Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan milikku seorang
"Mas pulang larut lagi," ujar Safira dengan wajah kesalnya.
Sudah beberapa hari ini Adrian pulang larut malam tanpa mengabari.
"Aku sibuk Alya, banyak pekerjaan yang harus di urus."
"Bohong! Tadi aku ke kantor mas tapi mereka bilang sudah beberapa hari ini mas pulang cepat! Mas kemana?"
"Intinya aku sibuk Safira!"
"Mas mencari Alya karena tahu dia sedang hamil?"
"Kalau iya, lalu kenapa? Apa aku nggak berhak mencari mantan istriku yang sedang mengandung anakku?" Akhirnya Adrian jujur. Dia terlalu stres memikirkan kemana lagi akan mencari Alya.
Dia sudah melalukan banyak usahan dari teman ke teman, menyuruh seseorang mencari keberadaanya hingga ke kota-kota terpencil.
"Kamu bertanya kenapa mas?" Rasanya Safira ingin mengamuk di dalam kamar itu. Apakah Adrian tidak pernah memikirkan perasaanya? Membicarakan mantan istri dan anak padanya disaat dia baru saja keguguran? "Kamu sama sekali nggak pernah menjaga perasaanku sebagai seorang istri!"
"Aku mau dan aku berusaha Safira. Tapi sikapmu selalu memicu amarahku. Kamu sangat berbeda dengan Alya."
"Bandingkan saja terus!" Safira membanting pintu kamarnya.
Mengira Adrian akan menyusul dan membujuknya, padahal pria itu memilih meredamkan amarahnya di kamar mandi.
Setelah dirasa jauh lebih baik, dia berbaring menatap langit-langit kamarnya.
Dulu jika dia sedang lelah pulang bekerja. Lupa mengabari karena sangat sibuk, Alya masih menyambutnya dengan senyuman. Mempertanyakan kelelahannya dan berusaha membuatnya nyaman.
Alya tidak pernah marah saat bertanya, dan dia pun membicarakan ketika sudah berada di tempat tidur.
"Tadi mas sibuk banget ya sampai nggak bisa mengabari?"
"Lain kali boleh nggak mas meluangkan waktu beberapa menit untuk mengabariku? Aku khawatir kalau sudah jam pulang tapi mas nggak ada di rumah."
Dan permintaan seperti itu selalu dilakukan dengan sebuah pelukan manja sehingga Adrian tidak pernah marah kepada Alya. Berbeda dengan Safira yang selalu mengedepankan emosi padahal Adrian baru saja pulang dan lelah.
Adrian melirik pintu kamarnya ketika Safira membukanya. Wanita itu mendekat, berbaring di sampingnya dan memeluk seolah tidak terjadi apa-apa.
"Seenggaknya peluk aku sekali saja mas," lirih Safira tetapi Adrian enggang bergerak, masih menatap langit-langit seperti patung.
***
"Sudah menemukan keberadaan Alya nak?" tanya mama Adrian ketika sarapan di meja makan.
"Belum Ma. Aku sedang berusaha."
"Kamu harus menemukannya, cucu papa harus baik-baik saja," ujar sang papa.
Dan di antara mereka tentu saja ada Safira yang semakin ketakutan. Dia harus apa untuk mengambil simpati dan perhatian keluarga suaminya? Jika dia diam saja, mungkin lama kelamaan dia hanya akan menjadi angin di rumah ini.
Safira mengantar Adrian sampai di depan pintu, menunggu kecupan di kening tetapi pria itu tidak melakukannya selain ucapan
Aku berangkat dulu ya
"Mas sudah nggak mencintaiku?"
"Safira ini masih pagi, aku harus berangkat," balas Adrian.
"Oke hati-hati."
Safira melambaikan tangannya dan kembali memasuki rumah. Kedua mertuanya juga sudah pergi, tersisa Adrina yang yoga di depan tv. Mengikuti gerakan di layar.
"Kamu suka yoga juga?"
"Hm, dan biasanya aku yoga sama kak Alya," jawab Adrina masih fokus dengan gerakannya.
"Kenapa kamu sangat menyukai Alya dan aku nggak?"
"Karena kamu miskin!" jawab Adrina penuh tekanan.
"Alya juga miskin, kami sama saja."
Adrina menghela napas panjang, menatap kakak iparnya. "Kalian memang sama-sama miskin dan nggak sederajat dengan keluarga kami, tapi kalian berbeda. Kak Alya hanya miskin materi, tetapi dia kaya dalam hal apapun. Entah cinta, kasih sayang, dan ilmu. Satu lagi dia nggak menginjak sesama orang miskin untuk naik level."
Adrina memindai tubuh Safira dari atas ke bawah dan ia melakukannya berulang kali. "Berbeda denganmu yang miskin segalanya bahkan harga diri."
"Sudahlah, aku nggak mau mengawali pagi yang buruk, apalagi aku mau bertemu pacarku, harus cantik. Biasanya kak Alya akan membantuku dandan."
"Aku bisa membantumu."
"Nggak usah, kulit aku sensitif," jawab Adrina dan berlalu.
***
"Kamu menemukan sesuatu tentangnya?" Adrian menghentikan segala pekerjaannya ketika orang suruhannya di seberang telepon memberikan kabar baik.
"Iya Pak, Bu Alya sekarang berada di bandung dan tinggal bersama asistennya di sebuah kontrakan. Tapi bu Alya nggak bekerja, menurut para tetangga bu Alya hanya berdiam diri di rumah."
"Kirimkan alamatnya sekarang."
Adrian memutus sambungan telepon, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Diraihkan gagang telepon di atas meja kemudian menghubungi seseorang yang selalu mengurus apapun untuknya.
"Atur jadwal saya untuk perjalanan bisnis ke bandung."
Dan setelahnya dia bersiap-siap karena sudah tidak sabar bertemu Alya dan calon anaknya.
Sedangkan yang sedang dicari tahu keberadaanya masih melakukan rutinitas seperti biasa dan berusaha hidup sehat. Menjaga moodnya tetap stabil agar janin di perutnya tidak stres.
Demi menyangkan diri, dia bahkan berlatih melukis berbekal skilnya sebagai perias. Namun, hari ini dia kehabisan kanvas akibat terus mengulang lukisan yang tidak pernah jadi.
Dia beranjak, menyambar ponselnya dan ke kamar mengambil jaket, berniat untuk membeli kanvas sekalian jalan-jalan di sore hari.
Tentu dirinya dibekali google maps bahwa di tempat ini ada peralatan melukis. Di dalam taksi, sesekali ia membalas pesan Sena yang mempertanyakan dirinya baik-baik saja atau butuh sesuatu, benar-benar sangat peduli untuk ukuran orang lain.
Aku sedang keluar membeli kanvas dan beberapa peralatan melukis.
Nanti kirim lokasinya ya mbak, biar pas pulang aku langsung ke sana.
Kamu ini kayak suami yang posesif saja. Aku nggak apa-apa keluar sendiri. Kamu kalau pulang langsung ke rumah.
Setelah membalas pesan Sena, dia menyimpan ponselnya dan segera turun dari taksi. Memasuki toko tanpa dia sadari sejak pergi dari rumah ada yang mengikutinya.
Alya memilih beberapa cat minyak, kanvas dengan ukuran berbeda-beda dan kanvas yang sudah memiliki sketsa agar tinggal diwarnai saja.
"Apa lagi ya yang harus aku beli?" gumamnya menatap rak-rak. Dia terus berkeliling sampai akhirnya menyadari orang yang mengikutinya sejak tadi.
Keranjang di genggaman Alya terjatuh ke lantai, isinya berserakan tetapi tatapannya malah fokus pada pria yang berdiri tegap tidak jauh darinya.
Jantungnya berdetak tidak menentu, bukan karena cinta tetapi rasa takut akan sesuatu. Bagaimana pun kehidupan yang mulai terbentuk di perutnya bukan miliknya sendiri.
Alya menunduk menyadari keranjangnya, dia hendak berjongkok untuk mengumpulkan barang belanjaan tetapi lengannya ditarik pelan, sangat pelan.
"Nangan jongkok, kasian anak kita, biar mas yang mengumpulkan," ucap pria itu sambil membereskan barang berserakan di lantai dan Alya berdiri mematung, refleks memegangi perutnya.
"Mas akan membayarnya untukmu ...."
"Aku bisa sendiri." Alya merebut kerangnya di tangan Adrian.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan subcribe ya. Dukungan kalian semangat author.
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya