Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Alneo dan Riani melangkah keluar dari pintu jati rumah baru mereka.
Riani mengedarkan pandangannya ke halaman luas yang dikelilingi pagar tinggi dengan takjub.
"Kita nunggu taksi apa jalan kaki, Kak? Perumahan elite kayak gini kayaknya jarang ada taksi lewat deh," kata Riani penasaran. Matanya mengerling ke arah jalanan kompleks yang tampak sepi.
Alneo tersenyum misterius, lalu menepuk bahu adiknya pelan. "Kamu tunggu aja di sini, jangan ke mana-mana. Kakak ke samping dulu."
"Eh? Mau ngapain ke samping?" Riani mengerutkan kening, menatap Alneo yang melangkah menuju area garasi tertutup di sisi kanan rumah.
"Udah, tunggu aja. Nanti juga kamu tahu," seru Alneo tanpa menoleh.
Riani bingung dan sempat mengerucutkan bibirnya, ia memilih untuk tidak ambil pusing.
Gadis itu berjalan ke tepi teras, bersandar pada pilar besar sambil menikmati pemandangan indah rumah baru mereka.
Udara di sini sangat berbeda dengan rumah sempit mereka yang dulu bising.
"Hm... di sini sangat damai. Sempat saja ini bukan mimpi," gumam Riani lirih.
Ia memejamkan mata sejenak, penuh rasa syukur. "Tuhan, kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku dulu."
Sementara itu, di dalam garasi yang luas dan kosong, Alneo segera menutup pintu rapat-rapat.
"Sistem, buka inventaris boks hadiah mobil yang tadi," perintah Alneo dalam hati.
Alneo menyentuh ikon gambar mobil edisi terbatas yang ia dapatkan dari hadiah sistem sebelumnya.
Wushhh!
Hanya dalam hitungan detik, muncul sebuah kendaraan berdesain sangat futuristik.
Sebuah mobil MPV mewah dengan kapasitas enam kursi di bagian belakang. Bodinya berkilau dan mewah.
"Wow... ini mobil mewah banget! Ini sih bahkan lebih mewah dari mobilnya para CEO di TV," kata Alneo terbelalak, berjalan memutari mobil itu.
Penasaran, Alneo membuka pintu kemudi yang terbuka ke atas secara otomatis.
Begitu duduk di kursi kulit yang sangat empuk, ada interior yang luar biasa canggih.
Tidak ada tombol manual sama sekali. Semuanya digantikan oleh panel sentuh dan layar hologram yang mengapung di atas dasbor.
"Ini beneran mobil? Kok kayak pesawat luar angkasa?" Alneo bergumam takjub. Ia mencoba menyentuh salah satu ikon di layar hologram utama secara acak.
Klik.
[Peringatan: Mengubah ke Mode Sport]
Sreeet... Klak!
Alneo terkejut saat bodi mobil di sekelilingnya bergerak secara mekanis. Kursinya merendah, langit-langit mobil menyusut, dan bentuk luar mobil itu bertransformasi total menjadi sebuah mobil sport
"Eh eh, mobil ini bisa berubah?! Gilaaa, keren banget lagi!" kata Alneo heboh, memukul setir dengan Perasaan takjub.
Alneo menatap setir dan pedal di bawah kakinya dengan tatapan kosong.
"Tapi... sistem, aku kan enggak bisa bawa mobil. Jangankan mobil sport, megang angkot aja belum pernah. Bagaimana aku bisa mengemudi mobil ini keluar dari garasi?" gumam Alneo frustrasi, menepuk jidatnya sendiri.
[Ding! Merespons keluhan pengguna. Sistem menyediakan modul keahlian berkendara tingkat dewa.]
[Apakah Anda ingin melakukan transfer pengetahuan mengemudi? Membutuhkan biaya pertukaran poin.]
Mata Alneo langsung berbinar. "Ada? Bagus! Lakukan sekarang, Sistem! Jangan pakai lama!"
[Perintah diterima. Memulai proses...]
[Poin dipotong: 2.000 poin.]
[Sisa poin pengguna saat ini: 10.500 poin.]
[Memuat Modul Pencarian Bakat dan Refleks Motorik...]
[Loading Database Satelit Global...]
[Mulai Proses Pengumpulan Data Teknik Mengemudi (F1, Rally, Drift, & Survival Driving)...]
Seketika, layar hologram di depan Alneo berkedip-kedip merah dan biru dengan tulisan persentase yang berjalan cepat:
[Memuat...]
[Loading...]
[Mulai...]
0%...
10%...
20%...
30%...
40%...
50%...
60%...
70%...
80%...
90%...
100%...
[Proses Sinkronisasi Selesai.]
Ting!
Sebuah gelombang energi, mengalir masuk ke dalam otaknya.
Dalam sekejap, jutaan informasi, memori otot, teknik menyetir, cara membaca sirkuit, hingga insting refleks tingkat tinggi ada di dalam kepalanya.
Alneo memejamkan mata, mempelajari ilmu tersebut.
Ketika ia membuka mata kembali, pandangannya terhadap mobil sport itu sudah berubah total.
Setir yang tadinya terasa asing, kini ia seperti biasa membawa mobil.
"Gila... ini luar biasa. Sekarang, mari kita jemput Riani," bisik Alneo. Senyum percaya diri. Ia mencengkeram kemudi dengan mantap.
Alneo menekan tombol start virtual. Mesin mobil itu menderu halus, suara mesin bertenaga besar sangat halus dan elegan.
Ia memindahkan gigi hologram, menginjak pedal gas tipis, dan mobil sport itu meluncur mulus keluar dari garasi menuju halaman depan.
Di teras, Riani langsung melompat kaget saat mendengar suara mesin mobil.
Ia terkejut setengah mati melihat sebuah mobil sport mewah berwarna hitam metalik berbelok dan berhenti tepat di depan teras rumah mereka.
Tin! Tin!
Sreeet!
Kaca mobil yang gelap perlahan turun, menampilkan wajah Alneo yang sedang tersenyum santai sambil memakai kacamata hitam yang ia temukan di dasbor.
"Kak Alneo?!" Riani berteriak histeris, menunjuk-nunjuk kakaknya dengan tangan gemetar.
"Ini... ini mobil siapa?! Kakak nyuri ya?! Atau kakak ngerampok bank semalam?!" pekik Riani panik.
Alneo terkekeh geli melihat reaksi adiknya yang super panik. Ia membuka pintu mobil yang membuka ke atas, membuat Riani makin melongo.
"Sembarangan kalau ngomong. Ginilah kehidupan orang miskin yang mendadak kaya, apa-apa semuanya terkejut dan hasil merampok. Ini mobil Kakak. Udah, cepat masuk, katanya mau berangkat sekolah?" sahut Alneo santai.
"Tapi... tapi... sejak kapan Kakak bisa nyetir?!" Riani masih mematung di tempatnya, menolak percaya dengan apa yang ada di depannya.