NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.Menemukan cara.

Pagi itu, sinar matahari menyapa bumi dengan lembut, menyebarkan kehangatan yang menyelimuti seluruh perbukitan dan desa-desa di sekitarnya. Di dalam vila yang tenang, Ivy sudah bersiap sejak dini hari. Ia mengenakan pakaian sederhana yang nyaman, lalu membantu Bibi Nora menyusun kotak bekal berisi kue, roti, dan susu yang akan dibagikan kepada anak-anak desa nanti. Di atas kepalanya, angka yang terlihat hanya oleh matanya kini tertulis 17 hari, tanda bahwa waktunya terus berjalan mendekati batas akhir. Namun, kali ini tatapan Ivy tidak lagi dipenuhi kesedihan atau ketakutan, ia hanya menghela napas pelan lalu tersenyum lembut, memilih untuk tetap menjalani hari dengan hati yang ringan.

“Sudah siap, Non? Jangan lupa membawa payung dan obatmu juga,” pesan Bibi Nora sambil memeriksa kembali barang bawaan mereka.

“Siap, Bi. Ayo kita berangkat,” jawab Ivy ceria, lalu melangkah keluar menuju jalan setapak yang biasa ia lalui.

Begitu tiba di pintu masuk desa, sapaan hangat langsung menyambut mereka. Para warga yang berjalan menuju ladang mengangkat tangan sambil tersenyum, memanggil nama Ivy seolah ia adalah bagian dari keluarga besar mereka. “Selamat pagi, Nona Ivy! Selamat pagi, Bibi Nora!” sapa mereka dengan ramah. Ivy membalas sapaan itu dengan melambaikan tangan dan senyum yang tulus, membuat suasana pagi itu terasa semakin hangat.

Sesampainya di balai desa sederhana, anak-anak yang sudah menunggu sejak tadi langsung berlarian mendekat, memeluk pinggang Ivy dan Bibi Nora dengan antusias. Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan, duduk rapi di atas tikar yang sudah disiapkan. Ivy mulai mengajar dengan sabar, menjelaskan huruf dan angka dengan suara lembut namun jelas, sesekali tertawa melihat tingkah laku polos anak-anak yang kadang membuat kesalahan lucu.

Di tempat lain, di sebuah rumah warga yang sempat menampung mereka semalam, Rama dan Larry baru saja bangun. Setelah membersihkan diri seadanya, mereka keluar untuk mengamati langsung lokasi yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata milik keluarga Cahya. Penampilan mereka kini sudah lebih rapi meski masih terlihat lelah setelah perjalanan melelahkan kemarin malam.

Saat berjalan menyusuri jalan desa yang sepi, langkah Rama tiba-tiba terhenti. Matanya menatap lurus ke arah balai desa di ujung jalan, alisnya terangkat tajam.

“Ada apa, Tuan? Kenapa berhenti?” tanya Larry dengan bingung, mengikuti arah pandangan tuannya.

“Lihatlah gadis yang sedang mengajar anak-anak itu… Aku yakin aku pernah melihatnya,” jawab Rama dengan suara rendah.

Larry memperhatikan dengan saksama, lalu matanya terbelalak lebar. “Itu dia, Tuan! Gadis yang membohongi kita kemarin pagi sampai kita tersesat masuk ke dalam hutan!” serunya pelan, tidak ingin menarik perhatian orang lain.

Wajah Rama langsung berubah dingin, rahangnya mengeras. Ia merapikan ujung kemejanya yang sedikit kusut, lalu melangkah cepat menuju balai desa, diikuti oleh Larry yang terlihat gugup. Keduanya berdiri diam di ambang pintu, mengamati dari kejauhan tanpa masuk terlebih dahulu.

Ivy yang sedang sibuk menulis di papan tulis sempat melirik ke arah pintu, namun awalnya tidak mengenali mereka karena penampilan yang sudah berubah. Namun, saat pandangannya kembali tertuju pada kedua pria itu, ingatannya langsung terputar ke kejadian kemarin. Pria itu! Pria sombong yang membawa mobil mewah dan asistennya! batinnya. Rasa kesal pun muncul, dan tanpa sadar ia bergumam pelan, “Pria brengsek…”

Mendengar gumaman itu, Rama dan Larry tertegun. Keduanya saling pandang dengan tatapan bingung. Kenapa dia yang terlihat marah? Seharusnya justru kitalah yang berhak marah karena dipermainkan, pikir Rama dalam hati.

Tak lama kemudian, jam pelajaran usai. Ivy membubarkan anak-anak dengan pesan agar pulang dengan hati-hati, sementara Bibi Nora mulai membereskan buku dan alat tulis. Ivy berjalan menghampiri kedua pria yang masih berdiri di depan pintu, menatap mereka dengan tatapan tegas dan tidak takut sedikit pun.

“Kenapa kalian ada di sini? Apa lagi yang kalian inginkan?” tanya Ivy langsung, tanpa basa-basi.

Rama menatapnya dengan sorot mata tajam, lalu menjawab dengan nada dingin, “Seharusnya kaulah yang menjawab pertanyaan itu. Kau berutang permintaan maaf pada kami karena telah membohongi dan mengarahkan kami masuk ke dalam hutan semalam.”

Ivy hanya mendengus pelan, lalu menjawab dengan santai dan sedikit mengejek, “Salahkan dirimu sendiri. Kalau saja kalian lebih pandai berpikir dan tidak mudah percaya pada ucapan orang yang baru dikenal, kalian tidak akan tersesat. Itu akibat kebodohan kalian sendiri.”

Mendengar jawaban itu, amarah Rama hampir meledak, namun ia berusaha menahannya. “Kau berani sekali bicara seperti itu. Apakah kau tahu siapa aku sebenarnya?”

“Tidak perlu tahu siapa kalian. Aku sudah bisa menebak. Kalian pasti bos atau kepala dari kelompok pria kasar yang datang kemarin berusaha mengusir warga desa ini, bukan?” potong Ivy dengan nada percaya diri. “Dengarkan baik-baik, desa ini adalah tanah leluhur mereka. Kalian tidak berhak mengusir mereka atau merusak alam tempat mereka tinggal.”

Rama tertegun sejenak, lalu menatap gadis itu dengan pandangan yang makin dalam. Ia mengisyaratkan Larry untuk menyerahkan kartu namanya. “Baiklah, supaya kau tahu siapa yang sedang kau hadapi. Namaku Rama Cahya, pemimpin Grup Cahya yang memiliki izin resmi untuk mengembangkan daerah ini.”

Mendengar nama itu, hati Ivy sempat berdebar kencang. Ia tahu betul bahwa keluarga Cahya adalah salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota itu. Namun, rasa takut itu hanya berlangsung sesaat. Ia segera mengangkat kepalanya kembali, menatap Rama dengan tatapan yang sama tegasnya. “Meskipun kau orang penting, keadilan tetap harus ditegakkan. Warga desa ini tidak akan pergi dari sini, dan aku akan membantu mereka mempertahankan haknya.”

Keduanya saling berhadapan, tatapan mata mereka bertemu dan saling menguji kekuatan, seolah tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Suasana menjadi tegang, hingga tiba-tiba sekelompok anak-anak yang baru saja keluar dari ruangan berlari dengan ceria, tidak melihat ke depan dan menabrak kaki Ivy dengan keras.

“Waduh!” seru Ivy yang kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan sebelum ia bisa berpegangan pada apa pun, ia terjatuh tepat ke arah Rama. Karena kejadian itu mendadak, Rama juga tidak sempat mundur, hingga wajah keduanya saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Dalam sekejap, bibir mereka bersentuhan secara tidak sengaja.

Rama terkejut luar biasa, tubuhnya kaku, untungnya Larry segera menopang bahu tuannya agar tidak ikut terjatuh. Namun, yang lebih terkejut bukanlah Rama, melainkan Ivy. Saat bibir mereka bersentuhan, matanya terbelalak lebar melihat angka di atas kepalanya yang tadinya 17 hari tiba-tiba berubah dengan cepat—naik menjadi 18, 19, 20, 21, hingga berhenti di angka 22 hari. Bahkan waktu yang berjalan mundur pun terasa melambat jauh lebih lama dari biasanya.

Jantung Ivy berdebar kencang, bukan karena rasa malu, melainkan karena rasa bahagia yang meluap. Jadi ini caranya! Ciuman dengan pria ini bisa menambah umurku! Inilah jawaban yang selama ini aku cari! pikirnya dengan penuh semangat.

Dengan perasaan yang sedikit ragu namun penuh harapan, Ivy mengangkat sedikit wajahnya, menjauhkan bibirnya sebentar, lalu tanpa memedulikan keterkejutan Rama dan orang-orang di sekitarnya, ia kembali mendekat dan mencium bibir pria itu lagi dengan lembut namun pasti. Sekali lagi, angka di atas kepalanya bertambah lima hari lagi, membuatnya semakin yakin bahwa ia telah menemukan kunci untuk mempertahankan hidupnya.

Dalam hati, Ivy bersorak gembira: Akhirnya… aku menemukan caranya. Selama aku bisa terus dekat dengan Rama Cahya, aku tidak perlu takut lagi pada kematian yang terus mendekat.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!