Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Nakal Berubah Teduh
Bukannya fokus dengan kerjaan yang numpuk, Juan malah senyum sendiri sambil memperhatikan grafik dengan pola yang naik turun pada layar laptopnya. Kecupan hangat Raya masih sangat membekas di pipi kanan, dan hal itu yang mampu membuat Juan tidak fokus dengan pekerjaannya.
Semburat senyum kembali terbit pada wajah juan, di otaknya masih terekam jelas bagaimana raut wajah Raya saat tersenyum, mengkerling nakal padanya, wajah imutnya dan binar matanya dan rasa bibirnya yang hangat di pipi. Semburat merah kembali terbit di wajah Juan.
"Pagi brow..." Rangga, asisten sekaligus sahabat karib Juan dari zaman sekolah SMA. tiba-tiba masuk tanpa permisi.
Juan mendengus kesal, kedatangan Rangga membuyarkan imajinasi indahnya pagi ini.
"Profesional brow, ini sudah masuk jam kerja. Gue bos lu. Gak sopan masuk ruangan bos tanpa ketuk pintu." dengus Juan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya yang terasa empuk dan nyaman.
"Sorry brow, ganggu dikit. Oh ya gue belum ngucapin selamat atas pernikahannya bos. Lu nikah gak info-info. Kaya nikah digerebek warga aja. Lo berbuat yang aneh-aneh kan" ucap Rangga sambil mendekat ke arah meja Juan.
"Sembarangan. Kawin dadakan gue, taulah mama gimana kalau udah ada kemauan harus cepat-cepat di turutin." ucap Juan matanya masih menatap layar laptopnya yang dibiarkan menyala begitu saja, tanpa ada kemajuan untuk mengerjakannya.
"Pilihan Tante Sinta bagus juga. Cantik, anggun, dan cocok sama lo. Gimana kehidupan rumah tangga kalian?" ucap Rangga dengan tatapan yang tertuju pada deretan gedung tinggi.
"Gue gak mau terburu-buru. Gue pengen kenal dia dulu sebelum membawa hubungan kami lebih jauh." ucap Juan dengan sorot mata yang tegas dan dalam.
"Damn brow..." Rangga bertepuk tangan. "gue percaya sama lo, se nakal- nakal nya Juan. Tidak akan pernah membuat seorang wanita lecet. "Dia istri lo. Bangun hubungan kalian pelan-pelan aja." Saran Rangga mulai memberi api pada sumbu yang kering.
"Gue belum benar-benar kenal dia." singkat Juan, menatap nyalang pada sahabatnya.
"Tapi, sejauh ini lo nyaman dengan perhatian yang dia berikan?" tanya Rangga masih penasaran, dia paham betul jika sahabatnya itu kadang tidak bisa memahami perasaanya sendiri. menurutnya Juan terlalu bodoh dalam hal percintaan.
Juan melipat kedua tangannya didepan dada, memperhatikan raut wajah sahabatnya yang berdiri di depan meja kerja.
Mendengar pertanyaan itu membuat Juan berfikir tapi kemudian mengedikan bahunya.
"Gak tau. Sejauh ini, gue ngerasa gak nyesel-nyesel banget nikahin dia. Dia jadi istri dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin." jujur Juan.
"Poin bagus, kalau lo ngerasa gak cocok dan berniat ingin menceraikannya. Kalau sampai lo sia-siain, banyak yang bakal antre. Termasuk gue."
"Bangsat, berani nya lo"
****
Setelah mandi sore Raya berniat untuk turun kebawah, sore ini dia akan memasak untuk makan malam Juan nanti.
"Ray.. Ikut mama pengajian yuk!" ajak mama Sinta yang sudah siap dengan pakaian tertutup, sebuah abaya berwarna biru cerah dengan hijab yang senada.
"Eh mama, Raya belum siap-siap. Terus belum masak buat bang Ju makan malam."
"Tenang, tadi mama udah masak sama mbok Uti, ayok sekalian kenalan sama tetangga komplek"
"Yaudah Raya ganti dulu baju ma."
"Eh sebentar Ray." panggilan Bu Sinta menghentikan langkah Raya. Yang akan menuju kamarnya kembali.
"Ni, biar senada sama mama, punya kamu warnanya biru pastel sesuai dengan trend yang sedang rame sekarang. Pasti cantik benget dipake sama kamu Ray." Bu Sinta menyerahkan abaya biru muda pastel pada Raya, yang kemudian Raya menerimanya.
"Mama, ini bagus benget. Makasih ma." isris mata yang hitam pekat itu, memancarkan cahaya.
"Sama-sama Ray, ayok cepetan mama tunggu."
Dengan gesit Raya memakai abaya itu, untung dia sudah memakai makeup tipis-tipis, jadi tidak perlu memakan waktu yang lama untuk bersiap.
Raya mulai memakai hijab berwarna yang senada dengan abaya nya, hijab pashmina itu terampil Raya pasangkan pada wajahnya yang imut. Karena Raya sudah terbiasa memakai hijab, walaupun masih tutup pasang belum bisa Istikomah.
Ceklek.
Juan masuk kamar saat Raya mulai melilitkan hijabnya pada kepalanya. Juan pulang cepat, karena sebagian kerjaan nya dikerjakan oleh Rangga.
Raya yang Sadar akan kehadiran suaminya yang sudah pulang sontak cepat menyelesaikan memakai hijab, hijab itu kini rapi membingkai wajah Raya. Terlihat sangat cantik.
Juan menautkan alisnya sambil mulai melepas jam tangannya, matanya masih tertuju pada Raya yang sedang bercermin.
"Abang.." sapa Raya sambil mendekat pada Juan dan mencium punggung tangan suaminya.
Juan merasakan hal yang berbeda sore ini, tidak ada kerlingan binar mata dari Raya, tidak ada godaan yang lucu, yang ada kini adalah sorot keteduhan yang dipancarkan dari wajah istrinya jika dipandang makin merasa nyaman dan adem.
"Abang pulang cepet?, sekalian Raya izin mau ikut mama pengajian. Boleh ga?" Iris hitam pekat itu menatap mata tajam milik Juan.
"Heem.." jawab Juan sambil mulai melepaskan dasinya.
"Yes, baru kali ini Raya keluar rumah setelah satu Minggu lebih nikah sama bang Ju. Abang sebelum Raya berangkat, mau dibikinin kopi atau teh?" Raya memastikan, ia tidak mau meninggalkan suaminya dalam keadaan lapar atau menginginkan sesuatu.
Juan sadar, ia bahkan belum sempat ngajak Raya keluar rumah.
"Pergi aja!" tolak Juan. Dengan wajah dingin yang khas.
"Yaudah, Raya berangkat." Raya kembali menarik tangan Juan dan kemudian mencium punggung tangan suaminya itu dengan hormat.
"Bang... kiiss...." Raya mendekatkan keningnya pada kepala Juan.
"Ray. Nanti wudhu lo batal." ucap Juan sambil berusaha menjaga jarak bibirnya dari dahi Raya.
"Loh gapapa dong bang, kan ini bukan berangkat shalat berjamaah ini berangkat pengajian aja." kilah Raya lagi.
"Pergi!" Juan menggertakkan gerahamnya, bukan apa-apa jika dia mencium kening Raya, bisa bikin konsentrasinya semakin buyar.
"Abang emang se gak tertarik itu ya sama Raya? tapi gapapa. Raya akan sabar dan membuat Abang kembali pada jalan yang lurus." ucap Raya seraya tangan mengelus lembut lengan Juan yang berisikan otot yang sangat padat.
"Bye Abang, doakan istrimu ini menjadi istri yang Solehah."
Ucap Raya seraya melangkah menuju ambang pintu kamar.
Aamiin. Batin Juan
Senyum terukir di wajah Juan, saat Juan menunduk untuk melepas kancing tangan kemejanya.
Gemas banget lo Ray. Ada lo hidup gue jadi lebih berwarna lagi.
Batin Juan tapi masih belum paham dengan rasa yang ada pada dalam dirinya.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers, dukungan dari kalian bikin author semangat lagi buat nulisnya.