Kisah gadis imut dengan sejuta kenakalannya yang sebenarnya sudah memiliki suami namun tanpa dia ketahui dengan seorang Gus yang memiliki sifat sangat bertolak belakang dengan dirinya.
"Katanya bukan Muhrim kok megang megang sih Dasar Gus Gila! ."
(Alexandra keyla Salsabila.)
"Bahkan tubuhmu sudah halal untukku Zaujati."
(Zio Aqeel Asna Nafis Al Fath)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ido fawaiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH PAHAM
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM,,
Sebaik baik bacaan adalah membaca Al-Qur'an 🥰🥰🥰
*****
Happy reading guys 😘
Karena Zia terus mendesak akhirnya Zio menceritakan semuanya pada Zia tanpa terkecuali.
Air mata Zia terus mengalir, dia tidak tega pada Livy, bagaimana gadis itu harus menjalankan harinya tanpa seorang keluarga pun di sampingnya,dia masih sangat ingat bagaimana rasanya di tinggal orang tua, dan kejadian itu terjadi dalam sehari, meskipun sekarang dia sudah tidak memiliki orang tua namun dia masih memiliki banyak keluarga lainnya sangat menyayangi nya, dan dia tidak perlu memikirkan biaya hidup.
"Hiks,, dia tidak menuntut kamu Zi?"
"Tidak,, bahkan dia sama sekali tidak pernah menyalahkan aku." jawab Zio.
Zia melirik Alvian yang terlihat acuh tak acuh memainkan ponselnya entah apa yang dia kerjakan,padahal sudah jelas jika Livy sekarang tanggung jawabnya.
"Uncle kenapa diam saja?"
Alvian hanya melirik Zia dan berdehem.
"Hm,,"
"Harusnya Uncle bertanggung jawab pada kehidupan Livy."
"Uncle sudah memberikan nya tempat tinggal."
"Astaghfirullah,, Uncle ini benar benar bukan manusia."
"Bahkan Al tidak memberikan Livy nafkah sama sekali, dan itu membuat aku semakin merasa bersalah pada Livy." jelas Zio.
"APA!" teriak Zia.
"Ya Allah Uncle,Uncle lihat sendiri kan bagaimana istrimu di rendahkan tapi Uncle diam saja,suami macam apa Uncle ini." omel Zia.
"Pokoknya Zia harus segera bilang pada Ummi dan Grandpa."
"Tunggu waktu yang tepat." ucap Alvian setelah itu langsung meninggalkan taman.
"UNCLE,,,!" teriak Zia.
Zio menarik Zia kedalam pelukannya, tangis Zia semakin menjadi,mungkin efek kehamilannya juga Zia semakin sensitif, dia mudah sekali menangis.
"Sudah biar Al yang memberi tahu Ummi dan Grandpa,kita bantu Livy saja."
"Hiks,,, tapi Zio, hiks,, kamu lihat sendiri kan bagaimana Livy di rendahkan."
"Hiks,, aku ingin menemui nya." ucap Zia.
"Ayo aku temani."
Zio dan Zia berjalan beriringan, dia bertanya pada salah satu karyawan dimana keberadaan Livy, katanya di panggil Menejer nya.
"Dasar tidak becus, kok bisa sih Pak Rangga mempekerjakan karyawan Bodoh seperti mu, sudah dibilang jangan cari gara gara."
"Maaf,," Cicit Livy, dia masih menggunakan pakaian nya yang basah.
"Gaji bulan ini saya potong."
"Tapi,, Buk."
"Tapi apa? Hah,, sudah bagus kamu tidak di pecat, apa jangan jangan kamu diterima kerja disini dengan cara menggoda pak Rangga?."
"Ti,, dak Buk."
Di luar Zia menangis mendengar Livy di marahi atasannya, seumur umur dia belum pernah merasakan di marahi dan dihina seperti yang Livy alami.
Livy keluar dengan menundukkan kepalanya sehingga dia tidak melihat keberadaan Zia dan Zio.
Sampai di depan lokernya Livy mengusap air matanya, dia tersenyum getir dengan air mata yang kembali mengalir.
"Hiks,,, Ayah Bunda,, Livy butuh kalian."
"Hiks,,, Bolehkah Livy mengeluh dengan kehidupan Livy, Livy capek,, hiks,,." tangis Livy yang sudah tidak kuat menahan sesak di dadanya.
Tanpa Livy sadari sedari tadi Zia dan Zio terus mengikuti nya, tangis Zia semakin menjadi tidak tega mendengar ucapan Livy yang sangat menyayat.
"Astaghfirullah,,, Ya Allah maafkan hamba, Livy,, hiks,, kamu harus semangat kamu masih punya Allah." ucap Livy menyemangati dirinya sendiri.
"حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ"
Ucap Livy kemudian tersenyum manis mengusap air matanya seolah tidak terjadi apa apa,saat dia mulai terpuruk dia akan selalu mengingat jika Allah tidak akan memberikan ujian melewati batas kemampuan nya.
"Hai,,," ucap Zia mendekati Livy .
Livy yang kaget sontak menoleh
"Em,,, Hai." balas Livy, melihat ada Zio juga Livy langsung menunduk.
"Zia " Zia mengulurkan tangannya, tapi Livy se-dki ragu untuk membalas uluran tangan Zia karena tangannya kotor.
"Livy,," balas Livy.
"Tapi,, tangan saya kotor Nona." Ucap Livy saat Zia menarik tangan nya agar bersalaman.
"Bersih kok."
"Aku saudara kembarnya Zio, Maaf dengan apa yang menimpa keluarga mu." ucap Zia dengan tulus.
"Tidak apa apa Nona, semua sudah takdir dari Allah,jadi tidak ada yang perlu di salahkan."
"Masha Allah." Puji Zia dia benar benar kagum dengan ke pribadian Livy.
Zio merogoh dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu dan menyodorkan pada Livy.
"Pakai ini untuk kebutuhan kamu " ucap Zio.
"Tidak usah Tuan." Tolak Zia halus.
Zia mengambil tangan Livy dan meletakkan kartu yang Zio beri.
"Terima saja ya."
"Tidak Nona,saya tidak bisa menerimanya."
"Aku mohon,kamu terima saja lagian sekarang kamu itu juga keluarga kita,jadi kamu berhak kok menerima ini."
"Tapi Nona."
"Tidak ada tapi tapian ambil saja,dan berhenti panggil Nona panggil aku Kakak saja,dan Panggil Zio Abang Oke."
"Terima kasih,,"
Dimeja yang di isi keluarga Ndalem Echa sudah semakin kesal, karena Zio tidak kunjung kembali.
"Bang Al gak ketemu Suami Echa?" tanya Echa.
Alvian hanya membalasnya dengan mengangkat bahunya saja.
"Dasar Freezer." ucap Echa.
"Mungkin El mules sayang." ujar Ella.
"Em,, tapi kelamaan Umma, apa jangan jangan,,?"
"Jangan jangan apa Nak?" tanya Ning Syaqila.
"Jangan jangan Gus menemui pelayan tadi."
Echa berdiri dan segera pergi mencari Zio, mereka yang takut Echa membuat kegaduhan segera menyusul Echa.
"Wanita memang sangat merepotkan." ucap Alvian.
"Ummi mu tidak Boy." balas Edward, dimeja itu hanya tinggal mereka berdua.
"Terimakasih,,"
Echa yang melihat Zia memberikan kartu pada Livy dan Livy tahu jika itu punya Zio segera berlari dan merampas kartu itu dari tangan Livy dengan kasar.
"Dasar Pelakor!"
"Echa,,,!" kaget Zia.
"Dek,, kamu habis menangis?" tanya Gus Akhtar yang khawatir melihat mata bengkak Zia juga wajahnya sudah memerah.
Melihat kedatangan keluarga Zio, Livy segera menunduk.
"Maaf,," Cicit nya pelan.
"Maaf maaf apa hah? Tadi saja minta maaf sekarang sudah berani minta uang pada suami Echa." Echa masih wanita labil yang tingkat kecemburuan nya sangat tinggi jadi saat melihat Zio perhatian pada wanita lain membuat Echa sangat cemburu.
"Sayang kamu salah paham." ucap Zio berusaha agar tidak semakin membuat Echa salah paham.
"Gus kok selalu bela pelayan ini sih." kesal Echa.
"Kalau mau goda laki laki jangan yang sudah memiliki istri juga dong,malu jangan jangan jadi pelakor."
"ECHA,,!" bentak Zia, semua orang menatap kearahnya.
"Kakak juga ikut membela Pelayan murahan ini." ucap Echa yang sudah dikuasai Emosi.
"Gus El jika kamu berniat menduakan Echa lebih baik Echa kami bawa pulang." sambung Lita yang tidak terima Echa di bentak.
Bahu Livy bergetar hebat, hatinya begitu sakit.
"Maafkan saya jika membuat kekacauan, tapi saya benar benar tidak memiliki hubungan apapun dengan suami Nona, tadi Tuan hanya ingin bantu saya saja." ucap Livy.
"Maling mana ada yang ngaku."
"Sudah sudah masalah ini bisa di bicarakan baik baik kan jangan menggunakan Emosi." Ning Syaqila berusaha menengahi.
"Tapi saya tidak terima Ning jika Putri yang saya besarkan dengan penuh kasih sayang di bentak di depan banyak orang seperti ini dan itu hanya karena karyawan yang tidak jelas." ucap Lita.
"Bun,," tegur Arvin .
"Ayah juga mau membela Pelayan murahan ini,wanita baik baik mana ada yang menerima uang dari pria yang tidak di kenalnya."
"Istighfar Lita,, tidak sepatutnya kamu berbicara seperti itu." ucap Ella.
"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak memiliki seorang Putri Ell." balas Lita.
"Diam! " bentak Gus Azka.
"El jelaskan siapa gadis itu?" perintah Gus Azka.
"Dia,,, dia,," Zio sedikit tergugup.
"Saya hanya pelayan yang berniat meminjam uang pada Tuan El." potong Livy melihat Zio yang gugup.
"Dan kamu memanfaatkan kebaikan suami saya?"
"Maaf,, setelah ini saya janji tidak akan lagi mengganggu Tuan El."
"Livy,,," ucap Zia.
"Saya permisi, maaf sudah membuat keributan, Assalamualaikum." ucap Livy.
"Puas kamu Cha, kamu sama sekali tidak mempercayai suamimu, buang sedikit saja sikap ke Kanakan kamu itu, minta penjelasan pada suamimu, gunakan hati kamu,apakah mungkin Zio selingkuh, sadar kamu jika dari tadi kamu sudah mempermalukan suami kamu."
"Ayo kita pulang A' " ajak Zia pada Gus Akhtar.
_
_
_
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 😘
te²p semangat ya thoorrr smoga lancar trus up nya