Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengen juga
Pagi yang cerah di tahun 2026.
Semilir angin berhembus pelan, cahaya matahari belum terlalu panas.
Sekumpulan murid berseragam tengah berkumpul sambil bergosip ria di bawah pohon besar di halaman belakang sekolah.
"Iya, katanya kalau industri mereka berhenti nanti kita murid pada kelaparan" cibir Azura menggebu-gebu.
"Tapi semenjak berhenti, itu bahan pokok di pasar pada normal lagi harganya, emak gue sampe kesenengan tiap belanja" timpal Tristan.
"AAAAA!" teriak Tiffany tiba-tiba sambil melebarkan matanya menatap ponsel, membuat mereka kaget dan meliriknya. "Ra, tabok gue Ra. Gue yakin ini mimpi!" Serunya heboh, menyodorkan kepalanya pada Azura yang mendelik heran.
"APA SIH ANJENG!! NGAGETIN!"
Gavin menyentuh kening gadis itu, yang langsung di tepis dan di tatap tajam Tiffany.
"Apa sih? Lo pikir gue stress!" Deliknya sinis.
Gavin cengengesan. "Kira aja Lo kesambet sama penunggu pohon ini"
"Sembarang!!" Kata Tiffany. "Kalo gue kesurupan, orang yang pertama kali gue cekek itu elo!"
Gavin mendengus sinis. Angkasa merunduk pada ponsel Tiffany untuk melihat.
Tiffany refleks menjauhkan ponselnya menatap Angkasa tajam.
"Apaan sih? ngintip ngintip! Gak sopan!"
Angkasa melengos, mengambil kacang dan memakannya. "Lo sendiri, ngapain teriak-teriak?"
"Idih...kepo" delik nya.
Azura mendelik sinis. " Apaan sih?"
Senyum Tiffany langsung merekah. " Ka Gabriel Confes gue masa" katanya dengan senyum malu dan pipi merah.
Mereka semua melebarkan matanya. Azura langsung menaboknha kencang.
" Awhh... Apa si Ra?" Katanya kesal.
Azura semakin memajukan wajahnya tak percaya. "Lo serius? Lo gak halu lagi kan?"
Mereka semua mengangguk, membenarkan perkataan Azura.
Tiffany menunduk, menggeleng pelan dengan malu-malu.
Angkasa berdecak tak percaya. "Lo jangan halu terus, suka sama dia gak masalah. Tapi jangan sampe Lo jadi gila kayak gini karna pengen jadian sama dia" cibirnya.
Tiffany langsung memperlihatkan chat dirinya juga Gabriel pada mereka." NIH LIAT! Gue gak halu, gue emang di tembak sama dia. Lo semua aja yang syirik" cibirnya masam. Tapi sedetik kemudian tersenyum lebar seraya mengetikan sesuatu di ponselnya. "Aduh, terima gak yah? Kalo langsung gue terima, entar gue di katain cewe gampangan lagi"
Mereka saling tatap, menggeleng, bahkan Azura menaruh telunjuk di jidatnya seraya meringis.
BRAK!
Azura menutup pintu depan dengan kencang, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan lelah.
Menatap plafon dengan membuang nafas kasar.
Bibirnya cemberut, "enak ya jadi Tiffany" katanya, mengambil bantal sofa dan melemparkannya asal.
"Ihk.. kapan sih Rafael confes gue juga?" Katanya kesal. "Gue yakin kok dia juga suka sama gue, kalo enggak, gak mungkin dia datang tiap hari ke kelas cuma ngasih sesuatu doang kan? Apa lagi kalo gak punya rasa cinta ke gue?" Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Lalu menghentak hentakan kakinya ke sofa." AAAAA, pengen di tembak juga" racau nya kesetanan.
Leon yang melihat dari kejauhan, menatap geli pada Azura yang uring-uringan sendiri di atas sofa.
Dia berjalan pelan menghampiri Azura.
Lalu duduk di seberang gadis itu, niatnya hanya untuk mengambil minum. Azura langsung meliriknya sekilas, dia bangun dan duduk tepat di sebelah Leon, membuat Leon tersentak langsung memundurkan tubuhnya.
Tapi Azura malah dengan sengaja mendekat, dan Leon kambali mundur.
Azura memutar mata jengah." Apa sih? Kok Lo ngehindar gitu?"
Leon tak menjawab, dia hendak berdiri sebelum tangan Azura menariknya untuk kembali duduk. "Bentar gue mau nanya" Namun Leon yang kehilangan keseimbangan segera oleng dan jatuh tepat di atas tubuh Azura.
"EH"
mereka membeku di tempat, dengan mata saling menatap. Tangan Leon menahan tubuhnya di kedua sisi kepala gadis itu. Azura mengepalkan kedua tangannya di antara tubuh mereka.
Leon menelan ludah berat, terus menatap mata hazel Azura yang seolah menguncinya.
Deg
Deg
Jantung mereka sama-sama berdebar kencang, dengan nafas yang sedikit tertahan.
PRANGG...
mereka tersentak ketika bunyi nyaring dari dapur terdengar, dan di susul teriakan Farida. "Hati-hati dong Farah, mbak bilang itu panas!"
Leon sontak berdiri gugup, di susul Azura yang menggerakkan matanya tak tentu arah.
"Maaf, aku tidak sengaja" kata Leon pelan, mengalihkan tatapannya.
Azura mengangguk pelan, mereka berdua kini sama-sama canggung. "Aku. Duluan masuk kamar" ucap Leon.
'yaudah si, ngapain ngasih tau gue?'
"Ya-udah sih, gue juga mau ke kamar"
Mereka sama-sama melangkah berlawanan arah, yang membuat tubuhnya saling bertabrakan.
"Aduh..."
Azura hendak terjatuh, namun Leon keburu menahan pinggang gadis itu, yang membuat mata mereka kembali bertemu.
Azura tersadar lebih dulu, dia menggaruk tengkuknya, mendadak gugup.
"Maaf. Gue pikir Lo bakal ke sana"
Leon mengangguk singkat, mencoba menetralkan deru nafasnya. "Iya, aku juga- ah baiklah, aku lewat sini"
Mereka saling memunggungi sejenak, sebelum meninggalkan ruang tamu
Azura mengeluarkan motor dari garasi, Dia kembali masuk ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.
Excel berlari cepat menghampiri Azura dan memeluknya." Kak Ara" panggilnya dengan nada imut.
Azura menyengrit bingung." Kenapa?" Tanyanya, "bilang aja kalo mau sesuatu, gak usah sok imut segala!" Cibirnya.
Excel manyun, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kak Ara mau ke mana? Excel boleh ikut? Excel janji kok gak bakal repotin Kaka" katanya dengan ekspresi wajah menggemaskan.
"Kaka gak kemana-mana" kilahnya "Kaka cuma mau mandi, awas" Azura menyingkirkan tubuh Excel, namun bocah itu memeluk kakinya erat.
"Bohong! Motor Kaka udah di luar, pasti mau main kan?"
Azura berdecak kesal, berusaha melepaskan pelukan Excel dari kakinya. "Ck. Kamu apaan sih? Kebiasaan deh. Kamu kalo mau main ajak mami papi aja, jangan sama Kaka terus ah, Kaka mau main sama temen-temen, masa bawa kamu? Entar kalo kamu di sangka anak kakak gimana, gak mau banget"
Excel semakin mempererat pelukannya, menundukkan kepala, dia melakukan jurus terakhir setelah Azura menolaknya. Excel menatap Azura dengan mata berkaca-kaca, menarik kedua sudut bibirnya ke bawah. "Kak, please..."
Namun Azura tetap menggeleng "enggak! Apa apa? Mau nangis? Nangis aja yang kenceng, Kakak bilang enggak ya enggak!" Sentaknya kesal.
"HUWAAAA!" Excel menangis keras tanpa air mata di pelukan Azura. Azura berdecih sinis, sudah tahu trik murahan yang Excel buat.
"Apa si! Gak usah drama deh, awas ah, Kaka mau mandi" Azura berjalan susah payah dengan Excel yang terus memeluk kakinya.
" GAK MAU! MAU IKUT HUUU" teriak Excel semakin keras.
Azura berusaha melepaskan tangan Excel sambil terus berjalan.
Monica menghampiri mereka dengan ekspresi marah.
"ADUH!... Ini kenapa sih? Kalian itu gak bisa apa akur sehari... Aja? Mami pusing denger kalian ribut terus! Kalian mau darah mami naik lagi terus masuk RS lagi? Mau kalian?" Sentaknya sambil memegangi pelipis.
" AKU MAU IKUT KAKAK MIH hu hu hu" Excel menatap Monica mengadu. Azura mengerucutkan bibirnya, merunduk menatap Excel yang mengelap hingus menggunakan celananya.
" Jorokk,"pekiknya, " aku gak mau bawa dia mih, aku mau main sama temen, masa bawa adik?" Rengeknya pada Monica yang menghela nafas panjang.
Monica memijat pelipisnya kesal. "Excel!!!" Ucapnya tegas.
Namu Excel menggeleng keras, mengeratkan pelukannya. "GAK MAU! hu hu hu"
"Ayo dong dek, nanti Kaka beliin blainbox deh buat kamu" bujuk Azura. Masih berusaha melepaskan Excel.
Excel menggeleng keras, Azura mengerucutkan bibirnya menatap Monica memelas. " Kamu bawa aja Ra-" kata Monica, langsung terpotong oleh Azura."ENGGAK!!" Pekiknya spontan.
"Aku gak mau ya mih bawa Excel! Nanti aku di ledekin mana bapaknya kan malu! Mana dia suka sengaja manggil aku mamah. Malu-maluin mami!" Tolak Azura tegas.
Excel menangis semakin keras." Aku janji kak, aku gak bakal manggil Kaka mamah, kan Kaka, Kaka aku bukan mamah aku" pinta Excel dengan puppy eyes.
Namun Azura tetep menolak keras.
Jody baru saja bangun, dia bergegas ke ruang tamu karna mendengar keributan di sana.
Di ujung tangga, dia berpapasan dengan Leon yang juga baru keluar kamar.
" Leon," panggilnya, Leon menatap Jody. " Di depan ada apa? Kayaknya rame banget"
Leon menggeleng pelan." Aku baru saja akan melihatnya"
Mereka berdua bergegas ke ruang tamu, mendapati Azura yang tengah mengomel, dan Excel yang menangis keras, sementara Monica memijat pelipisnya pusing.
"Ini kenapa lagi ya ampun!!! Masih pagi udah pada ribut aja"kata Jody, menggeleng-geleng pelan.
"Excel nihh! Tiap aku mau main ikut terus, gak bebas Pih, aku tuh kayak udah punya anak tau gak. Padahal masih muda cantik gini. Papi larang dong pih" rengek Azura.
"Sesekali ajak lagi aja Ra, sekalian bawa juga Leon, dia pasti bosen di rumah terus" kata Jody santai, tak menyadari perkataannya justru membuat Azura semakin frustasi.
"APA? enggak yah pih! aku bawa Excel aja gak mau, apalagi bawa dia!" tolaknya cepat. Sembari terkekeh pelan. Masih pagi loh ini, dia udah di buat kesal aja sama adiknya.
Excel malah kegirangan, melompat-lompat ke arah Leon " Yeyyy, kita bakal jalan-jalan bareng om, sama kak Ara," katanya tak memperdulikan ekspresi Azura yang menatapnya garang.
Leon hanya ho heh hoh heh tak mengerti.
Azura mengerucutkan bibirnya mendelik kesal pada Jody.
**Bersambung**....