Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negara Baru
Arlan masih berdiri mematung di depan pintu kaca. Telapak tangannya perlahan melorot dari permukaan kaca. Tatapannya tetap lurus ke depan, ke arah lorong yang tadi dilalui Alya. Namun kini lorong itu telah kosong.
Kini perempuan yang dulu ia anggap tidak pantas mendampinginya telah pergi jauh.
Tak ada lagi langkah kecil yang selalu menunggu kepulangannya. Tak ada lagi senyum tulus yang menyambutnya di depan pintu. Yang tersisa hanyalah penyesalan.
"Alya..."
Suaranya terdengar lirih, kali ini setelah bertahun-tahun, nama itu keluar tanpa kebencian. Ia seolah bisa merasakan saat pesawat itu membawa Alya pergi bersama anak yang sedang dikandungnya.
Brak!
Tinju Arlan kembali menghantam kaca hingga para petugas bandara spontan menoleh.
"Pak, mohon tenang," ujar salah seorang petugas sambil menghampiri.
Namun Arlan seolah tidak mendengar, amarahnya sudah memburu, kali ini ia benar-benar kehilangan semuanya.
"Kenapa..."
"Kenapa aku selalu terlambat..., dia... dia itu sedang mengandung anakku!" teriak Arlan.
Tidak lama kemudian beberapa anak buahnya datang tergesa-gesa, mereka mendengar suara amarah tuannya itu.
"Tuan!"
"Kami sudah mencari di semua gate."
"Tidak ada lagi."
Arlan memejamkan mata kuat-kuat. "Terlambat! Kalian semua sudah terlambat, dasar bodoh. Mengurus seorang perempuan leman saja tidak ada yang becus!"
"Tuan..."
"Saya bilang kalian semua bodoh!" bentaknya.
"Tuan... mungkin pesawatnya belum lepas landas."
Kalimat itu membuat Arlan kembali membuka matanya, pria mulai berpikir mungkin harapan kecil masih ada.
"Ayo!"
"Ke landasan!"
Tanpa membuang waktu, Arlan kembali berlari menyusuri lorong bandara. Ia bahkan tidak lagi memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, yang ada di dalam pikirannya bagaimana menemukan Alya. Dan sesampainya di balik kaca besar yang menghadap landasan pacu.
Langkahnya perlahan terhenti di kejauhan Pesawat itu bergerak perlahan, lalu melaju semakin cepat hingga akhirnya lepas landas.
"Jangan..." Bisiknya hampir tak terdengar.
Lalu beberapa detik kemudian pesawat itu mengangkat hidungnya. perlahan meninggalkan tanah, semakin tinggi dan jauh dari jangkauan. Sampai akhirnya hanya terlihat sebagai titik kecil di langit pagi.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja. "Darah dagingku, ikut pergi bersamanya," ucapnya serak seperti orang kehilangan arah.
Arlan mengeraskan rahangnya, kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.
"Tidak peduli sejauh apa kau pergi, Alya..."
"Aku akan menemukanmu."
"Dan kali ini..."
"...aku tidak akan pernah melepaskan kalian lagi."
☘️☘️☘️☘️☘️
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir. Perlahan roda pesawat menyentuh landasan pacu, disusul suara gesekan yang cukup keras sebelum akhirnya laju pesawat melambat. Para penumpang mulai bersiap meninggalkan tempat duduk mereka.
Alya yang sejak tadi tertidur perlahan membuka matanya. Beberapa saat ia hanya diam, seolah masih mengumpulkan kesadaran.
Tatapannya kemudian beralih ke arah jendela. Deretan gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan. Jalan raya yang tertata rapi, pepohonan hijau di sepanjang sisi jalan, serta suasana yang begitu berbeda membuat Alya terdiam cukup lama.
Baru saat itulah Alya benar-benar merasa bahwa ia telah berada di negeri lain. Meninggalkan semua kenangan, semua luka. Dan memulai hidup baru di negeri yang sama sekali asing baginya.
Perlahan Alya mengembuskan napas panjang.
"Selamat datang di Singapura," terdengar suara pramugari melalui pengeras suara.
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Alya terasa sesak. Ia menoleh ke samping.
Dewa sudah lebih dulu berdiri sambil mengambil tas kecil mereka dari bagasi kabin.
"Sudah siap?" tanyanya lembut.
Alya menganggukkan kepala pelan. "Iya."
Mereka berjalan mengikuti arus penumpang hingga keluar dari pesawat. Begitu kaki Alya menginjak area bandara, hawa sejuk langsung menyambut tubuhnya. Perempuan itu refleks merapatkan jaket yang dikenakannya. Tangannya perlahan mengusap perutnya yang masih belum tampak membesar.
"Nak..." bisiknya lirih. "Mulai hari ini... kita mulai dari awal ya, Nak."
Air matanya hampir jatuh, tetapi buru-buru ia tahan. Ia tidak ingin memulai kehidupan barunya dengan terus menangisi masa lalu.
Sementara itu, Dewa berjalan beberapa langkah di depannya. Sesekali pria itu menoleh memastikan Alya masih mengikutinya.
Dewa sengaja memperlambat langkah agar Alya tidak kelelahan. Apalagi setelah menempuh perjalanan panjang selama beberapa jam.
"Gak usah buru-buru," ucap Dewa saat melihat Alya sedikit mempercepat langkah.
"Kita gak sedang mengejar siapa pun lagi."
Kalimat itu membuat Alya tersenyum tipis. Ia merasa bisa berjalan tanpa dihantui rasa takut akan seseorang yang mengejarnya.
"Makasih ya Mas untuk semua," ucap Alya.
"Jangan berterima kasih seperti itu, kamu berhak bahagia," sahut Dewa.
Dewa menggenggam tangan Alya agar langkah perempuan itu lebih ringan.
Sesampainya di area imigrasi, Dewa menyerahkan seluruh dokumen yang telah dipersiapkannya jauh-jauh hari.
Paspor. Visa. Surat-surat pendukung. Semua proses berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun. Tak lama kemudian, keduanya menuju area pengambilan bagasi.
Dewa mengambil koper miliknya lebih dulu, lalu meraih koper Alya tanpa memberi kesempatan perempuan itu membawanya sendiri.
"Mas, biar aku saja."
"Gak usah."
"Aku masih bisa."
Dewa hanya menggeleng pelan. "Kamu cukup jalan di sampingku."
"Aku yang bawa semuanya."
Alya tidak lagi membantah. Bersama Dewa, ia selalu merasa aman tanpa diminta.
Seketika rasa haru itu kembali menyeruak di hatinya. Selama ini Alya selalu merasa menjadi pilihan terakhir. Namun bersama Dewa, untuk pertama kalinya ia merasa dihargai dan diperlakukan layaknya seorang ratu.
Mereka kemudian melangkah keluar dari bandara. Pintu otomatis terbuka perlahan.
Hamparan kota Singapura kini benar-benar berada di depan mata mereka.
Di negeri inilah, kisah baru mereka akhirnya dimulai.
Bersambung ....
Halo Kakak .... Ah sebenarnya hari ini aku sibuk banget. Tapi melihat komentar kalian. capekku berubah menjadi amunisi. Makasih banyak ya, udah buat hatiku senang.
Selamat malam dan selamat membaca. Love you sekebon dari Ayu ...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️