NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Gedung Madrasah pagi itu tampak sibuk. Suara riuh rendah para siswa yang sedang bersiap mengikuti pelajaran jam pertama terdengar sayup dari kejauhan. Di ruang administrasi Tata Usaha, aroma kopi bercampur wangi kertas tua memenuhi udara. Nadia, sang bunga kelurahan yang bekerja sebagai pemegang administrasi, sudah berada di sana, menatap layar komputer dengan pandangan yang kosong. Matanya yang sembab karena tangisan semalam coba ia tutupi dengan polesan bedak tipis.

Langkah kaki terdengar mendekat. Nadia segera menegakkan duduknya.

"Assalamu’alaikum... Ibu Nadia sudah di sini rupanya! Rajin sekali, kirain masih libur karena suasana duka atau... suasana baru?" sambut Lukman dengan nada profesional yang dibumbui sedikit sindiran halus.

Nadia mendongak, mencoba memaksakan sebuah senyum ramah selayaknya teman sejawat. "Wa’alaikumussalam, Ustadz Lukman."

Lukman menoleh ke arah pintu, di mana Fatih melangkah masuk dengan wajah yang lebih datar dari papan tulis di kelas. "Ini Ustadz Fatih juga hadir. Masya Allah, dedikasi yang luar biasa. Kirain mau ambil cuti libur pengantin baru!" ledek Lukman lagi, matanya melirik Nadia, sengaja ingin melihat reaksi wanita itu.

Fatih berhenti tepat di depan meja Nadia. Tatapannya dingin, namun ada setitik rasa bersalah yang ia sembunyikan rapat-rapat saat melihat mata Nadia yang lelah.

"Assalamu’alaikum, Bu Nadia," sapa Fatih formal.

"Salam, Ustadz," jawab Nadia seadanya. Senyumnya terkembang, namun hatinya terasa perih melihat pria yang ia cintai kini sudah berstatus suami orang lain, meskipun ia tahu itu adalah pernikahan darurat.

Fatih tidak ingin berlama-lama dalam situasi canggung itu. Ia menoleh ke arah Lukman dengan sorot mata yang mengancam. "Ustadz Lukman, ke ruangan saya sekarang. Ada yang harus kita bicarakan dengan serius."

"Monggo, Ustadz..." sahut Lukman santun, namun dengan gaya nyeleneh yang membuat Fatih ingin sekali menyumpal mulutnya dengan buku kurikulum.

Begitu pintu ruangan kepala bidang kurikulum itu tertutup rapat, Fatih langsung meletakkan tasnya dengan kasar di meja. Ia berbalik dan menatap Lukman dengan tajam.

"Man, kamu ini sebenarnya mau apa, sih?!" cecar Fatih, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kemarin kamu yang memberi saran ke aku untuk menikahi Bella hanya sementara. Katamu, setelah suasana warga reda, aku bisa menceraikannya dengan baik-baik. Tapi sekarang? Di depan Abi dan Umi, kamu malah seolah menjerumuskan aku lebih dalam ke kehidupan dia!"

Lukman dengan santai duduk di kursi tamu, menyilangkan kaki tanpa merasa berdosa. "Dengar nih, Bas... eh, maksudku Ustadz Fatih. Sebenarnya hak talaq itu ada di tanganmu. Kamu suaminya. Kenapa susah-susah mengeluh kepadaku? Kalau mau cerai, ya cerai saja sekarang."

Fatih terdiam, rahangnya mengeras.

"Cuma aku kasih tahu ya," lanjut Lukman penuh manipulatif. "Kamu berani tidak menghadapi Abi dan Umi? Kamu lihat sendiri tadi pagi, kan? Sepertinya mereka sudah sangat jatuh cinta pada Bella. Belum lagi Zahra. Kalau kamu menceraikan Bella sekarang tanpa alasan yang kuat, kamu bukan cuma kehilangan istri yang tidak kamu inginkan, tapi kamu akan kehilangan kepercayaan dua orang paling suci di hidupmu. Sanggup?"

"Bukan begitu!" keluh Fatih sambil memijat keningnya. "Aku itu tidak cinta sama Bella. Bagaimana mungkin aku cinta? Dia orang asing yang baru aku kenal lewat sebuah tragedi. Aku tidak tahu latar belakangnya seperti apa... aku hanya merasa kasihan, Man. Hanya kasihan!"

Di balik pintu ruangan yang sedikit tidak rapat, Nadia berdiri terpaku. Ia baru saja hendak mengetuk pintu untuk mengantarkan berkas absensi guru. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Fatih.

Nadia tersenyum tipis. Air matanya hampir jatuh, namun kali ini air mata harapan. “Bang Fatih tidak mencintainya... Dia hanya kasihan. Rupanya ada kemungkinan bang Fatih tidak lama lagi akan menjadi duda. Bagiku tidak mengapa menjadi istri keduanya kelak, atau menunggunya kembali... asal bang Fatih ada buat jadi pendampingku selamanya,” batin Nadia dengan dada yang berdebar.

Di dalam ruangan, perdebatan masih berlanjut.

"Ya sudah, kalau begitu bilang baik-baik sama Bella. Dia juga pasti menerima, dia kan berutang budi padamu," ucap Lukman enteng. "Cuma pertanyaannya kembali lagi: bagaimana dengan Abi dan Umi?"

"Itu masalahnya!" Fatih menggebrak meja pelan. "Abi dan Umi... entah kenapa mereka begitu cepat menyukai Bella. Mungkin karena mereka terlalu lembut hati atau memang sama-sama kasihan."

Lukman menyeringai. Ia tahu cara memutar otak Fatih. "Bisa jadi. Tapi bagaimana dengan Zahra? Kamu tahu sendiri, kan, adikmu itu orangnya bagaimana? Kalau dia tidak suka, dia tidak akan basa-basi. Tapi tadi pagi? Dia bahkan minta diajari masak. Zahra itu jujur, Tih. Kalau dia suka, berarti Bella memang punya 'sesuatu'."

Fatih terdiam sejenak. Benar kata Lukman. Zahra adalah filter kejujuran di rumah mereka. Jika Zahra yang manja dan pemilih itu bisa langsung akrab dengan Bella, berarti Bella memang memiliki kepribadian yang luar biasa.

"Bella... apa yang kamu punya? Kenapa semua orang tiba-tiba menyukaimu? Bahkan aku pun hampir-hampir terhanyut semalam saat kamu mencium tanganku..." batin Fatih dalam kegelisahan.

"Jadi gimana dong?" tanya Fatih putus asa.

Lukman berdiri, mendekati jendela. "Kalau kamu memang ingin cerai, kamu harus cari alasan yang tidak bisa dibantah oleh Abi dan Umi. Alasan yang akan membuat mereka pun merasa tidak sanggup mempertahankan Bella di rumah itu."

"Misalnya?" susul Fatih.

Lukman berbalik, matanya berkilat licik. "Beri dia perintah yang tidak mungkin dia kerjakan. Atau... coba kamu ajak dia main 'ulekan' malam ini. Aku yakin dia juga ingin pisah darimu, dia hanya menghargai keluargamu saja. Pasti dia akan menolakmu karena dia tidak cinta."

Fatih mengerutkan alisnya. "Bisa saja kamu ini. Bagaimana kalau ternyata dia tidak menolak?"

Lukman tertawa kecil, melangkah mendekati Fatih lalu membisikkan sesuatu yang sangat kotor. "Kalau dia tidak menolak, kamu punya dua keuntungan. Pertama, kamu akan merasakan 'ulekan' wanita yang sudah sangat berpengalaman di dunia luar sana. Kedua, itu akan jadi alasan kuat buatmu untuk bilang ke Abi bahwa dia sudah tidak suci lagi, bahwa dia memang wanita nakal. Jadi, kamu tidak salah kalau menceraikannya."

DEG.

Darah Fatih mendidih seketika. Tanpa sadar, ia merangsek maju dan mencengkeram kerah baju Lukman dengan kuat.

"LUKMAN! Aku peringatkan kamu!" teriak Fatih dengan suara tertahan namun penuh amarah. Matanya memerah, urat lehernya menegang. "Sekalipun kamu saudara bahkan sahabat terbaikku sejak kecil, jangan sekali-kali kamu merendahkan perempuan! Apalagi dia adalah wanita yang sudah sah menjadi istriku di bawah kalimat Allah!"

Lukman terperanjat. Ia tidak menyangka Fatih akan semarah itu. Ia bisa melihat kilat kemarahan yang nyata—bukan sekadar marah karena tersinggung, tapi marah karena prinsipnya sebagai laki-laki pelindung telah diusik. Lukman merasa ciut, nyalinya menciut melihat Fatih yang tampak seperti singa yang siap menerkam.

"Fatih... lepas... jangan-jangan... kamu sudah jatuh cinta sama Bella?" tanya Lukman terbata-bata, mencoba menutupi ketakutannya.

Fatih melepaskan cengkramannya dengan kasar hingga Lukman terhuyung. Fatih berbalik membelakangi Lukman, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

"Tidak! Tidak akan pernah!" jawab Fatih dengan suara bergetar. "Aku masih mencintai orang yang selalu setia menungguku disana. Sepuluh tahun aku menyimpan nama itu, dan tidak akan pernah kugantikan dengan siapa pun!"

Lukman tertegun. Ia berpikir sejenak. “Maksudmu Nadia, Fatih?” Lukman merasa ada sinyal bahaya. Jika Fatih mencintai Nadia selama sepuluh tahun, berarti usahanya mendekati Nadia selama ini akan sia-sia.

Sementara di balik pintu, Nadia yang sedari tadi menahan napas merasa hatinya melambung ke langit ketujuh. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. “Ternyata Bang Fatih benar-benar mencintaiku... dia menungguku selama sepuluh tahun ini. Kenapa kamu tidak pernah menyatakannya, Bang? Aku juga menunggumu...”

Lukman mencoba mengonfirmasi. "Maksudmu... wanita itu Nadia, Fatih?"

Fatih menggeleng perlahan, matanya menatap kejauhan dengan tatapan yang sangat melankolis.

"Bukan... kamu juga tahu namanya, Man. Dia adalah Wulan. Rembulan yang selalu kurindukan selama sepuluh tahun ini. Satu-satunya alasan kenapa aku tidak pernah mau melirik wanita lain."

PRANG!

Bukan suara benda jatuh, melainkan suara hati Nadia yang baru saja terbang tinggi lalu dihempaskan ke dasar jurang yang paling dalam untuk kedua kalinya dalam dua hari. Harapannya hancur berkeping-keping.

"Bukan aku... ternyata jauh sebelum dia mengenalku, Fatih punya masa lalu yang begitu indah hingga tak bisa ia lupakan. Aku hanyalah bayangan yang salah sangka," batin Nadia. Ia memegang dadanya yang terasa ngilu luar biasa, napasnya terasa pendek. Ia segera berlari pergi dari depan pintu itu sebelum ada yang melihat air matanya tumpah.

Di dalam ruangan, Lukman mematung. Wajahnya pucat pasi.

"Apa...? Wulan...?" Lukman menelan ludah dengan susah payah. "Kamu... kamu masih menunggunya, Tih?"

Fatih mengangguk yakin. "Sampai kapan pun, Man."

Lukman tertunduk lesu. Ada sebuah rahasia besar di masa lalu yang Lukman simpan, rahasia tentang kenapa Wulan menghilang dari Tasikmalaya yang berhubungan dengan sepucuk surat fitnah yang pernah Lukman tulis karena rasa iri pada Fatih sepuluh tahun lalu.

"Maafkan aku, Fatih... rupanya aku telah melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan hidupmu sepuluh tahun lalu," batin Lukman meratapi diri. Sebuah tabir kesalahan masa lalu mulai terkuak, namun ia terlalu pengecut untuk mengatakannya sekarang.

Suasana ruangan itu menjadi hening. Di balik jendela, langit yang tadi cerah mendadak tertutup awan mendung, seolah ikut berduka atas tiga jiwa yang terjebak dalam labirin perasaan yang tak kunjung menemukan jalan keluar.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!