NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN DARI TANAH BORNEO

Author mulai kasihan sama Mas Anto. Baru saja lolos dari Desa Mati, eh sekarang disuruh nyebrang pulau. Hidup beliau ini benar-benar seperti langganan paket wisata horor premium. Bedanya, wisata lain pulangnya bawa oleh-oleh. Mas Anto pulangnya bawa kutukan. 😌

-----

Jejak itu berhenti tepat di ujung jalan tanah.

Setelah itu...

hilang.

Bukan karena terhapus hujan.

Bukan pula karena tertutup rumput.

Melainkan benar-benar lenyap begitu saja, seolah makhluk yang meninggalkannya tiba-tiba melayang ke udara.

Aku berdiri mematung cukup lama.

Parang di tanganku masih tergenggam erat.

"Man..."

Lukman ikut jongkok memperhatikan bekas pijakan itu.

Jarinya menyentuh tanah yang cekung.

Masih hangat.

Dia langsung menarik tangannya.

"Baru lewat."

"Barusan?"

"Iya."

"Dia sengaja memperlihatkan jejak ini."

Aku mengangkat kepala.

"Maksudmu?"

Lukman menatap lurus ke arah jalan yang mengarah ke hutan.

"Dia mau kita tahu..."

"...kalau sekarang giliran dia yang memburu kita."

Kalimat itu membuat tengkukku kembali meremang.

Selama ini kami mengejar Sagim.

Kini...

keadaannya berbalik.

Kami kembali masuk ke rumah Mbok Diyah.

Lelaki tua itu masih duduk diam.

Tatapannya kosong menatap lantai.

"Pak..."

panggilku pelan.

"Kalau kami memang harus ke Kalimantan..."

"...kami harus mencari siapa?"

Beliau mengusap wajahnya perlahan.

"Namanya Bahar."

"Bahar?"

"Iya."

"Dulu dia murid paling muda."

"Tapi ilmunya tinggi."

"Dia orang Dayak."

"Terakhir kali kudengar..."

"...dia tinggal di pedalaman Sungai Mahakam."

Aku saling berpandangan dengan Lukman.

Sungai Mahakam.

Nama itu pernah kudengar di televisi.

Tapi hanya sebatas itu.

Bagiku...

Kalimantan hanyalah sebuah pulau yang sangat jauh.

Hutan lebat.

Sungai besar.

Tambang.

Dan orangutan.

Sekarang...

aku harus pergi ke sana.

Bukan untuk bekerja.

Melainkan mengejar makhluk yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan logika.

"Tapi sebelum berangkat..."

kata lelaki tua itu.

"Kamu harus pulang dulu."

Aku mengangguk.

"Amira."

Beliau menyebut nama istriku.

"Dia harus tahu semuanya."

Dadaku langsung terasa sesak.

Sudah berhari-hari aku meninggalkan rumah.

Entah bagaimana keadaan Amira sekarang.

Bagaimana keadaan Lala.

Bagaimana Andi.

Dan...

bagaimana kondisi Anggun yang masih mendekam di penjara.

Nama itu kembali muncul di kepalaku.

Anggun.

Perempuan yang menjadi awal dari seluruh petaka ini.

Sagim memang sudah mati.

Tetapi orang yang menyuruhnya masih hidup.

Berarti...

belum semua utang selesai.

Menjelang sore kami berpamitan.

Sebelum pergi, lelaki tua itu memanggil Lukman.

"Tunggu."

Beliau masuk ke dalam bilik kecil.

Tak lama kemudian keluar sambil membawa sebuah buntalan kain lusuh.

"Ini peninggalan ibumu."

Lukman menerimanya dengan kedua tangan.

Saat dibuka...

di dalamnya terdapat sebuah tasbih kayu berwarna hitam kecokelatan.

Butirannya besar.

Permukaannya dipenuhi guratan-guratan halus seperti bekas terbakar.

"Apa ini?"

tanya Lukman.

"Biji ulin."

"Kayu besi Kalimantan."

Aku mengangkat alis.

"Kalimantan lagi?"

Beliau mengangguk.

"Ibumu mendapatkannya dari Bahar."

"Katanya..."

"...selama tasbih itu masih utuh..."

"...pengaruh ilmu hitam akan lebih sulit menembus hati pemiliknya."

Lukman memandang tasbih itu cukup lama.

Matanya berkaca-kaca.

"Mbok ternyata sudah menyiapkan semuanya..."

gumamnya lirih.

Kami berjalan meninggalkan rumah Mbok Diyah tanpa banyak bicara.

Langit sore mulai memerah.

Angin laut bertiup pelan.

Namun perasaanku sama sekali tidak tenang.

Setiap beberapa langkah...

aku selalu menoleh ke belakang.

Entah kenapa...

aku merasa ada seseorang yang mengikuti.

Bukan manusia.

Melainkan tatapan.

Tatapan yang tidak pernah benar-benar hilang sejak keluar dari Desa Mati.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi.

Motor tua yang kami pinjam dari Pak Karta melaju pelan menyusuri jalan pesisir.

Biasanya Lukman cerewet.

Hari ini...

dia hampir tidak bicara sama sekali.

Baru setelah matahari hampir tenggelam...

dia membuka suara.

"Kang..."

"Hm?"

"Kalau nanti ternyata perjalanan ke Kalimantan bikin nyawa kita melayang..."

Aku langsung memotong.

"Jangan ngomong sembarangan."

Dia tersenyum kecil.

"Aku cuma bilang kalau."

Aku menghela napas.

"Lalu?"

"Tolong jaga ibuku..."

Kalimat itu langsung membuatku menoleh.

"Lho?"

Lukman tertawa pelan.

"Maksudku..."

"...kalau ternyata beliau masih hidup."

Aku ikut tersenyum tipis.

"Mbok Diyah itu keras kepala."

"Iya."

"Beliau pasti belum pergi jauh."

"Tapi..."

Senyum Lukman perlahan menghilang.

"...firasatku bilang..."

"...pertemuan kita berikutnya dengan beliau tidak akan sama lagi."

Aku tidak menjawab.

Kadang...

firasat orang-orang seperti Lukman terlalu sering menjadi kenyataan.

Dan itu justru yang membuatku takut.

----

Perjalanan pulang memakan waktu hampir tiga jam.

Sepanjang jalan aku terus memikirkan satu nama.

Banyu.

Guru Sagim.

Orang yang memilih jalan gelap.

Kalau benar semua petaka ini bermula darinya...

berarti kematian Sagim sama sekali belum mengakhiri apa pun.

Ia hanya memutus satu ranting.

Sedangkan akar pohonnya...

masih hidup.

Aku menarik napas panjang.

Entah mengapa, semakin dekat menuju kampung, hatiku justru semakin gelisah.

Seolah ada sesuatu yang sedang menunggu kepulanganku.

Matahari sudah hampir tenggelam ketika motor kami memasuki jalan desa.

Anak-anak kecil masih bermain layangan di pematang sawah.

Beberapa ibu-ibu sedang mengangkat jemuran.

Suara azan Magrib mulai menggema dari surau kecil di ujung kampung.

Suasana yang begitu akrab.

Begitu damai.

Sulit dipercaya bahwa hanya dua hari lalu aku nyaris mati di Desa Mati.

"Kang..."

Lukman memperlambat laju motornya.

"Lihat."

Aku mengikuti arah telunjuknya.

Rumahku.

Di depan rumah sudah berkumpul cukup banyak warga.

Sekitar belasan orang.

Pak RT.

Pak Karta.

Beberapa tetangga.

Dan...

kulihat Amira berdiri di teras.

Begitu melihat kami datang...

dia langsung berlari.

"Mas...!"

Aku bahkan belum sempat turun dari motor ketika tubuh istriku sudah menghantam dadaku.

Tangisnya pecah seketika.

Kedua tangannya memelukku erat.

Sangat erat.

Seolah takut aku akan menghilang lagi.

"Mas... Mas..."

"Kamu pulang..."

"Aku kira..."

Kalimatnya terputus oleh isakan.

Tanganku perlahan mengusap punggungnya.

"Iya, Dik."

"Mas pulang."

"Mas gak apa-apa."

Padahal...

tubuhku penuh luka.

Tapi saat itu aku tidak ingin menambah kekhawatirannya.

Tak lama kemudian...

Lala ikut berlari keluar rumah.

"Bapak!"

Anak sulungku itu langsung memeluk pinggangku.

Wajahnya sembab.

Sepertinya habis menangis.

Di belakangnya...

Andi berlari kecil sambil tertawa.

"Bapaaak...!"

Bocah itu langsung minta digendong.

Aku mengangkat tubuh mungilnya meski bahuku terasa nyeri.

Andi tertawa riang.

Tangannya memegang pipiku.

"Bapak bau obat..."

Aku tertawa kecil.

"Iya."

"Bapak habis berantem."

"Lawan siapa?"

Aku melirik Amira.

Lalu tersenyum.

"Lawan orang jahat."

Andi mengangguk mantap.

"Bapak menang?"

Aku mengusap rambutnya.

"Menang."

Aku berbohong.

Karena sebenarnya...

aku sendiri belum yakin.

Pak Karta mendekat.

Wajahnya jauh lebih segar dibanding terakhir kali kami bertemu.

"Alhamdulillah..."

"Kalian selamat."

Aku menjabat tangannya.

"Maaf bikin semua orang khawatir."

Pak RT ikut tersenyum.

"Yang penting pulang."

"Kami sudah dengar kabar dari Lukman lewat telepon."

Aku menoleh heran.

"Lho?"

Lukman menggaruk kepala.

"Tadi pinjam HP orang di warung."

"Takut di rumah panik."

Aku mengangguk pelan.

Pantas saja.

Setelah warga membubarkan diri...

rumah kembali tenang.

Aku mandi.

Mengganti pakaian.

Baru setelah itu duduk di ruang tengah bersama Amira.

Lukman juga ikut duduk.

Suasana hening cukup lama.

Amira menatap luka di lenganku.

"Ini..."

"...karena Sagim?"

Aku mengangguk.

"Iya."

Dia menggenggam tanganku pelan.

"Mas..."

"Sudah selesai kan?"

Aku menunduk.

Pertanyaan itu...

terlalu sulit kujawab.

Lukman akhirnya membuka suara.

"Maaf, Mbak."

"Tapi..."

"Belum."

Amira perlahan menoleh.

"Maksudnya?"

Aku menarik napas panjang.

Lalu mulai menceritakan semuanya.

Tentang hancurnya cermin.

Tentang kabut hitam.

Tentang sosok berjubah.

Tentang surat Mbok Diyah.

Tentang foto lama.

Dan...

tentang Banyu.

Semakin lama aku bercerita...

wajah Amira semakin pucat.

Tangannya perlahan melepaskan genggamannya dariku.

"Jadi..."

"Semua ini..."

"...belum selesai?"

Aku menggeleng pelan.

"Belum."

Ruangan kembali sunyi.

Yang terdengar hanya suara jarum jam dinding.

Tik...

Tik...

Tik...

Beberapa menit kemudian...

Amira berdiri.

Tanpa berkata apa pun dia masuk ke kamar.

Aku mengikutinya.

Kulihat dia sedang membuka lemari pakaian.

Mencari sesuatu.

"Dik?"

Dia tidak menjawab.

Beberapa saat kemudian...

dia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu sudah sangat tua.

Aku baru sadar...

selama ini aku belum pernah melihat benda itu.

"Ini apa?"

tanyaku.

Amira mengusap debu di permukaannya.

"Warisan dari almarhum nenek."

"Lho?"

"Kok Mas baru tahu?"

Dia tersenyum hambar.

"Aku juga baru ingat."

"Selama ini kusimpan."

"Kata ibu..."

"...kotak ini tidak boleh dibuka sebelum waktunya."

Aku dan Lukman saling berpandangan.

Entah kenapa...

jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Amira perlahan membuka penguncinya.

Klik...

Tutup kayu itu terangkat.

Di dalamnya...

hanya ada tiga benda.

Sehelai kain merah tua yang sudah pudar.

Sebuah cincin perak bermotif ukiran aneh.

Dan...

selembar foto hitam putih.

Aku mengambil foto itu.

Begitu kulihat wajah orang-orang di dalamnya...

napasku langsung tercekat.

Karena...

di sudut paling kanan foto itu...

berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dengan tato khas Dayak.

Wajahnya...

persis seperti lelaki yang ada di foto milik Mbok Diyah.

Aku menoleh perlahan ke arah Lukman.

Dia pun tampak membeku.

"Bahar..."

ucapnya lirih.

"Berarti..."

"...dia pernah datang ke rumah ini."

----

Aku mengambil foto itu perlahan.

Tanganku tiba-tiba terasa dingin.

Foto hitam putih itu sudah mulai kusam dimakan usia. Beberapa sudutnya menguning, bahkan ada bagian yang hampir sobek. Meski begitu, wajah orang-orang di dalamnya masih terlihat cukup jelas.

Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.

Di sampingnya berdiri seorang pria berkumis tebal.

Di belakang mereka, tampak beberapa orang lain mengenakan pakaian adat yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dan...

di pojok paling kanan...

berdiri seorang lelaki bertubuh kekar dengan rompi manik-manik khas Dayak.

Tatonya memenuhi kedua lengan hingga ke leher.

Tatapan matanya tajam, tetapi wajahnya justru memancarkan ketenangan.

Aku pernah melihat wajah itu.

Bukan secara langsung.

Melainkan di foto tua milik Mbok Diyah.

"Man..."

Aku menyerahkan foto itu kepada Lukman.

Dia memperhatikannya beberapa saat.

Lalu mengangguk pelan.

"Iya."

"Orangnya sama."

"Ini Bahar."

Amira yang sejak tadi berdiri di samping kami tampak kebingungan.

"Siapa sebenarnya Bahar?"

Aku menarik napas panjang.

"Lelaki ini..."

"...mungkin satu-satunya orang yang masih bisa membantu kita."

Amira kembali melihat isi kotak kayu itu.

"Selain foto ini..."

"...aku gak pernah tahu ada apa lagi."

Dia mengangkat kain merah tua yang terlipat rapi.

Ternyata di bawahnya masih ada secarik kertas.

Bukan surat.

Melainkan potongan halaman buku.

Tulisannya sudah memudar.

Sebagian bahkan hilang dimakan rayap.

Aku membacanya perlahan.

"...bila bayangan dari tanah seberang kembali bangkit, carilah Penjaga Air Hitam. Jangan percaya siapa pun sebelum melihat tanda burung enggang di telapak tangannya..."

Hanya itu yang masih bisa terbaca.

Sisanya sudah rusak.

"Penjaga Air Hitam..."

gumam Lukman.

"Itu pasti bukan nama orang."

"Mungkin gelar."

Aku mengangguk.

"Atau sebuah kelompok."

Aku kemudian memperhatikan cincin perak yang ada di dalam kotak.

Ukurannya cukup besar.

Di bagian atasnya terukir seekor burung dengan sayap terbentang.

Burung itu tampak asing bagiku.

Namun begitu melihatnya...

Lukman langsung membelalakkan mata.

"Itu..."

"Burung enggang."

Aku terdiam.

"Yang ada di surat tadi?"

"Iya."

"Persis."

Perlahan kami mulai saling berpandangan.

Potongan-potongan teka-teki yang selama ini tercerai-berai...

mulai menemukan tempatnya.

"Mas..."

Suara Amira memecah lamunanku.

"Kamu yakin mau pergi lagi?"

Aku menoleh.

Tatapan istriku dipenuhi kecemasan.

Baru saja aku pulang.

Baru beberapa jam menginjak rumah.

Sekarang...

kami sudah membicarakan perjalanan baru.

Aku menggenggam tangannya.

"Mas juga gak mau."

"Tapi kalau kita diam..."

"...dia yang akan datang ke sini."

Amira menunduk.

Air matanya kembali menetes.

"Aku capek, Mas..."

Kalimat sederhana itu justru terasa paling menyakitkan.

Bukan karena dia mengeluh.

Melainkan karena aku tahu...

selama ini dia memang terlalu banyak menderita.

Santet.

Teror.

Fitnah.

Hampir kehilangan nyawa.

Kini semuanya belum juga selesai.

Aku mengusap pipinya.

"Mas janji."

"Ini perjalanan terakhir."

Walaupun...

di dalam hati kecilku sendiri...

aku tidak benar-benar yakin.

Malam semakin larut.

Lukman memutuskan menginap di rumah kami.

Katanya...

lebih aman.

Aku pun tidak menolak.

Setelah semua kejadian itu...

rasanya kami memang tidak boleh berpencar lagi.

Sekitar pukul sebelas malam...

seluruh rumah mulai sunyi.

Lala dan Andi sudah tidur.

Amira juga mulai terlelap karena kelelahan.

Namun...

aku sama sekali belum bisa memejamkan mata.

Entah mengapa...

dadaku terasa tidak tenang.

Aku keluar ke teras.

Udara malam terasa sejuk.

Suara jangkrik bersahut-sahutan dari arah sawah.

Untuk sesaat...

aku berharap hidupku kembali normal.

Bekerja.

Mengantar Lala sekolah.

Mengajak Andi bermain.

Menemani Amira memasak.

Sesederhana itu.

Sayangnya...

harapan itu kembali hancur.

"Kang..."

Suara Lukman terdengar dari belakang.

"Tidur belum?"

Aku menggeleng.

"Kamu juga?"

Dia ikut duduk di sampingku.

Beberapa saat kami hanya memandangi jalan kampung yang lengang.

Tiba-tiba...

Lukman mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Tasbih kayu peninggalan Mbok Diyah.

"Kang..."

"Sejak keluar dari Desa Mati..."

"...tasbih ini gak pernah berhenti hangat."

Aku menyentuh butiran kayu itu.

Benar.

Ada hawa hangat yang aneh.

Seolah benda itu...

masih hidup.

Belum sempat kami membahasnya...

anjing-anjing kampung mendadak menggonggong bersamaan.

"Guk! Guk! Guk!"

Suara itu datang dari ujung jalan.

Lalu semakin dekat.

Semakin banyak.

Aku dan Lukman langsung berdiri.

Beberapa lampu rumah tetangga mulai menyala.

Orang-orang mengintip dari balik jendela.

Anjing-anjing itu tidak menggonggong ke sembarang arah.

Mereka semua menghadap...

ke jalan masuk kampung.

Di sana...

dalam remang cahaya bulan...

terlihat seseorang sedang berdiri diam.

Sendirian.

Tubuhnya dibungkus mantel hujan hitam.

Wajahnya tertutup caping lebar.

Dia tidak bergerak sedikit pun.

Hanya berdiri.

Memandangi rumah kami.

Aku menggenggam parang yang kusimpan di balik pintu.

"Man..."

bisikku pelan.

"Kayaknya..."

"...tamu kita datang lebih cepat."

Lukman tidak menjawab.

Tatapannya terpaku pada tangan kanan sosok asing itu.

Karena...

meski tertutup lengan mantel...

terlihat jelas sebuah cincin perak berukir...

burung enggang.

----

Aku masih menggenggam foto lusuh itu ketika kami keluar dari rumah Mbok Diyah.

Langit yang tadi sempat cerah kini kembali dipenuhi awan kelabu. Angin dari arah sawah bertiup pelan, membawa aroma tanah basah yang khas setelah hujan semalam.

Untuk beberapa saat, tak seorang pun berbicara.

Aku berjalan paling depan.

Lukman menyusul di belakang sambil memikul tas kainnya.

Di tangannya, surat peninggalan Mbok Diyah masih digenggam erat seolah takut diterbangkan angin lagi.

"Man..."

"Hm?"

"Mbok Diyah sengaja menyimpan semua ini selama bertahun-tahun?"

Lukman mengangguk pelan.

"Sepertinya begitu."

"Kenapa?"

Dia menarik napas panjang.

"Mungkin beliau menunggu waktu yang tepat."

"Atau..."

"...beliau tahu kalau suatu hari kita pasti datang."

Aku menatap jalan setapak yang membelah hamparan kebun singkong.

Semakin kupikirkan...

semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.

Kalau Mbok Diyah memang mengenal guru Sagim...

kenapa dulu beliau membiarkan Sagim berkembang?

Kenapa baru sekarang semuanya diungkap?

Dan...

apa sebenarnya yang ada di dalam darah Amira?

Pertanyaan terakhir itulah yang paling mengganggu pikiranku.

Aku mengenal istriku lebih dari lima belas tahun.

Dia perempuan biasa.

Lahir dari keluarga sederhana.

Tidak pernah belajar ilmu apa pun.

Tidak pernah ikut ritual aneh.

Lalu...

kenapa makhluk berjubah hitam itu justru menginginkan Amira?

Perjalanan pulang menuju kampung memakan waktu hampir tiga jam.

Matahari sudah condong ke barat ketika kami akhirnya tiba di rumah Pak Karta.

Begitu melihat kami datang, lelaki tua itu langsung berdiri dari kursi bambunya.

"Wes bali?"

Aku mengangguk pelan.

"Alhamdulillah..."

Beliau menghampiri kami dengan langkah cepat.

Namun senyum lega di wajahnya perlahan memudar saat melihat kondisi kami.

Bajuku robek di beberapa bagian.

Kulit lenganku penuh luka sayatan.

Sementara Lukman...

wajahnya masih pucat seperti orang baru sembuh dari sakit berat.

Pak Karta menghela napas panjang.

"Berhasil?"

Aku dan Lukman saling berpandangan.

Lalu aku menjawab lirih.

"Sagim sudah mati."

Pak Karta memejamkan mata.

Bibirnya komat-kamit mengucap istigfar.

Namun...

anehnya...

beliau sama sekali tidak terlihat bahagia.

Justru wajahnya semakin muram.

"Kenapa, Pak?"

Beliau menatapku lama.

"Lalu..."

"...jinnya?"

Dadaku langsung terasa sesak.

"Ternyata Bapak sudah tahu..."

Pak Karta mengangguk perlahan.

"Saya cuma berharap..."

"...dugaan saya salah."

Beliau mempersilakan kami masuk.

Di ruang tamu sederhana itu, kami menceritakan semuanya.

Tentang cermin.

Tentang ledakan.

Tentang makhluk berjubah hitam.

Tentang surat Mbok Diyah.

Dan tentang Kalimantan.

Semakin lama aku bercerita...

raut wajah Pak Karta semakin berubah.

Beliau berkali-kali memijat dahinya.

Sesekali menarik napas panjang.

Saat ceritaku selesai...

ruangan mendadak sunyi.

Tak ada yang berbicara hampir satu menit penuh.

Sampai akhirnya...

Pak Karta bangkit.

Beliau berjalan menuju lemari kayu tua di sudut ruangan.

Membuka laci paling bawah.

Lalu mengeluarkan sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.

Kotak itu tampak sangat tua.

Mungkin usianya puluhan tahun.

Beliau membawanya ke meja.

Membuka gembok kecil yang menggantung di sisinya.

Ceklek...

Isi kotak itu membuatku mengernyit.

Hanya ada tiga benda.

Sebuah tasbih kayu.

Pisau kecil berukir.

Dan...

sebuah buku catatan yang sampulnya sudah hampir lepas.

Pak Karta mengambil buku itu.

Lalu menyerahkannya kepadaku.

"Baca."

Aku membuka halaman pertama.

Tulisan tangan tua memenuhi setiap lembarannya.

Di bagian paling atas tertulis...

Catatan Perjalanan Kiai Harun.

Aku mengangkat kepala.

"Kiai Harun siapa?"

Pak Karta menjawab pelan.

"Orang yang dulu memimpin rombongan untuk memburu guru Sagim."

Aku langsung membeku.

"Maksud Bapak..."

"...pernah ada orang yang mencoba menghentikannya?"

"Iya."

"Berhasil?"

Pak Karta tersenyum pahit.

"Kalau berhasil..."

"...kalian tidak mungkin mengalami semua ini."

Aku menelan ludah.

Lukman langsung duduk lebih dekat.

Kami membuka halaman berikutnya.

Di sana terdapat sebuah peta sederhana.

Peta Indonesia.

Namun hanya satu pulau yang diberi lingkaran tinta merah.

Pulau Kalimantan.

Di pinggir lingkaran itu...

tertulis satu nama.

Bukit Batu Karuang.

Aku belum pernah mendengar nama tempat itu sebelumnya.

Lukman juga menggeleng pelan.

Pak Karta menunjuk nama tersebut.

"Kalau kalian benar-benar ingin mengakhiri semuanya..."

"...perjalanan kalian dimulai dari sana."

Aku menatap nama itu lama.

Entah kenapa...

sejak pertama kali melihatnya...

jantungku berdetak lebih cepat.

Seolah-olah...

tempat itu...

sedang memanggilku.

Di luar rumah...

langit kembali bergemuruh.

Petir menyambar jauh di balik awan.

Dan untuk pertama kalinya...

aku merasa...

jalan pulang menuju keluargaku ternyata masih sangat panjang.

Karena musuh yang sebenarnya...

baru saja memperlihatkan jejak pertamanya.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!