Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lembut di Balik Kekejaman
Matahari sore bersinar keemasan, menyinari taman belakang mansion Salvatore yang dirancang menyerupai labirin tanaman hijau bergaya Eropa.
Setelah hampir satu bulan terkurung di dalam kamar utama yang megah namun mencekam, Mbok Nem akhirnya berhasil membujuk Elvano untuk mengizinkan Alice menghirup udara segar di area taman, dengan syarat yang super ketat, lima orang pengawal bersenjata harus mengawasinya dari jarak sepuluh meter.
Alice melangkah perlahan di atas jalan setapak berbatu marmer.
Gaun kasual sutra berwarna hijau sage yang longgar melambai lembut tertiup angin sore, membingkai tubuhnya yang tampak sedikit lebih berisi berkat perawatan penuh gizi dari Mbok Nem.
Rambut ikal cokelat mudanya dibiarkan terurai, menari-nari di bahunya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Alice merasakan sedikit kedamaian.
Alice memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan bunga mawar yang bermekaran.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Saat Alice melewati air mancur marmer di sudut taman yang agak rimbun oleh pohon-pohon palem, langkahnya mendadak terhenti.
Di sana, berdiri dua orang penjaga baru bertubuh kekar dengan seragam hitam.
Salah satu dari mereka, seorang pria bermata sipit dengan tato ular yang menjalar hingga ke lehernya, tidak berdiri tegak seperti pengawal lainnya.
Pria itu menatap Alice yang berjalan sendirian. Alih-alih menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada wanita simpanan Bosnya, pandangannya justru turun naik, menyapu lekuk tubuh Alice di balik gaun sutranya dengan cara yang teramat vulgar, dan melecehkan.
Sebuah senyum miring yang menjijikkan terukir di wajahnya.
"Wah, jadi ini kelinci kecil yang membuat Bos Elvano betah pulang cepat setiap malam?" bisik pengawal bertato ular itu kepada temannya, cukup keras untuk didengar oleh Alice.
"Pantas saja. Kulitnya sangat putih, kelihatan sangat empuk untuk diperas."
Alice tersentak.
Rasa dingin seketika menyergap tengkuknya. Trauma masa lalu dan ketakutan akan pelecehan membuat tubuh rampingnya mendadak bergetar hebat.
Ia mundur dua langkah, memeluk kedua lengannya sendiri dengan wajah yang memucat pasi.
Tatapan menjijikkan pria itu membuatnya merasa kotor dan terhina.
"Hei, Nona Manis, jangan takut begitu. Kalau Bos sedang bosan, mungkin kau bisa mencoba—"
Brak!
Sebelum kalimat menjijikan itu sempat selesai, dari balik rimbunnya tanaman palem, sesosok tubuh tinggi tegap muncul dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan.
Sebuah tendangan mendarat telak di dada pengawal bertato ular tersebut, membuatnya terlempar ke udara dan menghantam dinding air mancur marmer hingga retak sebelum berguling ke atas tanah.
Elvano berdiri di sana.
Kemeja hitam formalnya sedikit berantakan, dan sepasang mata cokelat gelapnya telah berubah menjadi hitam pekat, memancarkan aura membunuh yang begitu mengerikan hingga suasana di sekitar taman mendadak terasa membeku.
Rahang tegasnya mengeras dengan urat-urat leher yang menonjol tegap.
Elvano, yang baru saja hendak menyusul Alice ke taman setelah menyelesaikan pertemuan bisnisnya, telah mendengar setiap kata pelecehan yang keluar dari mulut anjing penjaganya sendiri.
Dan hal itu memicu monster paling buas di dalam dada sang Bos Besar.
Tanpa memberikan kesempatan bagi mangsanya untuk bernapas, Elvano melangkah maju.
Ia mencengkeram kerah seragam pengawal yang sedang terbatuk darah itu, mengangkat tubuh kekar tersebut dengan satu tangan yang luar biasa kuat, lalu menghantamkan wajah pria itu ke lantai batu marmer.
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara hantaman daging dan tulang yang beradu dengan batu terdengar bergaung mengerikan di keheningan taman.
Elvano menghajar pengawal itu dengan membabi buta. Pukulan demi pukulan tangan besarnya mendarat telak di wajah dan rahang pria bertato ular tersebut tanpa ampun.
Darah segar menyembur, membasahi kepalan tangan Elvano dan menodai kemeja hitamnya.
"E-El... Tuan Besar... ampuni... a-ampun..." ratap pengawal itu dengan suara yang nyaris habis, wajahnya sudah tidak berbentuk lagi, hancur berantakan di bawah murka Bosnya.
"Kau berani menatapnya? Kau berani mengotorinya dengan mulut sampahmu?!" desis Elvano, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, dan bergetar oleh kemarahan.
"Dia milikku! Berani-beraninya seekor anjing sepertimu menyentuhnya bahkan hanya dengan pandanganmu!"
Elvano menarik pistol Beretta hitam dari balik jasnya, lalu mengarahkan moncong senjata api itu tepat di antara kedua mata pengawal yang sudah sekarat tersebut.
"Jangan! Tuan Elvano, saya mohon jangan!"
Sebuah teriakan histeris memecah kegilaan itu.
Alice bergerak maju, meskipun seluruh tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan melihat kekejaman yang nyata di depan matanya.
Ia mencengkeram lengan kekar Elvano yang memegang pistol, menatap pria itu dengan sepasang mata hazel yang dipenuhi air mata kepanikan.
"Saya mohon... hentikan... jangan membunuhnya di sini..."
Elvano membeku. Sentuhan tangan kecil Alice yang dingin di lengannya bertindak bagai siraman air es yang meredam kobaran api kegilaan di otaknya.
Ia menoleh perlahan, menatap wajah pucat Alice yang dipenuhi air mata ketakutan.
Melihat Alice yang begitu ketakutan, Elvano menurunkan pistolnya perlahan.
Ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat kepada empat pengawal lain yang sejak tadi berdiri kaku tidak berani mencampuri amukan sang Don.
"Bawa bangkai ini ke ruang bawah tanah. Pastikan dia tidak pernah melihat matahari lagi," perintah Elvano dingin.
"Baik, Tuan Besar!" Dengan cepat, para pengawal menyeret tubuh pria bertato ular itu menjauh dari taman, menyisakan keheningan yang mencekam di antara Elvano dan Alice.
Alice mundur beberapa langkah, napasnya memburu tidak teratur.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit.
Kekejaman yang baru saja ia saksikan mengingatkannya kembali siapa Elvano sebenarnya seorang pria berdarah dingin, seorang monster yang bisa mencabut nyawa manusia seolah-olah itu bukanlah apa-apa.
Namun, di balik rasa takut yang melumpuhkan itu, sebuah kesadaran lain menyusup ke dalam benak Alice yang kacau.
Elvano melakukannya untuknya. Pria kejam ini mengamuk, menghancurkan orang lain, dan menodai tangannya dengan darah hanya karena ada orang lain yang berani menatapnya dengan tidak sopan.
Elvano melindunginya, meskipun dengan cara yang menurutnya salah dan begitu kejam.
Elvano menjatuhkan pistolnya ke atas rumput.
Ia berbalik, menatap Alice yang berdiri gemetar.
Melihat air mata yang terus mengalir di pipi gadis itu, sesuatu di dalam dada Elvano mendadak melunak, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Dengan satu langkah lebar, Elvano maju dan menarik tubuh ramping Alice ke dalam pelukannya.
Ia mendekap Alice dengan teramat erat, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher gadis itu, sementara kedua lengan kokohnya mengurung tubuh Alice seolah-olah sedang melindunginya dari seluruh ancaman dunia luar.
Napas Elvano yang memburu dan hangat menerpa kulit Alice, mengirimkan gelombang panas yang aneh.
"Kau aman, Alice. Di tempat ini, tidak akan ada satu pun bajingan yang bisa menyentuhmu atau menghinamu," bisik Elvano, suaranya terdengar serak, dan penuh perlindungan.
"Kau milikku. Dan aku akan menghancurkan siapa saja yang berani membuatmu menangis."
Alice terpaku di dalam dekapan dada bidang yang hangat itu.
Tangan kecilnya yang awalnya berniat mendorong Elvano menjauh, perlahan-lahan justru mencengkeram kemeja hitam pria itu.
Di tengah isak tangisnya, sebuah getaran aneh mulai mekar di dasar hati Alice, sebuah perasaan aneh yang membingungkan.
Ia tahu pria yang memeluknya ini adalah penculiknya, orang yang mengurungnya di dalam Mansion mewah dan merenggut kebebasannya.
Namun, di dunia yang kejam di mana keluarga kandungnya sendiri menumbalkannya demi uang, ironisnya, monster pembunuh inilah yang berdiri paling depan untuk melindunginya dan menghargai keberadaannya.
Rasa takutnya perlahan berubah menjadi sebuah ketergantungan yang kelam pada sang penguasa mansion.
Alice menyandarkan kepalanya di dada tegap Elvano, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan selaras dengan detak jantungnya sendiri.