Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan
Sudah lebih dari sebulan berlalu sejak kejadian itu. Kehidupan di kediaman Chensi kini berjalan lebih tenang. Tidak ada lagi gangguan dari keluarga Chensi, tidak ada tatapan sinis dari pelayan, dan semua kebutuhan Annisa selalu terpenuhi dengan sempurna. Chensi tetap menunjukkan perhatiannya yang luar biasa—memastikan makanan yang dikonsumsinya halal, mengatur jadwal pemeriksaan kandungan secara rutin, bahkan meluangkan waktu setiap malam untuk duduk mendengarkan keluh kesah gadis itu.
Namun, meski segala hal terlihat baik dari luar, di dalam hati Annisa masih menyimpan pertanyaan besar yang tak kunjung terjawab. Setiap hari ia menunggu kepastian, namun Chensi belum pernah membicarakan lagi soal status hubungan mereka atau masa depan anak yang akan lahir itu. Ia ingin bertanya, namun selalu terhenti di tengah jalan. Setiap kali melihat tatapan lembut dan perhatian tulus lelaki itu, rasa takut merusak suasana membuatnya menelan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya.
Suatu sore, saat salju sudah mulai berkurang dan matahari bersinar lebih terang, Chensi mengajak Annisa berjalan-jalan di taman kota yang sudah dibersihkan dari tumpukan salju. Ia membantu Annisa mengenakan mantel tebal, membungkus syal dengan rapi di lehernya, lalu menggandeng tangan gadis itu dengan lembut sepanjang perjalanan.
Di tengah taman yang sepi dan indah, mereka berjalan beriringan. Chensi sesekali bercerita tentang pemandangan, tentang pohon-pohon yang akan berbunga saat musim semi tiba, atau hal-hal ringan lainnya. Namun jawaban Annisa hanya singkat-singkat saja, sesekali hanya mengangguk atau menggeleng. Senyumnya terasa dipaksakan, dan matanya sering kali menatap ke depan tanpa fokus.
Chensi segera menyadari perubahan suasana hati itu. Ia berhenti melangkah, lalu memutar tubuhnya menghadap Annisa.
“Kenapa kau diam saja belakangan ini? Sejak tadi hanya menjawab sekenanya. Apakah ada yang mengganjal di hatimu? Apakah ada yang kurang atau tidak nyaman?” tanyanya lembut, matanya menatap lekat mencari jawaban di wajah gadis itu.
Annisa menunduk, jari-jarinya memutar ujung syal yang melilit di lehernya. Ia ingin bicara, tapi kata-kata terasa berat untuk keluar. Akhirnya, setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, ia mengangkat wajahnya dengan tatapan yang bercampur sedih dan bingung.
“Tuan Chensi… saya hanya sering bertanya-tanya dalam hati,” ucapnya pelan namun jelas. “Tuan memperlakukan saya sebaik ini, memberikan segala yang saya butuhkan, melindungi saya seolah saya adalah orang yang paling berharga. Tapi… untuk apa semua ini?”
Chensi mengerutkan dahi sedikit, belum mengerti arah pembicaraannya. “Apa maksudmu? Aku melakukannya karena itu tanggung jawabku, dan karena aku ingin melakukannya.”
“Tapi tanggung jawab apa, Tuan?” potong Annisa dengan suara yang mulai bergetar. “Kita bukan suami istri secara sah menurut keyakinan saya. Kita tidak memiliki ikatan yang jelas. Jika Tuan hanya menganggap saya sebagai wadah untuk melahirkan pewaris, atau sekadar wanita yang dirawat sampai melahirkan… lalu apa arti perhatian yang lebih dari ini? Kenapa Tuan berusaha memahami kebiasaan saya, menghormati keyakinan saya, bahkan memarahi keluarga sendiri demi saya?”
Air matanya mulai menggenang di sudut mata, namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh.
“Setiap hari saya merasa bingung, Tuan. Saya merasa seperti orang yang beruntung, tapi juga seperti orang yang terjebak. Jika pada akhirnya kita tidak bisa bersatu, jika perbedaan ini tetap menjadi tembok yang tidak bisa dirobohkan… maka untuk apa semua kebaikan ini diberikan? Semakin lama saya merasa nyaman, semakin lama saya merasa dihargai, maka semakin sulit nanti bagi saya untuk melepaskan semuanya jika saatnya tiba.”
Annisa menunduk kembali, suaranya semakin lirih. “Saya takut… takut pada akhirnya ini hanya akan menyakiti hati saya sendiri, dan membuat anak kita nanti tumbuh tanpa kepastian status, tanpa kejelasan jalan yang harus diambil.”
Chensi terdiam mendengar semua pertanyaan yang selama ini terpendam. Ia menggenggam kedua bahu Annisa dengan lembut, menatap matanya yang berkaca-kaca. Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk menjaga keamanan dan kenyamanan fisik, namun lupa memberikan kepastian yang paling dibutuhkan oleh hati gadis itu.
“Maafkan aku jika membuatmu merasa tidak tenang,” ucapnya perlahan, penuh penyesalan. “Aku memang belum menemukan jalan keluar yang sempurna untuk kita. Aku sudah bertanya pada banyak orang, membaca banyak aturan, namun sampai saat ini belum ada jawaban yang bisa memuaskan hati kita berdua.”
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan tegas namun lembut.
“Tapi satu hal yang ingin kau ketahui. Semua yang aku lakukan ini bukan karena kewajiban semata, bukan karena kau hanya mengandung anakku. Aku melakukannya karena… kau sudah menjadi bagian dari hidupku yang tidak bisa lagi aku lepaskan. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku tahu satu hal—aku tidak ingin kehilanganmu, dan aku ingin anak kita tumbuh dalam suasana yang penuh damai, tanpa kebingungan seperti yang kau rasakan sekarang.”
Annisa tertegun, matanya melebar sedikit mendengar pengakuan itu. Ia menatap Chensi dengan pandangan penuh tanya, namun juga ada secercah harapan yang mulai tumbuh kembali.
“Jadi… Tuan tidak akan membiarkan kita terpisah begitu saja?”
“Tidak akan,” jawab Chensi mantap. “Aku akan terus mencari jalan, meski butuh waktu lama. Aku tidak akan memaksamu mengubah keyakinanmu, dan aku juga tidak akan membiarkan kau pergi. Kita akan cari jalan tengah yang bisa kita jalani bersama, demi kebaikan kita dan anak kita.”
Meskipun jawabannya belum memberikan kepastian yang utuh, namun setidaknya hati Annisa terasa lebih lega. Ia tahu sekarang, perhatian Chensi bukanlah hal yang sia-sia, dan lelaki itu juga sedang berjuang mencari solusi yang terbaik untuk mereka berdua.
Sejak percakapan sore itu, Annisa berusaha menenangkan hatinya. Ia memutuskan untuk lebih sabar, membiarkan waktu dan usaha Chensi berjalan apa adanya, tanpa terus‑menerus membebani pikiran dengan pertanyaan yang belum ada jawabannya. Ia kembali menjalani hari‑harinya dengan tenang, menyibukkan diri dengan merawat kandungan dan mengurus kebutuhan rumah sesuai keinginannya.
Namun malam itu, suasana berubah menjadi berbeda. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan hujan turun dengan derasnya di luar. Suara pintu depan terbuka dengan agak keras, disertai langkah kaki yang terhuyung‑huyung dan tidak stabil.
Annisa yang sedang duduk membaca buku di ruang tengah segera berdiri dan melangkah mendekat. Matanya terbelalak melihat Chensi masuk dengan pakaian yang sedikit basah, wajahnya memerah, dan bau alkohol yang cukup tajam tercium jelas begitu ia melangkah masuk. Lelaki itu baru saja pulang dari pertemuan bisnis yang dihadiri banyak rekanannya, dan sepertinya ia terlalu banyak meminum minuman keras malam itu.
“Tuan Chensi!” seru Annisa terkejut, segera menyangga tubuh Chensi yang hampir terjatuh. “Kenapa pulang dalam keadaan seperti ini? Apa Tuan Li tidak mengantarnya dengan mobil?”
Chensi hanya tersenyum samar, matanya sayu dan pandangannya kabur. Ia bergumam tidak jelas, berusaha berdiri tegak namun kakinya terasa lemas. “Aku… aku baik‑baik saja… hanya sedikit lelah…”
Dengan hati‑hati dan sekuat tenaga, Annisa menuntun Chensi masuk ke kamar tidur. Ia membantu lelaki itu duduk di tepi tempat tidur, lalu berlutut di hadapannya untuk melepaskan sepatu dan kaus kakinya yang basah. Tangannya bergerak lembut, berusaha tidak menimbulkan rasa sakit atau ketidaknyamanan.
Chensi menatap wajah cantik gadis berhijab itu dengan dalam. Hasr4t ingin memiliki seutuhnya kembali mencuat dalam hatinya.
Begitu Annisa selesai berdiri untuk mengambil handuk, tiba‑tiba tangan Chensi meraih pergelangan tangannya dengan genggaman yang kuat namun masih lemas karena pengaruh alkohol. Dengan dorongan yang tidak terkontrol karena hilang kendali, Chensi menarik tubuh Annisa hingga jatuh menimpa dadanya.
Matanya yang kabur menatap wajah gadis itu, napasnya memburu, dan naluri yang selama ini ia tahan mulai meluap keluar tanpa pikiran panjang. Ia mendekatkan wajahnya, hendak mencium dan memeluk Annisa seolah kembali ke malam kelam yang dulu terjadi.
“Annisa… kau milikku… sepenuhnya milikku…” gumamnya dengan suara serak, hampir tidak sadar akan apa yang ia lakukan.
Jantung Annisa berdegup kencang seketika. Rasa takut yang sudah lama ia kubur kembali meledak, namun kali ini ia tidak ingin lagi menjadi korban yang pasrah. Dalam keadaan panik dan insting melindungi diri, ia mengangkat tangannya dan dengan sekuat tenaga menampar pipi kanan Chensi.
“PLAK!”
Suara tamparan itu terdengar keras dan nyata di keheningan kamar.
Seketika itu juga, gerakan Chensi terhenti. Matanya yang tadi kabur dan penuh hasrat terbuka lebar, terkejut dan sedikit pusing karena benturan itu. Ia terdiam membeku, perlahan menyadari posisinya dan apa yang baru saja ia coba lakukan.
Di sisi lain, Annisa segera mundur selangkah, tangan menutup mulutnya, wajahnya pucat pasi karena ketakutan luar biasa. Ia menunduk dalam, tubuhnya gemetar hebat, matanya berkaca‑kaca menahan tangis.
“Maafkan saya! Ampunkan saya, Tuan! Saya tidak bermaksud menghina atau menyakiti Tuan! Saya hanya takut… saya takut hal yang sama terulang lagi…” ucapnya terbata‑bata, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia tahu betul sifat Chensi—lelaki yang dikenal kejam, berkuasa, dan tidak pernah menerima perlawanan dari siapa pun. Menamparnya adalah tindakan yang sangat berisiko, yang bisa membuatnya dihukum berat atau bahkan diusir dengan cara yang tidak menyenangkan.
Namun, Chensi tidak bergerak marah. Ia hanya duduk diam, menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih, lalu menatap Annisa yang terlihat sangat ketakutan dan bersalah. Perlahan‑lahan, kesadaran penuh kembali masuk ke dalam pikirannya. Ia menyadari bahwa tadi ia hampir melakukan hal yang sama persis seperti malam itu—bertindak tanpa izin, menggunakan kekuasaan, dan menyakiti hati wanita yang berusaha ia lindungi.
Rasa malu dan bersalah segera menyelimuti dadanya. Ia menggelengkan kepala keras‑keras untuk mengusir sisa pengaruh alkohol, lalu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah dan tidak akan melukai.
“Tidak… kau tidak salah, Annisa. Maafkan aku… maafkan aku yang hampir kehilangan kendali,” ucapnya dengan suara yang mulai jelas dan penuh penyesalan. “Kau berhak melakukannya. Jika itu membuatmu sadar dan membuatku sadar, maka tamparan itu justru yang aku butuhkan.”
Chensi menunduk dalam, rasa malu tergambar jelas di wajahnya. “Aku janji… tidak akan pernah lagi memaksamu, tidak akan pernah menyentuhmu tanpa keinginanmu. Bahkan jika aku sedang tidak sadar, kau berhak menahan atau menamparku lagi. Jangan pernah takut untuk melindungi dirimu sendiri di hadapanku.”
Annisa masih berdiri gemetar, namun perlahan rasa takutnya berkurang mendengar kata‑kata itu. Ia melihat tatapan Chensi yang kini dipenuhi rasa bersalah, bukan lagi amarah atau hasrat. Tamparan itu ternyata bukan hanya membangunkan kesadaran lelaki itu, tapi juga membuat keduanya semakin mengerti batas dan rasa hormat yang harus mereka jaga.