NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kantor Utama

Pagi itu. Satya kembali bekerja di bengkel. Dengan job-desk yang berbeda. Ia mengambil alih pekerjaan Rina di meja kasir, memeriksa tumpukan nota keuangan yang berantakan karena intrik penggelapan sebelumnya.

Meski sesekali, ia tetap turun. Membantu pekerjaan Eko, yang tampak kewalahan memegang kunci pas saat mengerjakan sebuah motor matik.

“Kapan nyari gantimu dan ganti si Taufik?” tanya Eko sambil menghela keringat di dahi. Menyeka peluh dengan punggung tangan yang legam terkena oli, menatap Satya yang sedang sibuk mencatat.

“Aku sudah pasang lowongan. Tapi belum ada yang daftar.” Satya selesai memasang ban dalam, lalu meletakkannya kembali ke rak penyimpanan dengan cekatan. “Ko, aku lupa. Nanti siang aku mau menemui pamanku. Jadi aku titip bengkel ya.” Sambil menepuk bahu Eko, memohon pengertian sahabatnya di tengah drama keluarganya yang belum tuntas.

“Lho, bukannya kamu dan pacarmu sudah kemarin … ke rumah pamanmu?” Eko menghentikan tarikan kuncinya. Ia mendongak, menatap parut luka di wajah Satya dengan kening berkerut tegang.

“Iya. Tapi aku nggak ketemu. Rencana aku mau kejar di kantornya.” Satya meremas nota di tangan. Geram. Saat mengingat kembali pengusiran kejam Tante Risma kemarin.

“Tapi mbokyo jangan siang. Itu pas banyak-banyake pelanggan e.” Eko menggerutu. Ia menunjuk barisan motor pelanggan yang mulai mengantre di depan area servis. “Agak sorean gitu lho. Toh, kalau siang, opo pamanmu itu ndak istirahat?”

“Kamu benar juga.” Satya bergumam, sependapatan. Ia mengetukkan ujung pulpen ke meja kasir. Menimbang strategi untuk menembus pengawalan ketat di kantor pusat keluarga Utama. “Baiklah. Aku izin jam tiga. Tapi aku pinjam motormu, biar cepat.”

“Nggak apa. Tapi kamu isi bensin ya.” Eko menunjuk motor matic-nya yang terparkir di pojok dengan dagu.

“Beres.” Satya mengacungkan jempol, tersenyum lega atas bantuan Eko.

“Haruse dengan tabungan gajimu, kamu bisa sih beli motor bekas lho.” Eko menatap Satya sengit. Ia melangkah mendekati meja kasir, melipat tangan di dada demi mendesak sahabatnya. Supaya tak bingung pinjam motor. Mengingat Satya lebih lama bekerja dibanding dirinya.

“Kamu nggak mau tah punya motor sendiri? Sudah naik pangkat, masa iya kalah sama aku yang cuma anak buah.

Kalimat Eko begitu menohok, tapi ada benarnya. Membuat Satya mulai mempertimbangkan isi dompet dan harga diri sebagai calon suami yang harus memuliakan Melati.

“Satya.” Eko mengibaskan tangan ke depan muka Satya, membuyarkan lamunan dramatis sang pewaris yang terbuang.

“Eh, iya.” Satya tergagap. Ia menarik napas dalam, mengulas senyum tipis di wajah. “Aku akan rundingkan dulu sama Melati.” Ia merapikan posisi duduknya di balik meja, bertekad untuk menjadi pria yang lebih baik.

“Ya wes lek gitu.” Eko kembali melanjutkan pekerjaan. Begitu pun Satya.

Di sebuah gedung perkantoran. Suara dering telepon berbunyi. Seorang pria paruh baya, dengan jambang tipis. Duduk di balik layar. Rautnya tampak tegang, sebelum memutuskan untuk mengangkat.

Jemarinya yang kaku menekan tombol speaker-phone dengan kasar, memecah keheningan ruang kerjanya yang mewah tapi sarat akan ketegangan.

“Ya, Halo.” Suaranya berat, menahan kegusaran yang sejak pagi mengusik pikiran.

“Pak Heru. Mawar baru datang.” Suara wanita dari balik saluran telepon, terdengar mencicit takut.

“Suruh dia masuk.”

Telepon ditutup. Heru mengempaskan gagang telepon, hingga menimbulkan dentang keras, memicu ketegangan baru di udara.

Dalam hitungan detik. Suara ketukan pintu terdengar. Ketukan yang ragu-ragu dan berjarak pendek.

“Masuk.”

Heru menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, melipat tangan di dada dengan raut wajah yang tegang dan dingin.

Pintu terbuka. Seorang gadis manis, bertubuh sintal masuk. “Permisi Pak Heru.” Ia melangkah pelan, meremas tali tas standar kantor miliknya. Seperti sedang mencoba menyembunyikan drama hidupnya.

“Duduk.” Heru memerintah tanpa menoleh. Matanya kembali menatap tajam ke lembaran dokumen di atas meja, sengaja mengabaikan kehadiran pegawainya.

Si gadis langsung menurut. Menggeser kursi duduk berhadapan dengan Heru. Sambil membetulkan posisi rok pendeknya yang agak berantakan dengan gugup.

“Mawar.” Heru menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Mawar tajam.

Sorot matanya menghunus, penuh dengan kilat intimidasi yang membuat atmosfer ruangan terasa mencekat. “Sudah berapa kali saya peringatkan. Saya tidak menyukai pegawai, yang telat datang!”

“Maaf, Pak. Saya … ada urusan.” Mawar menunduk dalam, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan untuk menutupi getar ketakutan dalam nafsu gelap yang baru ia mulai.

“Kenapa tidak izin?” desak Heru, memajukan tubuhnya hingga jarak mereka kian dekat dan menegangkan.

“Ponsel saya mati.” Suara Mawar bergetar lirih.

“Alasan!” Heru memotong tajam. Ia menggebrak meja kerja mahoni, membuat beberapa pulpen di atasnya meloncat.

“Saya tidak membuat alasan, Pak.” Mawar hampir menangis. Ia mendongak, menatap Heru dengan mata berkaca demi meyakinkan kebohongannya. “Ibu saya sakit keras. Saya harus merawatnya di rumah.”

Mawar terpaksa berbohong, menyembunyikan fakta bahwa semalaman ia bergulat brutal di ranjang Herwanto. Atas tekanan sang ibu.

“Sakit?” Heru mengernyit. Ia memicingkan mata penuh selidik, mencoba mencari celah dari kemungkinan dusta yang sedang dimainkan.

“Iya. Kalau Bapak tidak percaya. Silahkan Bapak lihat sendiri ke rumah saya.” Mawar menantang dengan sisa keberaniannya, menyeka air mata palsu di sudut pelupuk matanya.

“Tidak-tidak.” Heru menggeleng. Ia mencibir sinis, memalingkan wajah dengan raut merendahkan yang sangat kentara. “Saya tidak mau sepatu mahal ini, menginjak kampung kumuh,” ejeknya, sambil menghentak lantai. “Begini saja. Karena kamu sudah tiga kali telat. Sesuai SOP, maka saya akan minta HRD, membuat surat peringatan untuk kamu.”

“Apa?” Mawar tercekat. Wajah manisnya seketika pias. “T-tapi ….”

“Tidak ada tapi!” potong Heru setengah menggertak. Memberi kode mengusir. Ia mengibaskan tangannya ke udara dengan kasar, menolak segala bentuk kompromi.

“Sekarang kamu keluar dari ruangan saya. Tidak ada toleransi. Paham?!”

“Ba-baik, Pak.” Mawar menunduk gugup. Bangkit dari kursi. Memutar tubuh untuk keluar ruangan. Langkah kakinya menghentak lantai dengan amarah yang mendidih di dalam dada.

‘Sial!’ batinnya mengumpat, mengepalkan tangan kuat hingga kukunya memutih saat menutup pintu ruangan kerja Heru dengan bantingan pelan. ‘Ini semua gara-gara Melati sialan. Akan aku cari dia. Akan aku umpankan dia ke Herwanto. Supaya dia tahu rasanya tidur dengan bangkai.’

Jam istirahat. Mawar merasa tak enak badan. Tubuhnya gemetar dan tiba-tiba … ia merasa meriang. Langkah kakinya di koridor kantor yang megah terasa goyah, sementara kepalanya berdenyut hebat memikirkan intrik malam jahanam bersama Juragan Herwanto yang kini menodai mahkota sucinya.

“Eh, hati-hati.”

Suara seseorang menyentaknya. Sebuah lengan kekar dengan sigap menangkap pinggangnya sebelum ia tersungkur ke lantai marmer. Mawar mendongak. Wajahnya langsung pias saat melihat sosok pria yang disukainya.

“Eh, Mas … Bagas.” Ia buru-buru melepaskan diri dari tautan tangan Bagas. “Ma-af.” Mawar menarik tubuhnya mundur dua langkah dengan gugup, merapikan roknya yang terasa kaku.

“Kamu pucat sekali? Apa kamu sakit?” Bagas mengulurkan tangan, hendak menyentuh dahi Mawar. Sorot matanya memancarkan kecemasan yang membuat jantung Mawar kian berdegup liar dalam drama batinnya.

“T-tidak.” Mawar melengos. Mendadak malu. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang bercampur rasa bersalah yang teramat sangat. “Saya baik-baik saja.”

“Beneran?” Bagas memastikan sekali lagi, melangkah satu kaki lebih dekat untuk menatap mata Mawar.

“Ya.” Mawar mengangguk. Ingin memeluk, tapi ia malah memilih sok jual mahal. Padahal kesempatan dengan Bagas, adalah hal yang sudah lama dinantikan. Tangannya meremas ujung blus dengan erat, menahan gejolak asmara yang tertahan oleh dinding noda masa lalu.

“Baiklah kalau begitu.” Bagas memutar langkah. Melirik sekilas ke Mawar. Kemudian berlalu pergi. Langkah sepatunya gaung di koridor, meninggalkan keheningan yang mencekam.

‘Bodoh.’ Mawar merutuki dirinya sendiri. Ia bersandar pada dinding dingin koridor, menatap punggung tegap Bagas yang kian menjauh dengan pandangan nanar. ‘Aku selalu ingin dekat dia. Tapi kenapa, dia datang saat aku sudah tidak sempurna,’ pikirnya perih.

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Saat Satya melajukan motor menuju perusahaan Utama.

Deru mesin motor milik Eko membelah kemacetan jalanan ibu kota. Mengiringi tekad Satya yang membara untuk menyingkap kabut intrik, yang menyelimuti masa lalunya demi masa depan cintanya dengan Melati.

“Permisi.” Satya yang memakai masker, menyapa. Sedikit terkejut, tatkala mendapati sosok yang dikenalnya, duduk di balik meja customer service.

Jantungnya berdegup kencang melihat Mawar berada di sana. Tak menyangka kalau gadis itu akan bekerja di kantor pamannya. Ia merendahkan topinya agar tidak dikenali.

“Silakan duduk.” Mawar yang merupakan customer service di kantor itu, mempersilakan Satya duduk. Sembari merapikan beberapa berkas di meja, dengan gestur ketus. Tanpa menatap langsung wajah Satya yang tertutup masker.

“Saya hanya ingin bertemu Pak Heru Maesa Utama.” Satya berucap tegas, menegakkan punggungnya di atas kursi lobi yang empuk.

“Dengan siapa?” Mawar mendongak, menatap sinis dengan pandangan menyelidik yang tajam.

“Saya kenalannya.”

“Sebutkan nama,” tegur Mawar dengan suara sedikit tinggi. Sambil mulai mengetik sesuatu di komputer dengan malas.

“Bram.”

“Keperluannya?”

“Saya keponakan Pak Heru. Bilang saja kalau Bram Utama mencari. Saya mau mengabarkan berita pernikahan.” Satya menatap lurus ke dalam bola mata Mawar. Membuat drama di antara mereka terasa kian tegang.

Mawar menatap Satya dari atas sampai bawah. Mengernyit tak percaya, melihat penampilan lusuh, orang yang mengaku keponakan pemilik perusahaan besar sekelas Utama.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!