NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perintah yang tidak biasa

Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin aku yang ga tidur sama sekali.

Foto anak kardus bekas masih kugenggam sampai ujung kertasnya mengeriting kena keringat. Kalimat Axel semalam keulang terus di kepala “Jangan sampai basah kena hujan.” Kenapa dia peduli sama kertas? Kenapa dia peduli aku masih bernapas jam 11 malam?

Klek.

Pintu kamar terbuka tepat pukul 7.30 Pak Bara masuk dengan nampan sarapan dan... sebuah bingkai kayu warna cokelat tua.

“Selamat pagi, Nona Aira. Tuan Muda pesan ini harus sudah dipasang di meja belajar sebelum beliau pulang nanti sore,” ucap Pak Bara sambil meletakkan bingkai kosong di meja.

Aku menatap bingkai itu, lalu menatap foto di tanganku. “Dipajang? Foto ini?”

“Benar, Nona. Katanya... biar Tuan Muda ingat kalau di rumah ini masih ada yang bisa tersenyum,” jawab Pak Bara cepat, lalu buru-buru menunduk. Kalimat terakhirnya keceplosan, dan dia langsung alihin “Silakan sarapan, Nona. Hari ini Anda tidak ada tugas administrasi.”

Tidak ada tugas. Libur paksa lagi Kelonggaran kedua dalam dua hari Ini aneh. Axel yang kukenal lebih milih aku pingsan di depan mesin ketik daripada nganggur sejam.

Aku makan dengan pikiran kosong. Jam 10, pengawal mengetuk pintu “Tuan Muda minta Nona ikut ke gudang arsip. Ada berkas yang harus disortir ulang.”

Gudang arsip di sayap timur mansion. Tempat berdebu, rak-rak besi tinggi sampai ke langit-langit, bau kertas tua. Axel udah di sana duluan. Kali ini dia ga pakai setelan rapi. Kemeja putih lengan digulung, dasi dilepas, ada noda tinta di ujung jarinya.

Dia menoleh pas aku masuk. Tatapannya berhenti sepersekian detik di bingkai foto yang kubawa, lalu netral lagi.

“Sortir berkas 1998-2002. Pisahkan yang ada cap merah dan cap biru,” perintahnya datar.

“Kau duduk di sana.” Dia nunjuk meja panjang di ujung ruangan. Jarak kami sekitar 6 meter Aman tapi hawa ruangannya tetap berat.

Aku kerja diem. Tangan kananku masih linu, jadi aku lebih banyak pakai tangan kiri. Setiap kali aku mengernyit nahan sakit, aku ngerasain tatapan Axel dari seberang ruangan. Dia ga ngomong cuma ngawasin Kayak semalam.

Jam 12 lewat, perutku keroncongan pelan. Aku langsung nahan napas, takut kedengeran. Tapi Axel pasti denger. Dia berdiri, jalan ke arah lemari besi, ngambil kotak makan stainless.

Tanpa bilang apa-apa, dia letakkan kotak itu di ujung mejaku. Lalu balik ke mejanya sendiri. Jarak tetap 6 meter.

“Buka,” katanya singkat.

Aku buka. Isinya nasi, ayam suwir, sayur bening, sama air putih. Makanan rumahan Bukan catering mewah kayak biasanya.

“Kau ga makan semalam,” ucapnya tanpa menoleh. “Jangan pingsan di gudangku. Repot.”

Aku terdiam. “aku ga mau asetku gemetar di kampus. ”

Aku makan pelan. Axel juga makan di mejanya, tapi sendoknya berhenti beberapa kali. Seolah dia mau ngomong, tapi ngebatalin.

Selesai makan, dia tiba-tiba nyeletuk “Kau bilang kemarin... orang yang belum tau rasanya kehilangan harapan, senyumnya ga akan hilang.”

Aku kaget dia masih inget. “Iya, Tuan.”

“Kalau begitu,” dia menutup map di depannya, berdiri. “Jaga senyum itu. Sampai aku bilang berhenti.”

Lalu dia keluar ruangan duluan, ninggalin aku sama bau tinta dan kotak makan kosong.

Aku menatap bingkai foto di pangkuanku. Tangan kananku refleks meraba pergelangan yang masih memar. Sakit Tapi anehnya, dadaku anget.

Axel Reynard nyuruh aku jaga senyum. Pria yang sama yang nyuruh aku ngetik sampai jari mau copot.

Dia nyembunyiin apa di balik tembok es itu? Dan kenapa aku... mulai pengen tau?

Malamnya, pas Pak Bara pasang bingkai itu di meja belajarku, aku nanya pelan “Pak... Tuan Muda dulu sering senyum ga?”

Pak Bara terdiam lama Lalu jawab pelan “Terakhir kali saya lihat Tuan Muda senyum tulus... sebelum Tuan Besar meninggal, Nona.”

Jantungku nyut. Jadi senyum yang dia minta aku jaga... itu senyum yang dia sendiri udah lama kehilangan?

Aku usap air mata, lalu peluk bingkai foto itu lebih erat. Besok aku harus lebih hati-hati.

Kalimat Axel tadi muter terus di kepala “Lupa itu yang bikin orang jadi monster, Aira.”

Dia ngomong gitu... nadanya capek. Bukan naga yang mau nyiksa. Lebih kayak orang yang udah lama hidup di dingin.

Tiba-tiba aku inget omongan Pak Bara tadi sore “Terakhir kali saya lihat Tuan Muda senyum tulus... sebelum Tuan Besar meninggal.”

Ayahnya Axel meninggal. Dan setiap kali ada yang nyebut keluarga atau ayah di depan Axel, rahangnya pasti ngeras matanya kosong.

Aku ga tau kenapa. Aku ga tau Tuan Besar meninggal karena apa. Yang aku tau cuma Axel kehilangan ayahnya.

Rasanya... sesak.

"Jadi waktu dia nyuruh aku jaga senyum, apa karena dia sendiri udah lama ga bisa senyum? Waktu dia lempar salep, apa karena dia tau rasanya sakit tapi dipaksa kuat?"

Aku mendekap bingkai foto itu ke dada. Anak kardus bekas di foto itu senyum padahal ga punya apa-apa.

"Axel... apa kamu juga kayak gitu? Senyum terakhir kamu hilang pas umur 7 tahun, terus kamu ngurung diri di tembok es ini biar ga sakit lagi?"

Air mataku jatuh bukan karena takut. Tapi karena kasihan Kasihan sama naga yang ternyata juga pernah jadi anak kecil yang kehilangan.

"Aku ga tau kenapa ayahmu meninggal, Tuan Axel. Aku beneran ga tau Tapi kalau lupa bikin orang jadi monster... aku ga mau kamu lupa cara jadi manusia."

Aku merebahkan diri, memeluk bingkai itu sampai tertidur. Dalam mimpi, aku lihat anak kecil umur 7 tahun duduk di lantai dekat jendela hujan. Dia ga nangis Dia cuma menatap kosong keluar.

Pas aku mendekat, wajah anak itu berubah jadi Axel dewasa Matanya tetap kosong tapi bibirnya berbisik “Jangan pergi.”

Aku terbangun dengan jantung berdebar. Di luar, hujan sudah berhenti tapi dingin di dadaku belum.

Pagi datang tanpa suara. Aku bangun karena nampan sarapan Pak Bara udah di depan pintu. Roti, telur, sama teh hangat. Tapi mataku langsung nyari bingkai foto di meja.

Foto anak kardus bekas itu masih di situ. Senyumnya tetap sama. Polos. Ga tau kalau dunia di luar sana kejam.

Aku duduk di lantai, nyender ke kaki meja kayak anak kecil umur 7 tahun dulu. Dulu aku sering gitu tiap kangen Mama Papa. Duduk di lantai, peluk boneka, pura-pura mereka masih ada.

Sekarang aku peluk bingkai foto. Pura-pura Axel juga pernah sehangat kayak gitu. Sebelum tembok esnya terlalu tinggi buat dijebol siapa-siapa.

Klek.

Suara langkah kaki di koridor Berat dan Pelan. Berhenti tepat di depan kamarku.

Tapi ga ada ketukan ga ada suara Axel. Cuma... diam Kayak dia berdiri di luar pintu, ragu mau masuk atau pergi.

Aku nahan napas jantungku berdebar aneh. Untuk apa naga segede Axel Reynard ragu di depan pintu kamar tawanan?

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!