"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Sekutu Tak Terduga
Keheningan yang menggantung di paviliun kaca Megamendung setelah konfrontasi berani Ayana terasa begitu pekat, seolah-olah detak jarum jam dinding pun enggan bersuara. Kabut gunung di luar kaca semakin tebal, bergulung-gulung menyelimuti pohon-pohon pinus, menciptakan ilusi bahwa ruangan ini terisolasi sepenuhnya dari dunia luar.
Hermawan Pradipta masih terpaku di atas kursi roda elektriknya. Tatapan matanya yang sedingin es tidak beralih sedikit pun dari wajah Ayana. Tangannya yang dipenuhi kerutan usia tua perlahan bergerak, bukan untuk menekan tombol panggil pengawal untuk mengusir Ayana, melainkan untuk meraih cangkir tehnya sendiri.
Pria tua itu menyesap teh krisan emasnya dengan gerakan yang sangat lambat, mengumpulkan kembali sisa-Sifat otoritasnya yang sempat terguncang oleh kelancangan sang dokter muda.
"Kamu punya nyali yang besar, Dokter Ayana," suara Hermawan akhirnya keluar, kali ini tanpa nada kemarahan, digantikan oleh sebuah nada datar yang justru terasa jauh lebih berbahaya. "Sangat besar. Terakhir kali ada orang yang berbicara dengan nada sekasar itu di depan saya... orang itu kehilangan seluruh aset perusahaannya dalam waktu dua puluh empat jam."
Ayana tidak bergeming. Ia meluruskan posisi blazer abu-abu gelapnya, mempertahankan postur tubuh yang tegak dan profesional. "Saya tidak memiliki aset perusahaan untuk Anda sita, Tuan Besar. Satu-satunya aset yang saya miliki adalah surat izin praktik dokter saya dan janji sumpah medis saya. Dan kedua hal itu tidak berada di bawah kendali bursa efek Pradipta Group."
Hermawan mengeluarkan tawa kecil yang kali ini terdengar lebih lepas, meskipun gema tawanya terdengar agak parau. "Dokter Hendra benar. Kamu bukan cuma obat yang keras untuk Arka, tapi kamu adalah racun bagi siapa saja yang mencoba mengendalikanmu menggunakan kekuasaan."
Pria tua itu kemudian menekan sebuah tombol di lengan kursi roda elektriknya. Kursi itu bergerak mundur beberapa senti, lalu berputar menuju sebuah meja kecil di sudut paviliun yang di atasnya terdapat sebuah papan catur yang terbuat dari batu giok hitam dan marmer putih. Hermawan meraih salah satu bidak catur—pion putih—lalu memutarnya di antara jemarinya.
"Kamu menuduh saya dan keluarga saya membiarkan trauma Arka membusuk," ucap Hermawan tanpa menoleh pada Ayana, matanya fokus pada bidak catur di tangannya. "Kamu mengira saya hanya peduli pada angka-angka di laporan keuangan perusahaan. Tapi tahukah kamu, Ayana... apa yang terjadi pada Pradipta Group jika Arkananta tumbang secara mental belasan tahun lalu?"
Hermawan membalikkan kursi rodanya kembali menghadap Ayana, tatapan matanya mendadak dipenuhi oleh beban sejarah yang teramat berat. "Saat ibunya meninggal dalam kecelakaan itu, ayah Arka—anak kandung saya—mengalami depresi berat hingga tidak mampu lagi memimpin. Di saat yang sama, para pesaing bisnis kami bergerak seperti kawanan hiu yang mencium bau darah di lautan. Mereka mencoba meretas sistem kami, memboikot saham kami, dan mencoba meruntuhkan imperium yang saya bangun selama setengah abad."
Pria tua itu meletakkan pion putih itu di atas meja marmer di depan Ayana dengan ketukan yang cukup keras. TAK.
"Arka adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa," lanjut Hermawan, suaranya merendah namun bergetar penuh penekanan. "Saya terpaksa mendidiknya dengan tangan besi. Saya memaksanya memakai jas formal di usia remaja, menyeretnya ke ruang rapat pleno, dan menuntutnya berpikir seperti seorang pemenang tanpa celah. Ya, saya memberinya obat penenang dari Swiss agar dia tidak gemetar di depan para investor. Karena jika dunia tahu bahwa pewaris Pradipta Group adalah seorang anak remaja yang histeris setiap kali mendengar suara sirine ambulans... kami semua akan hancur, Ayana. Termasuk Arka sendiri."
Ayana mendengarkan cerita itu dengan saksama. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari dinasti Pradipta. Di balik kemegahan dan keangkuhan mereka, ternyata ada sejarah kelam tentang bertahan hidup di tengah kejamnya dunia korporasi. Namun, pemahaman itu tidak mengubah prinsip klinis Ayana.
"Saya mengerti posisi Anda saat itu, Tuan Besar," jawab Ayana, nadanya melunak sedikit, memberikan rasa empati namun tetap tegas. "Sebagai seorang kepala keluarga dan pendiri bisnis, keputusan Anda mungkin logis secara finansial. Namun, sebagai seorang dokter, saya harus memberi tahu Anda bahwa metode 'menutup luka dengan plester emas' itu ada batas kedaluwarsanya. Dan batas itu sudah habis sekarang."
Ayana mengetuk meja dengan ujung jarinya, tepat di samping pion putih milik Hermawan. "Arka sudah berusia tiga puluh satu tahun sekarang. Dia bukan lagi remaja empat belas tahun yang rapuh. Dia adalah salah satu CEO paling berpengaruh di Asia Tenggara. Dia tidak perlu lagi bersembunyi di balik obat penenang. Tubuh dan jiwanya sudah kelelahan menahan beban kepalsuan itu, Tuan Besar. Jika Anda terus memaksanya menggunakan metode lama Anda, maka suatu hari nanti, benteng pertahanan yang Anda banggakan itu akan runtuh sepenuhnya dari dalam akibat serangan jantung atau kerusakan syaraf kronis."
Hermawan menatap pion catur itu, lalu beralih menatap wajah Ayana yang dipenuhi oleh keyakinan murni. Untuk beberapa saat, hanya ada suara gemercik air mancur dari luar paviliun kaca yang memecah keheningan.
Perlahan, Hermawan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan bahu yang tampak sedikit turun—sebuah gestur langka yang menunjukkan bahwa sang naga tua akhirnya melepaskan sebagian dari ketegangannya.
"Jadi... kamu benar-benar yakin bisa menyembuhkannya?" tanya Hermawan, kali ini suaranya terdengar seperti seorang kakek biasa yang sedang mencemaskan masa depan cucunya. "Tanpa membuat kinerjanya di perusahaan menurun?"
"Saya jamin itu," jawab Ayana mantap. "Terapi paparan bertahap yang saya lakukan memang akan terasa menyakitkan di awal, seperti yang Anda dengar dari laporan mata-mata Anda kemarin. Namun, setiap kali Arka berhasil melewati satu tingkat volume suara sirine itu, otaknya akan membangun jalur syaraf baru yang menyadari bahwa dia sudah aman. Sesi terapi kami tidak akan mengganggu jam kerjanya. Saya yang akan menyesuaikan diri dengan jadwal gilanya."
Hermawan terdiam selama semenit penuh, menimbang-nimbang setiap perkataan Ayana dalam kalkulasi otaknya yang masih sangat tajam. Akhirnya, pria tua itu menyandarkan punggungnya di kursi roda, lalu menarik sebuah laci kecil di bawah meja marmer.
Ia mengeluarkan selembar kertas tebal berlogo resmi keluarga Pradipta yang telah ditandatangani di bagian bawahnya menggunakan stempel lilin merah khas milik Hermawan sendiri. Dokumen itu disodorkannya ke hadapan Ayana.
Ayana mengerutkan keningnya, teringat pesan peringatan dari Arka lewat pesan singkat tadi: 'Jangan menandatangani dokumen apa pun yang beliau sodorkan.'
"Buka dan baca dulu, Dokter. Jangan menatap saya seperti saya sedang menyodorkan kontrak penjualan jiwamu kepada iblis," sindir Hermawan dengan senyuman tipis yang kali ini terlihat lebih manusiawi.
Ayana meraih kertas tersebut dan membacanya. Matanya perlahan melebar saat membaca baris demi baris teks di dalamnya. Itu bukan surat pemecatan, bukan pula surat perjanjian pranikah gila seperti yang ada di dalam novel-novel drama, melainkan selembar Surat Otoritas Medis Penuh.
Di dalam dokumen itu tertulis bahwa Hermawan Pradipta, sebagai pemegang saham mayoritas mutlak dan kepala keluarga Pradipta, memberikan hak veto medis sepenuhnya kepada Dokter Ayana Sheenaz atas kesehatan Arkananta Pradipta. Artinya, jika Ayana menyatakan Arka harus beristirahat atau menjalani terapi, tidak ada satu pun dewan komisaris, anggota keluarga, atau pihak luar mana pun yang boleh menginterupsi atau memaksa Arka bekerja. Bahkan, dokumen itu memberikan akses penuh bagi Ayana untuk menggunakan fasilitas medis dan jet pribadi keluarga jika diperlukan dalam kondisi darurat.
"Ini..." Ayana menatap Hermawan dengan pandangan tidak percaya.
"Ini adalah bukti bahwa saya tidak sebodoh yang kamu kira, Dokter Ayana," sahut Hermawan tenang. "Saya tahu kapan harus menggunakan pedang, dan saya tahu kapan harus menyerahkan kendali kepada seorang ahli bedah. Jika kamu mengklaim dirimu mampu menyembuhkan cucu saya, maka saya akan memberimu senjata terbaik untuk melakukannya. Jangan biarkan ada orang lain di perusahaan yang mengganggumu, termasuk paman-paman Arka yang bermata culas itu."
Hermawan memajukan kursi rodanya sedikit. "Namun ingat perjanjian ini, Ayana. Hak veto ini datang dengan tanggung jawab yang setara. Jika dalam waktu tiga bulan ke depan saya melihat kondisi mental Arka memburuk atau dia mengalami kegagalan dalam memimpin akibat terapimu... maka lembaran kertas ini akan berubah menjadi surat pencabutan izin praktik medismu di seluruh wilayah Asia. Apakah kamu berani menerimanya?"
Ayana menatap lembaran kertas tebal di tangannya, merasakan bobot taruhan yang baru saja diletakkan di atas pundaknya. Tiga bulan. Sebuah tenggat waktu yang sangat ketat untuk menyembuhkan trauma PTSD yang sudah mengakar selama belasan tahun. Risiko kehilangan izin praktik adalah akhir dari impian hidupnya yang ia bangun dengan tetesan keringat dan air mata sejak masa kuliah.
Namun, bayangan wajah Arka yang mengencang menahan panik di dalam mobil, bayangan genggaman tangan pria itu yang gemetar di atas sofa penthouse, dan binar tulus saat pria itu tertawa lepas kemarin sore mendadak berputar di benak Ayana. Pria itu butuh bantuan. Dan tidak ada orang lain yang berani berdiri di sampingnya selain dirinya.
Ayana menarik pulpen gel hitam dari dalam tas jinjingnya. Dengan gerakan yang mantap tanpa ragu sedikit pun, ia membubuhkan tanda tangannya di atas garis nama Dokter Ayana Sheenaz, tepat di samping tanda tangan sang naga tua.
Gores.
"Kontrak diterima, Tuan Besar Hermawan," ucap Ayana sembari mengembalikan dokumen tersebut dengan senyuman penuh kemenangan. "Bersiaplah untuk melihat cucu Anda kembali menjadi pria yang utuh tanpa bayang-bayang obat penenang Swiss lagi."
Hermawan mengangguk puas, sebuah binar penghormatan yang tulus akhirnya terpancar dari mata tuanya. "Bagus. Sekarang, selesaikan teh krisanmu. Mobil Maybach di luar akan mengantarmu kembali ke Jakarta. Dan sampaikan pada cucu saya yang kaku itu... berhentilah menyuruh tim IT-nya meretas sistem GPS pelacak kediaman saya. Sinyal pengacak di Megamendung ini terlalu canggih untuk teknologi kantornya."
Ayana tidak bisa menahan tawa renyahnya mendengar hal itu. Ternyata, konspirasi malam ini berakhir dengan terbentuknya sebuah aliansi baru yang teramat tak terduga antara sang dokter rewel dan sang naga tua, bersiap untuk membawa kesembuhan bagi sang CEO yang masih tidak tahu apa-apa di penthouse-nya yang mewah. Perjalanan menuju babak-babak berikutnya dipastikan akan menjadi jauh lebih seru dan penuh kejutan.
Bersambung.
💪💪