NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ujian yang kembali datang

Setibanya di rumah sakit, Felisyah kembali menelan kenyataan pahit. Uang dua puluh ribu rupiah yang ia simpan sejak pagi untuk mengganjal perutnya kini telah habis untuk membayar ongkos ojek.

Ia menunduk menatap telapak tangannya yang kosong.

"Aku harus bagaimana sekarang? Bahkan seribu rupiah pun aku tidak punya..." gumamnya lirih.

Perutnya yang sejak tadi kosong mulai terasa perih. Tubuhnya lelah setelah seharian mencari pekerjaan, ditambah kejadian mengerikan yang hampir merenggut kehormatannya. Namun ia tidak memiliki waktu untuk mengeluh.

Tatapannya beralih ke gedung rumah sakit yang menjulang di hadapannya.

Di dalam sana masih ada seseorang yang menjadi alasan dirinya tetap bertahan.

Ayahnya.

Dengan langkah yang terasa berat, Felisyah memasuki rumah sakit dan berjalan menyusuri lorong ruang rawat inap umum tempat ayahnya dirawat.

Saat sampai di depan ranjang, langkahnya terhenti.

Mata Felisyah langsung memanas melihat sosok pria yang selama ini menjadi pelindungnya kini hanya terbaring tak berdaya.

Tidak ada senyum hangat yang selalu menyambutnya pulang. Tidak ada lagi suara lembut yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

Yang ada hanyalah seorang pria tua dengan wajah pucat, tubuh yang semakin kurus, serta tangan yang penuh kerutan dan bekas kerja keras selama puluhan tahun demi membesarkannya.

"Yah... bagaimana keadaan Ayah sekarang?" bisiknya, meskipun ia tahu tidak akan ada jawaban.

Karena keterbatasan biaya, ayahnya hanya bisa dirawat di ruang inap umum yang sederhana. Felisyah tidak mampu memberikan kamar yang lebih nyaman untuk pria yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi dirinya.

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

"Yah... apa yang sebenarnya Ayah sembunyikan dari Felisyah? Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini?" suaranya bergetar.

Tatapannya jatuh pada wajah sang ayah.

"Apa benar Ayah yang meminjam uang sebesar itu? Tapi untuk apa, Yah? Selama ini kita hidup begitu susah. Ayah bekerja menjadi kuli bangunan dari pagi sampai malam hanya agar Felisyah bisa makan dan sekolah."

Tangisnya semakin pecah.

"Kalau memang itu benar, Felisyah yakin Ayah punya alasan. Felisyah tahu, Ayah bukan orang yang suka berhutang."

Dengan hati-hati ia menggenggam tangan kasar yang telah mengorbankan masa mudanya demi mencari nafkah.

Tangan yang dulu selalu menggenggam tangannya saat ia kecil.

Tangan yang melindunginya ketika ia takut.

Kini tangan itu hanya diam tanpa balasan.

"Yah... bangunlah. Demi Felisyah, bangunlah..." isaknya.

"Felisyah janji akan bekerja lebih keras. Ayah tidak perlu lagi mengangkat semen, tidak perlu lagi berdiri di bawah panas matahari demi mendapatkan uang. Biarkan sekarang Felisyah yang menjaga Ayah."

Ia menunduk dan menangis di atas tangan ayahnya.

"Jangan tinggalkan Felisyah sendiri, Yah. Felisyah sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu pergi meninggalkan kita karena tidak mau hidup dalam kemiskinan. Ibu memilih pria lain dan meninggalkan Ayah berjuang sendirian membesarkan Felisyah."

Setiap kali mengingat masa lalu itu, hati Felisyah terasa seperti disayat.

Ia masih ingat bagaimana ayahnya bekerja tanpa mengenal lelah, menahan lapar, dan rela memakai pakaian lama agar ia bisa tetap sekolah.

Bagi orang lain, ayahnya hanyalah seorang kuli bangunan.

Namun bagi Felisyah, pria sederhana itu adalah pahlawan yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk kebahagiaannya.

"Jadi tolong, Yah... jangan pergi. Felisyah belum sempat membalas semua pengorbanan Ayah."

Air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi tangan tua yang masih ia genggam erat.

Wajah Felisyah yang sebelumnya dipenuhi kesedihan tiba-tiba berubah menjadi kepanikan saat melihat tubuh ayahnya bergerak tidak terkendali.

"Ya Allah, Ayah! Ayah kenapa?" teriaknya panik.

Tubuh Sanggara bergetar hebat di atas ranjang rumah sakit. Alat pemantau di sampingnya berbunyi tidak beraturan, membuat jantung Felisyah seolah ikut berhenti berdetak.

Dengan tangan gemetar, ia segera berlari keluar ruangan.

"Dokter! Dokter, tolong! Ayah saya kejang-kejang!" teriaknya sambil menangis.

Kebetulan seorang dokter yang sedang berada tidak jauh dari ruangan itu langsung menghampirinya.

"Ada apa, Dik?"

"Tolong ayah saya, Dok. Tiba-tiba ayah saya kejang dan kondisinya memburuk," ucap Felisyah terbata-bata.

Tanpa membuang waktu, dokter dan beberapa perawat segera masuk ke dalam ruangan. Felisyah hanya bisa berdiri di depan pintu dengan tubuh bergetar, menggenggam kedua tangannya erat sambil terus berdoa.

"Ya Allah, jangan ambil Ayahku. Jangan tinggalkan aku sendirian," bisiknya.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam bagi Felisyah. Hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah serius.

"Dek, kondisi ayahmu semakin kritis. Kami harus melakukan operasi jantung secepatnya."

Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar di siang bolong.

"Operasi?" suara Felisyah bergetar. "Dok... apakah tidak ada cara lain?"

Dokter menggeleng pelan.

"Maaf, ini satu-satunya jalan. Jika operasi tidak segera dilakukan, nyawa ayahmu bisa terancam."

Dunia Felisyah terasa runtuh.

Satu masalah belum selesai, kini masalah lain datang menghantamnya tanpa ampun.

"Dok... berapa biaya operasi ayah saya?" tanyanya dengan bibir bergetar.

Ia sebenarnya takut mendengar jawabannya. Namun ia harus tahu.

"Biaya yang harus disiapkan sekitar seratus juta rupiah, karena kondisi ayahmu membutuhkan penanganan khusus."

Seratus juta.

Angka itu terasa begitu mustahil bagi seseorang yang bahkan tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Napas Felisyah terasa sesak.

"Baik, Dok... saya mengerti."

"Segera urus administrasi sebelum operasi bisa kami lakukan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk ayahmu."

Setelah dokter pergi, kaki Felisyah kehilangan kekuatan.

Ia terduduk di samping ranjang ayahnya, menatap wajah pria yang selama ini menjadi tempatnya berlindung.

"Ya Allah... dari mana aku harus mencari uang sebanyak itu?" lirihnya.

Air mata jatuh tanpa henti.

Hutang lima puluh juta yang belum jelas asalnya belum selesai. Kini biaya operasi seratus juta kembali menghancurkan harapannya.

"Cobaan apa lagi ini, Ya Allah? Aku sudah berusaha sekuat mungkin, tapi kenapa semuanya terasa begitu berat?"

Dengan langkah yang terasa kosong, Felisyah berjalan keluar ruangan. Lorong rumah sakit yang ramai terasa begitu sunyi baginya.

Tidak ada tempat untuk mengadu.

Tidak ada orang yang bisa diminta bantuan.

Akhirnya ia duduk di sebuah kursi panjang di sudut lorong. Ia memeluk kedua lututnya, membiarkan tangisnya pecah dalam kesunyian.

"Hu... hu..."

"Nangislah jika itu bisa membuat hatimu lebih lega. Tapi jangan menyerah. Setiap masalah pasti memiliki jalan keluar."

Suara pria asing tiba-tiba terdengar dari sampingnya.

Felisyah terkejut. Ia segera mengusap air matanya dan menoleh.

"Siapa kamu?"

Pria itu hanya tersenyum tipis.

"Itu tidak penting. Yang penting, aku bisa menyelesaikan semua masalahmu."

Perkataan itu membuat Felisyah mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu ayahmu membutuhkan biaya operasi. Aku juga tahu tentang hutang keluargamu."

Mata Felisyah membulat.

"Bagaimana kamu tahu semua itu?"

"Aku memiliki caraku sendiri."

Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya.

"Aku sedang mencari seorang istri. Jika kamu bersedia menikah denganku, biaya operasi ayahmu, hutang keluargamu, bahkan kehidupanmu setelah ini akan menjadi tanggung jawabku."

Mendengar itu, Felisyah langsung berdiri.

"Jangan bercanda! Aku tidak akan menikah dengan orang asing yang bahkan namanya saja aku tidak tahu!"

Pria itu tidak terlihat marah.

"Baik. Aku tidak akan memaksamu."

Ia meletakkan kartu nama itu di kursi.

"Tapi jika suatu saat kamu berubah pikiran, hubungi aku."

Setelah mengatakan itu, pria tersebut pergi meninggalkan Felisyah yang masih dipenuhi kebingungan.

Dengan kesal, Felisyah mengambil kartu itu lalu melemparkannya ke tempat sampah.

"Aku tidak akan menjual hidupku demi uang," bisiknya.

Namun beberapa menit berlalu, air matanya kembali jatuh.

Ia menatap ruang perawatan ayahnya dari kejauhan.

Wajah ayahnya yang pucat terus terbayang di benaknya.

Dengan langkah ragu, ia kembali mendekati tempat sampah dan mengambil kartu yang tadi ia buang.

Garendra Pratama.

Sebuah nama yang terasa asing.

Di bawahnya tertulis nomor telepon dan alamat rumah.

Tangan Felisyah bergetar.

"Apakah ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Ayah?"

Namun sesaat kemudian ia menggeleng kuat-kuat.

Tidak.

Masih ada satu orang yang bisa ia harapkan.

"Ibu..."

Meskipun wanita itu telah meninggalkan mereka demi kehidupan yang lebih mewah bersama pria lain, Felisyah tetap percaya masih ada sedikit rasa kemanusiaan dalam hati wanita yang telah melahirkannya.

"Aku harus menemui Ibu. Demi Ayah, aku akan menahan semua penghinaan itu."

Tanpa berpikir panjang, Felisyah melangkah keluar rumah sakit.

Namun baru beberapa langkah, ia terdiam.

Ia tidak memiliki uang.

Bahkan untuk membeli sebotol air minum pun tidak.

Rumah ibunya berada jauh dari rumah sakit. Berjalan kaki akan menguras seluruh tenaganya.

Tapi ia tidak punya pilihan.

Dengan tekad yang tersisa, Felisyah mulai berjalan.

Terik matahari membakar kulitnya. Keringat membasahi wajah dan pakaiannya. Perutnya terasa perih karena belum makan sejak pagi.

Namun semua rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding ketakutan kehilangan ayahnya.

Sesekali ia berlari agar bisa sampai lebih cepat.

"Ayah... bertahanlah. Tolong tunggu Felisyah."

Tangisnya kembali pecah di tengah keramaian jalan.

"Ayah jangan pergi sebelum Felisyah bisa menyelamatkan Ayah."

Namun Felisyah tidak menyadari, dari kejauhan sebuah mobil hitam perlahan mengikuti langkahnya.

Seseorang di dalam mobil itu menatapnya tanpa berkedip.

"Seberapa jauh kau akan bertahan, Felisyah?" gumam pria itu pelan.

Dan tanpa disadari Felisyah, takdir yang akan mengubah seluruh hidupnya mulai berjalan mendekatinya.

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!