NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Mobil sedan putih milik Ibu Rahma melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, suasananya tidak lagi senyap, melainkan dipenuhi oleh suara omelan, makian, dan isak tangis yang bersahutan. AC mobil yang dingin sama sekali tidak mampu mendinginkan kepala empat orang yang ada di dalamnya, yang saat ini basah kuyup dengan pakaian brokat ungu yang lepek dan berantakan.

​"Kurang ajar! Benar-benar perempuan iblis si Hanum itu!" maki Ibu Rahma sambil memeras ujung jilbab satinnya yang meneteskan air ke lantai mobil. "Nif! Kamu lihat sendiri, kan? Dia sengaja menyiram kita seperti binatang! Di mana harga dirimu sebagai suami?! Kamu harus ceraikan dia sekarang juga! Ibu tidak sudi punya menantu pembangkang dan tidak punya sopan santun seperti dia!"

​Ibu Sarah di kursi belakang ikut menimpali dengan suara cemprengnya yang meninggi, "Iya, Hanif! Anak saya ini baru saja jadi pengantin, hari ini hari bahagianya! Tapi apa? Malah dipermalukan sampai kosmetik dan bajunya hancur begini! Kalau tahu begini caranya, saya tidak akan sudi menyerahkan Sarah kepadamu!"

​Sarah sendiri hanya bisa menangis sesenggukan, memeluk lengan ibunya sambil sesekali melirik Hanif dengan pandangan menuntut pembelaan. Wajah cantiknya yang tadi siang dipuji-puji kerabatnya kini tampak mengerikan dengan sisa-sisa maskara hitam yang luntur membentuk garis-garis gelap di pipinya.

​Di balik kemudi, Hanif hanya diam seribu bahasa. Rahangnya mengeras, mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Telinganya berdengung mendengar omelan ibunya yang terus menuntut perceraian. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pusaran rasa panas yang berbeda mendadak menyergap.

"Hanum, kau gila! Kita akan bercerai kalau begini!"

​Kata-kata yang sempat dia teriakkan dengan penuh emosi di tengah guyuran air di taman tadi mendadak terngiang kembali di kepalanya. Menggema berulang-ulang seperti sebuah vonis mati.

​Jujur, ada rasa penyesalan yang teramat sangat mendalam di dada Hanif saat ini. Detik ketika kata 'cerai' itu lolos dari mulutnya, hatinya justru mencelos. Hanif teringat bagaimana kokohnya posisi keuangan Hanum, bagaimana dinginnya gertakan Pak Baskoro seminggu lalu, dan bagaimana seluruh aset serta rumah lantai tiga yang baru saja dia lihat itu sepenuhnya terkunci dari jangkauannya.

Jika dia benar-benar bercerai dengan Hanum sekarang, itu artinya dia harus melepaskan seluruh kemewahan hidup yang selama ini dia nikmati secara cuma-cuma. Dia akan menjadi pria miskin yang tidak punya apa-apa.

​"Sudah, Bu! Tolong diam dulu! Hanif lagi pusing!" bentak Hanif akhirnya, tidak mampu lagi menahan beban di kepalanya. Bentakan itu seketika membuat seisi mobil terdiam, meskipun Ibu Rahma tetap mendengus sebal.

​Karena pintu gerbang istana Hanum sudah tertutup rapat dan mereka diusir layaknya pengemis, Hanif tidak punya pilihan lain selain memutar arah. Dia terpaksa membawa istri barunya dan ibu mertuanya untuk pulang dan menampung mereka sementara waktu di rumah milik ibunya. Ibu Rahma pun, meski dengan hati yang mendongkol karena rencana menguasai rumah Hanum gagal di hari pertama, terpaksa menyetujui untuk menampung menantu barunya itu di rumahnya sendiri.

​Setengah jam kemudian, mobil sedan putih itu memasuki pekarangan rumah milik Ibu Rahma. Rumah itu cukup besar dan mewah untuk ukuran orang biasa, meskipun jika dibandingkan dengan istana lantai tiga milik Hanum, rumah ini langsung terlihat seperti pondok kecil.

​Mereka berempat turun dari mobil dengan langkah gontai, menginjak teras dengan pakaian yang masih terasa lembap dan dingin. Hanif membuka pintu utama rumah dengan kunci serepnya, lalu melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh ibunya.

​Namun, begitu sepasang kaki Hanif dan Ibu Rahma melewati batas pintu ruang tamu, langkah mereka seketika membeku di atas lantai marmer. Seluruh persendian tubuh Hanif mendadak lemas, dan wajah Ibu Rahma yang tadinya merah karena marah langsung berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.

​Di dalam ruang tamu yang luas itu, duduk dua orang laki-laki di atas kursi sofa kulit. Atmosfer di dalam ruangan itu mendadak terasa begitu pekat, dingin, dan mencekam.

​Kedua laki-laki itu duduk dengan postur tubuh yang tegap, berwajah kaku, dengan ekspresi mata yang memancarkan rasa muak yang teramat sangat mendalam.

​Ibu Sarah dan Sarah yang berjalan di paling belakang tidak menyadari perubahan drastis dari ekspresi Hanif dan Ibu Rahma. Dengan urat malu yang tampaknya belum pulih, Sarah langsung melangkah maju melintasi ibu mertuanya. Tanpa memedulikan atau menyapa dua orang laki-laki asing yang duduk di depan suami dan ibu mertuanya itu, Sarah dengan manja langsung merangkul mesra lengan kanan Hanif, bersandar di sana seolah ingin memamerkan kepemilikannya.

​"Mas Hanif... dingin sekali. Aku mau langsung mandi dan ganti baju ya, Mas..." rengek Sarah dengan suara lembut yang dibuat-buat.

​Namun, sebelum Hanif sempat menjawab, sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan penuh penekanan menggelegar dari arah sofa, memotong kalimat Sarah seketika.

​"Beraninya kalian."

​Dua kata itu diucapkan oleh laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah kiri. Dia adalah Papa tiri Hanif suami sah dari Ibu Rahma yang selama ini bekerja mengelola bisnis di luar negeri dan selalu mengirimkan uang bulanan melimpah. Tatapan matanya yang tajam menghantam tepat ke arah tangan Sarah yang sedang merangkul lengan Hanif.

​Sarah seketika bingung. Dia melepaskan sedikit sandarannya, menatap laki-laki paruh baya itu dengan dahi berkerut. Ekspresi wajah laki-laki itu begitu dingin dan penuh kebencian, membuat nyali Sarah mendadak ciut.

​Sebelum Sarah sempat bertanya siapa mereka, dengan secepat kilat dan gerakan yang sangat kasar, Hanif langsung menampik tangan Sarah dari lengannya. Plak! Hanif menyentak tangan istri mudanya itu hingga Sarah terdorong mundur satu langkah dengan wajah syok dan tidak percaya.

​"Mas...?" bisik Sarah, matanya berkaca-kaca, terkejut dengan perlakuan kasar Hanif yang mendadak. Jujur, di sini Sarah sama sekali tidak tahu siapa kedua laki-laki ini. Dia tidak pernah diperkenalkan dengan lingkaran keluarga besar Hanif yang sebenarnya.

​Mata Sarah kemudian beralih melirik ke arah laki-laki yang duduk di sebelah Papa tiri Hanif. Detik itu juga, napas Sarah sempat tertahan. Laki-laki yang duduk di sebelah pria yang dia kira kerabat atau saudara Hanif itu memiliki penampilan yang sangat mempesona. Wajahnya teramat tampan dengan rahang tegas yang tercukur rapi, tubuhnya tinggi atletis di balik setelan jas formal abu-abu gelap, dan dia memancarkan karisma kelas atas yang begitu kuat.

Namun, tatapan mata laki-laki tampan itu sangat tajam bahkan jauh lebih tajam dan dingin daripada tatapan Hanum di taman tadi. Tatapannya menatap Hanif dan Sarah seolah-olah mereka adalah dua ekor serangga menjijikkan yang salah masuk ruangan.

​Laki-laki tampan itu perlahan berdiri dari sofanya, membetulkan kancing jasnya dengan gerakan yang sangat elegan, lalu berjalan mendekati Hanif yang kini sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya bergetar ketakutan.

​"Hanif..." laki-laki berkarisma itu membuka suara, suaranya terdengar begitu rendah namun berwibawa, sanggup mengintimidasi siapa saja yang mendengarnya. "Kamu benar-benar laki-laki pecundang yang tidak punya otak."

​Hanif tidak berani mengangkat wajahnya. Dia hanya bisa menatap ujung sepatu kulit mengkilap milik laki-laki di depannya.

​"Bisa-bisanya kamu membawa sampah ke dalam rumah tangga kamu sendiri," lanjut laki-laki itu, pandangannya melirik sekilas ke arah Sarah dan ibunya dengan tatapan menjijikkan yang sangat kentara. "Apa kamu tidak punya rasa malu sedikit pun? Dulu... aku yang meminta Hanum secara terhormat dari Papanya untuk dinikahi oleh kamu. Aku yang menjamin di depan keluarga besar Hanum bahwa kamu adalah pria yang bertanggung jawab. Dan sekarang... kamu menghancurkan semua kepercayaan itu demi memelihara wanita kotor seperti ini?!"

​Mendengar kata sampah dan wanita kotor diarahkan langsung padanya, wajah Sarah seketika memerah padam. Dia merasa terhina setengah mati di rumah yang baru beberapa jam lalu dipamerkan sebagai milik keluarga suaminya.

Namun, melihat bagaimana Hanif pria yang tadi siang dia elat-elukan sebagai pangeran kaya kini berdiri gemetar seperti tikus basah di depan laki-laki tampan itu, Sarah tidak berani membuka mulutnya untuk protes. Dia sadar, posisi kedua laki-laki asing ini di dalam keluarga Hanif berada di kasta yang jauh lebih tinggi dan mematikan.

​"Ma-mas... kenapa pulang tidak memberi kabar terlebih dahulu?" suara Ibu Rahma akhirnya keluar, terbata-bata dan bergetar hebat saat dia berbicara kepada suaminya yang duduk di sofa. Wanita tua yang tadi siang begitu garang menyuruh Hanif menceraikan Hanum, kini mendadak menciut, menyadari bahwa sumber aliran dana utamanya dari luar negeri kini sedang menatapnya dengan pandangan penuh kemuakan.

​Papa tiri Hanif berdiri, melangkah mendekati istrinya dengan wajah kaku. "Kalau aku memberi kabar, aku tidak akan pernah tahu kalau uang kirimanku selama ini kamu pakai untuk membiayai kemewahan pernikahan siri anak bawaan mu ini, Rahma! Kamu lihat apa yang sudah kalian lakukan pada Hanum menantu kesayangan ku dan cucu-cucu tercinta ku ?! Kalian benar-benar sudah tidak punya urat malu!"

​Ruang tamu itu seketika berubah menjadi pengadilan berdarah dingin bagi Hanif dan ibunya, sementara Sarah dan ibunya hanya bisa berdiri kaku di sudut ruangan, menyadari bahwa impian mereka untuk hidup mewah di istana Hanif kini perlahan-lahan mulai berubah menjadi fatamorgana yang mengerikan.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!