"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Aroma Pengkhianatan di Ruang Kerja
Bab 9: Aroma Pengkhianatan di Ruang Kerja
Sore itu, suasana Rumah Makan "Rasa Hana" Cabang Satu tampak begitu sibuk. Asap mengepul dari panggangan ayam di area belakang, membawa aroma bumbu rujak yang gurih ke udara. Namun, di dalam ruang administrasi yang terletak di lantai dua restoran, suasananya justru terasa tegang.
Adrian duduk di kursi kebesarannya, menatap buku catatan tebal bersampul kulit yang baru saja diserahkan oleh ibunya tadi pagi. Di hadapannya, berdiri Pak Joko, kepala koki loyal yang sudah ikut merintis bisnis ini bersama Hana sejak mereka masih menggunakan warung tenda di pinggir jalan.
"Pak Joko, ini resep bumbu inti yang sudah ditulis langsung oleh Hana," ujar Adrian sembari menyodorkan buku tersebut ke depan Pak Joko. "Mulai besok, semua cabang harus mengikuti takaran gramasi yang ada di buku ini. Tidak boleh ada yang mengira-ngira lagi seperti kemarin. Aku mau rasanya seragam dan standar di ketiga cabang kita."
Pak Joko menerima buku itu dengan ragu. Ia membuka halaman pertama, membaca tulisan tangan Hana yang rapi. Sebagai koki senior, dahinya langsung mengernyit saat melihat angka-angka takaran yang tertulis di sana. ada sesuatu yang terasa janggal pada jumlah ketumbar dan asam jawa yang tercantum, namun ia menahan diri untuk tidak langsung memprotes.
"Mas Adrian... apa Mbak Hana sendiri yang menyerahkan ini?" tanya Pak Joko dengan nada hati-hati, mencoba memancing informasi. "Sebab, setahu saya, Mbak Hana biasanya selalu mencampur bumbu inti ini sendiri di dapur pusat sebelum didistribusikan ke cabang lain."
Wajah Adrian mendadak mengeras, tidak suka dipertanyakan oleh bawahannya. "Hana sedang hamil dan harus bed rest total atas perintah dokter. Dia tidak akan kembali ke dapur restoran untuk waktu yang lama. Tugasmu sekarang hanya mengikuti apa yang tertulis di sana. Jangan banyak bertanya, Pak Joko. Urusan manajemen dan operasional sekarang sepenuhnya ada di tanganku."
Pak Joko menarik napas dalam, lalu mengangguk patuh sembari menggenggam buku itu. "Baik, Mas Adrian. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk menyiapkan bahan untuk besok."
Begitu keluar dari ruang kerja Adrian, Pak Joko langsung meraba saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya secara diam-diam di lorong yang sepi, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomor pribadi Hana: "Mbak Hana, Mas Adrian baru saja menyerahkan buku resep bumbu inti ke saya. Katanya ini tulisan tangan Mbak Hana sendiri. Apakah semuanya aman, Mbak?"
Sementara itu, di rumah mewah kota, Hana sedang duduk bersandar di tempat tidur kamarnya yang sunyi. Ponsel miliknya bergetar di atas nakas. Sejak pagi tadi, Adrian memang membatasi penggunaan ponselnya dengan dalih agar Hana tidak stres, namun untungnya, Adrian belum sempat menyita perangkat tersebut secara fisik.
Hana membuka pesan dari Pak Joko. Sebuah senyuman tipis, dingin, dan penuh misteri terukir di bibirnya yang pucat. Ia mengetikkan balasan dengan cepat: "Aman, Pak Joko. Ikuti saja semua takaran yang tertulis di buku itu tanpa terkecuali. Jangan diubah satu gram pun. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Terima kasih sudah mengabari saya."
Setelah mengirimkan pesan itu, Hana menghapus riwayat obrolannya dengan Pak Joko. Ia mengelus perutnya yang terasa sedikit lebih tenang hari ini. Langkah pertama sudah berjalan di restoran, bisik Hana dalam hati. Sekarang, tinggal menunggu waktu sampai bumbu palsu itu mulai menunjukkan efek sampingnya pada lidah para pelanggan setianya.
Ketukan pintu kamar yang kasar membuyarkan lamunan Hana. Pintu terbuka tanpa menunggu izin, memperlihatkan sosok Santi yang masuk membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam hambar dan secangkir air hangat.
Siang ini, cuaca kota memang sedang cukup gerah. Namun, pakaian yang dikenakan Santi di dalam rumah benar-benar jauh dari kata sopan untuk seorang pekerja. Ia hanya mengenakan tank top ketat berwarna hitam yang mengekspos pundak dan sebagian dadanya, dipadukan dengan celana jins pendek yang sangat ketat di atas paha. Rambut panjangnya dicepol ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus.
"Mbak Hana, ini makan siangnya," ucap Santi dengan nada suara yang tidak lagi selemah lembut saat ada Adrian atau Ibu Broto di rumah. Suaranya terdengar datar, ketus, dan sarat akan binar meremehkan.
Santi meletakkan nampan itu dengan kasar di atas meja nakas, hingga sedikit air hangatnya tumpah membasahi permukaan kayu. "Ibu bilang, Mbak Hana tidak usah banyak tingkah turun ke bawah hari ini. Biar Santi saja yang mengurus semua kebutuhan rumah. Mbak Hana cukup diam di sini dan makan yang banyak."
Hana menatap makanan di atas nakas, lalu beralih menatap penampilan Santi dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Santi, apakah ibumu di kampung tidak pernah mengajarimu tata krama tentang cara berpakaian di rumah majikan laki-laki yang sudah beristri?" tanya Hana dengan nada suara yang teramat tenang namun tajam menghujam.
Mendengar sindiran itu, Santi justru tidak ketakutan seperti biasanya. Ia justru melipat kedua tangannya di dada, menantang tatapan mata Hana dengan angkuh. "Pakaian saya biasa saja kok, Mbak. Lagipula, Mas Adrian dan Ibu saja tidak pernah komplain. Mas Adrian malah bilang kalau saya kelihatan segar dan rajin kerjanya. Memangnya salah kalau saya gerah karena habis membersihkan rumah sebesar ini sendirian?"
Santi melangkah satu senti lebih dekat ke arah ranjang Hana, menyunggingkan senyuman licik yang mengerikan. "Mbak Hana harusnya berkaca. Wajah Mbak pucat, badannya melar, bau minyak angin terus setiap hari. Pantas saja Mas Adrian belakangan ini lebih betah berlama-lama di lantai bawah atau pulang malam daripada harus masuk ke kamar ini."
Plak!
Hana tidak menahan diri lagi. Rasa jijik dan amarah yang menumpuk di dadanya membuat tangannya bergerak secepat kilat, menyiramkan sisa air hangat di dalam cangkir tepat ke arah wajah dan dada tank top milik Santi.
"Ah! Panas!" jerit Santi histeris, melangkah mundur dengan panik sembari mengusap wajah dan dadanya yang basah kuyup. Matanya melotot tajam penuh amarah yang meledak-ledak ke arah Hana. "Mbak Hana gila ya?!"
"Keluar dari kamarku, Santi," ucap Hana dengan suara yang sangat rendah, sedingin es, namun memancarkan aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat keberanian Santi seketika menciut setengahnya. "Sebelum aku lupa bahwa kamu hanyalah seorang anak kampung yang miskin yang sedang mencoba mengemis harga diri di rumahku. Keluar!"
Santi meremas tank top-nya yang basah, napasnya memburu menahan geram. "Awas kamu ya, Mbak..." desis Santi pelan dengan nada penuh ancaman, lalu berbalik dan menghentakkan kakinya dengan kasar keluar dari kamar Hana, menutup pintu dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Sore harinya, sekitar pukul lima, deru mobil Adrian kembali terdengar di halaman. Pria itu pulang lebih cepat karena kepalanya pening memikirkan urusan suplai daging di cabang baru. Begitu ia melangkah masuk melewati pintu depan, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Santi yang sedang duduk terisak-isak di atas sofa ruang tamu, ditemani oleh Ibu Broto yang sibuk mengelus punggungnya.
Santi sengaja tidak mengganti tank top hitamnya yang basah, melainkan hanya menutupinya dengan selembar handuk kecil di bagian bahu, memberikan kesan yang sangat kasihan sekaligus memancing pandangan mata pria.
"Ada apa lagi ini, Bu? Kenapa Santi menangis?" tanya Adrian dengan nada suara yang langsung dipenuhi oleh rasa jengkel yang teramat sangat.
Begitu mendengar suara Adrian, Santi langsung mendongakkan wajahnya yang sembap penuh air mata. "Mas Adrian... hiks... Santi takut, Mas. Santi tidak tahu salah Santi apa... Mbak Hana tiba-tiba menyiram Santi pakai air panas waktu Santi mengantarkan makan siangnya ke kamar..." adu Santi dengan suara yang terputus-putus, badannya sengaja dibuat bergetar hebat di depan Adrian.
Ibu Broto langsung menyambar dengan emosi yang menggebu-gebu. "Iya, Adrian! Kamu lihat sendiri itu tank top-nya Santi sampai basah kuyup semua! Kulitnya sampai merah begitu! Hana itu benar-benar sudah seperti orang kesurupan sejak hamil! Dia cemburu buta pada Santi yang tidak salah apa-apa! Kalau begini terus, Santi bisa mati ketakutan di rumah ini, Adrian!"
Adrian menatap dada Santi yang terekspos basah di balik handuk kecil itu. Gairah pelindung seorang pria sekaligus rasa risih terhadap Hana seketika naik ke ubun-ubunnya. Amarahnya meledak. Tanpa berkata apa-apa lagi, Adrian melangkah dengan gusar, menaiki anak tangga dengan hentakan kaki yang keras, siap meluapkan seluruh kemarahannya pada Hana yang ia anggap sudah keterlaluan merusak kedamaian rumah tangganya.
Di atas sana, di balik pintu kamar yang tertutup, Hana berdiri tegak sembari mendengarkan langkah kaki suaminya yang mendekat. Skenarionya berjalan dengan sangat sempurna. Duri itu kini sedang merayap naik, dan Hana sudah bersiap untuk membiarkan dirinya terpojok lebih dalam, karena semakin besar penderitaan yang ia terima hari ini, semakin mutlak kehancuran yang akan ia timpakan pada mereka esok hari.