Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kejar setan!
"Tolong! Tolong!"
Teriakan itu menggema di antara pepohonan yang menjulang tinggi, lalu menghilang ditelan malam yang sunyi. Pria itu terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang.
Cahaya bulan yang sejak tadi menjadi satu-satunya penerang perlahan menghilang ketika awan hitam menutup langit. Kini hanya bayang-bayang pohon yang tampak samar di hadapannya, menciptakan bentuk-bentuk aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Dia tidak tahu sudah berapa lama berlari. Yang dia tahu hanyalah satu hal, sesuatu yang menyeramkan, sedang mengejarnya.
Suara langkah itu masih terdengar, bunyinya tidak teratur. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang terdengar sangat dekat, lalu tiba-tiba menghilang sebelum muncul lagi tepat di belakangnya.
"Tolong!" teriaknya lagi.
Tapi, tidak ada yang mendengar teriakkan yang penuh ketakutan itu. Tidak ada rumah warga disana. Hanya hutan yang terasa semakin rapat dan semakin gelap.
Kakinya tersandung akar pohon hingga tubuhnya hampir terjatuh. Dia berhasil menjaga keseimbangan dan terus berlari. Ranting-ranting tajam mencabik lengan dan wajahnya, tetapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding ketakutan yang sedang menguasainya.
Lalu terdengar suara tawa, tawa seorang perempuan.
Pria itu merasakan darahnya seolah membeku. Tawa itu tidak terdengar jauh. Justru sangat dekat, seakan pemilik suara itu sedang berlari beberapa langkah di belakangnya.
Jangan menoleh.
Jangan menoleh.
Dia terus mengulang kalimat itu dalam hati. Namun rasa takut akhirnya mengalahkan akalnya.
Dengan gerakan cepat dia menoleh. Ingin mencari tahu apakah sosok itu masih ada di belakangnya ataukah telah pergi.
Tapi, ternyata sosok itu masih ada, Rambutnya panjang, Kulit di pipinya tidak hanya mengelupas, tapi terlepas dalam lembaran-lembaran tipis, menggantung seperti tirai-tirai daging mati yang mengerikan.
Setiap terpaan angin membuat lembaran-lembaran itu berayun pelan, memperlihatkan daging merah yang mentah dan mengering di bawahnya.
Sosok itu sekarang hanya beberapa meter darinya. Pria itu menjerit dan memaksa tubuhnya berlari lebih cepat.
Tetapi harapan itu perlahan runtuh setiap kali dia melihat kegelapan tak berujung di hadapannya.
Ke mana pun dia berlari, hutan ini seolah tidak memiliki akhir.
Pepohonan tinggi berdiri seperti tembok raksasa yang mengurungnya. Bayangan cabang-cabang yang bergoyang diterpa angin tampak seperti tangan-tangan hitam yang berusaha meraih tubuhnya.
Napasnya semakin berat, kakinya mulai melemah. Rasa putus asa menyelimuti dirinya, mungkin tidak ada jalan keluar.
Tiba-tiba kabut tebal muncul dari sela-sela pepohonan. Udara menjadi jauh lebih dingin. Suara langkah di belakangnya menghilang.
Di tengah keputusasaan yang hampir menghancurkan seluruh harapannya, sesuatu tiba-tiba muncul di balik kabut tebal itu.
Sebuah bangunan.
Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, berusaha memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mempermainkannya.
Di sana, berdiri sebuah vila mewah bertingkat. Bangunannya tampak besar dan megah, menjulang di antara pepohonan yang gelap. Halamannya luas dengan pagar besi yang terbuka sebagian. Yang membuat jantung pria itu berdebar penuh harapan adalah cahaya yang menyala dari beberapa jendela.
Ada lampu, artinya ada penghuni. Artinya ada orang yang bisa menolongnya.
Dia merasa, secercah harapan muncul untuknya, dia biasa selamat dari teror horor itu.
"Tolong..." Teriaknya dengan suara bergetar.
Tanpa membuang waktu, dia segera berlari menuju vila tersebut. Kakinya yang lemas kembali menemukan tenaga. Dia melewati gerbang yang terbuka dan berlari melintasi halaman luas yang dipenuhi rumput tinggi yang bergoyang diterpa angin malam.
Semakin dekat, semakin jelas bangunan itu terlihat.
Dindingnya berwarna putih kusam. Balkon besar membentang di lantai dua. Beberapa lampu gantung menerangi teras depan, menciptakan suasana hangat yang berlawanan dengan kegelapan hutan di belakangnya.
Pria itu menaiki anak tangga teras hampir tanpa sadar.
Brak!
Brak!
Brak!
Dia menggedor pintu utama sekuat tenaga.
"Tolong! Tolong buka pintunya!"
Tidak ada jawaban, dia kembali menggedor.
"Tolong! Saya dikejar! Tolong saya!"
Suara ketukannya bergema ke seluruh penjuru rumah. Rasa cemas mulai merayapi pikirannya.
"Siapa pun... tolong buka pintunya..." Teriaknya.
Tiba-tiba.
Kreeeek...
Suara engsel tua memecah rasa takut itu, pintu vila perlahan terbuka dengan sendirinya.
Pria itu terdiam, matanya membelalak. Tidak ada siapa pun di balik pintu.
Hanya lorong panjang yang diterangi cahaya lampu kekuningan.
Angin dingin berembus dari dalam rumah, membuat bulu kuduknya meremang.
Untuk sesaat nalurinya berteriak agar dia tidak masuk. Ada sesuatu yang terasa salah.
Namun ketika dia menoleh ke belakang, yang terlihat hanyalah hutan gelap yang diselimuti kabut. Bayangan pepohonan berdiri seperti makhluk-makhluk raksasa yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Dia teringat sosok perempuan menyeramkan yang mengejarnya.
Jika tetap berada di luar, mungkin dia akan menemukannya.
Pilihan itu membuat darahnya semakin dingin.
Dengan napas terengah, pria itu akhirnya melangkah masuk ke dalam vila.
"Ada orang?" Teriaknya dengan suara lantang.
Suaranya menggema di dalam vila yang luas, memantul dari dinding ke dinding sebelum akhirnya lenyap ditelan keheningan.
Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda bahwa tempat itu dihuni seseorang.
Pria itu menelan ludah. Pandangannya terus mengarah ke ujung lorong yang remang-remang. Namun sosok yang tadi sempat dilihatnya sudah tidak ada lagi.
"Bodoh amat." Gumamnya sambil menggeleng.
"Yang penting aku selamat." Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Apa pun yang terjadi di tempat ini, setidaknya dia sudah terbebas dari sosok mengerikan yang mengejarnya di hutan. Dibandingkan berada di luar, vila ini masih terasa jauh lebih aman.
Meski begitu, jantungnya belum juga tenang.
Tangannya masih gemetar, napasnya masih belum teratur.
Untuk mengusir kegelisahan yang terus menghantuinya, dia merogoh saku celananya. Dari sana dia mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah sedikit kusut.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, dia mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di antara bibir.
Kemudian dia mengeluarkan korek api dan membakarnya. Nyala api kecil muncul di ujung korek, menerangi wajahnya sesaat.
Dalam cahaya singkat itu, bayangannya terlihat memanjang di dinding lorong.
Dia segera menyalakan rokoknya lalu mengisap dalam-dalam.
Asap hangat memenuhi paru-parunya. Sedikit demi sedikit, ketegangan yang mencengkeram pikirannya mulai berkurang.
Dja mengembuskan asap ke udara dan bersandar pada dinding.
"Hantu sialan..." Umpatnya kesal.
Kemarahan perlahan menggantikan rasa takut yang sejak tadi menguasainya.
Dia masih tidak mengerti kenapa makhluk itu mengejarnya.
"Coba saja manusia..." Gumamnya sambil mengepalkan tangan. Matanya menyipit penuh emosi.
"Pasti sudah kubunuh!" Geramnya.
Suara napasnya perlahan mulai normal. Dia mengisap rokoknya sekali lagi.
Lalu...
Krek.
Suara kecil terdengar dari lantai atas, pria itu langsung membeku.
Dia menoleh perlahan ke arah tangga besar yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.
Tidak ada apa-apa, mungkin hanya tikus.
Dia mencoba mengabaikannya. Namun beberapa detik kemudian terdengar lagi.
Krek...
Krek...
Krek...
Kali ini jelas, seperti suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan perlahan di lantai atas.
Jantungnya kembali berdegup kencang, matanya terus menatap ke arah tangga. Belum sempat ia memastikan dari mana asalnya, seluruh lampu vila tiba-tiba berkedip-kedip.
Cahayanya menyala dan mati secara tidak beraturan.
"Apa lagi sekarang..." Gumamnya marah.
Seluruh lampu padam, kegelapan langsung menelan setiap sudut vila.
Dengan tangan gemetar, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan korek api.
Nyala api kecil muncul, Cahaya jingga yang redup hanya mampu menerangi beberapa langkah di depannya. Dinding-dinding tua vila tampak kusam dan suram di bawah cahaya yang itu.
"Tenang... tenang..." Bisiknya kepada diri sendiri.
Dia mulai berjalan menyusuri dinding, berharap menemukan saklar listrik.
Tangannya meraba-raba permukaan dinding yang dingin.
Lalu jemarinya menyentuh sesuatu, saat dia Kemabli menyalah korek di tangannya. Pemasangan yang di lihatnya membuat darahnya seketika berhenti mengalir.
Sosok hantu tanpa kepala, dan tangannya saat ini sedang bertengkar di leher putus itu.