Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Pagi hari yang cerah menyapa kota, namun suasana di kediaman Hanum sudah dipenuhi oleh ketegangan yang bercampur dengan tekad bulat. Sejak pukul tujuh pagi, Hanum sudah rapi dengan pakaian formal kerjanya yang elegan sebuah blazer berwarna pastel dipadukan dengan celana panjang senada. Hijabnya yang senada dengan warna pakaian memancarkan aura seorang wanita karier yang tangguh, meskipun hari ini dia bukan pergi ke ruang rapat perusahaan, melainkan ke Pengadilan Agama.
Suara raungan mesin mobil SUV hitam besar yang sudah sangat familiar terdengar memasuki halaman depan rumah Hanum tepat pukul setengah delapan pagi. Hanum yang saat itu sedang merapikan berkas-berkas terakhir di dalam tas jinjingnya segera melangkah menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan sang pengawal.
Namun, begitu pintu jati besar itu terbuka sempurna, langkah kaki Hanum seketika terhenti di ambang pintu. Sepasang matanya melebar, dan untuk beberapa detik, Hanum benar-benar dibuat terpaku sekaligus speechless oleh pemandangan di hadapannya.
Pria yang turun dari kursi kemudi itu bukanlah Tian dengan setelan kemeja formal kaku atau jas bisnis yang biasa melekat di tubuh tegapnya. Pagi ini, Tian datang dengan dandanan yang sama sekali berbeda. Pria kaku itu hanya mengenakan sebuah kaos polo berwarna hitam polos bermerek premium yang pas di tubuh atletisnya, memperlihatkan otot lengan dan dadanya yang bidang dengan sangat kentara. Dipadukan dengan celana chinos berwarna krem serta sepatu loafers kulit yang santai namun berkelas, Tian terlihat jauh lebih muda, segar dan luar biasa tampan.
Karisma pria kaku itu semakin meledak karena tangan kanannya dengan santai memegang sebuah dompet kulit panjang gaya khas laki-laki cool dan berkelas pada umumnya yang tidak suka ribet membawa tas. Ditambah lagi, sebuah kacamata hitam bertengger dengan sempurna di atas hidung mancungnya, menghalau silau matahari pagi sekaligus menyembunyikan tatapan mata elangnya yang dingin.
Tian berdiri tegak di samping mobilnya, membetulkan letak dompet di tangannya dengan gerakan yang sangat tenang, lambat, namun memancarkan wibawa yang luar biasa mematikan bagi siapa saja yang melihatnya.
Jantung Hanum mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Dia benar-benar terkejut melihat transformasi penampilan kakak ipar tirinya yang biasanya terlihat seperti monster korporat kaku, kini berubah menjadi sosok pria kasual yang sangat modis dan penuh karisma.
Menyadari dirinya sempat bengong selama beberapa detik, Hanum dengan cepat menggelengkan kepalanya pelan di dalam hati. Dia langsung berusaha keras mengatur ekspresi wajahnya, memasang topeng paling datar, dan berpura-pura seolah-olah dia tidak kaget atau terpesona sedikit pun dengan perubahan drastis penampilan pria di depannya.
"Sudah siap?" tanya Tian pendek dari balik kacamata hitamnya. Suara baritonnya yang berat dan lempeng itu tetap sama, menjadi satu-satunya penanda bahwa pria kasual di depan Hanum ini masihlah Tuan Dingin yang menyebalkan kemarin sore.
"Sudah, Kak," jawab Hanum dengan nada suara yang dibuat seprofesional mungkin, melangkah keluar dan mengunci pintu rumahnya. "Kita langsung berangkat sekarang? Pak Baskoro katanya sudah jalan duluan ke lokasi."
Tian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya berbalik, membuka pintu penumpang depan untuk Hanum dengan gerakan taktis yang kaku namun tetap sopan, lalu berjalan memutari kap mobil untuk kembali ke kursi kemudi. Begitu keduanya masuk ke dalam kabin, Tian melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya di dekat dasbor, lalu segera menginjak pedal gas, membawa kendaraan besar itu membelah jalanan kota menuju Pengadilan Agama pusat kota.
Sepanjang perjalanan, Hanum lagi-lagi memilih diam, berpura-pura sibuk memeriksa ponselnya. Padahal, dari sudut matanya, dia sesekali masih mencuri pandang ke arah lengan kekar Tian yang sedang memutar kemudi.
"Bisa-bisanya dalam situasi mau mendaftarkan perceraian begini, orang ini malah dandan se-cool itu." batin Hanum mengomel sendiri di dalam hatinya, menahan rasa gemas yang aneh.
Kurang dari empat puluh lima menit, SUV hitam besar itu akhirnya memasuki area parkir Pengadilan Agama pusat kota. Suasana di sana sudah cukup ramai oleh orang-orang yang mengurus berbagai keperluan hukum keluarga. Di dekat lobi utama, sosok Pak Baskoro dengan setelan jas hitamnya yang rapi sudah berdiri menunggu dengan memegang sebuah map tebal berisi berkas fisik asli yang sudah ditandatangani kemarin sore.
"Selamat pagi, Non Hanum, Tuan Tian," sapa Pak Baskoro dengan senyum profesionalnya yang merekah begitu melihat kedua orang itu berjalan mendekat. Pak Baskoro sempat melirik penampilan kasual Tian dengan sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai dirinya kembali sebagai seorang profesional.
"Pagi, Pak Baskoro. Bagaimana kondisinya? Apakah kita bisa langsung masuk?" tanya Hanum.
"Bisa, Non. Nomor antrean khusus untuk pendaftaran pertama sudah saya amankan lewat jalur prioritas. Kita bisa langsung menuju loket penyerahan berkas gugatan sekarang," jelas Pak Baskoro memimpin jalan masuk ke dalam gedung.
Tian berjalan di samping Hanum dengan langkah kaki yang tegap. Kehadirannya dengan kaos polo hitam dan dompet kulit di tangan, ditambah postur tubuhnya yang tinggi besar, seketika menarik perhatian beberapa orang di koridor pengadilan. Aura protektif yang dipancarkannya membuat orang-orang secara tidak sadar memberikan jalan bagi rombongan kecil mereka.
Saat mereka tiba di depan loket pendaftaran dan Pak Baskoro mulai menyerahkan lembar demi lembar berkas gugatan cerai milik Hanum kepada petugas, Tian tiba-tiba melangkah maju satu langkah. Pria kaku itu mengetukkan jari telunjuknya di atas meja loket kaca, menatap petugas pendaftaran dengan pandangan mata elangnya yang sangat tajam dan mengintimidasi.
"Saya mau hari ini juga surat gugatan cerai beserta panggilan sidang pertama sudah sampai di rumah Hanif," ucap Tian dengan nada suara yang sangat datar, dingin, namun sarat akan penekanan mutlak yang tidak bisa dinegosiasikan.
Petugas loket wanita itu sempat tersentak kaget mendengar suara berat Tian yang terdengar seperti sebuah perintah komandan militer daripada sebuah permohonan masyarakat biasa. Petugas itu membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, menatap Tian dengan gugup.
"Maaf, Tuan... tetapi berdasarkan prosedur standar operasional di pengadilan kami, pengiriman surat relas atau panggilan resmi ke alamat tergugat biasanya memakan waktu minimal tiga hari kerja setelah berkas diverifikasi oleh majelis hakim," jelas petugas itu mencoba bersikap ramah namun suaranya agak gemetar.
Tian tidak bergeming sedikit pun. Wajah kakunya sama sekali tidak menunjukkan toleransi terhadap kata prosedur standar. Dia melirik ke arah Pak Baskoro, lalu kembali menatap petugas loket tersebut.
"Saya tidak peduli dengan prosedur standar untuk kasus biasa," ketus Tian dingin, nadanya terdengar sangat otoriter. "Kuasa hukum kami sudah melengkapi seluruh dokumen pendukung, termasuk bukti-bukti perselingkuhan yang valid dan data alamat domisili baru dari tergugat secara mendetail di Gang Kelinci. Hubungi bagian juru sita atau kurir kilat khusus pengadilan sekarang juga. Seluruh biaya administrasi tambahan, biaya operasional, atau apa pun namanya untuk mempercepat pengiriman hari ini, akan saya tanggung penuh saat ini juga menggunakan kartu saya."
Tian meletakkan dompet kulit panjangnya di atas meja loket dengan ketukan pelan yang tegas, menegaskan bahwa kekuatan finansialnya siap meruntuhkan segala bentuk birokrasi yang lambat. "Target saya hanya satu. Sebelum matahari malam ini terbenam, Hanif harus sudah memegang surat kehancurannya di tangannya sendiri. Mengerti?"
Pak Baskoro yang berdiri di samping Tian segera menimpali dengan senyuman formal yang penuh taktik. "Benar, Mbak. Ini adalah kasus prioritas yang melibatkan aset perusahaan besar. Saya harap pihak pengadilan bisa membantu mempercepat proses pengiriman kurir hari ini juga. Berkasnya sudah sangat matang dan tidak ada alasan untuk menundanya."
Melihat kombinasi maut antara pengacara bertangan besi dan pria sedingin es yang memegang dompet tebal di depannya, petugas loket itu akhirnya hanya bisa menelan ludah dengan gugup. Dia segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Baik, Tuan. Tuan Pengacara, saya akan segera membawa berkas ini ke ruang kepala panitera dan juru sita untuk diproses lewat jalur ekspres hari ini juga. Mohon ditunggu sejenak."
Hanum yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari belakang hanya bisa mengembuskan napas panjang, menahan rasa takjub yang kesekian kalinya. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa dengan keterlibatan Tian yang sekaku dan sekejam ini dalam mengejar Hanif, mantan suaminya itu dipastikan tidak akan memiliki waktu bahkan hanya untuk sekadar bernapas lega hari ini. Perang resmi telah dimulai, dan Tian memastikan bahwa bom pertamanya akan meledak di rumah kumuh Hanif tepat sore nanti.
lmaran aja pke map yg isinya ky proposal biar prshaan mau krjsma,mskpn yg ni isinya klebihan dia sndri sih...🤣🤣🤣...
jd pgn ngakak ngebyangin tiap hri ktmu,trs kl lg diskusi yg d bhas pke bhsa formal.....
aku tertawa sendiri membayangkan lanjutan ceritanya....
semangat💪
itu laa tian dingin di luar tetapi lembut di dalam ,, 😁😁😁😁😁