NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekutu dari Masa Lalu

Pagi itu, langit Semarang masih diselimuti awan kelabu tebal, seolah menahan napas sebelum badai berikutnya pecah. Zidan dan Viona meluncur keluar dari gerbang rumah Ardhana dengan menggunakan mobil sedan biasa berwarna abu-abu gelap—bukan mobil mewah bermerek yang biasa mereka kendarai. Perubahan kendaraan ini adalah bagian dari strategi rendah hati; mereka tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang sudah ada.

Tujuan mereka adalah sebuah rumah sederhana di pinggiran kawasan Tembalang, dekat dengan kampus universitas negeri. Di sinilah Pak Joko, mantan sopir pribadi Paman Hendra, menghabiskan masa pensiunnya yang sunyi.

Sesampainya di lokasi, suasana terasa sangat berbeda dari kemewahan Bukit Tidar. Jalanan sempit, berlubang, dan dipenuhi anak-anak yang bermain sepak bola dengan bola plastik. Zidan memarkir mobil di tepi jalan, lalu mereka berjalan kaki menuju pintu pagar besi berkarat milik Pak Joko.

Viona mengetuk pintu pelan. Beberapa saat kemudian, seorang pria tua dengan rambut memutih dan wajah keriput terbuka. Matanya menyipit curiga saat melihat dua orang muda yang tampak asing namun familiar.

"Siapa?" tanya Pak Joko kasar.

"Pak Joko, selamat pagi," sapa Viona ramah, tersenyum tipis. "Saya Viona Ardhana. Ini Zidan. Dulu, Bapak pernah bekerja untuk keluarga kami, bukan? Sebagai sopir Paman Hendra?"

Wajah Pak Joko berubah drastis. Curiga berganti menjadi kekakuan, lalu kemarahan yang tertahan. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar, namun tubuhnya tetap menghalangi jalan masuk.

"Ardhana..." desisnya. "Kalian datang ke sini untuk apa? Untuk menghina saya lagi? Atau untuk memastikan saya tetap diam seperti yang diperintahkan Budi Santoso dulu?"

Zidan melangkah maju satu langkah, menunjukkan sikap hormat namun tegas. "Kami tidak datang untuk mengancam, Pak. Kami datang karena kami tahu Bapak adalah korban ketidakadilan, sama seperti kami. Dan kami butuh bantuan Bapak untuk memperbaiki kesalahan masa lalu."

Mendengar kata "korban", bahu Pak Joko sedikit kendur. Ia menatap Zidan lama, mencari kebohongan di mata pemuda itu. Namun, ia hanya menemukan ketulusan yang jarang ia lihat dari keluarga majikannya.

"Masuk," ucap Pak Joko akhirnya, meski nada suaranya masih dingin.

Rumah itu kecil dan sederhana, namun rapi. Aroma kopi tubruk tercium kuat dari dapur. Mereka duduk di ruang tamu yang sempit, di atas sofa busa yang sudah agak kempes. Pak Joko menuangkan kopi ke dalam gelas-gelas retak.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Pak Joko setelah mereka duduk.

"Bapak tahu tentang kejadian tahun 2010 di Kendal, kan?" tanya Zidan langsung pada intinya. "Tentang kebakaran gudang dan kematian Pak Sutrisno."

Pak Joko terdiam, matanya menatap kosong ke arah lantai. Tangannya gemetar saat memegang gelas kopinya. "Saya tahu. Saya yang mengantar Pak Hendra ke lokasi malam itu. Saya menunggu di mobil sementara dia bertemu dengan Budi dan beberapa preman di dalam gudang. Saya mendengar teriakan. Saya mendengar suara ledakan kecil... bukan kecelakaan, Nak. Itu disengaja."

Viona menarik napas tajam. "Disengaja?"

"Ya. Untuk menciptakan kepanikan. Agar warga takut dan mau menjual tanah murah. Pak Sutrisno... dia penjaga malam yang jujur. Dia mencoba memadamkan api. Tapi dia terjebak karena pintu belakang sengaja dikunci dari luar oleh anak buah Budi." Air mata menggenang di mata Pak Joko. "Saya ingin melapor waktu itu. Tapi Budi mengancam akan membunuh keluarga saya jika saya bicara. Dan Pak Hendra... dia memberi saya uang pesangon besar dan menyuruh saya pergi jauh-jauh. Saya hidup dalam ketakutan selama lima belas tahun."

Zidan merasa mual. Kebenaran itu lebih buruk dari yang ia bayankan. Ini bukan sekadar kelalaian bisnis; ini adalah pembunuhan terselubung.

"Pak," ucap Zidan lembut, "kami tidak menyalahkan Bapak. Kami tahu Bapak juga korban ancaman. Tapi sekarang, situasinya sudah berubah. Budi Santoso dan Tuan Wijaya sedang menggunakan bukti ini untuk memeras keluarga kami. Jika mereka berhasil, mereka akan semakin berkuasa dan terus melakukan kejahatan lain. Kami ingin menghentikan mereka. Tapi kami butuh bukti fisik. Bukti transaksi keuangan atau komunikasi antara Budi dan Wijaya saat kejadian itu."

Pak Joko menggeleng lemah. "Saya tidak punya dokumen itu. Saya hanya sopir."

"Tapi Bapak pasti ingat sesuatu," desak Viona. "Detail kecil. Nomor rekening? Nama bank? Atau mungkin... tempat penyimpanan dokumen cadangan? Budi tipe orang yang paranoid, Pak. Dia pasti menyimpan salinan bukti pemerasannya sebagai jaminan keselamatan dirinya sendiri."

Pak Joko berpikir keras, alisnya berkerut. Tiba-tiba, matanya melebar. "Ada satu hal. Dulu, sebelum dia dipecat, Budi sering membawa tas hitam kecil ke sebuah brankas sewaan di Bank Mandiri cabang Simpang Lima. Dia bilang itu 'dokumen penting pribadi'. Saat dia kabur lima tahun lalu, dia lupa mengambil kunci duplikatnya. Kunci itu jatuh di kolong meja kerja Pak Hendra. Saya menemukannya dan menyimpannya, berniat memberikannya kepada polisi suatu hari nanti, tapi saya tidak pernah punya keberanian."

Jantung Zidan dan Viona berdegup kencang. Ini adalah celah harapan.

"Di mana kunci itu sekarang, Pak?" tanya Zidan cepat.

Pak Joko berdiri, berjalan ke kamar tidur, dan kembali dengan sebuah amplop kecil usang. Di dalamnya, terdapat sebuah kunci besi kecil berkarat dan selembar kertas bertuliskan nomor kotak brankas: A-409.

"Ini kuncinya," ucap Pak Joko, menyerahkan amplop itu kepada Zidan. "Jika isinya masih ada, itu bisa menjadi senjata mematikan bagi Budi dan Wijaya. Tapi berhati-hatilah. Bank memiliki rekam jejak pengambilan. Jika mereka memantau..."

"Kami akan berhati-hati," janji Zidan. Ia berdiri, mencium tangan Pak Joko dengan hormat. "Terima kasih, Pak. Bapak baru saja membantu menyelamatkan kehormatan keluarga kami, dan mungkin juga nyawa banyak orang di masa depan."

Pak Joko tersenyum sedih. "Jangan sebut itu menyelamatkan kehormatan. Sebut saja itu menebus dosa keterlambatan saya."

Perjalanan kembali ke pusat kota terasa lebih berat. Kunci kecil di saku Zidan terasa seperti bara panas. Mereka kini memegang akses ke rahasia terbesar musuh mereka. Namun, mengakses brankas di bank umum bukanlah hal yang mudah tanpa menarik perhatian, terutama jika Budi Santoso memang masih memantau aset lamanya.

"Sekarang bagaimana, Kak?" tanya Viona saat mereka masuk kembali ke mobil. "Kita tidak bisa begitu saja membuka brankas itu. Petugas bank akan bertanya."

Zidan memikirkan sejenak, lalu senyum tipis muncul di bibirnya. "Kita tidak perlu membuka brankas itu secara resmi. Kita butuh ahli. Seseorang yang bisa membuka kunci mekanik lama tanpa merusak segel keamanan digital bank, atau setidaknya, seseorang yang bisa mengalihkan perhatian petugas sementara kita memeriksa isi kotak itu."

Viona mengerutkan kening. "Ahli apa? Maling?"

"Bukan maling. Teman lama," jawab Zidan misterius. "Dulu, saat aku masih kuliah, aku punya teman satu angkatan yang jenius dalam bidang keamanan sistem dan mekanik. Namanya Raka. Sekarang dia bekerja sebagai konsultan keamanan independen. Dia owes me a favor (berhutang budi) karena aku pernah membantunya menghindari kasus hukum palsu."

Viona mengangkat alis. "Kakak punya teman seperti itu?"

"Banyak hal tentang masa laluku yang belum kau tahu, Vion," canda Zidan ringan, mencoba meredakan ketegangan. "Tapi kali ini, kita butuh keahliannya. Kita akan menemui Raka siang ini. Sementara itu, kau hubungi tim humas. Siapkan pernyataan pers yang ambigu. Katakan bahwa Ardhan Group sedang melakukan audit internal menyeluruh terkait semua proyek masa lalu sebagai bentuk transparansi. Ini akan membuat Wijaya panik dan mungkin melakukan kesalahan."

Viona mengangguk, segera mengambil ponselnya. Strategi Zidan mulai terbentuk. Mereka tidak hanya bertahan; mereka mulai menyerang balik dengan cerdas.

Saat mobil melaju melewati Jl. Pandanaran, Zidan melirik spion samping. Sebuah motor hitam dengan plat nomor yang ditutupi selotip terlihat mengikuti mereka dari jarak jauh. Zidan menyipitkan mata.

"Vion," bisik Zidan, suaranya tiba-tiba dingin. "Jangan menoleh. Tapi sepertinya kita diikuti."

Viona membeku. "Wijaya?"

"Mungkin. Atau Budi. Mereka tahu kita menemui Pak Joko. Jaringan intelijen mereka lebih luas dari yang kita kira." Zidan mempercepat laju mobil, belok tajam ke jalan sempit di kampung padat penduduk, memanfaatkan keahlian mengemudi defensifnya untuk menghilangkan jejak.

Motor hitam itu sempat tertinggal, namun Zidan tahu ini hanya awal. Permainan kucing-kucingan telah dimulai. Dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar reputasi, tapi nyawa.

Kunci di saku Zidan terasa semakin berat. Di dalam brankas A-409, mungkin tersimpan jawaban yang akan mengubah segalanya. Atau mungkin, jebakan terakhir yang akan mengubur mereka hidup-hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!