NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjelasan

Wira mengernyitkan dahinya sejenak sebelum memasuki rumah tersebut. Dia tentu saja dibuat heran, bagaimana bisa lelaki tua itu sudah menunggunya, padahal baru kali itu dia berinteraksi dengannya.

"Duduklah!" ucap lelaki tua itu setelah menutup pintu rumahnya.

"Bagaimana Kakek sudah menungguku? Padahal kita kan baru kali ini ..." Belum juga pemuda itu menyelesaikan ucapannya, lelaki tua yang bernama Ki Anom itu menyahutinya.

"Aku tahu maksud pertanyaanmu, Wira. Tetua Arisuta sudah menjelaskannya kepadaku tempo hari saat kau sedang bermeditasi. Beliau banyak bercerita tentangmu dan juga kedua orang tuamu. Dan aku juga sebetulnya sudah sangat mengenal kedua orang tuamu, terutama ayahmu. Meski mereka berdua pendatang di desa ini, tapi berkat Tetua Arisuta, aku mengetahui siapa jati diri kedua orang tuamu."

"Jadi orang tuaku pendatang di desa ini?"

Ki Anom menganggukkan kepalanya. Matanya menatap tajam Wira yang terlihat kebingungan dengan ucapannya.

"Lalu kedua orang tuaku berasal dari mana?"

"Aku sulit untuk mengatakannya, Wira. Biar nanti Tetua Arisuta saja yang mengatakannya kepadamu. Beliau yang punya hak untuk memberitahukan jati dirimu sebenarnya."

"Apa mungkin tentang jati diriku yang nanti hendak disampaikan Kakek kepadaku?" tanya Wira dalam hati. Segera dia mengalihkan pikirannya, karena tujuannya kembali ke desa ini adalah untuk membersihkan nama baik kedua orang tuanya, sekaligus memberi hukuman kepada orang-orang yang telah memfitnah keduanya. Dia tidak peduli jati dirinya siapa, toh baginya dia hanyalah anak dari sepasang suami istri yang hidup sederhana, pikirnya.

"Kakek Arisuta tadi mengatakan jika Kakek Anom mengetahui siapa yang memfitnah kedua orang tuaku. Tolong katakan kepadaku siapa pelakunya, Kek?"

Ki Anom tersenyum hangat kepada pemuda itu. "Setelah kau mengetahuinya, apa yang akan kau lakukan padanya?"

"Pertama, aku akan membersihkan nama kedua orang tuaku. Lalu aku akan menghukum siapapun yang telah membuat orang tuaku sampai meninggal dunia!" jawab Wira geram.

"Apa kau sudah yakin dengan kemampuan yang kau miliki?"

"Alam telah menempaku untuk tidak menjadi pribadi yang lemah, Kakek. Kalaupun nasibku nanti akan sama dengan yang dialami kedua orang tuaku, aku tidak akan menyesalinya."

"Baiklah ..." Ki Anom menghela nafas panjang.

"Apa kau kenal Juragan Pratama?"

Wira mengangkat kedua alisnya seolah sedang berpikir. Sesaat kemudian dia mengangguk pelan. "Apa dia orang yang memfitnah kedua orang tuaku?"

"Dia bukan pelaku utama. Tapi Juragan Pratama punya andil besar sehingga orang tuamu sampai difitnah oleh Kepala Desa Subrada," jawab Ki Anom.

"Sebentar, Kakek ... Apa kaitannya Juragan Pratama dengan Kepala Desa Subrada?" tanya Wira lagi kebingungan.

"Jadi begini, Wira. Sebelum kedua orang tuamu meninggal, ada serentetan kejadian pencurian yang sangat sering terjadi di desa ini. Pada puncaknya, rumah Kepala Desa pun didatangi pencuri, dan dia akhirnya memerintahkan kepada seluruh penduduk desa agar setiap rumah digeledah untuk mencari barang bukti berupa patung emas yang hilang." Ki Anom mengambil nafas panjang beberapa kali sebelum melanjutkan ucapannya.

"Setelah seluruh rumah di desa ini digeledah, barang bukti yang dicari ditemukan terkubur di belakang rumahmu," sambungnya.

Wira tidak bisa menahan keterkejutannya. Mulutnya terbuka lebar saking tidak percayanya.

"Aku tahu kau tidak percaya dengan kejadian itu, aku pun juga. Setelah kedua orang tuamu dihukum mati oleh penduduk desa, aku mengutus orang kepercayaanku untuk mencari tahu kebenarannya."

"Lalu bagaimana hasilnya, Kek?" tanya Wira tidak sabar.

"Setelah beberapa hari lamanya orang kepercayaanku itu menyelidik, sebuah berita mencengangkan aku dapat darinya. Ternyata kedua orang tuamu difitnah oleh Kepala Desa Subrada. Dan semua kejadian pencurian itu sesungguhnya diprakarsai oleh dia sendiri."

Wira seketika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja didengarnya. "Lalu apa andil Juragan Pratama, Kek?"

"Juragan Pratama ternyata menyukai ibumu, Wira. Dia ingin menjadikan ibumu sebagai istrinya yang kesekian, dan menyuruh ibumu untuk bercerai dengan ayahmu. Tapi ibumu menolaknya mentah-mentah hingga membuat Juragan Pratama sakit hati. Nah, atas dasar itulah Juragan Pratama — yang juga teman baik Kepala Desa Subrada — meminta bantuan temannya itu untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tuamu. Hingga akhirnya kejadian fitnah itu terjadi."

"Mereka harus menebus kematian kedua orang tuaku!" Wira bangkit berdiri, namun langsung dicegah oleh Ki Anom.

"Jangan terbawa emosi, Wira. Kau tidak bisa langsung menghakimi mereka tanpa bukti yang kuat. Tunggulah sampai besok di sini! Aku akan memanggil orang kepercayaanku itu ke sini untuk memberitahumu dari mana dia mendapatkan informasi tersebut. Namanya Purbaya."

Wira kembali duduk di kursinya. Dia teringat ucapan Arisuta yang memberinya wejangan agar tidak menggunakan emosi dalam mengambil setiap keputusan.

"Maafkan aku, Kek. Aku terbawa emosi," ucap Wira sambil menundukkan kepalanya.

Sesaat kemudian, sesepuh desa itu masuk ke bagian dalam rumahnya. Tak berapa lama dia kembali keluar, kali ini bersama seorang gadis cantik yang membawa makanan di tangannya.

"Kenalkan cucuku ini, Wira. Namanya Sinta."

Wira memandang gadis cantik itu sambil tersenyum, lalu kembali menundukkan kepalanya.

Sinta terlihat salah tingkah, wajahnya memerah menerima senyuman yang dilontarkan Wira kepadanya.

"Sekarang makanlah dulu. Setelah itu beristirahatlah di kamar yang akan disiapkan Sinta!"

Wira mengangguk dan kemudian memakan makanan yang ada di meja itu dengan lahap. Dia baru ingat jika sudah seminggu perutnya tidak terisi makanan sejak bermeditasi di atas pohon.

Keesokan paginya, seorang lelaki setengah baya memasuki rumah bersama Sinta. Wira dan Ki Anom yang sedang berbincang di ruang tamu menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyuman.

Lelaki itu kemudian duduk di sebuah kursi. Sedangkan Sinta sendiri berjalan masuk ke dalam rumah, namun matanya sempat melirik ke arah Wira yang juga sedang meliriknya, hingga kedua mata mereka bertemu. Alhasil, kedua pipi gadis itu bersemu merah karena malu.

"Wira, inilah dia orang yang aku suruh untuk mencari tahu kebenaran fitnah yang dialamatkan kepada kedua orang tuamu."

Wira menyapa lelaki bernama Purbaya itu dengan anggukan kepalanya. Mereka bertiga akhirnya terlibat pembicaraan panjang terkait rencana apa yang harus dilakukan Wira.

Beberapa lama kemudian, Wira dan Purbaya keluar dari rumah Ki Anom. Pemuda itu memakai caping bambu untuk menutupi wajahnya. Tujuan mereka adalah rumah seorang lelaki bernama Jaka, yang dulu pernah bekerja di rumah Kepala Desa Subrada. Jaka sendiri kebetulan adalah saudara misan Purbaya, sehingga tidak sulit bagi Purbaya untuk mengorek keterangan darinya.

Sepanjang perjalanan, Wira menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat oleh penduduk desa.

Tak berapa lama, mereka akhirnya sudah sampai di rumah yang dituju. Seorang lelaki yang seumuran dengan Purbaya mempersilakan keduanya masuk ke dalam rumahnya.

Setelah menjelaskan siapa Wira kepada Jaka, Purbaya menyuruh saudaranya itu untuk menceritakan apa yang didengarnya ketika Pratama dan Subrada merencanakan fitnah untuk menjatuhkan kedua orang tua Wira.

Setelah mendengar cerita lengkap dari Jaka, Wira langsung menyusun rencana untuk mendatangi rumah Pratama terlebih dahulu. Dia berpikir untuk menghadapi juragan kaya itu terlebih dahulu, karena Pratama-lah yang menjadi pemicu utama masalah tersebut.

Ketiganya akhirnya keluar dari rumah Jaka dan berjalan menuju rumah Pratama yang tidak jauh dari situ.

Tidak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk sampai di rumah Pratama yang besar dan terlihat mewah, untuk ukuran desa itu.

Empat orang berwajah bengis terlihat berjaga di depan pintu rumah besar itu. Di pinggang mereka tergantung pedang yang siap digunakan sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Tatapan keempat penjaga itu menjadi tajam setelah Purbaya menanyakan keberadaan Pratama.

"Ada keperluan apa kalian mencari Juragan Pratama?!" bentak seorang penjaga.

"Ada sesuatu yang harus dia pertanggungjawabkan!" sahut Wira cepat sambil membuka caping bambu yang dipakainya. Dia sudah tidak sabar dan tidak ingin bertele-tele lagi.

"Kau ...! Bukankah kau anak dari si pencuri itu?" tanya penjaga itu, sepertinya sudah mengenali Wira.

"Jaga bicaramu jika tidak ingin nyawamu melayang! Orang tuaku bukan pencuri!" bentak Wira, suaranya cukup keras hingga terdengar oleh Pratama yang berada di dalam rumahnya.

Lelaki setengah baya itu buru-buru keluar untuk melihat apa yang terjadi.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!