Hiatus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alput2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Cafe
Pukul 13.30...
Ketika bel pulang baru saja berbunyi, Tiara dan Fina langsung keluar dari kelas.
"Gila, Fin. Soal matematika nya bikin tremor. Kayaknya dari 40 soal tadi aku cuma bener 2 deh", curhat Tiara.
"Parah banget itu mah kalo cuma bener dua", lanjut Fina.
"Aduhh, pusing pusing"
"Eh, Ra, kita nongkrong di kantin dulu yuk", ajak Fina. Sebenarnya Fina ingin menanyakan apa makanan , dan bunga kesukaan Tiara. Semalam Fina memang sudah menanyakan hal itu pada Tiara, tapi Tiara menjawab dengan asal .
"Gak ada duit", jawab Tiara.
"Nongkrong doang kok, bukan makan"
"Yang ada ntar kita diminta bantuin nyuci piring sama ibu kantin ", lanjut Tiara.
"Yaudah , gak jadi. Sebenernya aku cuma mau nanya. Makanan kesukaan kamu apa?", Tanya Fina. Tiara berhenti sejenak dan menatap heran pada gadis itu.
"Dari semalam pertanyaan lu itu terus ya"
"Jawab aja napa"
"Semalem kan udah gue jawab", bantah Tiara .
Ya maklum, Tiara memang orang yang mudah curiga. Ada orang yang menanyakan tentang makanan yang disukainya pun dicurigainya.
Karena Tiara tidak mau menjawab, mereka berdua pun pulang masing masing.
*
Sesampainya di rumah, Fina meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajarnya. Lalu ia memeriksa hp nya dan membuka WhatsApp nya, terlihat nama Arsenio berada di pesan teratas. Fina segera membuka notifikasi dari lelaki tersebut.
Arsenio
Fin, gimana?
Arsenio
Tiara jawab apa?
Fina segera mengetik pesan untuk membalas.
^^^Fina^^^
^^^( Mengetik )^^^
^^^Fina^^^
^^^Dia gak mau jawab^^^
Arsenio
Hmm
Arsenio
Mungkin kamu nanya nya kurang ngegas
^^^Fina^^^
^^^Udah ngegas kali^^^
^^^Fina^^^
^^^Tapi kalo masalah makanan sih, setau gue apapun yang dikasih Tiara mau mau aja^^^
^^^Fina^^^
^^^Ditawarin Pocky bekas tong sampah juga mau mau aja dianya^^^
Arsenio
Hm
Arsenio
Oke dah
Setelah itu pesan ditutup.
*
Keesokan harinya...
Hari pengumuman olimpiade. Ketika pukul 8 pagi, seluruh siswa Arison Senior High School sudah dibariskan di halaman sekolah.
"Baiklah anak anak kami semua. Pagi ini kami akan mengumumkan tiga besar juara olimpiade sains antar kelas. Olimpiade sains ini terdiri dari 4 pelajaran, yaitu matematika, fisika, kimia, dan biologi. Jadi, nanti akan diumumkan total 12 orang pemenang dari masing masing bidang.", Ujar seorang guru di atas podium.
"Dan 12 orang ini nantinya akan diizinkan untuk mengikuti perlombaan antar sekolah dalam bidang yang sama", lanjut guru laki laki itu.
"Oke, saya bacakan dulu pemenang olimpiade matematika. Juara pertama adalah.."
.
.
Juara pertama dalam bidang matematika ialah Rangga Aziel. Sedangkan juara pertama dalam bidang biologi ialah Tiara. Dan hebatnya Rangga Aziel juga mendapat kan peringkat kedua dalam bidang biologi, serta peringkat satu dalam bidang fisika.
Ketika pengumuman sudah selesai, para juara yang tadinya di panggil ke podium segera kembali ke barisan kelas masing masing.
Sementara Tiara , dia hanya mengikuti dua bidang, yaitu matematika dan biologi. Dia tak mendapat kan peringkat dalam olimpiade matematika tersebut.
Dengan membawa sebuah piala dalam genggaman, Tiara turun dari podium dan teman sekelasnya langsung mengiringi nya dengan tepuk tangan.
Kecuali Teressa tentunya.
"Selamat ya, Ra",
"Selamat Tiara"
Berbagai sambutan selamat didapati Tiara saat ia kembali ke barisan.
"Pengumuman selesai. Barisan sudah boleh bubar", ujar guru laki laki tadi di atas podium.
Para murid pun satu persatu membubarkan barisan mereka untuk kembali ke kelas masing masing.
Tapi barisan siswa kelas 12 IPA 1 masih berkumpul di halaman sekolah. Sebenarnya beberapa kelas lain juga begitu, masih ingin menikmati suasana di halaman sekolah.
Selagi Tiara tengah dikelilingi oleh teman teman sekelasnya , tak berapa lama kemudian datang seorang lelaki yang berjalan mendekat ke arah Tiara.
Itu Ares.
Para siswa yang mengelilingi Tiara pun memberi jalan untuk lelaki itu. Sementara Tiara? Dia menatap Ares yang tengah berjalan kearahnya dengan keadaan mematung . Rasanya seperti tengah dijemput oleh pangeran.
"Selamat ya", ujar Ares dengan senyum kecil, lalu Ares pergi kembali ke barisan kelasnya.
Jantung Tiara rasanya ingin loncat. Tiba tiba terasa muncul kupu kupu dalam perut.
Tiara hampir saja teriak kegirangan, tapi dia harus membuat dirinya terlihat stay cool. Padahal Ares hanya mengucapkan dua kata, tapi hal itu berhasil membuat Tiara tak bisa berkata kata.
Setelah Ares menghilang masuk dalam barisan, Tiara masih saja mematung seperti tadi.
"Heh, kamu ini kenapa?", Fina menggoyang goyangkan lengan Tiara.
"Hah? Memangnya aku kenapa? Ga kenapa napa kok", jawab Tiara. Padahal dari tadi dia nge-fly.
"Udah yuk, masuk kelas", ajak Fina . Tiara mengikuti. Dan para siswa di sekitar mereka pun mulai memasuki kelas mereka masing masing .
*
Pukul 4 sore..
Tiara menyusun pialanya dalam lemari khusus piala miliknya. Saat tengah sibuk menyusun piala, terdengar suara dering handphone nya yang ia letakkan tak jauh dari lemari piala.
Tiara dengan malas berjalan menuju telepon tersebut dan mengangkatnya dengan malas juga.
Tiara malas teleponan, ia lebih suka chatting saja. Soalnya Tiara pernah baca kalau terlalu sering mendekatkan handphone ke telinga, perlahan bisa merusak telinga dan otak .
Tiara melihat nama yang muncul pada layar . Arsenio.
Oh, Tiara langsung mengingat tentang janji semalam. Harusnya sore ini ia pergi ke cafe bersama Arsenio.
"Matiin gak ya?", Tanya Tiara.
Sebenarnya Tiara segan untuk mematikan telepon itu.
Ah, sudahlah, angkat saja.
"Halo?"
Tiara memulai percakapan.
"Tiara lo ingat syarat semalam kan? Lo masih di rumah? Mau gua jemput?", Arsenio memberikan tiga pertanyaan sekaligus.
Tiara tertawa dalam hati.
Lawak, lu aja gak tau rumah gue dimana, ujar Tiara dalam hati.
Jangankan Arsenio, Fina teman terdekat Tiara pun tak pernah tau keberadaan rumah Tiara. Karena ibu Tiara meminta Tiara untuk merahasiakan rumah mereka.
"Lawak, kamu aja gak tau rumah aku", sembur Tiara.
"Ya makanya kasih tau, biar gua tau"
"Kayaknya gak penting deh"
"Btw, gua udah di cafe nih. Lo buruan kesini ya. Kalo Lo tiba tiba berubah pikiran mau minta dijemput, bilang aja"
"Enggak enggak, jangan jemput. Aku kesana sekarang", ujar Tiara lalu menutup telepon.
*
Setelah selesai bersiap siap di kamarnya, Tiara pun segera keluar dari rumah. Dia membawa sebuah ransel. Bayangkan, cafe El mounte ialah cafe untuk makan minum bersama pasangan, Tiara malah membawa ransel besar seperti ransel mau mendaki gunung..
Isi ransel itu ialah buku buku bacaan untuk olimpiade biologi lusa. Yang dibayangkan Tiara saat di cafe nanti, ia cuma duduk diam selama berjam jam karena Tiara tentu tak punya uang untuk beli makanan di cafe itu. Jadi Tiara membawa buku buku pelajaran untuk dibaca disana. Menyedihkan sekali.
Dengan perjalanan selama 3 menit, akhirnya Tiara sampai di cafe yang ditentukan Arsenio. Cafe El Mounte itu ternyata cafe sederhana tapi aesthetic dan terlihat banyak tanaman tanaman hias di bagian dinding cafe.
Suasana cafe memang cukup ramai orang, tapi tetap terasa adem, mungkin karena disini tidak ada dinyalakan jedag jedug seperti di cafe sebelahnya.
Ketika Tiara masuk ke dalam, tak jauh dari pintu masuk, sudah terlihat Arsenio yang sedang fokus ke layar hp nya. Tapi lelaki itu terlihat terkantuk kantuk.
Tiara berniat ingin mengejutkan lelaki itu dengan menggebrak meja, tapi tidak jadi karena kalau sampai Tiara melakukan itu, pasti dia akan dihusir oleh pelayan cafe.
"Oh, ternyata Lo udah nyampe", ujar Arsenio yang menyadari kehadiran Tiara.
"Ho oh", jawab Tiara asal.
Tiara lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Arsenio. Nah, sekarang apa yang harus Tiara lakukan?
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya Arsenio membuka suara.
"Lu ngapain bawa tas gunung?", Tanya Arsenio.
Tiara diam sejenak sambil memandangi tasnya. Iya, benar juga. Untuk apa dia bawa ransel sebesar ini?
"Ng.. ini isinya buku buku. Ya.. gitu, gua mau baca buku disini. Hehe", jawab Tiara . Arsenio mengangguk angguk.
Dan sekali lagi, mereka berdua diam sejenak.
"Ng, makanan favorit Lo apa?", Tanya Arsenio memecah keheningan.
"Gausah Sen, gausah. Aku ga usah makan apa apa di sini", jawab Tiara.
Yang ditanya apa , yang dijawab apa.
"Sebut aja makanan yang Lo mau. Gua bayarin", ujar Arsen. Mata Tiara melotot.
"Eng.. enggak enggak, jangan . A-aku mau baca buku aja. A-aku kesini kan cuma mau... nemanin kamu doang. Perjanjian nya kayak gitu kan? I-iya kan?", Tanya Tiara agak gelagapan.
Apakah ini yang disebut tremor?
Jujur saja, entah kenapa Tiara sejak awal masuk ke dalam cafe dan melihat Arsenio disini, jantungnya berdetak tak karuan. Sebelumnya ia tak pernah pergi keluar rumah dengan lelaki tak sedarah, mungkin karena itu Tiara merasa agak tremor kali ini.
Padahal kalau di sekolah, ia tak pernah gugup bertemu Arsenio. Kenapa kali ini dia gugup? Karena beda tempat kah? Apa karena Arsenio kali ini terlihat sangat dingin?
"Lu kenapa diem diem baek? Gak ada yang mau ditanya ke gue gitu?", Tanya Arsen.
Tiara kebingungan lagi. Apa yang harus ditanyakan nya? Dan saat ini keadaan benar benar canggung.
Jadi Tiara diam diam mengeluarkan hp nya dan menyalakannya di bawah meja. Arsenio masih diam seperti tadi, dan sekali sekali menatap ke arah Tiara.
Tiara melirik ke bawah untuk mengetik sesuatu di laman pencarian google.
Topik pembicaraan kepada lawan jenis yang tidak membosankan
Itu yang Tiara ketik di laman pencarian . Tak lama kemudian, terdengar suara dari google yang cukup keras karena saat itu hp Tiara dalam keadaan full volume .
Google : Berikut ialah beberapa topik pembicaraan dengan lawan jenis yang bisa kamu coba
Tiara melotot panik. Dia tak sempat mengecilkan volume hp nya tadi!
Ya ampun gara gara google, gumam Tiara.
Tiara tak habis fikir atas kecerobohan nya tadi. Harusnya dari awal ia mengecek volume hp nya dulu.
Dan Arsenio kini tengah melihat ke arahnya dengan tatapan kosong. Apakah Arsenio mendengarnya tadi? Sepertinya iya.
Karena sudah terciduk tadi, Tiara pun segera memasukkan hp nya ke dalam ransel . Dan ketika ia kembali menatap Arsenio..
Argh! Jantungnya semakin berdetak tak karuan . Rasanya canggung sekali.
"A.. Arsenio, a-aku cuma mau bilang.. aku.. deg degan dekat kamu", ujar Tiara pelan.
Arsenio yang awalnya menunduk melamun, segera mengangkat kepalanya , menatap ke arah Tiara .
Arsenio lantas menahan senyumnya. Lalu terlihat semburat merah pada pipi lelaki itu.
Eh? Lelaki ini blushing?
Lah? Kok nih anak malah blushing? Jangan bilang dia baper gara gara gue ngomong gitu doang, batin Tiara.
Tiara deg degan sejak awal bukan karena ia merasa jatuh cinta pada Arsenio. Tidak. Ia hanya canggung dengan Arsenio karena kali ini lelaki itu terlihat sangat dingin. Itu saja.
Beberapa detik kemudian, pipi Arsenio terlihat sudah tak memerah lagi. Tiara pun kebingungan lagi untuk mencari topik pembicaraan. Setelah mereka berdua terdiam selama beberapa saat, Arsenio akhirnya membuka suara.
"Btw...", Jeda Arsenio agak lama.
Arsenio menatap mata Tiara. Tiara pun spontan gelagapan, dan rasanya.. ia kaku mendadak. Entah kenapa jantung Tiara kembali berdetak tak karuan. Firasat Tiara, Arsenio sedang ingin mengatakan sesuatu yang berasal dari lubuk hatinya.
Entah lah, Tiara hanya menebak nebak saja karena raut wajah Arsenio terlihat cukup serius. Sampai akhirnya Arsenio melanjutkan perkataannya.
"Gue suka sama Lo, Tiara"
THIS!
aku nyicil aja takut kakak tipe yang ga boleh bom like
awal yang menyenangkan