Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Ci Liana
Sejak rapat sempoa itu, panggilan "Ci Liana" mulai terdengar di lantai eksekutif Loh Group.
Awalnya hanya Kevin.
Pagi pertama setelah rapat, ia muncul di pantry kecil dekat ruang meeting, membuka kulkas minuman, lalu menoleh begitu melihat Liana sedang menyeduh teh.
"Pagi, Ci Liana."
Sendok kecil di tangan Liana berhenti sebentar.
"Pagi, Kevin."
Kevin tersenyum seperti tidak sadar ia baru saja membuat dua staf sekretaris saling melirik. Di kantor, Kevin Loh dikenal ramah kalau sedang ingin ramah, tetapi tidak mudah memberi panggilan keluarga kepada orang baru. Apalagi kepada pegawai yang secara struktur jauh di bawah keluarganya.
Liana mencoba bersikap biasa.
"Mau kopi?"
"Kalau Ci yang buat, saya mau."
"Saya bukan barista."
"Tapi sup kacang merah Ci katanya legendaris."
Liana menatapnya. "Kamu dengar dari siapa?"
Kevin mengangkat bahu dengan wajah polos yang jelas tidak polos. "Di kantor ini, hal kecil bergerak lebih cepat daripada memo direksi."
Liana tidak bisa menahan senyum. "Kopi hitam saja?"
"Sedikit gula."
Saat ia menuang kopi, Liana melihat Kevin menandatangani dokumen kecil yang dibawanya dengan tangan kiri. Gerakannya cepat dan alami. Ujung pena mengikuti garis tanda tangan seperti sudah terbiasa bertahun-tahun.
Tangan kiri.
Dada Liana berdenyut kecil.
Dede juga kidal. Dulu Albert sering kesal karena menganggap anak laki-laki seharusnya diajari memakai tangan kanan. Liana yang diam-diam mempertahankan kebiasaan itu. Ia berkata, biarkan saja, tangan mana pun yang membuatnya nyaman.
"Ci?"
Liana tersadar. Kopi hampir meluap dari cangkir.
"Maaf."
Kevin mengambil cangkir itu. "Ci kurang tidur?"
"Sedikit."
"Jangan terlalu sering. Nanti Papa saya marah kalau jadwalnya kacau."
Liana hampir tertawa. "Kamu memanggil Pak Edwin Papa di kantor?"
"Kalau tidak ada orang penting." Kevin menyesap kopi, lalu meringis. "Pahit juga."
"Kamu minta sedikit gula."
"Ternyata definisi sedikit kita beda."
Percakapan kecil itu menyebar ke hari-hari berikutnya. Kevin kadang muncul di pantry, kadang lewat meja Liana hanya untuk bertanya apakah Edwin sudah makan, kadang menitipkan dokumen ke Arman tetapi berhenti lebih lama di meja Liana.
Tidak ada yang berlebihan. Namun setiap kali ia memanggil Ci Liana, ada bagian dari hati Liana yang menjawab terlalu cepat.
Seminggu setelah rapat, mereka bertemu di kantin karyawan.
Liana awalnya duduk sendiri dengan nasi merah dan tumis sayur. Kevin datang membawa nampan, melihat kursi kosong di depannya, lalu mengangkat alis.
"Boleh gabung?"
"Ini kantin kantor, Kevin. Kamu tidak perlu izin saya."
"Kalau begitu saya tetap izin."
Ia duduk. Di nampannya ada ayam panggang, sup bening, dan satu porsi tahu saus kacang. Liana melihatnya sekilas, lalu tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat menahan.
"Jangan makan itu."
Kevin berhenti dengan garpu di tangan. "Yang mana?"
"Tahu itu. Ada kedelainya. Sausnya juga mungkin pakai campuran kacang dan kecap. Nanti alergimu kambuh."
Kalimat itu selesai.
Keduanya sama-sama diam.
Kevin menurunkan garpu perlahan. "Ci tahu saya alergi kedelai?"
Liana merasakan darah naik ke wajah. Ia sendiri tidak tahu dari mana keyakinan tadi muncul. Mungkin dari dokumen medis yang pernah ia lihat? Tidak. Ia belum pernah membaca data pribadi Kevin. Mungkin dari cara Kevin menghindari susu kedelai di pantry? Ia juga tidak ingat.
"Maaf," katanya cepat. "Saya... mungkin hanya menebak. Banyak orang alergi."
"Saya memang alergi kedelai." Kevin menatap tahu di nampan, lalu menatap Liana. "Lumayan parah. Kalau salah makan bisa gatal dan sesak."
Liana menggenggam sendok.
Dede juga begitu. Sekali ia makan kue pasar yang ternyata memakai tepung kedelai, kulitnya merah sampai malam. Liana menggendongnya ke klinik dengan tubuh gemetar, sementara Kim Hwa waktu itu berkata ia terlalu memanjakan anak.
"Ci?"
"Jangan dimakan," ulang Liana, kali ini lebih pelan.
Kevin mendorong piring tahu menjauh. "Baik. Saya percaya Ci."
Kalimat sederhana itu membuat dada Liana terasa penuh.
Setelah makan, Kevin menandatangani beberapa dokumen yang dibawa asistennya ke kantin. Lagi-lagi tangan kiri. Liana berusaha tidak menatap, tetapi mata manusia kadang mengkhianati niat.
Kevin menangkapnya.
"Kenapa, Ci?"
"Tidak apa-apa. Saya juga kidal."
"Serius?" Kevin tersenyum. "Jarang ketemu orang kidal di keluarga saya."
"Anak saya dulu juga kidal."
Kalimat itu keluar terlalu lembut. Kevin tidak langsung bercanda seperti biasa.
"Dede?"
Liana menatapnya.
"Saya pernah dengar dari Arman. Maaf kalau saya lancang."
Liana menggeleng. "Tidak apa-apa."
Kevin mengaduk es teh di gelasnya. "Cerita masa kecil saya juga agak panjang. Lain kali kalau Ci mau dengar, saya cerita."
"Kamu ingat banyak?"
Senyum Kevin menipis. "Tidak semuanya. Ada bagian yang seperti foto rusak. Tapi ada juga yang jelas. Bau hujan, suara orang memanggil, hal-hal kecil."
Liana merasa ujung jarinya dingin.
"Mungkin lain kali," katanya.
Sore itu, setelah pulang, Liana menelepon Jessy dari balkon rumah. Angin BSD City membawa suara kendaraan jauh dan anak-anak kompleks bermain sepeda.
"Jess, aku merasa aneh."
"Aneh bagaimana?"
Liana menceritakan Kevin. Panggilan Ci Liana, tangan kiri, alergi kedelai, caranya tersenyum setelah diperingatkan jangan makan tahu.
Jessy mendengarkan tanpa memotong. Tidak seperti biasanya, ia tidak langsung meledak dengan teori.
"Lia," katanya akhirnya, lebih pelan, "mungkin kamu sedang mencari Dede di semua anak laki-laki seusia dia."
"Aku tahu."
"Itu tidak salah. Kamu ibu."
"Tapi Kevin..." Liana berhenti. "Aku tidak tahu. Ada sesuatu."
"Sesuatu itu bisa harapan. Bisa juga luka."
Liana menatap langit yang mulai gelap. "Aku takut menjadikan dia pengganti anakku."
"Kalau kamu sadar itu, berarti kamu masih menjaga batas."
Setelah telepon ditutup, Liana masuk ke kamar. Ia membuka kotak plastik Dede. Kali ini ia tidak memutar rekaman Kim Hwa. Ia mengambil foto kecil anaknya saat berusia enam tahun, lalu selembar kertas berisi cap telapak kaki dan tangan dari taman kanak-kanak.
Di kertas itu, tangan kiri Dede tercetak lebih jelas karena ia menekan terlalu kuat saat guru meminta cap tangan.
Liana menyentuh bekas tinta yang sudah pudar.
Di kepalanya, gambar Kevin menandatangani dokumen dengan tangan kiri bertumpuk dengan cap tangan kecil itu.
"Kalau kamu masih hidup," bisiknya, "mungkin kamu sudah sebesar Kevin ya, Dede."
Angin dari balkon menggerakkan tirai.
Liana menutup mata, tetapi dua gambar itu tidak mau terpisah.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/