gak mau nyari tau apa mau gue."

​Bita mengembuskan napasnya dengan sisa-sisa isakan, menatap lurus ke arah kolam renang dengan pandangan kosong yang rapuh. "Konyol banget kan alasan gue? Lo pasti sekarang mikir kalau gue ini cewek manja yang kekanak-kanakan banget, yang bikin masalah cuma gara-gara kurang kasih sayang."

​Sebelum Bita sempat memalingkan wajahnya lebih jauh untuk menyembunyikan rasa malunya karena telah menangis, sebuah sentuhan hangat mendarat di pipi kirinya.

​Gus Ibra ternyata telah mengulurkan tangan kanannya melewati sekat yang membatasi balkon mereka. Ibu jari pria itu yang kokoh namun luar biasa lembut, bergerak perlahan mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi kulit pipi Bita. Sentuhan tangan Ibra terasa begitu hangat, seolah-olah hantaran energinya sedang berusaha menyembuhkan setiap kepingan luka tak kasat mata yang ada di dalam hati gadis itu.

​Bita seketika membeku di tempatnya, matanya membelalak menatap wajah Gus Ibra yang kini berada sangat dekat dengannya dari sekat pembatas. Jantung Bita berdegup dengan ritme yang luar biasa liar, namun kali ini bukan karena rasa takut atau rasa kesal, melainkan karena sebuah rasa nyaman dan aman yang teramat sangat—rasa yang belum pernah ia dapatkan dari laki-laki mana pun sepanjang hidupnya.

​"Saya tidak pernah dan tidak akan pernah berpikir bahwa kamu kekanak-kanakan, Tsabita," bisik Ibra dengan suara yang teramat rendah, lembut, namun sarat akan ketulusan serta empati yang mendalam. "Kamu hanya seorang anak perempuan yang sedang merindukan sebuah pelukan hangat dan pengakuan atas diri kamu sendiri. Dan maafkan orang tua kamu yang mungkin terlalu kaku serta tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada anak bungsunya."

​Bita terpaku, air matanya kembali meleleh melewati ibu jari Ibra yang masih setia menangkup pipinya.

​Ibra menatap langsung ke dalam sepasang mata bulat milik Bita yang basah, mengunci pandangannya dengan penuh kesungguhan seorang imam. "Mulai hari ini, detik ini... kamu tidak perlu lagi pergi ke tempat-tempat malam atau merusak diri kamu sendiri hanya untuk mencari pengakuan dari dunia luar, Bita. Di sini, di dalam rumah kita ini, dan di hadapan mata saya... kamu adalah Tsabita Azzahra. Kamu berharga apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan kamu, tanpa harus memaksakan diri menjadi bayang-bayang dari kakak kamu atau siapa pun."

​Ibra menurunkan tangannya dari pipi Bita secara perlahan, namun tatapannya tidak terputus sedikit pun. "Kamu adalah istri saya, Tsabita. Dan bagi saya, fakta bahwa kamu berdiri di sini sebagai pendamping hidup saya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya menghargai seluruh eksistensi diri kamu di dunia ini."

​Dar!

​Pertahanan ego dan tembok pembatas setinggi langit yang selama ini dibangun oleh seorang Tsabita Azzahra malam itu runtuh total tanpa menyisakan satu keping pun pecahan rasa benci. Air mata Bita kembali mengalir deras, namun kali ini bukan lagi karena rasa sakit atau kesepian masa lalu, melainkan karena rasa lega dan haru yang luar biasa hebat yang membuncah di dalam dadanya.

​Di bawah saksi bisu embusan angin malam, kilau air kolam renang, dan langit malam kota Jakarta, Bita akhirnya menyadari... bahwa pria kaku yang awalnya sangat ia benci dan ia anggap sebagai hukuman dari sang ayah, ternyata adalah obat penyembuh terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkan bagian paling rapuh di dalam jiwanya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!