Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Riu Han
Riu Han seorang bocah laki-laki yang baru berusia enam tahun dari keturunan Klan Riu, salah satu klan yang cukup dihormati di wilayah Pegunungan Awan Putih. Sejak lahir, ia diharapkan bisa melanjutkan nama baik keluarganya dengan menguasai ilmu kultivasi yang menjadi dasar kehidupan setiap orang di dunia ini.
Namun, takdir berkata lain. Saat usianya menginjak empat tahun, saat anak-anak lain seusianya sudah mulai merasakan dan menarik energi alam ke dalam tubuhnya, Riu Han justru tidak merasakan apa-apa. Setelah diperiksa oleh tetua klan, diketahui bahwa ia memiliki saluran energi yang tersumbat. Kondisi ini membuatnya tidak dapat menyalurkan energi alam sedikit pun—hal yang sama artinya dengan tertutupnya jalan untuk berkultivasi selamanya.
Di lingkungan yang mengagungkan kekuatan, menjadi orang yang tidak bisa berkultivasi sama saja dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Banyak orang mulai memandangnya dengan pandangan iba, bahkan ada yang mencemooh dan menganggapnya sebagai aib bagi Klan Riu.
Meskipun hatinya sering terasa perih mendengar kata-kata sinis orang lain, Riu Han tidak pernah menyerah. Setiap hari, tanpa lelah ia mengulangi gerakan dasar yang diajarkan kepada semua pemuda klan: menarik napas dalam-dalam, membayangkan energi alam masuk lewat pori-pori kulit, lalu menyalurkannya ke seluruh bagian tubuh. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, namun tidak ada satu pun tetes energi yang berhasil ia kumpulkan. Tubuhnya tetap terasa kosong, sama seperti saat ia baru mulai berlatih.
“Tak apa, setidaknya aku sudah berusaha,” gumamnya pelan pada diri sendiri setiap kali merasa lelah dan putus asa.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat memancarkan cahaya keemasan, Riu Han kembali pergi ke hutan kecil yang terletak di belakang perumahan klan. Tempat ini sepi, jarang dikunjungi orang lain, sehingga ia bisa berlatih tanpa mendengar cemoohan atau tatapan kasihan siapa pun.
Ia berdiri di bawah naungan pohon raksasa yang batangnya begitu lebar sehingga butuh lima orang dewasa bergandengan tangan untuk melingkarinya. Pohon itu bernama pohon Kayu Keabadian, konon sudah tumbuh sejak ribuan tahun silam. Riu Han mulai melatih gerakan pernapasannya seperti biasa, matanya terpejam rapat, berusaha sekuat tenaga merasakan hembusan energi di sekitarnya. Namun lagi-lagi, usahanya sia-sia.
Karena merasa kecewa, ia duduk bersandar pada batang pohon itu sambil menghela napas panjang. Tiba-tiba, telapak tangannya yang menempel pada kulit pohon merasakan sesuatu yang aneh. Ada lekukan samar yang membentuk pola lingkaran, persis seukuran telapak tangan anak-anak seusianya. Riu Han menggosok-gosokkan tangannya di sana, rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya.
Saat ia menekan bagian tengah lekukan itu dengan sedikit tenaga, terdengar suara gemeretak pelan namun jelas. Tanah di bawah kakinya sedikit bergetar, dan perlahan-lahan dinding batang pohon yang terlihat kokoh itu terbuka ke samping, membuka sebuah celah gelap yang cukup besar untuk dimasuki satu orang anak.
Riu Han tertegun, matanya terbelalak tak percaya. Jantungnya berdegup kencang karena campuran rasa takut dan penasaran. Ia melirik ke sekeliling hutan yang mulai gelap, memastikan tidak ada orang lain yang melihat kejadian ini. Setelah merasa aman, ia memberanikan diri melangkah masuk ke dalam celah itu.
Begitu kakinya melangkah melewati pintu rahasia itu, celah di belakangnya tertutup kembali secara otomatis tanpa menimbulkan suara keras. Di dalamnya, semula terasa gelap gulita dan lembap. Namun, seiring berjalannya waktu, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan itu. Ia melihat bahwa ruangan ini tidaklah sempit. Langit-langitnya cukup tinggi, dan dinding-dindingnya terbuat dari batu halus yang mengeluarkan cahaya keperakan samar, cukup untuk menerangi seluruh isi ruangan.
Udara di dalam ruangan ini terasa sangat sejuk dan segar, bahkan terasa lebih pekat dibandingkan udara di luar hutan. Riu Han melangkah perlahan mengamati sekeliling. Tidak ada benda berbahaya yang terlihat, hanya ada sebuah alas duduk dari batu yang halus berada tepat di tengah ruangan, serta beberapa ukiran simbol yang tidak dikenalnya terpahat rapi di dinding.
“Tempat apa ini?” bisiknya lirih.
Ia merasa sangat tenang di sini. Semua beban pikiran, rasa malu, dan lelah yang selama ini membebani dadanya seolah terangkat begitu saja. Di tempat ini, tidak ada yang tahu ia cacat dalam berkultivasi; tidak ada yang akan mengejeknya karena usahanya yang tidak membuahkan hasil.
Sejak hari itu, Riu Han menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Setiap hari sepulang berlatih atau saat ia ingin menyendiri, ia akan datang ke tempat tersembunyi di dalam pohon raksasa itu. Ruangan itu menjadi tempat perlindungan sekaligus satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar damai. Ia belum tahu bahwa ruangan yang ia temukan secara tidak sengaja itu bukanlah tempat biasa—melainkan pintu gerbang menuju sebuah warisan kuno yang telah ditunggu selama ribuan tahun, dan mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mengubah nasibnya yang dianggap sudah tertutup jalan itu.
Lanjut Up Thor 💪💪