NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Milly hanya bisa menarik napas dalam-dalam menghadapi pertahanan sedingin es milik Arkan. Biarpun kata-katanya selalu dibalut dengan istilah bisnis yang kejam seperti 'protokol pengamanan aset'natau *l'efisiensi perusahaan', Milly tahu ada secercah kepedulian yang aneh di balik topeng perfeksionis itu. Sifatnya memang kaku, tetapi ia tidak pernah benar-benar membiarkan Milly dalam bahaya.

"Terserah apa kata Anda, Tuan Presdir yang Terhormat," sahut Milly pelan, akhirnya menyerah untuk mendebat ego sang CEO. "Saya akan memberi tahu keluarga saya agar mereka bersiap-siap untuk minggu depan."

Arkan tidak menjawab, hanya memberikan anggukan samar sebelum kembali menggoreskan pena mewahnya di atas lembar revisi kontrak kerja sama mereka.

Bara yang masih berdiri tegap di samping meja segera mengambil dokumen kalkulasi matematika yang sudah ditandatangani Arkan, lalu memasukkannya ke dalam map kulit hitam dengan rapi. "Saya akan segera mengoordinasikan tim pengamanan mansion untuk menyambut keluarga Nona Milly, Tuan," ujar Bara dengan nada formal yang efisien.

Malam harinya, setelah melewati hari yang melelahkan dan penuh teror di kantor pusat Mahendra Group, Milly akhirnya bisa menghela napas lega di dalam kamar barunya yang super mewah. Keheningan mansion malam ini terasa sedikit lebih bersahabat dibandingkan malam sebelumnya.

Milly merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang empuk, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal gantung. Pikirannya melayang jauh ke beberapa bulan yang lalu, sebelum takdir menyeretnya ke dalam pusaran kehidupan seorang mafia berdarah dingin berkedok pengusaha seperti Arkan.

Dulu, hidupnya jauh lebih sederhana namun padat. Milly teringat bagaimana sibuknya ia mengelola toko digital miliknya di Tokopedia dan TikTok Shop dengan nama pengguna @Millyan. Setiap malam, ia harus begadang demi memeriksa ketersediaan produk, mengatur visibilitas promosi, serta menyusun strategi komisi program agar tokonya tetap bisa bertahan di tengah persaingan pasar yang ketat.

Bukan hanya itu, demi menambah pundi-pundi rupiah untuk membantu menghidupi tujuh anggota keluarganya, Milly juga memanfaatkan keahliannya di bidang kreatif. Ia kerap mengambil proyek sampingan sebagai editor video lepas. Jari-jarinya sudah sangat lihai membuka aplikasi Alight Motion dan CapCut di ponselnya, menyusun potongan klip, mengatur transisi, dan memadukan audio hingga larut malam. Ia bahkan rela menyisihkan sebagian pendapatannya yang pas-pasan untuk membayar biaya langganan mingguan Alight Motion dan akun premium CapCut demi memastikan hasil editannya tidak memiliki watermark dan terlihat profesional bagi klien.

Milly tersenyum getir, meraba kacamata bulatnya yang diletakkan di atas nakas samping tempat tidur. Siapa yang menyangka, gadis yang biasanya pusing memikirkan algoritma TikTok Shop dan kuota internet untuk rendering video Alight Motion, sekarang malah terperangkap menjadi calon istri seorang konglomerat dengan nilai kontrak ratusan miliar?

Tok! Tok! Tok!

Ketukan tiga kali yang presisi di pintu kamarnya seketika membuyarkan lamunan Milly. Ia langsung menegakkan posisi duduknya, tahu betul siapa satu-satunya orang di mansion ini yang mengetuk pintu dengan ketukan se-monoton itu.

"Masuk," seru Milly.

Pintu terbuka, dan sosok Arkananta Mahendra berdiri di sana. Ia sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tegas di tangan kekarnya. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.

Arkan melangkah masuk, berhenti tepat di batas jarak aman yang biasa ia tetapkan. "Gadis Ceroboh, pakai ini besok pagi," ucapnya datar, langsung meletakkan kotak beludru tersebut di atas meja rias Milly.

Milly mengerutkan keningnya bingung. "Apa ini, Tuan?"

"Cincin pertunangan resmi kita. Besok perwakilan dari Keluarga Wijaya akan datang ke mansion untuk urusan formalitas pembatalan investasi," jawab Arkan, matanya memindai kamar Milly untuk memastikan tidak ada barang yang berantakan. "Aku ingin cincin itu sudah melingkar di jarimu sebelum mereka melangkah masuk ke ruang tamu."

Milly berjalan mendekati meja rias dan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, sebuah cincin bermata berlian dengan potongan emerald yang sangat indah berkilau terkena cahaya lampu kamar.

"Tuan... ini terlalu besar. Bagaimana kalau besok tidak sengaja terlepas dari jari saya saat saya sedang berjalan?" tanya Milly cemas, menatap ukuran cincin yang tampak sedikit longgar untuk jemari kurusnya.

Arkan melangkah maju satu langkah, menatap Milly dari ketinggian tubuhnya yang tegap. "Jika cincin itu sampai hilang atau jatuh karena keteledoranmu, Millyanita..." Arkan menjeda kalimatnya, memberikan senyuman tipisnya yang dingin namun mematikan. "...aku akan menganggapnya sebagai pelanggaran protokol keamanan, dan aku tidak akan segan-segan mengembalikan potongan sepuluh persen masa kontrakmu yang tadi siang."

Milly langsung menutup kotak beludru itu dengan cepat, memeluknya erat-erat di depan dada. "A-Akan saya lem di jari saya kalau perlu! Tidak akan hilang, Tuan! Janji!"

Arkan mendengus pelan melihat reaksi panik Milly yang menggemaskan, sebelum akhirnya berbalik untuk keluar dari kamar. "Bagus. Istirahatlah. Besok panggung sandiwara kita akan jauh lebih panas daripada hari ini."

Malam semakin larut, namun mata Milly sama sekali tidak bisa terpejam. Genggaman tangannya pada kotak beludru biru berisi cincin zamrud itu terasa dingin. Ancaman Arkan tentang pembatalan potongan kontrak 10% terus berdengung di telinganya, bercampur dengan kilasan ingatan tentang karpet abu-abu kantor yang meleleh digerogoti cairan asam.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan gelisah mendekati jendela besar kamarnya. Di luar sana, lampu-lampu taman mansion menerangi barisan penjaga berbadan tegap yang berpatroli dengan senapan otomatis di dada mereka.

Kenapa takdir membawaku ke tempat ini? batin Milly, meremas jubah tidurnya.

Mengingat kembali draf cerita dark romance bertajuk Antara Cinta dan Benci yang pernah ia baca secara digital di platform favoritnya dulu, Milly selalu berpikir konflik antar-mafia dan CEO berdarah dingin hanyalah fiksi hiburan pengisi waktu luang. Namun sekarang, ia justru menjadi tokoh utama dalam skenario nyata yang jauh lebih mengerikan. Arkananta Mahendra bukan sekadar CEO perfeksionis, pria itu adalah perwujudan nyata dari karakter dingin, berkuasa, dan tak tersentuh yang mengendalikan hidupnya lewat selembar kertas perjanjian hitam di atas putih.

Milly berbalik, menatap laptop tipis yang tergeletak di atas meja rias. Rasa rindu pada kehidupan lamanya mendadak menyeruak. Ia merindukan malam-malam panjang saat ia tidak perlu mencemaskan nyawanya, melainkan hanya perlu memikirkan target penjualan di Tokopedia atau membalas pesan-pesan dari pelanggan setianya di TikTok Shop.

Keesokan paginya, atmosfer di dalam mansion utama Mahendra Group berubah menjadi medan perang fungsional. Sejak pukul enam pagi, pelayan mansion sudah sibuk menata ulang ruang tamu utama, sementara Bara mondar-mandir memastikan perimeter luar benar-benar steril dari segala bentuk penyusupan.

Milly berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun formal berwarna pastel yang telah disiapkan oleh Madam Clarissa. Di jari manis tangan kanannya, cincin berlian potongan emerald pemberian Arkan melingkar dengan indah, memantulkan cahaya lampu yang berkilau. Ia sengaja mengganjal bagian dalam cincin itu dengan sedikit lilitan benang transparan agar tidak melorot dari jemari kurusnya.

"Jangan sampai jatuh, jangan sampai jatuh," gumam Milly berulang kali seperti merapalkan mantra, sambil membetulkan letak kacamata bulatnya.

"Kau terlihat seperti orang yang sedang menghafal teks proklamasi, Milly," suara bariton yang berat memutus gumamannya.

Arkan berjalan masuk ke ruang rias, penampilannya luar biasa menawan dengan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan sepasang mata elang yang tajam di balik lensa kacamatanya.

Milly membalikkan badan, mendengus pelan. "Saya hanya sedang menjaga aset Anda, Tuan. Sesuai protokol."

Arkan menatap Milly dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya tertahan selama beberapa detik pada cincin yang terpasang pas di jemari gadis itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat. "Kerja bagus untuk lilitan benangnya. Ternyata otak cerobohmu bisa berfungsi dalam tekanan."

"Tuan..."

Sebelum Milly sempat membalas, Bara tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. "Tuan Arkan, perwakilan dari Keluarga Wijaya telah tiba di gerbang utama. Namun... mereka tidak datang sendiri."

Arkan menyipitkan matanya, auranya langsung mendingin. "Siapa yang mereka bawa, Bara?"

"Tuan Wijaya membawa pengacara utama mereka, dan... mereka membawa dokumen digital mengenai riwayat transaksi eksternal Nona Milly sebelum masuk ke mansion ini, Tuan. Tampaknya mereka mencoba mencari celah untuk membuktikan bahwa pernikahan kontrak ini adalah manipulasi hukum," lapor Bara cepat.

Milly seketika menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Riwayat transaksi eksternal? Apakah itu berarti kontrak eksklusif yang pernah ia tanda tangani dengan ByteDance beberapa waktu lalu, atau transaksi digitalnya di platform membaca seperti GoodNovel dan Webfic akan ikut dibongkar oleh mereka? Di duniaku yang lama, semua itu hanyalah bagian dari usahaku mencari uang tambahan, tapi di tangan Keluarga Wijaya, hal sekecil apa pun bisa dipelintir menjadi tuduhan konspirasi untuk menjatuhkan Mahendra Group.

Arkan melirik ke arah Milly, menyadari perubahan drastis pada raut wajah gadis itu yang mendadak memucat. Pria itu melangkah maju, mengikis jarak satu meter di antara mereka hingga Milly bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang mahal.

Jemari kokoh Arkan bergerak, menggenggam lembut namun tegas tangan Milly yang mulai mendingin.

"Tenang, Milly," bisik Arkan rendah, suaranya terdengar begitu kokoh dan menenangkan di tengah badai kepanikan yang melanda benak gadis itu. "Di depan mereka, kau adalah calon istriku. Apa pun yang pernah kau lakukan di masa lalu, sekarang berada di bawah yurisdiksi dan perlindungan Mahendra Group. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu, ataupun keluargamu."

Milly mendongak, menatap sepasang mata elang Arkan yang berkilat penuh keyakinan mutlak. Untuk pertama kalinya, di balik sifat kaku dan perhitungan rumit sang Presdir, Milly merasakan sebuah perlindungan yang nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!