NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:72.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah

Satu bulan telah berlalu, malam ini menjadi terakhir bagi Aira dan Ibu Astri tinggal do rumah bambu mereka. Di mana, pendaftaran pernikahan Aira dan Arsen sudah selesai dua hari lalu dan Aira sudah resmi menjadi istri Arsen di mata agama dan negara.

Di rumah bambu sederhana itu, semua terasa berjalan begitu lambat. Sudut-sudut kamar yang biasanya dipenuhi tumpukan barang kini tampak lengang dan kosong, tiga buah kardus besar dan dua koper tua yang sudah diikat tali rafia berjajar rapi di sudut ruang tamu, siap dibawa besok pagi.

​Aira duduk di tepi kasur kapuk, tangannya mengusap permukaan dipan kayu yang terasa dingin.

​"Belum tidur, Ra?"

​Suara bariton Arsen memecah keheningan, pria itu baru saja masuk setelah memastikan seluruh pintu dan jendela rumah terkunci rapat.

Arsen melepas jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya lalu mendudukkan diri di samping sang istri, kasur kapuk itu sedikit ambles menerima bobot tubuh Arsen.

​Aira menoleh dan menatap suaminya yang malam ini tampak santai mengenakan kaus oblong hitam, "Belum, Mas. Rasanya aneh aja... besok aku beneran bakal meninggalkan rumah ini. Tempat ini punya banyak kenangan sedih, tapi juga tempat aku tumbuh," lirih Aira.

​Arsen meraih jemari Aira dan menggenggamnya erat untuk menyalurkan kekuatan, "Semua kesedihan itu sudah selesai, Ra. Besok, kita buka lembaran baru ya," balas Arsen.

​Aira mengangguk lalu teringat sesuatu yang sejak sore mengusik rasa penasarannya, "Oh ya, Mas. Besok kita berangkatnya jam berapa? Terus... perjalanan ke Jakarta itu kan jauh kalau naik mobil, Ibu dari kemarin cemas, takut badannya ndak kuat kalau harus duduk berhari-hari di mobil travel," tanya Aira.

​Arsen terkekeh pelan, mengusap punggung tangan Aira dengan ibu jarinya. ​"Siapa bilang kita mau naik mobil sampai Jakarta? Perjalanan darat dari Lumajang ke Jakarta itu bisa makan waktu belasan jam lewat tol, Ra. Kasihan Ibu kalau harus capek di jalan," ucap Arsen.

​Aira mengerutkan keningnya bingung. "Lho? Terus kita ke sananya naik apa, Mas?" tanya Aira.

​"Besok pagi, orangku bakal datang buat jemput kita ke sini, terus kita bakal diantar langsung ke Bandara Juanda. Dari Surabaya, kita akan menggunakan pesawat terbang ke Jakarta, cuma satu setengah jam, jadi Ibu nggak akan kecapekan," jawab Arsen santai dengan senyum tipisnya.

​Mendengar hal itu, mata Aira seketika membelalak lebar dan jantungnya berdesir hebat antara takjub dan gugup. Seumur hidup, jangankan naik pesawat, melihat burung besi itu dari dekat saja Aira belum pernah, ia hanya sering melihatnya melintas kecil di atas langit.

​"Pe-pesawat, Mas? Beneran?" tanya Aira memastikan, suaranya mencicit pelan.

​"Iya, Istriku," goda Arsen, gemas melihat ekspresi syok di wajah polos Aira.

Arsen menarik tubuh Aira ke dalam dekapan hangatnya, merebahkan diri bersama di atas kasur kapuk untuk menikmati malam terakhir mereka di kaki Gunung Semeru.

"Sekarang tidur, besok kita harus bangun pagi soalnya," ucap Arsen.

.

Pagi harinya, tepat pukul setengah tujuh pagi, udara Lumajang masih menyisakan sisa-sisa embun yang sejuk. Di depan pekarangan rumah bambu itu, sebuah mobil berwarna hitam yang dikirim khusus oleh asisten Arsen sudah terparkir dengan mesin yang menyala halus. Tiga kardus besar dan dua koper tua milik Aira dan Ibu Astri telah tertata rapi di dalam bagasi luas mobil tersebut.

​Aira berdiri di ambang pintu, memandangi rumah masa kecilnya untuk terakhir kali. Ada rasa haru yang membuncah, namun kini hatinya jauh lebih lapang. Di sampingnya, Arsen berdiri gagah dengan kemeja kasual yang digulung sebatas siku, menggandeng jemari Aira dengan erat. Sementara Ibu Astri tampak menggandeng tangan Bu Jia, satu-satunya tetangga yang tulus menemani mereka di masa-masa sulit dan Ibu Astri hanya bercerita tentang kepindahannya pada Bu Jia.

​"Ibu Astri, Aira... hati-hati di Jakarta ya. Kalau ada waktu kabari saya, jangan lupakan saya di sini," ucap Bu Jia dengan mata yang berkaca-kaca dan memeluk Ibu Astri dengan erat, seolah menyalurkan seluruh doa terbaiknya untuk sahabat lamanya itu.

​"Matur nuwun sanget (Terima kasih banyak), Bu Jia. Sampeyan sudah banyak membantu kami selama ini, sampaikan salam saya untuk Gio dan Anggi," bisik Ibu Astri, air matanya menetes pelan karena haru.

​Di ujung jalan, suasana kontras mulai terlihat. Beberapa ibu-ibu desa, termasuk Bu Romlah yang sedang memegang bakul cucian, berjalan melambat di depan pekarangan. Langkah kaki mereka tertahan, mata mereka membelalak lebar melihat koper-koper yang sudah masuk ke dalam mobil.

​"Lho, Bu Romlah, itu si Aira sama ibunya mau ke mana? Kok bawa koper banyak sekali? Apa mau diusir?" bisik Bu Lastri yang tiba-tiba muncul dari balik pohon mangga.

​Bu Romlah mendengus, sisa harga dirinya yang runtuh kemarin membuat dadanya kian sesak. "Mana saya tahu! Paling juga mau dibawa ke rumah kontrakan kecil di kota. Gaya-gayaan pakai mobil bagus, paling juga sewaan!" ketus Bu Romlah dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke pekarangan.

​Arsen yang mendengar sayup-sayup cibiran itu sama sekali tidak menoleh. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sarat akan kemenangan. Pria itu berbalik, lalu membukakan pintu tengah mobil yang mewah itu untuk Ibu Astri dan Aira dengan sangat hormat.

​"Ibu, Aira, ayo masuk. Perjalanan kita ke Bandara Juanda sekitar tiga jam, jadi kalian bisa istirahat di dalam," ucap Arsen dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa, sengaja dibuat cukup keras agar menggema di telinga para penggosip di ujung jalan.

​Sebelum masuk ke dalam mobil, Aira menyempatkan diri menoleh ke arah Bu Romlah dan Bu Lastri. Tidak ada lagi gurat ketakutan, Aira tersenyum sangat manis, sebuah senyuman perpisahan yang elegan yang menegaskan bahwa seluruh rantai penderitaan dan hinaan di desa ini telah resmi ia putuskan.

​Begitu pintu mobil tertutup rapat, hawa sejuk AC langsung menyelimuti mereka dan meredam seluruh hiruk-pikuk kedengkian di luar sana. Mobil itu perlahan bergerak, melaju mulus membelah jalanan desa yang berbatu dan meninggalkan kepulan debu tipis serta wajah melongo Bu Romlah dan penonton setianya yang baru menyadari bahwa hari itu.

Aira dan Ibu Astri telah pergi dari kehidupan mereka untuk selamanya, menuju derajat yang tidak akan pernah bisa mereka capai.

​Di dalam mobil, Aira merasakan tangan Arsen kembali merengkuh jemarinya dan menggenggamnya begitu protektif di atas pangkuan.

​"Semua yang di belakang sudah selesai, Ra. Sekarang, waktunya kita melihat ke depan," bisik Arsen lembut dan menatap netra istrinya dengan penuh binar kasih, ​Aira pun mengangguk dan percaya pada sang suami.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
yang nangani Dokter Kandungan malah disuruh periksa lagi di Dokter Kandungan 🤔🤔🤔 mungkin suruh USG kali y🤔🤔🤔
elaretaa: Maaf, salah Kak. Seharusnya dokter umum itu, terus nanti dibawa ke dokter kandungan🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Felycia Fernandez
bukannya tadi di part atas di jelaskan kalau dokter yang keluar dokter wanita spesialis kandungan..
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
Felycia Fernandez: semangat revisi kk Thor
total 2 replies
Allfa Rizky
sayang ya Zakia sifatnya plek ketiplek bapaknya
erviana erastus
didunia nyata apa ada suami spti ini? 🤭
erviana erastus
syukurlah semua baik-baik aza
Felycia Fernandez
naaaah bener tebakan ku kemaren, Aira mengalami eklamsia...
Bunga Andthea
sempet deg deg an bacanya
falea sezi
preeklamsia ya 😓
Felycia Fernandez
lho kenapa?? demam kah??
erviana erastus
apa efek anestesi nya sdh hilang dan aira nggak bisa menahan rasa sakit? 🤔
erviana erastus: ho oh
total 2 replies
Felycia Fernandez
jadi ingat waktu kontraksi, sudah sehari 2 malam ngalami kontraksi,tapi mentok di pembukaan 3 terus . akhirnya SC pun dilakukan
Aidil Kenzie Zie
tu si Ibu Ami masih waras nggak mau ganggu Aira 👍🏻
Felycia Fernandez
kesabaran Aira yang punya bapak lucknut dulunya
Felycia Fernandez
lucu 🤣🤣🤣🤣
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
Syifa Fauziah
ulalaaaaaa,,, pagi2 udh gemess liat arsen dan airaa😍🤭.
erviana erastus
omg ternyata adik kandung toh ckckck gila bener .... mau numpang hidup enak sama aira 🤣 nggak waras kek pantes nyusul bpk sama pmnx dipenjara biar rasa
Felycia Fernandez
ternyata darah pak Hilma mengalir deras di tubuh Zakia...
🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Bu Ami beneran sayang Ama Zakia
erviana erastus
licik kek bapakx ckckck 🤬🤬🤬
Felycia Fernandez
ini lagi duo lambe...
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!