Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Satu hari setelah malam yang menjungkirbalikkan hidupnya, Cia akhirnya kembali menginjakkan kaki di kantor Aethelgard Group. Kemarin, ia terpaksa mengambil jatah cuti darurat. Alasan resminya adalah gejala tifus, namun alasan sebenarnya jauh lebih memalukan: seluruh tubuhnya, terutama bagian pinggang dan pangkal pahanya, terasa sangat remuk dan linu luar biasa akibat intensitas adegan panas dengan Dixon yang seolah tanpa jeda hingga menjelang subuh.
Kini, Cia duduk di balik kubikel kerjanya. Jari-jemarinya mengetik di atas keyboard, tetapi fokusnya melayang jauh.
“Apa Tuan Dixon bakal mencariku?” gumam Cia dalam hati, dipenuhi keraguan yang mendadak menyerang dinding pertahanannya. “Atau dia justru mengabaikanku begitu saja? Bagaimana kalau dia menganggapku tak lebih dari sekadar wanita penghibur atau jalang murah yang kebetulan lewat malam itu?”
Cia menggigit bibir bawahnya, menatap layar monitor dengan pandangan kosong. Lembaran uang ratusan ribu dan pesan mengejek yang ia tinggalkan di nakas hotel awalnya terasa seperti taktik brilian untuk memantik rasa penasaran. Namun pagi ini, realitas menghantamnya.
“Bagaimana kalau aku salah mengambil jalan ini? Dixon bukan pria sembarangan. Kalau dia tahu aku salah satu pegawainya dan menganggap tindakanku sebagai penghinaan, dia bisa menghancurkan karierku dalam sekejap. Apa yang harus aku lakukan kalau dia memecatku?” Pikirannya mendadak kalut. Taruhannya terlalu besar; kehilangan pekerjaan ini berarti kehilangan akses tunggalnya untuk mendekati pusaran kekuasaan keluarga Alessandro.
Brak!
Pintu ruang divisi terbuka lebar, membuyarkan seluruh lamunan Cia. Sang Manajer Area melangkah masuk dengan wajah tegang dan pucat pasi.
"Semuanya, tinggalkan pekerjaan kalian sekarang juga! Kosongkan koridor dan berkumpul di lobi utama divisi dalam waktu tiga menit! Direktur Utama, Tuan Dixon Luca Alessandro, baru saja tiba dan meminta seluruh staf berkumpul tanpa terkecuali. Ada pengumuman penting yang sangat mendesak!" seru sang Manajer dengan suara bergetar.
Mendengar nama itu disebut, jantung Cia seolah berhenti berdetak. Tubuhnya seketika tersentak kaku di atas kursi.
“Dia... dia ke sini?” batin Cia, meremas ujung kemejanya hingga kusut. Rasa panik yang sempat ditepannya kini mencuat ke permukaan. Namun, kilat dendam di hatinya kembali menyala, membakar habis rasa takut itu dalam hitungan detik. “Tidak. Sudah terlanjur basah. Aku sudah melangkah sejauh ini, aku harus melanjutkan rencana ini sampai akhir!”
Suasana di lobi utama divisi terasa begitu mencekam, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan besar itu mendadak disedot habis. Ratusan karyawan berdiri berjejer dengan rapi dalam beberapa barisan. Suasana hening total; tak ada satu pun yang berani berbisik. Semua kepala tertunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu masing-masing.
Di depan barisan, berdiri sang penguasa tunggal. Dixon Luca Alessandro tampak luar biasa mengintimidasi dengan setelan jas abu-abu gelap buatan Italia. Aura dingin dan berwibawa yang dipancarkannya hari ini berkali-kali lipat lebih pekat dan menusuk dibandingkan saat di bar malam itu. Sepasang mata elangnya yang tajam menyapu seluruh ruangan, membuat siapa pun yang tak sengaja menatapnya akan langsung menggigil ketakutan.
Dixon berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat komandonya, rahangnya yang tegas mengeras sempurna.
"Saya tidak suka membuang waktu," suara bariton Dixon menggema kuat di setiap sudut ruangan, terdengar sangat dingin dan sarat akan kemarahan yang tertahan. "Tapi tampaknya, ada seseorang di dalam gedung ini yang sudah berani berulah, mengganggu ketenangan saya, dan menguji batas kesabaran saya. Dan saya tidak akan segan-segan untuk memecat sekaligus memasukkan orang itu ke dalam daftar hitam seluruh industri di negara ini!"
Deg.
Cia yang berdiri di barisan ketiga, persis di belakang rekan kerjanya, semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dadanya bergemuruh hebat di balik kemeja putihnya.
“Apa Tuan Dixon bicara tentang aku?” pikir Cia dengan cemas, tangannya yang tersembunyi di balik saku celana cokelat tuanya gemetar hebat. “Apa dia tahu kalau aku yang mengganggunya malam itu di hotel? Apa dia ke sini hanya untuk menyeretku keluar?”
Cia memejamkan mata dengan rapat. Ketakutan terbesar dalam hidupnya setelah malam perundungan di SMA kini kembali datang. “Sial... rencanaku sepertinya gagal total sebelum berkembang. Dia akan memecatku sekarang juga,” batinnya pasrah, bersiap mendengarkan namanya dipanggil ke depan.
"Bawa dia ke depan," perintah Dixon tiba-tiba dengan nada mutlak, memberi isyarat pada dua petugas keamanan berbadan tegap di belakangnya.
Suara langkah kaki yang berat mendekat ke arah barisan. Jantung Cia berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan. Ia bersiap untuk melangkah maju begitu namanya disebut.
Namun, langkah kaki petugas keamanan itu melewati barisan Cia.
Brak!
"Lepaskan saya! Tuan Dixon, saya mohon maaf! Saya khilaf!"
Sebuah teriakan histeris memecah keheningan. Cia memberanikan diri untuk mendongak sedikit. Ternyata, yang diseret keluar dari barisan bukanlah dirinya, melainkan seorang pria paruh baya dari staf divisi keuangan senior—salah satu kepala bagian yang cukup dihormati. Pria itu kini bersimpuh di atas lantai marmer di depan kaki Dixon, menangis tersedu-sedu sembari memohon ampun.
Dixon menatap pria yang bersimpuh di bawahnya itu dengan tatapan menjijikkan, seolah melihat seonggok sampah.
"Mengkhianati Aethelgard Group dengan menjual data analisis pasar ke perusahaan kompetitor demi beberapa miliar rupiah..." Dixon berujar rendah, nadanya datar namun sangat mematikan. Ia melempar sebuah map dokumen tebal tepat ke hadapan wajah pria itu. "Kamu pikir tindakan kotor bagai tikus seperti ini bisa luput dari pengawasan saya?"
Seisi ruangan lobi seketika mengembuskan napas tertahan. Jadi, kemarahan luar biasa dari sang Direktur Utama hari ini adalah karena adanya kasus pengkhianatan internal dan kebocoran data rahasia perusahaan, bukan karena urusan pribadi di bar malam itu.
Melihat fakta yang terjadi di depan matanya, Cia perlahan mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di tenggorokannya. Tubuhnya yang sempat tegang perlahan mulai rileks kembali. Ia menatap punggung tegap Dixon yang kini sedang menginstruksikan pihak kepolisian untuk membawa staf pengkhianat itu keluar dari gedung.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan