"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Ancaman terhadap NusaPlay
Pada awal Februari, kantor NusaPlay tidak lagi terdengar seperti kantor platform hiburan.
Ruang konten sunyi. Biasanya staf berdebat soal tren lagu pendek, produser berlari membawa kopi, dan jadwal siaran berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Yang ada hanya layar-layar terbuka, suara keyboard panik, dan wajah-wajah yang terus memeriksa harga saham seperti sedang memeriksa detak jantung pasien.
NusaPlay lahir dari ruang kerja kecil lima tahun lalu. Awalnya hanya platform live streaming lokal untuk kreator muda yang tidak punya tempat di televisi. Pelan-pelan, mereka tumbuh. Gamer, penyanyi kafe, guru bahasa, komedian kecil, komentator berita, sampai pedagang kecil yang jualan lewat siaran langsung, semua menemukan panggung di sana.
Bagi banyak orang, NusaPlay sudah menjadi lebih dari aplikasi.
Itu tempat mereka mencari makan.
Karena itu, ketika kabar akuisisi paksa mulai menyebar, panik tidak bisa ditutup dengan email perusahaan.
"Mereka sudah ambil lagi di pasar sekunder," kata kepala legal NusaPlay, suaranya serak. "Kalau digabung dengan blok saham yang mereka pegang lewat kustodian, estimasi hak suara mereka mendekati dua puluh empat persen."
Di ruang rapat utama, para pendiri NusaPlay duduk seperti orang yang baru menyadari rumahnya tidak punya pagar cukup tinggi.
"Kita bisa minta OJK menahan transaksi?" tanya salah satu pendiri.
"Kalau tidak ada pelanggaran keterbukaan, sulit," jawab kepala legal. "Mereka bergerak lewat beberapa entitas. Masih dalam batas yang bisa dibela."
"Maksudmu mereka bisa mengambil perusahaan ini dengan uang saja?"
Tidak ada yang menjawab.
Jawaban itu terlalu jelas.
Di lantai bawah, Nadia Putri menatap layar ponselnya di ruang tunggu studio.
Umurnya delapan belas tahun. Rambutnya diikat sederhana, riasannya ringan, matanya terlihat kurang tidur. Di NusaPlay ia dikenal sebagai NadiLive, kreator muda yang awalnya melakukan siaran dari kamar kos sempit, membaca berita ringan, bernyanyi sedikit, lalu perlahan punya pengikut karena cara bicaranya jujur dan tidak dibuat-buat.
Malam itu, ia seharusnya melakukan siaran santai.
Namun kolom obrolan sudah penuh bahkan sebelum kamera menyala.
Platform mau dijual?
Nadi, kamu pindah ke aplikasi lain?
Katanya pemilik baru dari luar negeri bakal pecat semua kreator kecil.
Benar nggak NusaPlay bangkrut?
Nadia menggenggam ponsel sampai buku jarinya memutih.
Seorang operator muda mendekat. "Nadi, kalau kamu tidak mau live malam ini, kita bisa batalkan."
Nadia menggeleng.
"Kalau aku batalkan, mereka makin panik."
"Tapi kamu sendiri panik."
"Iya." Nadia menarik napas. "Makanya aku harus live."
Lampu kecil di atas kamera menyala.
Nadia tersenyum tipis, wajahnya menahan tekanan yang tidak biasa.
"Halo, semuanya," katanya. "Aku tahu kalian khawatir. Aku juga."
Kolom obrolan bergerak begitu cepat sampai sulit dibaca.
Nadia tidak berpura-pura tahu lebih banyak daripada yang ia tahu.
"Aku belum dapat informasi resmi selain pesan internal bahwa operasional tetap berjalan. Tapi aku mau bilang satu hal. Banyak orang di sini hidup dari NusaPlay. Bukan cuma kreator besar. Ada tim kamera, moderator, editor, petugas keamanan, staf customer service. Kalau platform ini berubah tangan, yang paling takut bukan orang yang sudah punya banyak pilihan. Yang paling takut adalah orang biasa seperti kami."
Di ruang rapat atas, salah satu layar menampilkan siaran Nadia tanpa suara.
Seorang pendiri melihatnya dan menutup mata sebentar.
"Kalau kita tidak dapat investor malam ini, mereka akan masuk ke RUPS berikutnya dengan posisi terlalu kuat," katanya.
"Kita sudah hubungi tiga fund lokal. Semua minta waktu."
"Kita tidak punya waktu."
Pintu ruang rapat terbuka.
Asisten CEO masuk dengan wajah yang untuk pertama kali malam itu tidak sepenuhnya gelap.
"Ada satu pihak yang mau bicara."
"Siapa?"
"Cakra Capital."
Nama itu membuat ruangan berubah.
Beberapa orang saling pandang, antara lega dan takut.
Cakra Capital terlalu besar untuk datang tanpa maksud. Tetapi ketika rumah terbakar, orang tidak bertanya terlalu lama tentang warna mobil pemadam.
"Dinda Permata?" tanya CEO NusaPlay.
"Timnya minta video call dalam lima belas menit."
Sementara itu, jauh dari kantor NusaPlay, Villa Puncak menyala tenang di bawah langit malam.
Dinda Permata muncul di layar besar ruang kerja Arga.
"Aku kirim ringkasannya," katanya tanpa basa-basi. "NusaPlay sedang diserang lewat pasar sekunder dan beberapa block trade. Pembelinya memakai kendaraan investasi dari luar negeri. Targetnya jelas: masuk, ambil kendali, ganti manajemen, lalu pakai basis pengguna untuk kepentingan konten mereka sendiri."
Arga duduk di kursi kerja, tangan kanan memegang pena.
"Valuasi?"
"Masih murah dibanding potensi. Karena panik pasar, mereka bisa ditekan. Tapi kalau kita masuk sebagai white knight, kita harus cepat. Founder masih pegang moral authority, tapi hak suara mereka terpecah."
"Apakah platformnya sehat?"
"Pengguna aktif kuat. Monetisasi belum maksimal. Komunitas kreator loyal. Cocok untuk fondasi media matrix."
Arga membaca ringkasan di tablet.
NusaPlay sudah menjadi jalur distribusi cerita.
Dalam perang modern, siapa yang memegang distribusi informasi memegang kecepatan cerita. Cakra punya uang, pengacara, analis, dan jaringan. Tetapi untuk beberapa perang, uang datang terlambat jika cerita sudah dikuasai lawan.
"Kita masuk," kata Arga.
Dinda tidak tampak terkejut. "Berapa batas?"
"Cukup untuk menghentikan kontrol mereka. Jangan bunuh founder. Pertahankan manajemen, kunci governance, dan buat opsi tambah modal."
"Identitasmu tetap bersih?"
"Selalu."
Dinda tersenyum tipis. "Kamu tahu, kadang aku iri pada orang yang bisa membuat keputusan triliunan rupiah seperti memesan kopi."
"Kopi biasanya lebih sulit. Kalau salah pesan, kamu tetap harus minum."
"Lucu sekali, Bos."
Arga menandatangani lembar otorisasi digital.
Di layar lain, Dinda sudah menghubungi tim investment banking Cakra. Nama-nama firma hukum, broker, dan konsultan pasar modal mulai bergerak seperti lampu yang dinyalakan satu per satu.
Pada saat yang sama, Nadia masih berbicara di depan kamera.
"Kalau besok ada perubahan, aku akan tetap berusaha live. Selama masih ada tempat untuk bicara, kita gunakan tempat itu baik-baik."
Kolom obrolan melambat.
Beberapa penonton mulai menulis dukungan.
Di seberang kota, sebuah pesan masuk ke ponsel CEO NusaPlay.
Dari tim Cakra:
Kami siap masuk sebagai investor strategis. Prinsip utama: operasional tetap berjalan, manajemen inti dipertahankan, dan kreator tidak menjadi korban transaksi.
CEO membaca pesan itu dua kali.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa napasnya kembali.
Namun ancaman belum selesai.
Pukul sebelas lewat, juru bicara konsorsium asing muncul di sebuah kanal bisnis dan berkata dengan senyum dingin, "Dalam tiga puluh hari, kami akan mengambil kendali NusaPlay."
Video itu menyebar cepat.
Di Villa Puncak, Arga menyelesaikan tanda tangan terakhir.
Pena berhenti di atas kertas.
"Tiga puluh hari?" tanya Dinda dari layar.
Arga mengangkat wajah.
"Kalau mereka butuh tiga puluh hari," katanya, "berarti mereka sudah terlambat malam ini."