Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Berpindah Tempat
Pesan dari Vanessa masih terbayang di benak Faris ketika malam berubah semakin larut. Namun semua pikiran mengenai proyek di Bali maupun Kalimantan seketika lenyap ketika sistem membangunkannya dengan peringatan darurat. Kini ia berdiri di lereng yang curam sambil menggendong ibunya. Napasnya memburu, dadanya naik turun hebat, sementara suara gemuruh dari kejauhan terdengar semakin dekat.
Di bawah sana, air terus bergerak menyapu jalan-jalan yang beberapa menit sebelumnya masih dipenuhi rumah-rumah warga. Langit malam yang gelap hanya diterangi cahaya bulan yang sesekali tertutup awan, membuat suasana terasa semakin mencekam. Faris berusaha tetap tenang, tetapi ketika sistem kembali mengeluarkan peringatan, jantungnya serasa berhenti berdetak.
[PERINGATAN.]
[Gelombang susulan terdeteksi.]
[Ukuran gelombang diperkirakan lebih besar daripada gelombang pertama.]
[Perkiraan waktu tiba: 60 detik.]
Faris perlahan menoleh ke belakang. Pada awalnya ia hanya melihat kegelapan. Namun beberapa detik kemudian, samar-samar terlihat bayangan besar yang memenuhi cakrawala. Semakin lama, bayangan itu semakin jelas.
Gelombang susulan datang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Dari kejauhan saja ukurannya sudah membuat siapa pun yang melihatnya kehilangan harapan. Air terus bergerak mendekat sambil membawa puing-puing pepohonan dan bangunan. Gemuruhnya bergema seperti ribuan guntur yang menyatu menjadi satu suara.
Tanpa sadar Faris menggertakkan giginya. Ia memandangi jalan di depan. Lereng yang sedang mereka daki masih cukup jauh dari puncak. Di sebelah kanan terdapat tebing yang hampir tegak lurus. Di sebelah kiri jurang kecil yang dipenuhi semak belukar. Tidak ada jalur lain yang bisa mereka tempuh.
"Sistem," ucap Faris dalam hati sambil tetap melangkah, "ada jalan lain?"
Beberapa saat sistem tidak memberikan jawaban.
[Sedang menganalisis seluruh jalur evakuasi....]
Faris terus berlari sambil menggendong ibunya. Napasnya mulai terasa berat. Walaupun kemampuan fisiknya jauh meningkat dibanding sebelumnya, menggendong seseorang sambil mendaki lereng yang licin tetap bukan pekerjaan mudah. Kakinya mulai terasa pegal. Beberapa kali ia hampir terpeleset karena tanah yang gembur akibat guncangan gempa.
Tak lama kemudian sistem kembali berbunyi.
[Analisis selesai.]
[Tidak ditemukan jalur evakuasi yang memiliki peluang keselamatan memadai.]
Langkah Faris seketika melambat. "Tidak ada?"
[Benar.]
Ia kembali melihat ke belakang. Gelombang itu kini tampak jauh lebih dekat. Walaupun mereka sudah berada cukup tinggi, sistem memperkirakan gelombang susulan masih mampu menjangkau lereng tempat mereka berada.
Siti yang berada di punggung Faris perlahan membuka matanya. Napas wanita itu terdengar semakin berat.
"Ris...."
"Iya, Bu?"
"Turunkan Ibu."
Faris menggeleng tanpa berpikir. "Nggak!"
"Ibu berat...."
"Nggak berat."
Siti tersenyum lemah meski wajahnya dipenuhi kelelahan. "Ibu tahu tenaga manusia ada batasnya."
Faris tetap melangkah. "Kita pasti selamat."
Namun kalimat itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri.
Siti kembali berbicara dengan suara lirih. "Kalau... kalau memang sudah tidak bisa...."
"Ibu...."
"Tinggalkan Ibu."
Faris langsung menghentikan langkahnya.
"Apa?"
"Kamu masih muda. Masa depanmu masih panjang."
"Ibu jangan bicara begitu."
"Kalau kamu terus menggendong Ibu...."
"Diam!"
"Ris...."
"Aku bilang diam."
Suara Faris mulai bergetar. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak hal."
Ia menundukkan kepala sejenak. "Ayah sudah tidak ada. Aku juga pernah kehilangan masa depanku. Aku tidak akan kehilangan Ibu."
Siti hanya bisa memejamkan mata. Air mata perlahan mengalir di pipinya. Ia tahu sekeras apa pun dirinya membujuk, Faris tidak akan pernah meninggalkannya.
Gemuruh dari belakang semakin keras. Tanah kembali bergetar pelan. Faris menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan sistem, ia benar-benar merasa tidak berdaya.
"Sistem...."
[Ya, Host.]
"Apa benar tidak ada cara?"
Beberapa detik berlalu. Kemudian terdengar bunyi notifikasi yang berbeda dari biasanya.
DING!
[Fitur darurat terdeteksi.]
Mata Faris langsung membesar. "Apa itu?"
[Skill khusus tersedia.]
[Perpindahan Instan Darurat.]
Faris hampir tidak percaya. "Perpindahan?"
[Skill mampu memindahkan Host beserta satu target ke lokasi aman.]
Harapan yang sempat padam kembali muncul. "Berapa harganya?"
[100.000 poin.]
Jumlah itu sangat besar. Namun bagi Faris, semua poin itu tidak ada artinya dibanding keselamatan ibunya.
"Beli!"
[Konfirmasi pembelian.]
"Iya!"
[100.000 poin berhasil dikurangi.]
[Skill berhasil diperoleh.]
Faris langsung mengembuskan napas lega. "Bagus! Cepat aktifkan!"
Namun jawaban sistem justru membuatnya terpaku.
[Silakan masuk ke dalam air.]
"Apa?"
[Host harus menenggelamkan diri bersama target.]
Faris mengira dirinya salah dengar. "Masuk ke air?"
[Benar.]
"Itu gelombang besar!"
[Benar.]
"Kalau aku masuk ke sana, bukankah kami akan terseret?"
[Host diminta mempercayai sistem.]
Faris mengepalkan tangannya. "Jelaskan dulu."
[Waktu tersisa: 34 detik.]
[Penjelasan rinci tidak memungkinkan.]
[Host hanya perlu mempercayai sistem.]
Ia terdiam cukup lama. Selama ini sistem memang sering mengejeknya. Bahkan kadang terasa sangat menyebalkan. Namun jika dipikir-pikir, tidak sekali pun sistem membawanya ke jalan yang salah. Semua kemampuan yang dimilikinya sekarang berasal dari sistem. Semua pencapaian yang ia raih juga berkat bantuan sistem.
Ia perlahan mengembuskan napas.
"Baik. Aku percaya."
Siti yang mendengar gumaman anaknya tampak bingung.
"Ris?"
Faris menoleh sambil tersenyum kecil. "Pegang aku erat-erat."
Siti mengangguk walaupun tidak mengerti.
Faris membalikkan tubuhnya menghadap ke arah datangnya gelombang. Air kini sudah sangat dekat. Angin bertiup semakin kencang. Pepohonan di sekitar mereka bergoyang hebat.
Ia memejamkan mata sesaat. Begitu membuka mata kembali, tekadnya sudah bulat. Ia melangkah turun beberapa meter menuju arah datangnya air.
Dengan membawa ibunya di punggung, Faris melompat. Tubuh mereka jatuh ke arah gelombang yang terus bergerak mendekat.
Siti refleks memeluk leher putranya lebih erat. Sesaat kemudian tubuh mereka menyentuh air.
Namun anehnya, tidak ada benturan keras seperti yang dibayangkan Faris. Begitu tubuh mereka sepenuhnya masuk ke dalam air, seluruh suara di sekeliling mendadak menghilang. Tidak ada lagi gemuruh. Tidak ada lagi rasa dingin. Yang tersisa hanyalah cahaya putih yang memenuhi seluruh pandangannya.
Suara sistem kembali terdengar.
[Mengaktifkan Skill Perpindahan Instan Darurat.]
[Mencari lokasi aman....]
[Lokasi ditemukan.]
[Proses perpindahan dimulai.]
Tubuh Faris terasa sangat ringan. Seolah-olah ia sedang melayang di udara. Waktu seperti berhenti. Ia tidak tahu berapa lama keadaan itu berlangsung.
Bruk!
Ia merasakan tubuhnya jatuh di atas tanah yang padat. Faris langsung membuka mata. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari ibunya.
"Bu!"
Siti terduduk tidak jauh darinya sambil memegang dada. Wanita itu tampak kebingungan, tetapi tidak mengalami luka apa pun.
"Ris...."
"Ibu tidak apa-apa?"
Siti mengangguk perlahan. "Ibu baik-baik saja."
Faris segera menghampiri lalu memeluknya erat. "Syukurlah...."
Mereka berdua terdiam cukup lama. Baru setelah napasnya mulai tenang, Faris mengangkat kepalanya dan memperhatikan keadaan sekitar.
Pemandangan di hadapannya membuatnya membeku. Tidak ada air. Tidak ada rumah. Tidak ada jalan yang rusak.
Yang terbentang di depan mata hanyalah hamparan kebun teh yang begitu luas, membentang mengikuti lekuk perbukitan hingga sejauh mata memandang. Embusan angin yang sejuk menggerakkan daun-daun teh yang tersusun rapi. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus, sementara aroma tanah basah memenuhi udara.
Di kejauhan tampak sebuah jalan kecil yang berkelok mengikuti lereng gunung. Beberapa burung beterbangan melintasi langit yang mulai menampakkan cahaya fajar.
Faris benar-benar tidak percaya. Beberapa saat yang lalu mereka masih berada di tengah kepanikan akibat bencana. Kini mereka justru berada di tempat yang begitu tenang.
Siti ikut memandang sekeliling dengan wajah penuh kebingungan.
"Ris...."
"Iya, Bu?"
"Ini.... Kita dimana? Bagaimana kita..."
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.