Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Yuan ingin pergi kekelas. Tapi langkahnya terhenti karena Ersa.
"Yuan."
Yuan menoleh dengan malas.
"Apa?"
"Kemarin lo sakit ya? Sorry, gue gak sempet jenguk lo dirumah sakit."
Siapa yang pengen lo kerumah sakit? Yang ada lo tuh bakal ganggu gue sama Irine!
"Gak papa."
"Nih, buat lo. Jangan lupa dimakan ya." Ersa memberikan kotak bekal ke Yuan dengan tersenyum.
Yuan menatap kotak bekal itu. Ingin sekali ia mengambilnya dan langsung membuangnya ke tempat sampah.
"Makasih." Yuan mengambil kotak bekal itu.
Ersa senang bukan main ketika kotak bekalnya diterima oleh Yuan.
"Sama-sama."
"Gue kekelas." Ersa mengangguk.
"Jangan lupa dimakan ya."
[[]]
Irine ingin menyusul Secil dan Vinkan di kantin. Karena tadi, ia mampir sebentar di toilet. Karena sudah tidak tahan buang air kecil selama pelajaran.
"Agak-agaknya ada yang udah gak dibutuhin lagi nih. Udah dikasih hati malah minta jantung."
Irine menoleh ketika ia melihat Ersa dan kedua temannya tengah berdiri tak jauh dari toilet.
Irine berusaha untuk tidak memperdulikan ucapan Ersa.
"Tadi pagi, Yuan terima kotak bekal gue. Makasih ya, lo udah bantuin gue," ucap Ersa.
"Oh, kalau gitu bagus dong. Artinya Yuan bisa bersikap baik ke elo," balas Irine.
"Iyalah, mana mungkin Yuan gak akan tertarik sama Ersa. Udah cantik, pinter lagi." Cera menekan kata pintar saat berbicara. Seolah menyindir Irine yang bodoh.
Irine terdiam.
Ersa tersenyum tipis.
"Yaudah yuk, kita ke kantin. Pasti Yuan lagi makan kotak bekal gue," ucap Ersa seolah memanas-manasin hati Irine.
Mereka bertiga pergi meninggalkannya terlebih dahulu.
[[]]
"Lo darimana aja sih? Ditungguin juga dari tadi," kata Secil dengan kesal ketika Irine baru saja datang. Irine langsung mengambil tempat diantara mereka berdua.
"Tau nih, gue keburu laper juga."
"Kenapa kalian gak mesen makanan?" Irine menaruh kotak bekalnya dari dalam tas kecil.
"Lo bawa bekal?" tanya Secil.
Irine menyeringai. "Iya."
"Yaampun, Irine! Kalau tau lo bawa bekal, dari tadi kita berdua pesen makanan duluan," decak Secil.
"Udah sana pesen, Vin." Vinkan mengernyit.
"Kenapa gue? Lo aja sana."
Secil mendecak.
"Ck! Gue gak mood jalan."
Vinkan memutarkan bola matanya. Kemudian cewek itu beranjak dari tempatnya.
"Pesen sendiri."
Secil mendesis tapi ia juga ikut berdiri untuk memesan makanannya.
Irine hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Baru saja Irine ingin menyuapkan ke mulutnya, tiba-tiba tangannya diambil dan makanan itu bukan masuk ke mulutnya. Melainkan mulut Yuan!
"Yuan!" Yuan mengunyah makanan itu dan duduk didepan Irine.
"Barengan dong makanannya. Gue juga laper kali." Yuan mendekatkan kotak bekal Irine ke dirinya. Dan menyendok nasinya kembali.
"Yuan! Kok dimakan sih bekal gue? Gue kan juga mau makan," kesal Irine.
"Buat gue aja ya?"
"Gak! Lo kan udah ada bekal dari Ersa. Kenapa gak lo makan aja bekalnya?" tanya Irine.
Yuan menatap Irine.
"Darimana lo tahu kalau gue dapet bekal Ersa?"
"Tadi, Ersa yang bilang."
Yuan mendecak. Kemudian ia menaruh sendoknya kembali.
"Yuan."
Irine menoleh dan mendapati Ersa.
"Lho, kok lo makan kotak bekalnya Irine? Kotak bekal yang gue kasih ke lo mana?" tanya Ersa.
"Tuh, sama mereka." Tunjuk Yuan dengan dagunya pada Rega dan Jojo yang saling berebut kotak bekal itu.
Ersa menganga tak percaya. Kotak bekal yang harusnya dimakan oleh Yuan, tapi malah dimakan oleh dua orang cecunguk.
"Kok dimakan sama mereka?"
"Kenapa emangnya? Mereka laper, jadi gue kasih aja," jawab Yuan dengan santai.
"Tapi itu kan buat lo. Lo juga pasti kelaperan kan?" tanya Ersa.
"Kata siapa? Nih, gue lagi makan." Yuan menunjuk kotak bekal milik Irine yang sedang ia makan.
Ersa kesal setengah mati. Justru Yuan memakan makanan dari Irine.
Irine yang melihat Ersa kesal langsung menarik kotak bekal miliknya.
"Apaan sih, Yuan. Siapa bilang ini buat lo? Gue bawa dari rumah buat diri gue sendiri kok. Bukannya buat lo," ucap cepat Irine.
"Biasanya juga buat gue."
"Gak. Lo udah punya sendiri. Sana."
"Punya gue udah diambil sama Rega dan Jojo. Sekarang gue gak punya makanan."
"Kan lo bisa pesen makanan lain."
"Gue baru aja sakit, Irine. Lo mau gue sakit lagi? Hah?"
Ersa kesal setengah mati. Karena kehadirannya benar-benar tidak dianggap oleh kedua orang ini. Justru malah asik sendiri.
"Ya tap--" ketika Irine ingin membalas ucapan Yuan mendadak berhenti.
Irine menoleh ketika Ersa pergi begitu saja. Irine pun menabok lengan Yuan.
"Tuh kan, Ersa jadi pergi. Gara-gara lo nih. Udah dikasih bekal malah dikasih ke temen-temen lo."
"Lho, sama temen harus baik dong. Masa temen kelaperan sementara gue punya makanan gak dikasih ke mereka?"
"Ya tapi kan pikirin juga gimana perasaannya Ersa."
"Udah sih. Biarin aja. Ngapain lo perduliin dia. Udah sini bekalnya. Gue mau makan."
"Terus gue makan apa kalau bekalnya diminta lo?" tanya Irine dengan kesal.
"Buka mulut lo," titah Yuan pada Irine.
"Hah?"
"Katanya mau makan. Kalau gitu buka mulut lo."
"Bekas mulut lo gitu? Males."
"Kayak gak pernah inget aja waktu kita kecil."
"Apa?" Irine bertanya pada Yuan seolah ingin tahu apa yang ingin diucapkan Yuan selanjutnya.
"Setiap makan, justru lo yang selalu pengen pake sendok bekas gue. Biar ka--" Yuan berhenti bicara karena Irine yang kesal.
"Udah! Gak usah dilanjutin lagi ngomongnya! Gue pesen makanan lagi aja." Irine segera pergi dari hadapan Yuan.
Yuan yang melihat itu pun tersenyum senang. Karena ia berhasil menggoda Irine.
[[]]
"Secil, Vinkan," panggil Irine membuat si pemilik nama menoleh ke Irine.
"Kenapa?"
"Kenapa kalian gak balik ke meja lagi tadi?" tanya Irine dengan kesal. Karena jika mereka datang kan bisa membuat Yuan pergi.
"Tadi ada Yuan."
"Kenapa kalian gak dateng aja?"
"Tadi juga ada Ersa. Males lah kalau kita berdua gabung diantara suasana mencekam itu. Ntar yang ada malah kita berdua lagi yang kena sasarannya," jawab Secil, Vinkan mengangguk menyetujui.
"Ah gak asik lah kalian. Katanya sahabat sehidup semati. Masa cuman gitu aja langsung pilih menghindar."
"Rin, bukannya gitu. Kita berdua cuma gak pengen masalahnya tambah kacau aja," jawab cepat Vinkan.
"Iya-iya. Gue juga tahu kali. Lo gak usah seserius itu juga kali, Vin," jawab Irine.
"Tapi muka lo gak santai, bayem!"
Irine menyeringai.
"Kayak gak tau aja mukanya Irine gimana. Seseriusnya dia masih ada muka konyolnya juga," ucap Secil.
Vinkan menghadap ke Irine sepenuhnya ke belakang.
"Rin."
"Hm."
"Lo udah baikan sama Yuan?"
"Belom. Kenapa?"
Vinkan mendecak.
"Ck! Kenapa belom juga sih?"
"Kenapa sih, Vin? Biarin aja lah maunya mereka gimana."
"Rin, lo tau kan, kalau marahan lama-lama itu gak baik? Marahan lebih dari tiga hari aja itu udah dosa, Rin. Sedangkan lo?"
"Tiga minggu!" teriak Secil yang begitu semangat.
Irine mendecak kesal pada Secil.
"Ck! Gue udah capek. Biarin lah dia yang usaha buat minta maaf ke gue. Awalnya, kan dia duluan yang salah, bukannya gue."
"Ya salah lo juga lah. Siapa suruh lo ingkarin janji lo ke Yuan?"
Kadang Vinkan ini jujurnya terlalu jujur banget. Dan kadang sampai membuat Irine kesal.
"Ish, salah dia juga kenapa mintanya kayak gitu. Ya jelas gak mau lah gue."
"Lo yang gak mau jauhin Sastra atau emang lo yang pengen jauhin Yuan?" tanya Vinkan.
"Kenapa lo tanya gitu?"
"Gue cuma nanya."
"Rin, apa jangan-jangan lo udah mulai suka sama Sastra?" Kini Secil yang tanya.
"Mungkin."
[[]]
"Hai, Sas."
Sastra menoleh.
"Gue Secil kalau lo lupa," Umucapnya ketika melihat Sastra kebingungan.
Sastra menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tidak gatal sambil menyeringai.
"Sorry."
"Selow. Btw, lo mau pulang kan?" tanya Secil.
"Iya. Ini mau ke halte."
"Pulangnya bareng, boleh?"
Sastra mengangguk.
"Emang lo tinggal dimana?"
"Komplek perumahan mawar."
Sastra mengangguk.
"Berarti kita searah. Sambil jalan ke halte ya, supaya gak ketinggalan bis."
Secil mengangguk.
"Oh ya? Lo tinggal di gang melati bukan sih?"
"Iya. Kok lo tahu?"
"Hmm, itu. Kemarin gue gak sengaja ngelihat lo masuk ke gang itu."
Sastra langsung terdiam.
[[]]
Irine menatap sebal pada cowok yang tengah duduk di sofa itu.
"Lo ngapain sih kesini? Gak ada yang ngundang juga," ketus Irine.
"Gue mau ngajak lo main kerumah. Soalnya bunda kangen sama lo katanya."
"Emang bunda yang kangen atau lo yang kangen sama gue?" goda Irine ke Yuan.
Jessy terkekeh.
"Hmm, Yuan. Bisa aja bawa-bawa alasan kalau bunda kamu yang kangen. Aslinya mah, kamu yang kangen," ledek Jessy.
"Heh! Kegeeran banget sih jadi cewek! Enggak bun, emang bunda yang kangen sama Irine. Kan dia udah gak pernah main kerumah semenjak ada mainan baru," sindir Yuan.
"Heh! Emangnya Sastra itu mainan apa?"
"Gue gak sebut Sastra itu mainan. Kenapa lo bawa-bawa dia?"
Irine mendecak.
"Udah sana pergi. Gue bisa dateng sendiri kesana."
"Gak bisa! Gue harus pulang dengan lo yang ikut sama gue. Entar kalau gue pulang tanpa lo, yang ada gue yang diomelin," tolak Yuan dengan tegas.
"Nyebelin lo." Irine pergi ke kamar untuk mengganti bajunya.
Yuan tersenyum tipis melihat Irine yang kesal pagi-pagi ini.
"Yuan, bunda mau ngomong sama kamu."
"Iya, Bunda? Bunda mau ngomong apa?"
"Jangan tinggalin Irine ya meskipun kalian lagi berantem."
Yuan tersenyum.
"Iya, Bun. Kalau soal itu, Yuan udah tahu."
"Udah ayo! Gue udah siap nih!" Irine sudah turun ke bawah lagi.
Yuan beranjak begitupun juga dengan Jessy. Yuan menyalami punggung tangan Jessy.
"Kalau gitu, Yuan sama Irine keluar dulu ya, Bun."
Jessy mengangguk. "Iya. Kalian hati-hati ya."
"Irine pamit, Bun. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Lo ngomong apa sama bunda gue?" bisik Irine.
"Bukan apa-apa."
"Jangan bohong."
"Mungkin tentang masa depan kita berdua," ucap asal Yuan.
Irine menabok lengan Yuan karena kesal. Pasalnya, Yuan tidak bisa serius.
"Tau ah, males ngomong sama lo lagi "
Jessy tersenyum ketika ia sempat melihat perdebatan dan ucapan Yuan.
"Ada-ada aja nih Yuan."
To Be Continued
Nih yang pengennya Irine sama Yuan. Mana suaranya?
Baikan atau gak nih?
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung