Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Dan Minyak
Gesekan antara Bilawal dan Makaila sudah mulai semakin terasa, sejak kejadian semalam membuat Makaila semakin murka dengan manusia bernama 'Bilawal'.
Keisengannya membuat Makaila harus berurusan dengan security di sana dan untungnya ada pamannya yang membantu Makaila menyelesaikan masalah. Setelah melihat CCTV memang ia dinyatakan tidak bersalah karena dijebak oleh temannya.
Rasa dendam di hati Makaila semakin menjadi menjadi sampai sudah menusuk ke dalam tulangnya. Tidak ada kompromi lagi saat harus berhadapan dengan Bilawal.
Tidak seperti biasanya pagi ini Bilawal dan kawan-kawannya datang lebih pagi dari biasanya, ada rasa sedikit heran dan curiga saat Bilawal dan kawannya mengikuti pemeriksaan saat melewati gerbang.
Kedua bola mata Makaila sedari tadi terus mengikuti langkah kaki Bilawal dan temannya saat mengikuti pemeriksaan OSIS. Bilawal mendapati Makaila sedari tadi terus mengawasinya dengan wajah yang jutek serta tatapan sinis.
Namun bukan Bilawal namanya jika tidak bisa membuat Makaila menjadi kesal di pagi hari, senyumannya sedikit menggodanya membuat Makaila semakin kesal dibuatnya.
Dadanya seolah mendidih karena mengingat kejadian semalam, kedua tangannya menggenggam begitu erat. Ingin sekali Makaila menonjok wajahnya. Tiba-tiba Makaila menangkap sesuatu yang diucapkan oleh Bilawal setelah melewati pemeriksaan OSIS.
Sebuah kata yang hanya bisa dimengerti olehnya, tidak bersuara haya gerakan mulut saja Makaila sudah bisa menebaknya dan membuat dirinya semakin tidak bisa menahan diri.
"Klepto." Gerakan bibir Bilawal tanpa mengeluarkan suara namun Makaila bisa menebaknya.
Dadanya bergemuruh dan napasnya begitu cepat serta kedua matanya membulat sempurna menatap tajam Bilawal. Sebisa mungkin Makaila mencoba menahannya agar tidak meledak di depan semua orang.
"Awas kamu, Bilawal!" gumamnya dalam hati dengan sorot matanya begitu tajam menatap Bilawal.
*
*
*
Bel istrahat berbunyi Bilawal dengan langkah cepat dan lebar menuju ruang OSIS mencari seseorang. Terlihat wajahnya penuh dengan amarah serta sorot matanya yang begitu tajam.
Ia mencari seorang yang menjadi incarannya karena sudah ikut campur ke dalam masalahnya. Sesampainya di sana Bilawal berhasil menemukan Waski yang sedang memeriksa beberapa laporan di laptop.
Tanpa banyak bicara ia menarik kerah baju Waski dan menyeretnya keluar ruangan lalu membawanya ke suatu tempat.
Waski kaget bukan main dengan kedatangan Bilawal dan teman-temanya, apalagi tidak ada kata yang keluar dari mulut Bilawal membawanya begitu saja bagaikan penjahat.
"Al, lepasin gue!" Pinta Waski dengan begitu ketakutan mengikuti langkah kaki Al yang membawanya seperti penjahat.
Bilawal tidak menjawab ia terus melangkah kakinya dengan sikap dingin tanpa berdosa, semua murid melihat ke arahnya saat membawa Waski secara paksa.
"Nggak usah banyak ngomong lo!" bentak Kentaro yang berjalan di belakangnya.
"Gue salah apa, Al?" tanya Waski sambil terus berjalan menyeimbangi langkah kaki Bilawal yang lebih cepat darinya.
Masih sama tidak ada kata yang terucap dari mulut Bilawal, sikapnya masih dingin dan namun sorot matanya tajam memendam amarah.
Siswa yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil sesekali berbisik tidak bisa membantu Waski karena ketakutan, sampai akhirnya Makaila melihatnya dari kejauhan.
Ia melihat Bilawal membawa temannya yaitu Waski ke belakang sekolah, takut akan terjadi sesuatu kepada Waski akhirnya Makaila memutuskan untuk menyusulnya.
Tidak perduli apa yang akan terjadi saat ini hanya dirinya yang bisa menolong Waski memanggil guru saja percuma karena tidak akan membuat Bilawal dihukum berat.
Disandarkannya dengan kencang tubuhnya ke tembok belakang sekolah sehingga membuatnya sedikit merasa kesakitan. Lehernya tercekik karena Bilawal menggenggam erat kedua kerah bajunya.
Waski tidak bisa melawannya karena tenaga Bilawal sangat kuat, ya seorang yang suka sekali bermain boxing bukan lawan yang sepadan bagi Waski hanya anggota OSIS.
"Gue udah bilang sama lo jangan ikut campur sama urusan gue." Suara Bilawal terdengar sangat tenang namun begitu mematikan ketika didengar.
"Bukan gue yang bilang, Al. Tapi Nares," jelas Waski mencoba membela dirinya dari amukan Bilawal.
Deg, satu nama yang membuat Bilawal semakin marah saat mendengar namanya yaitu Nares mantan sahabatnya, Dulu.
Bagaimana Bilawal tidak merasa geram dan kesal karena Waski tidak sengaja memberitahu keberadaan Bilawal pada anak sekolahnya lain yang ternyata musuhnya.
Ya, kemarin sepulang sekolah ada beberapa orang menunggu di dekat sekolah mencari informasi di mana keberadaan Bilawal.
Saat itu hanya ada Waski dan Nares secara tidak sengaja baru keluar dari gerbang dan tidak tahu jika mereka musuh bebuyutannya Bilawal.
Salah satu di antaranya bertanya di mana keberadaan Bilawal dan Nares memberitahukan tempat Bilawal yang sering bersama teman-temannya.
Sebuah cafe yang menjadi tempat tongkrongan Bilawal saat bolos sekolah bersama temannya yang lain, ternyata di sana mereka tidak menemukan Bilawal hanya ada Daren dan dia menjadi sasaran empuk mereka melampiaskan emosinya.
"Tapi lo juga ada di sana, kampret!" Kentaro semakin kesal dibuatnya.
Waski hanya bisa pasrah saat Bilawal dan temannya akan memukul dirinya, belum sempat Waski berbicara sebuah pukulan ia terima pada bagian perut bawahnya.
Buk....Pukulan Bilawal mendarat tepat di perut bagian bawah Waski membuatnya teriak dan merintih kesakitan.
"Aaawwwww...." Teriak Waski sedikit membungkuk menahan rasa sakit di perutnya.
Seketika Waski jatuh tersungkur sambil memegang perutnya, lalu pukulan Bilawal kembali mendarat di pipi kanan Waski yang tidak sempat untuk melindungi dirinya.
Rasanya emosi Bilawal semakin menjadi dan ia memukuli Waski berkali-kali, dengan rasa lelah Waski tidak bisa melawan dan hanya bisa melindungi dirinya sambil meringkuk kesakitan menutupi bagian kepala dan wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Beberapa saat Bilawal melampiaskan emosinya kepada Waski sampai akhirnya semuanya terhenti saat sebuah sepatu kets berwarna hitam mendarat tepat mengenai kepalanya.
Btak....Sebuah sepatu mengenai kepala Bilawal begitu sangat kencangnya, sontak Bilawal merasa sedikit kesakitan dan kaget begitu juga dengan semua temannya yang ada di sana.
Terlihat sepatu perempuan tergeletak tidak jauh dari kakinya, diambilnya sepatu itu dan mereka semua menoleh secara bersamaan.
Seseorang sudah berdiri menunggunya dengan senyuman sinis sedikit menggoda seakan menantangnya, dia adalah Makaila.
Melihat kehadirannya membuat Bilawal kembali tersulut emosi.
Mereka saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam memendam dendam dan emosi. Sebenarnya saat ini Bilawal sedang malas sekali berurusan dengan Makaial, tapi ia sudah mencampuri urusannya.
"Wah, ternyata makin hari kelakukan lo makin brutal, ya?" sindir Makaila yang masih berdiri menatapnya dengan kedua tangan disilangkan kedepan bagian perutnya.
"Cih, bukan urusan lo?" Bilawal tertawa ringan dengan sorot yang menakutkan.
"Tinggal satu klik gue bisa bikin lo masuk penjara!" Ancam Makaila sambil menunjukan ponsel miliknya karena ia sempat merekam perbuatan Bilawal yang menghajar Waski.
Glek, ekspresi wajah Bilawal yang terlihat tenang mendadak berubah saat mendengarnya. Kenapa ia harus selalu dipertemukan dengan Makaila akhir-akhirnya.
Senyum simpul Makaila seolah meledek Bilawal sekaligus mengancamnya, jika sampai video itu tersebar bukan hanya dirinya yang akan mendapatkan masalah tapi juga teman-temannya.
"Coba aja sebar videonya kalau mau cowok idola lo celaka!" Bilawal balik mengancam Makaila dengan nada tegas.
Perubahan drastis terlihat jelas pada wajah Makaila saat Bilawal mengucapkan sesuatu yang membuatnya ketakutan. Apa yang dimaksud oleh Bilawal adalah Jhousan?
"Siapa namanya?" sindir Bilawal terlihat sedang mengingat nama lelaki yang disukai oleh Makaila.
"Oh iya, Jhousan." Bilawal mengucapkan sebuah nama yang membuat Makaila sangat ketakutan dan juga gelisah.
"Jangan macem-macem sama dia!" Ancam Makaila dengan nada suara sedikit meninggi.
"Hahahah.....Santai aja lagi, belum juga gue apa-apain dia, udah panik aja," sindir Bilawal mengejek Makaila dengan terlihat sedikit gugup.
Sial kenapa semua harus berakhir seperti ini, sungguh sekarang yang berada di dalam masalah adalah Makaila bukan Bilawal. Tapi mana mungkin Bilawal mau menggangu Jhousan yang notabennya adalah kakak kelasnya.
Tapi dengan Waski saja dia berani berbuat seperti apalagi kepada Jhousan, sungguh pikiran Makaila kini begitu kacau dan dilema.
Langkah kaki Bilawal berjalan menjauh dari Waski yang masih tersungkur babak belur kesakitan menuju Makaila yang berdiri dengan satu kaki tanpa sepatu.
Makaila yang tadinya tidak takut dengan sosok Bilawal kini entah kenapa menjadi sedikit gelisah, apalagi sorot mata Bilawal yang berbeda.
"Jadilah cewek yang patuh dan baik, jangan suka ikut campur urusan orang lain kalau mau hidup tenang," ucap Bilawal terdengar seperti sedikit mengancam Makaila.
Wajahnya yang tadi terlihat sedikit ketakutan kini berubah menjadi percaya diri dengan senyum ringan di bibirnya.
"Gue nggak akan biarin lo berbuat seenak jidat di sini!" Gertak Makaila sambil menginjak kaki kanan Bilawal dengan kaki kirinya begitu sangat kuat.
Bilawal terperanjat kesakitan saat kaki Makaila telat mengenai jari-jarinya, sungguh ia selalu membuat kejutan bagi Bilawal.
"Anjirrr........!" Teriak Bilawal kesakitan sambil mengangkat kaki kirinya sedikit jinjit.