NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Saat alvar akan membuka suara, dia mendengar suara motor milik Supradi. Pria itu tak langsung berhenti. Tapi matanya tajam, menyapu pemandangan di depannya, Alvar dan Hesti, berdampingan. Bibir Supradi terangkat perlahan, membentuk senyum miring yang penuh arti. Senyum orang yang merasa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata.

Hesti langsung menangkap perubahan itu. Wajahnya pucat, tangannya refleks mencengkeram tas.

“Mas Alvar…” suaranya nyaris tak terdengar, “itu—”

“Aku tahu,” potong Alvar pelan, tapi rahangnya mengeras.

Supradi sempat mengegas motornya sedikit, seolah memberi tanda, lalu pergi sambil tertawa kecil tawa yang membuat dada Alvar terasa panas.

Alvar menoleh ke Hesti.

“Kamu masuk aja,” katanya dingin.

“Aku pulang.”

“Mas, tunggu—” Hesti mencoba menahan.

Namun, Alvar sudah menyalakan motor.

“Mulai sekarang, jangan minta aku nganter,” lanjutnya tanpa menatap.

“Aku nggak mau bikin masalah.”

Mesin motor meraung. Alvar pergi meninggalkan puskesmas, meninggalkan Hesti yang berdiri kaku di tempatnya, dengan perasaan panik yang menjalar pelan, karena ia tahu, senyum Supradi barusan bukan senyum biasa.

Sementara itu di Jakarta, waktu berjalan pelan bagi Kiara.

Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Alvar ke desa, dan selama itu pula ponselnya tak pernah lagi berbunyi karena nama yang ia tunggu. Tak ada pesan, dan tak ada panggilan. Bahkan sekadar kabar singkat pun tidak.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan.

Desain terakhir Kiara akhirnya resmi diserahkan pada Darius. Proposal itu diterima, disetujui, dan akan digunakan sebagai proyek utama perusahaan. Untuk pertama kalinya sejak lulus kuliah, hasil karyanya benar-benar diakui.

Darius tampak puas, bahkan tak sungkan memujinya.

“Desain kamu solid, Kiara. Aku nggak salah minta bantuanmu.”

Kiara tersenyum, sopan tapi tak sepenuhnya sampai ke matanya. Begitu keluar dari ruang meeting, Delia langsung menangkap sesuatu yang janggal.

“Kok muka kamu datar banget?” tanyanya sambil berjalan di samping Kiara.

“Ini tuh pencapaian besar, kamu tahu.”

“Aku senang,” jawab Kiara cepat.

“Cuma capek aja.”

Delia berhenti melangkah, menatap sahabatnya lekat-lekat. Dia sudah terlalu mengenal Kiara untuk percaya jawaban itu.

“Capek atau kepikiran?” desaknya.

Kiara mengalihkan pandangan, tangannya meremas tali tas.

“Aku baik-baik aja, Del.”

Delia mendesah kecil.

“Seminggu ini kamu murung. Senyum iya, tapi kosong. Jangan bohong sama aku.”

Kiara tak menjawab, diamnya justru menjadi jawaban paling jujur. Delia merangkul bahu Kiara lalu menariknya pelan.

“Come on,” katanya lembut.

“Kita makan di luar. Rayain desain pertama kamu yang resmi dipakai perusahaan setelah lulus. Kamu pantas dapet itu, apa pun yang lagi kamu pikirin.”

Kiara menoleh, menatap Delia dengan mata yang sedikit berkaca.

“Kamu yakin?”

“Yakin banget,” jawab Delia tanpa ragu. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi kamu ngerayain diri kamu sendiri?”

Kiara akhirnya mengangguk.

Di restoran kecil bernuansa hangat itu, Kiara dan Delia duduk saling berhadapan. Hidangan yang mereka pesan sudah tersaji, aroma makanan menguar, seharusnya menggugah selera. Delia makan dengan lahap, sementara Kiara lebih sering mengaduk makanan di piringnya daripada benar-benar menyantapnya.

Delia melirik tingkah sahabatnya.

“Kalau makan tuh dimakan, bukan dipandangi,” godanya.

Kiara tersenyum kecil, lalu akhirnya bersuara pelan, seolah takut pada keputusannya sendiri.

“Del … aku kepikiran sesuatu.”

“Apa?” Delia menyuap lagi, santai.

“Aku pengin ke desa.” Kiara berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Nyusul Mas Alvar.”

Sendok Delia berhenti di udara.

“Serius?”

Kiara mengangguk.

“Kali ini aku mau bawa mobil sendiri. Aku capek nunggu kabar yang nggak datang. Aku pengin lihat langsung keadaannya … dan pastiin dia baik-baik aja.”

Delia menatap Kiara lama, lalu senyum pelan muncul di wajahnya.

“Ya udah,” katanya ringan. “Aku ikut.”

Kiara refleks menggeleng.

“Del, nggak usah. Itu desa, jauh. Kamu kan orang kota—”

“Justru itu,” potong Delia cepat. “Sekalian liburan. Refresh otak, lagian aku nggak mau kamu nyetir jauh sendirian.”

Kiara terlihat ragu.

“Aku nggak tahu bakal betah berapa lama di sana. Takut kamu malah nggak nyaman.”

Delia terkekeh.

“Kalau kamu betah, aku juga bisa betah. Tenang aja, aku fleksibel.”

Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Kiara penuh arti.

“Lagipula, kamu butuh temen. Aku nggak mau kamu ke sana dengan hati setengah hancur sendirian.”

Kalimat itu membuat Kiara terdiam. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya.

“Terima kasih, Del,” ucapnya lirih.

Delia mengangkat gelas minumnya.

“Deal ya. Beberapa hari lagi kita berangkat.”

Kiara ikut mengangkat gelasnya, senyum tipis akhirnya benar-benar terukir di wajahnya bukan karena makanan, bukan karena pekerjaan, tapi karena harapan.

Malam itu, desa terasa sunyi. Di gudang belakang rumah Supradi, sebuah lampu bohlam menyala redup, memantulkan bayangan dua orang yang berdiri saling berhadapan. Bau anyir lumpur dan kayu lembap memenuhi udara.

Wajah Supradi merah padam, rahangnya mengeras, napasnya berat.

“Aku sudah bilang, aku nggak punya uang,” katanya tajam, nyaris mendesis.

Orang di hadapannya tak kalah menekan. Suaranya rendah, penuh tuntutan.

“Kamu yang janji mau beri uang terus buat aku. Supradi, aku tahu ya kebusukan keluarga kamu. Seluruh sawah yang kalian punya itu milik ayahnya Kiara, istri Alvar. Jangan kau pikir aku nggak tahu ya!"

Supradi terkekeh kecil, bukan karena lucu, tapi karena marah.

“Janji apa? Terus kamu mau apa kalau benar itu milik keluarga istri si Alvar?!” balasnya sinis.

“Jangan sok suci. Kalau kamu terus maksa, aku bisa laporin semua ulahmu ke Alvar. Kamu pikir aku nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan, hah?!”

Ancaman itu membuat suasana berubah. Tatapan orang itu mengeras, napasnya memburu.

“Kamu berani?”

“Coba saja,” jawab Supradi cepat, melangkah maju.

Cekcok makin panas. Kata-kata kasar saling dilempar, tanpa ada yang mau mengalah. Dalam satu langkah mundur, Supradi tak sadar tumitnya menginjak tanah licin di tepi empang milik ayahnya.

“Kurang aj...”

Tubuhnya terhuyung dan jatuh ke dalam empang dengan suara air keruh memercik ke segala arah. Supradi terbatuk keras, meronta, tangannya berusaha meraih pinggiran.

“Tarik aku!” teriaknya panik.

“Aku nggak bisa naik! Ada banyak jaring di bawah sini!”

Sesaat, ia masih baik-baik saja. Air hanya setinggi dada. Namun, bayangan di atas empang bergerak mendekat.

Satu pukulan keras menghantam kepalanya. Supradi terdiam, tubuhnya melemas seketika. Air empang beriak pelan, lalu perlahan menelan tubuh itu sedikit demi sedikit. Tangannya yang sempat terangkat kini tenggelam, meninggalkan permukaan air yang kembali tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Lampu gudang masih menyala redup, angin malam kembali berdesir.

"Nyusahin banget! Lebih baik mati aja! Bikin hidup orang nggak tenang aja!" gumam orang itu dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan tubuh Supradi yang tenggelam di dalam empang milik ayahnya.

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!