Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 20 Tukang Penyebar Gosip|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Mobil mereka berhenti. Bara turun dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya—bukan karena disuruh Davian, tapi karena memang sudah terasa natural baginya.
Davian memandang dari balik kaca depan. Davian merasa terpesona, kemarin Bara terlihat seperti CEO yang salah masuk gedung. Sekarang dia justru terlihat seperti seseorang yang tahu persis ke mana dia akan pergi dan tidak perlu menjelaskan kepada siapapun.
Angin berhembus, membuat jaket itu sedikit terangkat di bagian bawah. Namun Bara tidak memperbaikinya, ia tetap berjalan lurus.
"Wakadanna," panggil Davian dari jendela yang diturunkan.
Bara berbalik badan.
"Wakadanna tampan! Serius saya tidak sedang menggoda Anda."
Bara menyeringai, tetapi tidak menjawab omongan Davian. Dia berbalik dan melanjutkan jalan menuju area kampus.
Davian menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu gedung.
"Dasar, Wakadanna... Andai aku diciptakan menjadi wanita mungkin aku sudah menggodanya."
...-Gedung A - Koridor Lantai 3-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara berjalan menyusuri koridor menuju ruang 307. Beberapa detik pertama tidak ada yang terasa aneh. Para Mahasiswa masih berlalu-lalang seperti biasa.
Namun perlahan, sesuatu mulai berubah. Tatapan-tatapan aneh mulai bermunculan—tatapan mereka bukan sekadar lirikan biasa, dan jelas bukan kekaguman yang ia tangkap, melainkan kejanggalan. Bisik-bisik halus pun mulai beredar di antara mereka.
Bara melewati sekelompok mahasiswi di dekat mading. Mereka masih berbisik. Salah satu di antara mereka menahan tawa, sementara yang lain melirik Bara dari sudut matanya.
"Itu orangnya."
"Iya."
"Gila, ya."
Bara mencoba mengabaikan semuanya dan tetap melangkah. Namun salah satu dari mereka tiba-tiba berbicara agak keras dan seolah-olah di sengaja.
"Dengar-dengar, katanya sudah punya istri, kok masih godain cewek lain."
Langkah Bara terhenti. Dalam satu gerakan tegas, ia berbalik dan langsung menghampiri mereka.
Sekelompok mahasiswi itu mendadak kaku.
"Ulangi," ucap Bara singkat, nadanya datar namun menekan.
Tak ada yang menjawab.
Bara mengalihkan pandangannya dari satu wajah ke wajah lain, seakan memberi waktu atau tekanan kepada sekelompok mahasiswi itu. Salah satu dari mereka menunduk, yang lain mulai gelisah.
"Kalau cuma berani ngomong di belakang," lanjutnya pelan, "jangan setengah-setengah."
Ketegangan menggantung di udara. Hingga akhirnya salah satu dari mahasiswi itu menarik lengan temannya.
"Ayo..."
Tanpa banyak kata, mereka buru-buru pergi dengan langkah yang tergesa-gesa, meninggalkan Bara sendirian di tengah koridor.
Bara tetap berdiri disana beberapa detik.
Dari mana mereka dapat gosip itu? pikirnya.
...-Ruang 307-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara masuk dan langsung disambut oleh lebih dari tiga puluh pasang mata yang serentak menoleh ke arahnya. Ia sempat berdiri di ambang pintu, sejenak memindai seisi ruangan dengan cepat.
Namun, ia memilih untuk mengabaikannya. Bara melangkah menuju kursinya di baris keempat, meletakkan tas, lalu membuka laptopnya dengan tenang.
"Kok dia berani, ya, datang?" bisik seseorang di baris depan.
"Nggak tahu malu."
"Tebal muka, ya."
"Kayak nggak punya urat malu sama sekali."
Mendengar gunjingan itu, Bara tidak bereaksi apa pun. Hanya saja rahangnya yang sedikit mengeras, menahan sesuatu yang tak bisa ia keluarkan.
"Masih bisa santai pula," sahut yang lain pelan, nadanya menyindir. "Hebat juga mentalnya."
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Vina masuk. Langkahnya pelan, seolah disengaja—seakan ingin memastikan semua mata tertuju padanya. Pandangannya menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya berhenti pada sosok Bara.
Ia tersenyum sinis. "Kamu masih di sini, tampan?" katanya.
Vina sengaja duduk di baris ketiga, tak jauh dari Bara. Ia membuka bukunya, lalu kembali menoleh ke arah Bara.
"Kemarin kamu sama Nana di tangga darurat ngapain, sih? Boleh tau nggak?"
"Tangga darurat lantai dua, loh. Itu kan tempat sepi. Mana cuma kalian berdua lagi." Vina menyandarkan punggungnya ke kursi. "Orang-orang bilang kalian melakukan hal-hal yang nggak senonoh. Emang benar, ya?"
Beberapa mahasiswa mulai tertawa kecil. Bara tetap menatap layar laptopnya, seolah tak terusik sedikit pun.
"Nana nggak masuk hari ini," lanjut Vina santai. "Kayaknya sih... dia malu."
Kali ini Bara menutup laptopnya. Ia menoleh menatap ke arah Vina.
"Apa kamu tidak bosan?" tanyanya datar.
Vina mengerjap. "Apa?"
"Bosan. Membuat gosip, menyebarkan cerita yang tidak pernah terjadi, lalu menghancurkan harga diri orang yang tidak melakukan apa pun padamu." Bara sedikit memiringkan kepala.
"Apa itu yang mengisi hari-harimu?"
Vina tersenyum tipis. "Kau pikir kau bisa—"
"Aku tidak berpikir apa-apa tentangmu," potong Bara. "Kau tidak cukup penting untuk kupikirkan."
Ruangan mendadak hening.
Vina terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, seolah ingin membalas, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
Beberapa detik berlalu, terdengar suara bisikan dari arah bangku belakang.
"Ih, kok jadi kayak orang yang lagi cemburu, ya?"
"Iya, dari tadi yang diserang cuma Bara doang..."
"Jangan-jangan suka lagi, tapi nggak kesampaian."
Tawa kecil kembali terdengar, kali ini dengan arah yang berbeda.
Wajah Vina langsung berubah. "Kalian apaan, sih?" ketusnya, berusaha menutupi kegugupan yang mulai terlihat.
"Eh, santai aja, Vin," sahut seseorang, setengah menahan tawa. "Kalau suka, bilang aja. Nggak usah muter-muter pakai gosip segala. Apalagi sampai jatuhin Nana. Kalau iri mah bilang aja!"
Vina mengepalkan tangannya di atas meja. Ia melirik Bara sekilas, lalu cepat-cepat membuang mukanya.
Untuk pertama kalinya sejak ia masuk, ia kehabisan kata-kata.
...***...
Pintu kembali terbuka lagi. Kini ibu Siti masuk dengan raut wajah tegang, matanya langsung mencari-cari sosok Bara.
"Bara. Mari ikut saya."
"Ke mana, Ibu?" tanya Bara.
"Ruang BKM."
Vina tersenyum tipis.
Bara mengepalkan tangannya dan berdiri. Ia memasukkan laptop ke dalam tasnya. Lalu berjalan melewati Vina dan tepat di samping mejanya, dia berhenti.
"Satu hal," kata Bara suaranya pelan, cukup hanya didengar oleh Vina.
"Tentang video itu. Kau pikir itu senjatamu? Tapi kau lupa satu hal, Vina... Aku bukan lah mahasiswa biasa. Dan Nana bukan orang yang bisa kau hancurkan dengan gosip murahan."
Bara melanjutkan jalan sebelum Vina sempat menjawab.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉