Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Tapi Tuan Besar, jika Anda adalah donor yang sempurna untuk Leo, mengapa kita masih harus meragukan status hukum asal-usulnya?"
Reno menatap bosnya dengan kening berkerut dalam. Di dalam ruang kerja pribadi yang kini suasananya sedikit mereda setelah Alana dipindahkan ke ruang istirahat.
Devran berdiri membelakangi mejanya, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota malam hari.
"Aku tidak meragukan darahku yang mengalir di tubuh anak itu, Reno. Tes DNA barusan sudah membuktikannya secara mutlak," sahut Devran, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, hampir seperti bisikan yang berbahaya.
Pria itu memutar tubuhnya perlahan, menatap meja kerjanya tempat berkas medis Leo berserakan. "Yang aku ragukan adalah isi kepala Alana Kirana."
"Maksud Anda, Ibu Alana?"
"Ya. Alana bersumpah bahwa akulah satu-satunya pria di malam tanggal 12 November itu," Devran melangkah mendekati meja, mengetuk-ngetuk jemarinya di atas tumpukan kertas.
"Tetapi ekspresi ketakutannya saat aku menyebutkan tentang rekam medis Swiss, itu bukan sekadar ketakutan seorang ibu yang anaknya sedang sakit. Dia menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nama rahimnya."
Reno terdiam sejenak, mencerna kalimat atasannya. "Apakah Anda merasa... ada pihak lain di Eropa yang sengaja memalsukan identitas hukum Leo sebagai anak dari pria lain, sehingga Ibu Alana terpaksa melarikan diri kembali ke sini?"
"Tepat," kilat mata elang Devran menajam.
"Siska Lorenza mungkin bodoh dalam hal siber, tetapi jaringan mafia keluarganya memiliki koneksi internasional yang luas lima tahun yang lalu."
"Jika Siska tahu Alana hamil setelah malam itu, dia tidak akan tinggal diam. Aku ingin kamu menggali kembali ke akar paling dalam dari pelarian Alana ke Zurich."
"Apa saja yang harus saya selidiki secara spesifik, Tuan Besar?" tanya Reno, langsung mengeluarkan hp kerjanya untuk mencatat instruksi khusus.
"Selidiki semua berkas sipil, dokumen imigrasi, dan yang paling penting, siapa nama pria yang terdaftar sebagai ayah kandung Leo di akta kelahiran Swissnya," perintah Devran dengan nada posesif yang tidak terbantahkan.
"Alana tidak mungkin bisa bertahan di Swiss selama lima tahun sebagai ibu tunggal tanpa ada nama wali hukum atau sponsor yang melindunginya di sana. Aku ingin tahu siapa bajingan yang berani membiarkan namanya tertulis di samping nama anakku."
"Baik, Tuan Besar. Saya akan menghubungi agen intelijen data kita di Jenewa dan Zurich malam ini juga," sahut Reno takzim.
"Apakah saya perlu melibatkan tim hukum internasional Adhitama?"
"Lakukan secara rahasia, Reno. Jangan sampai Alana atau pihak rumah sakit mencium pergerakan ini," desis Devran, matanya beralih menatap pintu ruang istirahat tempat Alana sedang tertidur karena kelelahan setelah menangis.
"Aku ingin memegang semua kartu as sebelum aku memaksa wanita itu menyerah sepenuhnya di bawah kendaliku."
"Saya mengerti, Tuan. Saya permisi sekarang untuk mengeksekusinya," Reno membungkuk hormat, lalu dengan cepat melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Devran yang kembali tenggelam dalam keheningan malam dan obsesi besarnya untuk mengunci takdir keluarga kecilnya.
Tiga jam berlalu dengan sangat lambat di Lantai 45 Adhitama Tower. Devran tidak bergemerincing dari mejanya. Pria itu bahkan mengabaikan beberapa panggilan darurat dari dewan direksi terkait pembatalan sepihak kontrak Lorenza Group yang menghebohkan bursa saham sore tadi.
Baginya, satu-satunya hal yang bernilai di dunianya saat ini adalah anak laki-laki genius bernama Leo yang sedang berjuang melawan penyakit di hotel, dan ibunya yang berada di kamar sebelah.
Tepat pukul satu dini hari, pintu ruang kerja Devran kembali terbuka tanpa ketukan.
Reno masuk dengan langkah yang sangat terburu-buru. Wajah asisten pribadi yang biasanya selalu tenang dan diplomatis itu kini tampak sangat tegang, bahkan setitik keringat dingin terlihat membasahi pelipisnya meskipun pendingin ruangan berembus cukup kencang.
Devran yang menyadari perubahan drastis pada asistennya langsung menegakkan punggung.
"Bagaimana, Reno? Kamu sudah mendapatkan nama pria di akta kelahiran Leo?"
"Tuan Besar..." Reno menghentikan langkahnya di depan meja, napasnya agak memburu, tangannya mencengkeram tabletnya dengan begitu erat hingga buku jarinya memutih.
"Ini... ini jauh lebih buruk dan aneh dari apa yang kita perkirakan sebelumnya."
"Jangan bertele-tele, Reno! Katakan siapa namanya!" bentak Devran, kesabarannya yang setipis benang langsung putus melihat keraguan di wajah asistennya.
"Tidak ada nama pria mana pun di sana, Tuan Besar. Bahkan... tidak ada data apa pun," jawab Reno dengan suara yang sedikit bergetar.
Devran menyipitkan matanya, alis tebalnya bertaut rapat. "Apa maksudmu tidak ada data? Bukankah tadi kamu sendiri yang memperlihatkan rekam medis dari rumah sakit anak di Zurich?"
"Itulah masalahnya, Tuan Besar," Reno menyodorkan tablet digitalnya ke hadapan Devran, menampilkan baris demi baris kode enkripsi hitam yang terputus di tengah-tengah.
"Dua jam yang lalu, agen data kita di Swiss berhasil menembus server arsip sipil digital di distrik tempat Leo dilahirkan."
"Namun, begitu mereka mencoba mengunduh dokumen akta kelahiran murni dan rekam jejak persalinan Ibu Alana, seluruh sistem data tersebut mendadak terkunci dan menampilkan status Null."
Devran merebut tablet tersebut, matanya membaca dengan cepat log aktivitas server yang ditampilkan di sana.
"Penghapusan data? Kapan ini terjadi?"
"Bukan sekadar dihapus secara standar, Tuan Besar. Ini adalah penghapusan total secara sengaja menggunakan protokol militer tingkat tinggi yang biasa digunakan oleh agensi rahasia untuk melenyapkan identitas seseorang," jelas Reno, suaranya terdengar sangat serius dan sarat akan kecemasan.
"Semua rekam medis kelahiran Leo Kirana di rumah sakit luar negeri, mulai dari catatan dokter kandungan, jam persalinan, dokumen pasca-melahirkan, hingga identitas ayah biologis yang seharusnya tercantum di sana, semuanya telah dihapus secara bersih tanpa menyisakan satu pun cadangan fisik maupun digital."
Devran tertegun, menatap layar tablet dengan pandangan yang bergetar hebat. Pria itu mengepalkan tangan kirinya hingga terdengar bunyi gemertak sendi yang mengerikan.
"Siapa yang melakukannya, Reno? Siska tidak akan mungkin memiliki akses ke protokol penghapusan tingkat militer di Swiss!"
"Bukan Nona Siska, Tuan Besar. Agen kita melacak jejak forensik dari perintah penghapusan tersebut," Reno menarik napas pendek, menatap bosnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh ketakutan akan sebuah konspirasi besar yang baru saja mereka sentuh.
"Penghapusan data itu dilakukan dari dalam sebuah jaringan lokal yang sangat privat di Zurich, tepat dua belas jam yang lalu."
"Dua belas jam yang lalu?" Devran menghitung waktu di kepalanya.
"Itu... itu adalah waktu yang sama saat aku menahan paspor Alana di bandara Soekarno-Hatta!"
"Benar, Tuan Besar," sahut Reno dengan anggukan lemah.
"Begitu Ibu Alana mendarat di Jakarta dan paspornya Anda sita, seseorang di Swiss langsung menekan tombol pemusnah masal untuk seluruh masa lalu digital Leo Kirana."
"Seolah-olah... mereka sengaja ingin memastikan bahwa jika Anda mencoba menyelidiki siapa ayah dari anak itu melalui jalur hukum luar negeri, Anda tidak akan pernah menemukan apa pun kecuali dinding kosong."
Devran melempar tablet tersebut ke atas meja hingga layarnya retak seribu. Pria itu tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat kejam dan berbahaya, bergema di sepanjang dinding ruang kerja pribadinya yang sunyi.
"Menarik, benar-benar sangat menarik," desis Devran, matanya berkilat penuh dengan amarah yang berbaur dengan gairah berburu yang luar biasa besar.
"Alana Kirana... aku pikir kamu hanya seorang desainer miskin yang melarikan diri."
"Siapa sebenarnya yang berdiri di belakangmu di Swiss? Siapa bajingan yang memiliki kekuasaan sebesar ini untuk melindungi identitas anakku dari jangkauanku?!"
"Tuan Besar, apa perintah Anda selanjutnya?" tanya Reno, bersiap menghadapi badai besar yang pasti akan diledakkan oleh pria di depannya.
"Apakah kita harus menginterogasi Ibu Alana secara paksa malam ini?"
Devran menoleh ke arah pintu ruang istirahat, senyuman dominan yang teramat dingin terkembang di bibir tegasnya.
"Tidak perlu interogasi, Reno. Jika seseorang bersusah payah menghapus data itu dari Swiss, berarti mereka sedang ketakutan setengah mati jika aku menemukan kebenaran yang sesungguhnya."
"Jaga Alana dan Leo di bawah pengawasan ketat dua puluh empat jam. Mulai detik ini, tidak ada satu pun informasi dari kamar hotel atau rumah sakit yang boleh keluar tanpa persetujuanku. Kita akan memainkan permainan ini sesuai dengan cara yang mereka inginkan."