Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Peluit Master Johan menggema membelah riuh rendah penonton di tribun lapangan tanding. Di seberang arena, tiga orang mahasiswa baru dari faksi Ninja sudah berdiri dengan posisi siaga. Sang ketua, Rian—yang wajahnya mirip sekali dengan Tian namun tanpa masker—menatap Joni dengan senyuman meremehkan. Dua belati pendek di kedua tangannya berputar dengan lincah.
"Jadi ini Brawler yang bikin sepupu gue tengsin kemarin?" sindir Rian, suaranya sengaja dikeraskan. "Level 17 hasil gendongan party mah jangan bangga dulu, Jon. Di depan kecepatan faksi Ninja, badan tebel lo itu cuma bakal jadi samsak bernyawa!"
Joni tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya melangkah maju ke garis depan arena, memasang kuda-kuda rendah dengan Iron Gauntlet menyilang di depan dada. Di belakangnya, Gondrong sudah bersiap dengan dahi kinclongnya, sementara Laras mulai memutar tongkat Qigong-nya dengan ritme konstan.
"Laras, Haste sekarang!" perintah Joni pendek.
"Siap, Kak! Qigong Art: Haste!"
FWOOOSSHHH!
Aura merah muda keunguan langsung meledak di bawah kaki Joni dan Gondrong, memberikan dorongan kecepatan instan.
"Maju lo semua! Jangan cuma modal bacot kayak kakak lo!" tantang Gondrong memprovokasi.
"Sombong! Rasain nih! Shadow Step!" Rian berteriak. Tubuhnya mendadak kabur, menyatu dengan bayangan sore dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah lini belakang, mengincar Laras sang support. Dua anak buah Rian juga bergerak memutar, mencoba menjepit Joni.
"Hehehe... mau lewat mana lo? Ankle Crush!" Gondrong tidak tinggal diam. Dengan efek Haste, ia melesat memotong jalur salah satu anak buah Rian. Kaki kanannya yang dilapisi aura magis biru berputar horizontal, menghantam tepat di pergelangan kaki sang ninja.
BLEDAKK!
"AGHH?!" Ninja tersebut memekik kencang saat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Efek Slow 40% langsung aktif, membuat gerakannya yang tadinya secepat angin mendadak lemot seperti siput berjalan.
Sementara itu, Rian berhasil lolos dari Gondrong dan sudah melompat di udara tepat di atas Laras. Belatinya memancarkan cahaya merah pekat—tanda skill Critical Strike tingkat tinggi siap ditancapkan. "Mati lo, Healer!"
"Laras, tetep di tempat!" teriak Joni.
Joni memajukan bahunya, mengambil pijakan kuat hingga paving blok arena sedikit retak, dan memusatkan seluruh poin Defense rompi badak tanahnya menjadi daya dorong murni. Listrik keemasan berderit hebat di lengan kanannya.
"Tokkan Punch!!!"
BOOOMMMMM!!!
Tubuh Joni melesat vertikal ke atas bagai roket, memotong jalur serangan Rian di udara. Kecepatan Tokkan Punch yang dikombinasikan dengan Haste milik Laras menciptakan daya dorong yang tak terbendung.
BLAAASSTTT!!!
"Apa-apaan pertahanan gila ini?!" Rian terbelalak panik. Belatinya yang bermuatan Critical menghantam Iron Gauntlet Joni, namun bukannya menembus, belati itu justru bergetar hebat sebelum akhirnya patah. Hantaman bahu dan pukulan Joni telak mengenai dada Rian di udara.
GEBBUAAKK!
Tubuh Rian terpental hebat ke udara, berputar-putar tiga kali sebelum jatuh berdebam di tengah arena dengan efek pusaran kuning di atas kepalanya. Stun selama 3 detik penuh.
"Sekarang, Ndrong! Habisin!" seru Joni yang mendarat dengan mulus berkat tumpuan kaki Brawler-nya.
"Hehehe... dahi baja beraksi! Head Crush!" Gondrong melompat ke arah Rian yang masih pusing, menghantamkan jidatnya dengan kekuatan penuh.
JEDDUAARRR!
Rian langsung pingsan di tempat dengan indikator HP di jam tangannya yang mendadak berubah merah kritis, menandakan kekalahan telak. Dua anak buahnya yang melihat ketua mereka ditumbangkan dalam waktu kurang dari satu menit langsung menurunkan senjata mereka dengan tangan gemetaran, menyerah.
Master Johan meniup peluit panjang. "Pemenang: Tim Joni!"
Tribun penonton yang tadinya bising mendadak senyap, sebelum akhirnya ledakan sorak-sorai dari anak-anak Faksi Brawler membahana. Di tepi lapangan, Joni menurunkan tangannya, menoleh ke arah Laras dan memberikan jempol mantap
Gila... itu tadi beneran mahasiswa baru Jurusan Brawler?"
"Sekali tabrak langsung patah belatinya si Rian? Padahal Rian kan dapet sokongan senjata dari kakaknya!"
Bisik-bisik di tribun penonton masih terus berdengung bahkan setelah tubuh Rian yang pingsan digotong oleh tim medis kampus ke tepi lapangan. Mahasiswa dari Faksi Ninja yang tadinya duduk paling depan dengan muka angkuh, sekarang mendadak sibuk memalingkan muka, pura-pura main HP atau mendadak amnesia.
Joni mengembuskan napas panjang, merapikan rompi badak tanahnya yang kini kembali berasap tipis akibat gesekan energi Tokkan Punch. Efek sisa benturan tadi masih membuat lengannya terasa kesemutan, namun rasa puas yang mengalir di dadanya jauh lebih besar.
DENG!
[SISTEM: LATIHAN TANDING SELESAI]
Anda memenangkan duel resmi tingkat satu.
Poin Akademi diperoleh: +150 Poin.
"Hehehe... Jon, lihat tuh muka anak buahnya si Tian yang di atas tribun. Udah kayak cucian belum diperas, kusut bener!" Gondrong merangkul pundak Joni sambil tertawa lepas, dahi kinclongnya masih memancarkan sisa-sisa aura biru Head Crush.
Laras berjalan mendekat, menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Joni dengan binar mata yang campur aduk antara lega dan kagum. "Kak Joni hebat banget. Timing Tokkan Punch Kakak tadi pas di udara bener-bener menutup semua celah serangan Critical Rian. Kalau telat sedetik aja, mungkin tongkat aku udah patah duluan."
"Itu juga karena buff Haste dari lo, Ras. Tanpa tambahan kecepatan gerak tadi, gue kagak bakal nyampe buat motong jalurnya di atas," balas Joni jujur sembari menyengir kuda.
Di tengah kegembiraan mereka, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat dari arah belakang. Ketiganya langsung menegakkan posisi berdiri begitu melihat Master Johan berjalan menghampiri dengan kapak raksasa yang masih bertengger santai di pundaknya.
Aura intimidasi dari instruktur berlevel tinggi itu membuat mahasiswa di sekitar lapangan mendadak bungkam.
Master Johan berhenti tepat di depan Joni. Mata elangnya menatap tajam dari atas ke bawah, memeriksa kondisi fisik Joni pasca-benturan besar tadi.
"Tidur dua jam di kelas saya ternyata ada hasilnya juga, Joni," ucap Master Johan, suaranya berat dan datar, namun ada nada kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.
"Eh... itu, maaf soal yang di kelas tadi, Master," Joni menggaruk tengkuknya, mendadak teringat kembali takdir sate emasnya yang memalukan.
"Saya tidak peduli kau mimpi sate atau mimpi buruk, selama kau bisa mempraktikkan koordinasi Defense-Offensive sebersih tadi di lapangan," potong Master Johan tegas. Beliau kemudian melirik Gondrong dan Laras. "Kerja sama party kalian bertiga sudah di atas rata-rata mahasiswa baru. Tapi jangan senang dulu."
Master Johan menekan sebuah tombol di jam tangan komandonya, memproyeksikan sebuah jadwal digital besar di tengah arena.
[PENGUMUMAN RESMI ACADEMI: EXHIBITION MATCH SENIN DEPAN]
Format: Survival 3 vs 3 (Sistem Gugur)
Hadiah Utama: Akses ke Vault Senjata Tier 2 & 10.000 Poin Akademi.
"Senin depan, di Exhibition Match, kalian tidak akan menghadapi lawan sekelas Rian lagi. Faksi-faksi besar dari Jurusan Swordman kelas atas dan Black Mage elit bakal turun penuh. Dan denger-denger..." Master Johan menggantung kalimatnya, menatap Joni dengan senyum penuh arti. "...Tian si Ninja Senior itu dikabarkan bakal jadi mentor langsung untuk tim unggulan mereka demi membalas kekalahan hari ini."
Mendengar nama Tian, Joni justru tidak gentar. Pikirannya langsung melayang pada wejangan Paman Remon semalam di bawah atap tenda yang bocor. 'Fokus naikin level lo secepatnya... karena bumi bakal butuh tameng sekuat bapak lo.'
"Biarkan mereka maju semua, Master," jawab Joni, pandangannya lurus dan mantap tanpa keraguan. "Rompi badak tanah saya masih sanggup menahan lebih banyak belati."
Master Johan terkekeh rendah, sebuah pemandangan yang membuat mahasiswa lain merinding karena jarang terjadi. "Bagus! Pertahankan mental bebal khas Brawler itu. Sekarang bubar! Bersihkan badan kalian, besok kita mulai latihan dengan beban dua kali lipat!"
"SIAP, MASTER!"
Saat mereka berjalan meninggalkan arena menuju ruang ganti, Gondrong menyenggol lengan Joni lagi. "Hehehe... Jon, habis ini kita harus rayain lagi kagak nih? Tapi kali ini jangan soda baskoman ya, perut gue masih bunyi keplek-keplek dari semalem."
Laras ikut tertawa renyah di samping mereka. "Iya, Kak Joni. Lagian sore ini kita harus buru-buru pulang kan? Kakak masih punya utang nambal sisa atap rumah yang bolong dijebol Paman Remon."
Joni langsung menepuk jidatnya sendiri. "Aduh... bener juga! Gue lupa kalau rumah gue sekarang bentuknya mirip planetarium terbuka. Ayo buruan cabut, Ndrong, Ras! Sebelum malam ini hujan gede lagi dan kasur gue berubah jadi empang!"