Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUAPULUHTIGA
Suara piring yang saling beradu terdengar sangat mengganggu di telinga Arun, "udah gue bilang, biar gue aja nanti!" ucap Arun sambil menghentikan kegiatannya yang sedang mengelap meja makan.
Setelah selesai sarapan tadi, Bio yang terakhir menghabiskan makanannya. Dan saat itu lah dia berinisiatif untuk membantu Arun karena melihat begitu lumayan banyak piring kotor.
Ditegur oleh Arun seolah angin lalu bagi Bio, "Ishh! Stop. Lo gak kerja?" tanya Arun yang sudah berdiri disamping Bio.
"Libur" balas Bio tanpa menghentikan kegiatannya.
"Kenapa?".
Mendengar pertanyaan Arun membuat Bio meletakan piring yang ada ditangannya, "terserah gue lah, lagian gue bosnya" balas Bio.
Arun memutar bola matanya malas, "ckkk, nyesel gue tanya!" gumam Arun.
"Awas lo! Biar gue yang lanjutin" usir Arun sambil menggeser tubuh Bio.
Bio yang tidak memasang kuda-kuda yang kuat saat ini dengan mudah bergerak menjau dari depan wastafel tersebut, "eh, eh. Ini kan kerjaan gue" protes Bio.
"Males gue dengernya. Berisik!".
Bio hanya bisa menatapnya lalu memilih mengalah. Lagian piring-piring tersebut hanya tinggal dibilas aja. Bio memilih mendudukan diriny kembali di sofa depan tv, namun tanpa menghidupkan tvnya.
Sepuluh menit waktu berlalu, akhirnya Arun selesai dengan pekerjaannya. Dan selama itu juga Bio hanya diam duduk termenung. Arun berjalan santai untuk masuk ke dalam kamarnya kembali.
"Lo gak ke kampus?" tanya Bio sambil melihat ke arah Arun.
"Hari ini gak ada kelas. Oh iya gue masak abis mandi aja, soalnya gerah. Gak nyaman" Arun sengaja mengatakan lebih dulu supaya Bio tidak memanggil dirinya nanti.
Arun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, "ada yang mau gue bicarain. Lo ada waktu? Sebentar" ucap Bio.
"Ngomong apa?" tanya Arun.
"Sambil duduk boleh?" ujar Bio.
Arun mengerutkan keningnya, lagi-lagi Bio berkata sopan. Ya karena ada maunya, pikir Arun. Tanpa menunggu lama Arun langsung menuju sofa dan duduk saling berhadapan dengan Bio namun terpisah jarak yang lumayan jauh.
Dari ujung ke ujung sofa tersebut.
"Harus sejauh ini?" tanya Bio.
"Langsung aja, jangan banyak mau!" protes Arun.
Bio menghela napasnya lalu tetap memajukan posisinya, karena tidak nyaman bagi Bio untuk mengobrolkan hal sepenting ini dengan posisi seperti itu.
"Gue mau kita ubah nama panggilan" ujar Bio.
"Kan itu udah pernah dibahas, dan setuju kan. Apa lagi?" tanya Arun.
"Beda. Gue mau kita lakuin itu ada atau tanpa orang lain diantara kita".
"Maksudnya?"
Arun tidak mengerti apa yang sebenarnya Bio inginkan saat ini. Bukankah perjanjian itu sudah tidak ada pro kontra lagi. Namun kenapa sekarang beda kembali?.
"Demi norma kesopanan yang tetap terjaga, gue mau lo panggil gue, kakak" ujar Bio.
"WHAT?" respon Arun dengan wajah terkejutnya.
Bio menganggukan kepala, "kenapa? Karena gue lebih tua dari lo! Dan supaya lo itu gak kagok gitu waktu ada orang lain. Jadi harus dibiasakan" jelas Bio.
"Enggak! Kita cuma beda tiga tahun" tolak Arun.
"Ya tetap beda. Apalagi sekarang gue suami lo!" balas Bio.
"Tadi lo bilang norma kesopanan, kalo gitu lo mau panggil gue apa? Seandainya gue panggil lo dengan embel-embel 'kak' itu" tanya Arun balik.
Bio hanya bisa diam sambil menatap Arun, "Arun" balas Bio.
Arun berdecih sambil memalingkan wajahnya, "setidaknya, gak pake lo. Lebih enak didenger juga" Bio berusaha memberikan alasan.
Pagi ini, muak sudah Arun harus melewati perdebatan semacam ini.
"Oke, gue panggil lo, 'kak'. Tapi gue gak maksa lo buat ubah penggilan lo ke gue. Itu terserah lo, gue lakuin ini karena lo lebih tua dari gue. Dan gue hormati itu" Setelah mengatakan itu Arun langsung bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Ting! Tong!
Bio yang masih duduk ditempatnya langsung melihat ke arah pintu. Bio memutuskan untuk langsung menuju pintu dan melihat siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini.
Bio membuka pintu dan betapa terkejutnya saat melihat sepasang manusia berdiri dengan pakaian rapi sambil menelisik penampilannya dan beberapa sudut rumah ini.
"Bener dugaan saya, kamu tidak ke cafe?" tanya Broto saat pertama kali melihat sang anak.
Broto dan Nita. Tanpa sepengetahuan Bio dan Arun mereka datang mengunjungi rumah tersebut, "mama sama papa kok bisa ada disini?" tanya Bio dengan wajah gugup.
"Kalau ada tamu, suruh masuk dulu. Baru kamu bisa tanya-tanya" ujar Broto.
Seketika Bio langsung menyingkir dari tengah pintu tersebut, "maaf pah, silahkan" Bio mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk. Broto melangkah lebih dulu sedangkan Nita, sang mama melangkah menghampiri Bio sambil mengelus punggung anak bungsunya tersebut dengan senyuman yang diberikan untuk Bio.
Bio pikir kedua orang taunya akan duduk di sofa rumah mereka layaknya tamu. Namun ternyata salah besar, mereka berdua berjalan hingga berhenti tepat di meja makan.
"Papa mau makan?" tanya Bio.
Nita langsung melangkah maju mendekati meja tersebut, "meja kamu kosong. Kamu belum makan?" tanya Nita pada Bio.
"Arun dimana?" tanya Broto.
Dalam hati Bio, ingin sekali rasanya untuk mengumpat. Kenapa dalam percakapan mereka bertiga tidak ada jawaban yang didapat melainkan pertanyaan kembali yang terlontar. Entah siapa yang akan memberikan jawabannya.
"Arun lagi mandi, kita berdua baru selesai makan dan beres-beres" ujar Bio.
"Kita?" tanya Nita dengan raut wajah bingung.
Bio menganggukan kepala tanpa ragu, "sejak kapan kamu beres-beres? Itukan harusnya tugas istri kamu. Emang dia ngapain aja, sampai harus kamu ikut beres-beres juga?" tanya Nita dengan menggebu-gebu.
Broto langsung menarik kursi untuk dia duduki, "biar aja mah, biar Bio itu jadi orang yang bertanggung jawab" balas Broto.
"Loh! Gak bisa gitu dong. Anak saya kan tugasnya mencari nafkah, itu kan tugasnya istri!" protes Nita.
Nita ikut menarik kursi disamping Broto membuat Bio hanya bisa terdiam sambil berdiri memperhatikan keduanya.
"Sekarang mama tanya, papa pernah beres-beres rumah?" tanya Nita seolah mengintrogasi sang suami.
Broto terdiam, tidak memberikan jawaban apapun. "Nah! Enggakan. Apa papa jadi manusia yang gak bertanggung jawab? Enggak juga kan!" ucap Nita.
"Kamu juga Bio! Jadi laki-laki itu harus tegas. Jangan mau nak di suruh mengerjakan pekerjaan perempuan!" Nita menatap Bio dengan wajah kesalnya.
"Tapi mah ..."
"Gak ada tapi-tapian ya Bio! Panggil istri kamu ke sini" ujar Nita kembali memotong perkataan Bio yang berniat untuk menjelaskan pada sang mama.
Krek!
"Mah, pah" sapa Arun yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya sambil menyapa.
Bio yang terkejut langsung melihat ke arah Arun. Sejak kapan Arun berada di pintu? Apakah Arun mendengar ocehan Nita?. Pertanyaan itu lah yang muncul di benak Bio saat ini.
Arun melangkah lalu mencium tangan Broto dan Nita secara bergantian, "maaf Arun gak nyambut. Soalnya tadi lagi mandi" ucap Arun.
Broto hanya tersenyum seolah mengatakan tidak masalah dengan hal itu sedangkan Nita sudah memasang wajah kesalnya pada Arun, "kamu gak masak?" todong Nita langsung pada Arun.
Arun melihat ke arah Bio, namun Bio hanya melihatnya sekilas. "Buat sarapan tadi Arun masak mie instan mah" balas Arun sambil tersenyum.
"Anak saya kamu kasih makan mie instan? Astaga tuhan!" Nita langsung berdiri sambil mencoba mengipasi wajah dengan tangannya.
"Mah, udah lah. Toh gak setiap hari juga" ujar Broto mencoba menenangkan situasi saat ini.
"Papah tau dari mana gak setiap hari? Siapa tau dari awal mereka menikah dan pindah kesini, Bio makannya gak benar" jelas Nita.
"Ehmm, enggak kok mah. Baru hari ini, kak Bio makan mie instan. Biasanya Arun masak terus, tapi tadi kehabisan bahan di kulkas" Arun mencoba meluruskan kesalah pahaman pagi ini.
"Kenapa kamu gak belanja? Kan banyak didekat sini supermarket. Dasar alasan aja kamu ini!" Nita mulai menunjukan ketidak sukaannya pada Arun secara terang-terangan.
Arun seolah terpojok saat ini, tapi Bio hanya diam dan tidak berniat menjelaskan apapun untuk membantunya saat ini, "Cukup mah! Kita kesini bukan mau buat keributan remeh seperti ini!" Broto mulai mengeluarkan suara bariton nya.
Mendengar sang suami mulai meninggikan suara Nita mencoba mengontrol emosinya dan duduk kembali, "belain aja terus! Menantu kesayangannya" gumam Nita yang bisa didengar jelas oleh Arun.
Arun merasa tidak enak hati dengan hal yang terjadi saat ini, "Arun minta maaf mah, Arun janji gak akan melakukannya lagi" ucap Arun sambil menundukan kepalanya.
"Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah"
Arun langsung mengangkat kepalanya, kali ini Bio mengeluarkan suara.
"Mah, Bio yang minta buat Arun masak mie instan. Ini rumah tangga Bio sama Arun jadi mamah sama papah gak berhak ikut campur" jelas Bio.
Arun yang masih menatap Bio langsung mengedipkan matanya beberapa kali, "sambet apa nih orang?" gumam Arun.
"Kamu udah mulai menerima perjodohan ini?" tanya Broto.
Bio terdiam kembali. Seolah lidahnya kelu untuk sekedar berucap. Sedangkan Arun malah ikut penasaran dengan apa yang akan keluar dari mulut Bio.
Tbc.
Apa ya kira-kira jawabannya?