Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
.
“Apa kamu mengkhianati aku?” tanya Anin lagi.
“Tentu saja tidak!” jawab Raditya gugup.
Anindya mendekat membuat Raditya mundur. Jantungnya berdegup kencang, seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya melihat aura intimidasi yang begitu kuat dari sorot mata Anin.
Anindya berhenti ketika punggung Radit mentok menempel pada rak buku. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Wanita itu menatap lurus ke manik mata suaminya, menelusuri setiap gerak-gerik wajah Radit yang terlihat begitu panik.
“Hati-hatilah, kalau sampai aku tahu kamu melakukan kesalahan itu," bisik Anindya pelan, namun terdengar berat. Ia menatap Raditya dengan tatapan tajam menusuk.
“Ingat satu hal, Radit. Jika aku bisa menemanimu dari nol, maka aku juga bisa mengembalikan kamu menjadi nol!!”
GLEK!
Raditya menelan ludahnya. Ancaman itu terdengar begitu nyata dan menakutkan.
“Tentu saja tidak, Sayang!” Raditya mencoba tersenyum. “Kamu tahu kan aku benar-benar mencintaimu? Mana mungkin aku berani mengkhianatimu? Kamu segalanya bagiku, Sayang. Jangan berpikir yang tidak-tidak ya.”
Anindya hanya mengangguk pelan, tatapan matanya masih datar, lalu berbalik badan dan kembali duduk di kursi kerjanya.
“Keluarlah. Aku sedang bekerja,” ucapnya singkat. “Dan ingat… tidur di kamar tamu!”
Raditya mengangguk patuh, meski di dalam hatinya amarah mulai membara. “I-iya, Sayang. Cepatlah istirahat, jangan terlalu lelah,” ucapnya terbata-bata lalu perlahan berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan tangan terkepal.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat, ekspresi wajah Raditya seketika berubah drastis. Senyum palsu dan wajah ketakutan tadi lenyap seketika, berganti dengan wajah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
“BRENGSEK!!” umpatnya keras sambil meninju dinding koridor.
“Berani sekali dia mengancamku Mengembalikan aku menjadi nol? Hah! Mimpi!” geramnya dengan napas memburu.
Rasa terhina dan marah bercampur menjadi satu. Harga dirinya sebagai seorang suami dan pemimpin perusahaan bagai diinjak-injak.
“Tunggu saja waktu nya, wanita sombong! Kamu pikir kamu hebat? Hahaha! Nanti juga kamu akan tahu siapa bosnya yang sebenarnya! Dan aku pastikan kamu yang akan kembali ke nol dan menangis memohon padaku!”
.
Keesokan harinya, suasana di kantor RA Corp terlihat normal seperti biasa. Anindya duduk di kursinya sedang meninjau beberapa laporan keuangan. Namun, kesibukannya itu buyar saat ponsel di mejanya berdering. Ada nama Zaskia di layar.
"Halo, Zas?" jawab Anindya santai.
"Anin! Kamu sudah lihat media sosial belum?!" suara Zaskia terdengar panik dan tinggi dari seberang telepon. "Wanita itu... Sofia! Dia berani posting foto kemesraan sama Radit”
Anindya mengerutkan keningnya sedikit. "Oh ya? Memangnya apa yang mereka posting?"
"Coba kamu cek sekarang! Dia menandai akunmu lho! Sepertinya dia sengaja menantang kamu!" seru Zaskia.
"Oke aku lihat. Thanks infonya, ya," jawab Anindya lalu menutup telepon.
Dengan gerakan lambat, Anindya membuka aplikasi media sosialnya. Benar saja, ada notifikasi baru yang masuk. Ia mengkliknya dan melihat sebuah foto yang cukup jelas memperlihatkan Raditya sedang memegang bahu Sofia yang terlihat sangat mesra, lengkap dengan caption manis yang seolah-olah mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Tak hanya itu, seorang anak laki-laki berusia empat tahun ada di tengah mereka.”
Wanita yang sudah malang melintang di dunia bisnis ini tidak marah. Dengan santainya ia menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya. Bibirnya yang berwarna merah delima tersenyum menyeringai penuh ancaman.
"Dasar bodoh..." umpatnya sambil terkekeh pelan. "Apa dia lupa kalau Radit itu seorang publik figur? Apa yang mereka lakukan akan jadi sorotan seluruh negeri."
Anindya menatap layar ponselnya dengan tatapan tajam.
"Baiklah... Karena kalian sepertinya sudah lelah bersembunyi… Aku akan bantu kalian naik ke permukaan," ucapnya pelan namun penuh penekanan. “Anggaplah ini hadiah kecil dariku."
Anindya membuka aplikasi chat warna hijau dan menghubungi temannya yang seorang ahli media dan buzzer terbesar di kota itu.
"Halo, Bang Bimo. Aku butuh bantuan nih," ucap Anindya tanpa basa-basi. "Tolong telusuri akun wanita bernama Sofia ini. Sebarkan postingan ini ke seluruh penjuru media sosial. Jadikan ini berita utama hari ini. Dan siapkan ribuan akun untuk berkomentar bahwa dia adalah selingkuhan pengusaha besar Raditya Wicaksono."
"Oke Baby. Tenang aja. Lihat hasilnya beberapa menit lagi," jawab suara di seberang sana.
Panggilan terputus, Anindya menggebrak meja kerjanya dengan keras tanpa sadar.
BRAK!!
"Cuma seorang selingkuhan beraninya menantangku?!" geramnya penuh emosi. "Aku sudah berjuang separuh hidupku untuk menciptakan jalan mulus untuk hidupku. Tanpa izinku, tak ada yang boleh melewati jalan itu!"
"Sudah saatnya memberi pelajaran pada Raditya Wicaksono..."
Dalam hitungan menit, media sosial gempar. Postingan yang awalnya hanya dilihat sedikit orang, tiba-tiba meledak dan menjadi Trending Topic nomor satu. Seluruh netizen membicarakan skandal ini. Wajah Raditya dan Sofia terpampang nyata di mana-mana. Komentar-komentar pedas menghujani akun mereka, menyoroti betapa rendahnya moral mereka.
Di ruang kerja Radit, pria itu terkejut mendengar laporan Darius mengenai hal tersebut.
“Sofia… “ geramnya. “Dasar bodoh! Sudah aku bilang untuk tidak macam-macam!!”
“Segera perintahkan ahli IT untuk membersihkan masalah ini. Jangan sampai Anin melihatnya lebih dulu!” perintahnya pada Darius.
“Baik, Tuan.”
Namun, belum sempat Darius keluar dari ruangan itu…
BRAAK!
Pintu ruangan Raditya dibanting dengan kasar.
“Apa yang aku tidak boleh tahu?”
Anindya datang dengan wajah merah padam, terlihat sangat marah, seolah ia adalah istri yang paling tersakiti dan tidak tahu apa-apa.
Raditya yang sebelumnya sudah panik semakin panik. “Sayang,... Ada apa? Kenapa kamu marah?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Apa ini yang aku tidak boleh tahu?” Anindya melempar ponselnya dengan keras tepat mengenai dada Radit, membuat pria itu sedikit meringis.
"Baru tadi malam kamu bilang tidak akan berkhianat. Ternyata apa?!” Anin berteriak marah dengan wajah berderai air mata. Suara teriakannya terdengar hingga ke luar ruangan, karena Anin sengaja membuat pintu terbuka lebar.
Awalnya Raditya berusaha menyangkal mati-matian, mengatakan itu hanya fitnah atau editan. Namun melihat bukti yang begitu kuat dan situasi yang sudah terlanjur meledak, pria itu akhirnya melepaskan topengnya.
"Sudah! Cukup!!" bentak Raditya sambil berdiri dan menepuk meja. "Iya! Itu benar aku! Aku memang bersamanya! Memangnya kenapa?!"
Anindya terbelalak, tidak menyangka suaminya akan mengakuinya dengan begitu mudahnya.
"Kamu... kamu mengakuinya?" tanya Anindya tercekat.
Raditya tersenyum sinis. Pria itu berpikir tidak ada gunanya berbohong lagi. Toh perusahaan sudah besar! Walaupun tanpa campur tangan Anin lagi, dia tidak akan kesulitan, karena dia sudah memiliki banyak mitra bisnis dari perusahaan besar sampai mancanegara.
"Karena kamu sudah tahu, untuk apa harus disembunyikan lagi? Sofia jauh lebih baik darimu! Dia masih muda, segar, dan tahu cara menghargai pria! Tidak seperti kamu yang sudah tua, dan bahkan tidak bisa punya anak" bentak Raditya.
PLAAKK!!
Suara tamparan yang begitu keras terdengar nyaring. Kepala Radit tertoleh. Wajahnya memerah padam, bukan karena sakit, tapi karena syok dan amarah yang memuncak.
"Kamu berani menamparku?!" geramnya.
"Kenapa tidak?! Kamu laki-laki tidak tahu diri!" balas Anindya tak kalah sengit.
Raditya mengusap pipinya sambil tertawa sinis, ia melangkah mendekat ke arah Anindya dengan wajah jumawa.
“Sadarlah posisimu, Anin. Kamu itu sudah tua, tidak akan ada lagi pria yang mau denganmu. Jadi lebih baik, terimalah Sofia! Anaknya bisa jadi anakmu juga! Kita bisa hidup bertiga!"
"Menurutmu begitu?" Anindya menyeringai. Air mata palsunya telah hilang. "Dulu, saat kita miskin, kamulah yang memintaku untuk menunda punya anak! Kamu bilang fokus dulu membangun usaha!”
"Tapi sekarang? Setelah kita sukses, kamu malah punya anak dari wanita lain, dan bahkan sekarang selingkuhanmu sedang hamil lagi.”
Anindya menatap mata suaminya dengan tatapan mematikan.
"Apa kamu pikir aku akan membiarkan wanita murahan itu dan anak-anak haram kalian menikmati hasil keringatku?! MIMPI!”
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣