Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua
Malam itu, rumah keluarga Arsaka kembali terasa hangat seperti biasanya. Namun bagi Chelsea, ada sesuatu yang berbeda. Sejak makan malam kemarin, pikirannya terus berputar pada satu hal.
El memiliki seseorang. Dan lebih menyakitkan lagi, El terlihat begitu bahagia saat menyebut nama Zoya.
Chelsea berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu adalah hal yang seharusnya membuatnya bahagia juga. Karena bukankah selama ini ia selalu ingin melihat El bahagia? Tapi kenapa rasanya begitu sulit?
Chelsea berdiri di depan cermin kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan senyum kecil yang dipaksakan. Malam ini ia hanya akan menemani El makan malam. Tidak lebih.
Ia bukan siapa-siapa bagi El selain adik. Adik yang selalu dilindungi dan diperhatikan. Bukan wanita yang akan dipilih.
"Chelsea, kamu sudah siap?" Suara Hana terdengar dari luar kamar.
Chelsea segera mengambil tas kecilnya lalu membuka pintu. "Aku sudah siap, Mom."
Begitu keluar, langkah Chelsea langsung membuat dua orang yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh. Arsaka yang sedang membaca sesuatu di tablet langsung menghentikan kegiatannya.
Matanya melebar sedikit melihat putrinya. Bukan karena Chelsea berubah menjadi orang lain. Tapi karena di mata Arsaka, Chelsea selalu menjadi gadis kecilnya yang cantik.
"Kamu cantik banget, gadisku."
Chelsea langsung tersenyum malu. "Daddy mulai lagi."
Arsaka berdiri sambil menghampiri putrinya. Ia memperhatikan Chelsea dari atas sampai bawah dengan tatapan seorang ayah yang masih tidak percaya anak kecil yang dulu ia gendong kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.
"Siapa pria beruntung yang mendapatkan cinta kamu, hm?"
Chelsea langsung tertawa kecil. "Daddy ...."
"Tapi Daddy serius." Arsaka menunjuk Chelsea. "Daddy tidak akan membiarkan ada pria yang menyakitimu."
Nada suaranya terdengar seperti ancaman, membuat Chelsea dan Hana langsung tertawa. Hana yang duduk di sofa hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Mas, Chelsea pasti tahu dengan pilihannya."
Hana berdiri lalu menghampiri Chelsea. "Mommy yakin kamu akan mendapatkan pria yang baik. Karena anak Mommy juga anak yang baik dan sangat cantik."
Chelsea langsung memeluk lengan Hana. "Daddy dan Mommy jangan terlalu memuji. Nanti ada yang dengar, malu."
"Kenapa malu?" tanya Hana.
Chelsea mengangkat bahu kecil. "Karena cuma Daddy sama Mom yang bilang aku cantik. Orang lain belum tentu."
Mendengar itu, Arsaka langsung memasang wajah serius. "Siapa yang berani bilang kamu jelek?"
Chelsea menahan tawa. "Mungkin saja ada."
"Berani bilang kamu jelek. Daddy kirim ke pulau komodo. Belum tau ya, Chelsea adalah putri kesayangan Arsaka. Seorang CEO dingin dan kejam!"
Kalimat itu membuat Chelsea dan Hana langsung tertawa. Al yang baru turun dari tangga ikut mendengar perkataan ayahnya. Ia langsung tertawa.
"Daddy, itu bukan hukuman. Itu namanya kirim orang liburan."
Arsaka menoleh santai. "Al."
"Iya, Dad?"
"Jangan lawan Daddy."
Al langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tapi Daddy memang benar, Kak Chelsea memang cantik."
Chelsea menggeleng sambil tersenyum. "Al, kamu jangan ikut-ikutan."
Al berjalan mendekat lalu berpura-pura berpikir. "Kalau begitu ...." Ia menatap Chelsea dengan wajah jahil. "Kak Chelsea mau jadi istriku?"
Chelsea langsung membelalakkan mata. "Al!"
Tawa memenuhi ruang keluarga. Namun sebelum Chelsea sempat membalas, suara lain terdengar dari arah tangga.
"Mimpi kamu?"
Semua orang menoleh. El berdiri di sana dengan jas santai yang sudah rapi. Tatapannya langsung tertuju pada Al.
"Chelsea itu kakak kamu."
Al tersenyum jahil. "Kan cuma bercanda."
El turun perlahan. "Sampai kapan pun dia tetap kakak kamu."
Lalu pandangan El beralih pada Chelsea. "Walaupun kalian tidak sedarah, tapi semua orang tahu kalian bersaudara."
Kalimat itu membuat senyum Chelsea sedikit memudar. Tak boleh ada cinta. Karena kalian saudara. Itu adalah kalimat yang selalu ia tahu sejak kecil. Tapi mendengar El sendiri yang mengatakannya, entah kenapa tetap terasa sakit.
El melanjutkan. "Tak boleh ada cinta seperti itu."
Arsaka yang mendengar hanya mengangguk. "Betul apa yang Abang El katakan." Pria itu melihat ketiga anaknya. "Kalian bertiga bersaudara. Jangan ada kata cinta selain cinta karena persaudaraan."
Chelsea tersenyum kecil. "Iya, Dad." Jawaban itu terdengar ringan. Padahal berbeda dalam hatinya.
El mengambil kunci mobil. "Ayo, Chel. Kita pergi."
Chelsea mengangguk. Ia berpamitan pada Arsaka dan Hana sebelum mengikuti El keluar. Sepanjang perjalanan, Chelsea lebih banyak diam. Bukan karena tidak ingin bicara. Tapi karena ia sedang mencoba mengendalikan hatinya sendiri.
Sementara El sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi. Baginya, Chelsea tetap Chelsea. Gadis yang selalu ada di sampingnya sejak kecil.
"Kamu kenapa diam?" Suara El membuat Chelsea menoleh.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Kamu biasanya lebih banyak bicara."
Chelsea tersenyum. "Mungkin aku cuma capek."
El mengangguk. "Kalau capek bilang sama Abang."
Chelsea menatap wajah El yang sedang fokus menyetir. Satu kalimat sederhana yang penuh perhatian. Hal-hal kecil seperti itu yang membuatnya sulit berhenti mencintai pria ini. Karena El selalu membuatnya merasa istimewa. Walaupun hanya sebagai adik.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah yang sudah El pilih. Begitu turun dari mobil, Chelsea berjalan di samping El. Dan tanpa sadar, saat mereka memasuki restoran, El menggenggam tangannya.
Chelsea langsung terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Genggaman itu terasa berbeda. Padahal El sudah sering menggenggam tangannya sejak mereka kecil.
Tapi malam ini berbeda, mungkin karena untuk pertama kalinya, Chelsea sadar bahwa tangan itu suatu hari nanti akan menggenggam tangan wanita lain.
Di dalam restoran, beberapa pasang mata langsung melihat ke arah mereka. Banyak yang tersenyum kecil. Melihat mereka seperti pasangan yang sangat serasi.
El dengan wajah tegas dan elegannya. Chelsea dengan wajah ayu dan senyumnya yang manis. Walaupun kulit Chelsea tidak seputih El, kecantikannya memiliki pesona tersendiri. Ia terlihat lembut. Dan membuat siapa pun mudah merasa nyaman.
Beberapa orang bahkan berbisik kecil, mengira mereka pasangan. Chelsea yang mendengarnya hanya diam. Sedangkan El sama sekali tidak peduli. Ia tetap menggenggam tangan Chelsea. Seolah ingin mengatakan pada semua orang bahwa gadis itu adalah seseorang yang penting baginya..
Mereka akhirnya sampai di meja yang sudah dipesan. Seorang wanita cantik duduk di sana. Rambut panjangnya tergerai rapi. Wajahnya terlihat anggun dengan senyum yang sebelumnya terlihat bahagia.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika matanya menangkap pemandangan di depannya. El datang, tapi tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang gadis.
Dan yang membuatnya semakin terkejut, El menggenggam tangan gadis itu. Wanita itu berdiri perlahan. Matanya berpindah dari El ke Chelsea. Ekspresi bingung jelas terlihat di wajahnya.
"El ...." Suara wanita itu terdengar pelan.
El tersenyum. "Zoya."
Chelsea menatap wanita itu. Jadi ini Zoya, pikirnya dalam Wanita yang berhasil mendapatkan hati El.
Namun berbeda dengan bayangan Chelsea, Zoya tidak langsung tersenyum. Ia justru masih terlihat terkejut. Karena dalam ini kekasihnya datang membawa seorang wanita lain. Dan wanita itu terlihat sangat dekat dengannya.
El belum sempat menjelaskan apa pun. Sementara Chelsea hanya berdiri diam.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka