Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Luka Yang Masih Terasa
Hari-hari setelah kejadian itu, semua berubah perlahan.
Warga yang dulu hanya memandang Mela dari jauh, kini mulai mendekat. Bukan lagi dengan bisik-bisik di belakang, melainkan sapaan sederhana di depan rumah.
"Mel, lagi apa?"
"Mel, sudah makan belum?"
"Kalau butuh apa-apa, bilang saja, Mel."
Mela menjawab semuanya dengan senyum, tanpa rasa sungkan.
Darmi adalah yang paling sering datang. Wanita itu kini tampak lebih berhati-hati dalam berbicara, tapi juga lebih terbuka. Kadang, ia datang hanya untuk duduk di teras, membawa pisang goreng atau sekadar menemani Mela menyapu halaman.
"Aku benar-benar berterima kasih padamu, Mel. Kalau bukan karena kamu... " Darmi menunduk dalam, tidak tahu akan bernasib seperti apa jika ia tetap diam.
Mela hanya tersenyum. "Semua sudah lewat, mbak. Gak usah di pikirkan lagi. Sekarang, Mas Bejo juga sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya. Jadi, sekarang lebih kita memikirkan jalan hidup kita."
Darmi mengangguk setuju.
Tidak hanya Darmi, Yati, yang dulu paling banyak bertanya, kini beberapa kali mampir membawa sayur. Surti yang dulu ragu, mulai berani mengobrol lebih lama. Bahkan, ibu-ibu lain yang sebelumnya hanya menjadi suara di kerumunan, kini perlahan mengakrabkan diri.
Suatu sore, mereka berkumpul di teras rumah Mela.
Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan. Tidak ada topik besar, hanya obrolan ringan yang mengalir begitu saja.
"Mel," panggil Yati, sambil mengupas kacang. "Kamu rencananya mau gimana ke depan?"
Mela yang sedang menyiram tanaman di halaman, berhenti sejenak.
"Tidak ada rencana besar, mbak," jawabnya jujur. "Aku cuma ingin hidup tenang di sini. Mungkin... Aku akan mulai menanam sayur-sayuran."
"Menanam?" Surti sedikit terkejut. "Kamu mau jadi petani?"
Mela tersenyum kecil. "Ia, mbak. Aku ingin belajar. Lagipula, sebagian besar penduduk desa memang bekerja sebagai petani, kan?
Asih mengangguk pelan. "Itu memang benar. Tapi, kamu sudah lama tinggal di kota. Jadi... "
Darmi menyenggol pelan lengan Asih, memberi isyarat agar tidak mengungkitnya lagi. Lalu, ia menatap Mela dan berkata, "tidak masalah kalau kamu mau bertani. Itu juga pekerjaan bagus."
Mela tersenyum, lalu kembali menatap tanaman di depannya. "Di sini... aku akan mulai dari awal."
Kalimat itu membuat suasana hening sejenak.
Beberapa saat kemudian, Mela menoleh pada mereka. "Di sekitar sini, apa ada lahan kosong yang bisa digarap?"
Pertanyaan itu langsung menarik perhatian.
"Sepertinya ada," jawab Yati sambil mengingat-ingat. "Di ujung desa ada tanah kosong. Tapi, tanahnya miring."
"Iya," sambung Darmi. "Dulu pernah dicoba ditanami, tapi, gagal terus."
"Tidak ada yang mau ambil lagi sekarang," tambah Surti.
Mela mengangguk pelan. "Kalau aku mau coba, apa bisa?"
Mereka saling pandang.
"Ya... Bisa saja," jawab Darmi. "Pemiliknya juga sudah lama tidak peduli. Tapi ya... Itu tadi, sudah ada yang pernah mencoba, tapi gagal. Asal kamu mau usaha, mungkin bisa berhasil."
"Bukan mungkin, tapi pasti berhasil," seru Asih.
Mela tersenyum. "Tidak apa." Ia berdiri, melangkah ke pinggir halaman, menatap ke arah ujung desa yang samar terlihat dari kejauhan.
Tanah yang tidak diinginkan. Tanah yang dianggap gagal. Entah kenapa, terasa familiar.
Ia menarik napas dalam. Dulu, ia membangun hidup untuk orang lain. Merawat sesuatu yang pada akhirnya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Tapi, sekarang... Ia ingin mencoba merawat sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang mungkin akan gagal. Tapi setidaknya, menjadi miliknya sendiri.
Mela tersenyum kecil. "Kalau dirawat, harusnya bisa hidup," gumamnya.
***
Pagi itu, Mela di temani Darmi, menemui pemilik tanah di ujung desa. Setelah melalui berbagai proses, akhirnya tanah itu menjadi milik Mela. Ia membeli tanah menggunakan uang kompensasi dari Rahman.
Harganya tidak mahal karena tanah tersebut tidak terawat dan tidak menghasilkan. Namun, dengan tekad bulat, Mela akan berusaha merawat tanah tersebut dan menjadikannya awal usahanya.
Hari berikutnya, tanah di ujung desa mulai berubah wajah.
Rumput liar yang sebelumnya tumbuh liar kini perlahan disingkirkan. Tanah yang keras mulai terbuka, meski belum sepenuhnya rata.
Mela berdiri dengan cangkul di tangannya. Nafasnya sedikit terengah, peluh membasahi pelipisnya.
"Berat juga, ya," gumamnya pelan.
"Ya jelas berat," sahut Yati sambil mencabut rumput dengan tangan. "Kamu pikir ini kayak nyapu lantai rumah?"
Darmi tertawa kecil di sampingnya. "Tapi lumayan, Mel. Sudah kelihatan bentuknya."
Mela menatap tanah itu, masih jauh dari kata siap tanam. Tapi setidaknya, sudah tidak lagi liar.
"Iya."
Mereka kembali bekerja. Tangan kotor oleh tanah, kaki penuh debu, tapi tidak ada keluhan berarti. Namun bagi Mela, ini pertama kalinya ia merasa lelah yang menenangkan.
Namun, ketenangan itu terusik dengan suara langkah tergesa dan teriakan.
"Mel! Mel!"
Mela menoleh.
Asih dan Surti berlari kecil ke arah mereka, napas mereka sedikit terengah. Wajah keduanya terlihat tegang.
"Ada apa?" tanya Mela penasaran.
Surti langsung menyodorkan ponselnya. "Ini, kamu lihat sendiri."
Mela mengernyit, lalu menerima ponsel itu. Sebuah video sedang diputar. Terlihat orang-orang berpakaian rapi berada di sebuah pesta dengan lampu-lampu yang terang dan suara musik yang mengalun pelan
Dan, di sana ada sosok yang sangat ia kenal. Dia adalah Rahman.
Pria itu berdiri dengan setelan jas mahal, tersenyum lebar menyapa wartawan. Di sampingnya, seorang wanita cantik menggandeng lengannya dengan penuh percaya diri.
Wanita itu tidak lain adalah Camila.
Jantung Mela seperti berhenti sesaat. Namun, ia tidak bereaksi sama sekali.
Dalam video itu, wartawan bertanya mengenai perkembangan bisnis dan peluncuran produk baru perusahaan. Lalu, seorang wartawan dengan berani menanyakan sesuatu pada Rahman, tentang perceraian mereka.
Ya, perceraian mereka memang di lakukan secara tertutup. Tidak ada yang tahu alasan ia menggugat cerai Rahman. Tapi, serapi apapun rahasia itu di simpan, akhirnya akan terbongkar juga. Dan, tidak sedikit yang menyayangkan perceraian ini karena hubungan mereka jauh dari berita miring.
Itu sebabnya, saat orang-orang tahu, mereka seolah tidak percaya ada orang ketiga dalam hubungan pernikahan ini.
Tapi, sepertinya Camila tidak puas. Dia terlihat tersenyum, lalu menjawab pertanyaan itu dengan percaya diri.
"Aku bukan orang ketiga di pernikahan Mas Rahman dan Mbak Mela. Tapi, aku adalah wanita yang Rahman cintai." Ia menatap Rahman dan tersenyum manis. "Aku cinta pertamanya."
Suasana di video terdengar riuh.
Camila melanjutkan, dengan nada seolah menjelaskan sesuatu yang benar,
"Jika membicarakan siapa orang ketiga sebenarnya, tentu saja dia adalah Mbak Mela. Dia yang merebut Mas Rahman dariku. Kalau bukan karena dia, kami sudah bersama sejak dulu."
Mela menahan napas. Angin yang tadi terasa sejuk, kini seperti berhenti.
Darmi menatap Mela pelan. "Jadi... karena wanita ini, kamu..." ucapnya lirih, tapi tidak berani menyelesaikan kalimatnya.
Mela tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup memberi mereka jawaban.
Darmi menghela napas pelan, lalu meletakkan tangannya di bahu Mela dan menepuk pelan. Sedangkan, Surti mendengus kesal.
"Wuu... Pekok!"
Semua menoleh, sedikit terkejut.
"Ini nih contoh orang pintar, tapi otaknya nggak dipakai," lanjutnya kesal. "Mana ada istri sah jadi orang ketiga?"
Asih langsung mengangguk. "Bener itu. Kalau anak muda bilang, itu namanya playing victim."
"Iya!" sahut Yati cepat. "Nggak usah dipikirin, Mel. Nanti kita carikan kamu laki-laki yang lebih baik dari mantan suamimu itu."
"Iya, bener!" tambah yang lain.
Mela menatap mereka satu per satu. Wanita-wanita yang dulu membicarakannya di belakang, kini berdiri di sampingnya.
Ia tersenyum kecil. "Terima kasih," ucapnya tulus. "Tapi, untuk sekarang, aku nggak mikirin itu."
Mereka saling pandang, lalu kembali menatap Mela.
"Gak apa, yang penting kamu bahagia," ucap Darmi pelan.
Mela mengangguk.
Suasana yang sempat tegang perlahan mencair. Apalagi, saat Asih tiba-tiba berdiri di tengah, mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa.
"Semoga Rahman dan wanita itu diberkati Tuhan," ucapnya dengan wajah serius.
Semua langsung menoleh.
"Dan, masuk surga. Aamiin," lanjut Asih. Lalu, dengan ekspresi yang sama seriusnya, ia mengacungkan jari tengahnya.
Darmi refleks menepuk tangannya. "Eh! Jarimu itu, lho!"
Yati tertawa keras. "Asih-Asih, ada-ada saja kamu!”
Surti ikut terkikik, menutup mulutnya. "Kalau ini, sih korban sosmed."
Mela ikut tersenyum, merasa terhibur dengan keberadaan mereka. Ia menatap tanah di depannya. Tangannya kembali menggenggam cangkul.
Meski, dadanya masih terasa sesak, dan luka itu belum benar-benar hilang. Tapi, ia merasa bisa melewatinya.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??