NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bersih bersih...

Matahari terik jam satu siang seolah membakar atap mobil pick up tua yang menderu kasar di mulut gang. Hawa panas yang menyengat bercampur asap hitam knalpot membuat udara di dalam kabin terasa makin mengimpit, padahal jendela sudah dibuka separuh agar angin bisa masuk ke dalam. tapi ternyata tetap tak bisa mengatasi hawa panas itu.

"Mbak, gangnya sempit banget ini. Mobil saya nggak bakal muat masuk ke dalam, bisa baret semua bodi sampingnya" kata Pak sopir sambil mematikan mesin mobil. "Barang-barangnya diturunkan di pinggir gang sini aja, ya?" kata supir pick up sambil menarik rem tangan.

Siska yang duduk di kursi penumpang depan seketika melotot. Wajahnya yang jelek karena cuaca panas semakin jelek karena mendengar perkataan sang sopir.

"Loh! Kok diturunkan di pinggir jalan?!" seru Siska dengan suara melengking tinggi. "Nanti koper-koper Tante kotor kena debu jalanan! Terus bawa ke dalamnya gimana?!" tanya Siska.

Beberapa warga lokal yang sedang duduk di pos ronda dekat posko RW langsung menoleh, mengamati mobil pick up dan dua wanita yang tampak asing di lingkungan mereka.

Ghea yang duduk di sebelah supir cuma bisa menghela napas panjang, punggungnya sudah pegal luar biasa. Tanpa menjawab Siska, ia langsung membuka pintu mobil dan turun.

"Pak, tolong bantu angkat dua kardus yang paling berat ini dulu ya, nanti saya tambah uang tipnya sepuluh ribu" ujar Ghea pada supir, lalu menoleh dingin ke arah Siska. "Tante turun. Bawa koper sama tas tangan Tante sendiri. Enggak usah banyak protes, dilihatin orang banyak."

Siska terpaksa melangkah turun dari mobil dengan wajah bertekuk masam. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas permukaan jalan paving gang bersemen yang agak bergelombang. Sambil menggerutu tanpa henti, ia menyeret koper besarnya yang rodanya sudah agak tersendat, menunduk dalam-dalam karena malu menjadi tontonan gratis anak-anak kecil yang sedang bermain kelereng.

Pintu kayu bercat hijau kusam itu didorong pelan, menimbulkan suara berderit panjang yang ngilu di telinga karena sudah lama tak di buka. Aroma ruangan tertutup yang pengap, bau semen basah, dan debu tipis langsung menyergap indra penciuman mereka.

Kontrakan dua petak itu terasa persis seperti oven raksasa di tengah hari.

Brak!

Ghea meletakkan dua kardus tebal berisi pakaian dan barang lainnya di atas lantai ubin semen yang kusam. Punggungnya terasa mau patah, tangannya gemetar, dan kuku jari manisnya yang cantik patah menahan beban kardus tadi.

Siska melangkah masuk, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan depan yang ukurannya tak lebih besar dari kamar mandinya di rumah lama.

"Ghea... ini seriusan ruangan depan cuma segini?" cicit Siska, suara angkuhnya perlahan berubah menjadi cemas dan tak berdaya. "Panas banget lagi! Mana AC-nya?! Kipas angin gantungnya juga karatan begitu, muter nya berisik kayak mau copot!"

Ghea menghela nafas. "Udah syukur ada kipas angin gantung, Tante" sahut Ghea ketus sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia melangkah ke sudut ruangan dan menekan saklar hitam yang kotor.

Kipas angin tua di langit-langit berputar lambat, memunculkan suara bletak-bletik yang bising namun tetap bisa mengibaskan hawa sejuk ke seluruh ruangan.

Siska berjalan pelan ke celah pintu seng di bagian belakang kontrakan yang berfungsi sebagai area dapur kecil dan kamar mandi. Begitu ia mendorong pintu seng itu dan melihat ke dalam, pekikan tertahannya kembali terdengar.

"Aduh! WC-nya jongkok?! Terus tempat airnya cuma pakai ember cat bekas?!" Siska memegangi dadanya, wajahnya tampak syok berat. "Ghea, Tante enggak bisa kalau suruh jongkok! Lutut Tante sering kambuh kalau di tekuk lama-lama, nanti kalau Tante enggak bisa berdiri lagi gimana?!" tanya Siska berseru keras.

Ia mengamati ember plastik putih kusam berisi air jernih yang menetes pelan dari keran besi berkarat. Dinding kamar mandinya hanya berupa plesteran semen kasar tanpa keramik sedikit pun.

Ghea yang sedang menyapu debu lantai dengan sapu ijuk bekas di sudut ruangan langsung menghentikan gerakannya. Matanya menatap Siska dengan pandangan lelah dan emosi yang sudah menumpuk di ubun-ubun.

"Terus Tante mau gimana lagi?!" tanya Ghea dengan suara yang mulai meninggi karena capek. "Uang tabungan aku cuma cukup buat bayar sewa kontrakan ini untuk tiga bulan ke depan! Mau cari yang ada closet duduk, shower, sama AC, uang dari mana lagi, Tante?! Tante punya uang simpanan?!" tanya Ghea.

Siska menunduk diam. Muka cantiknya yang biasa dirawat di klinik kecantikan kini tampak lusuh dan berkerut. Ia menunduk, tak berani membalas gertakan Ghea karena sadar betul dirinya sama sekali tak memegang uang sepeser pun saat ini.

Ghea mendesah kasar. "Masih untung kita punya tempat tinggal Tan, dari pada tidur di jalanan" jelas Ghea lagi.

Bip... bip... bip...

Tiba-tiba suara ketukan ritmis bersahut-sahutan berbunyi nyaring dari kotak meteran listrik digital di dekat pintu depan. Lampu indikator warna merah berkedip-kedip cepat, menandakan kuota kWh listrik mereka hampir menyentuh angka nol.

Ghea memejamkan mata rapat-rapat, memijit dahinya yang terasa sakit luar biasa. "Baru juga sampai, udah harus bayar token listrik." keluh Ghea kesal.

Ghea meletakkan sapu ijuk di dinding, lalu merogoh dompet dari dalam tas bahunya. Ia menghitung lembaran uang kertas lima puluh ribuan dan puluhan ribu yang tersisa di dalam slot kain dompetnya.

Ghea menatap Tante Siska. "Tante sapu dulu lantainya sampai bersih" suruh Ghea tanpa mau mendengar protesan lagi sambil menyodorkan sapu ijuk ke arah Tante Siska. "Aku mau ke warung depan gang beli token listrik sama pesan air galon. Kalau lantainya enggak disapu, Tante mau tidur di atas lantai berdebu?" tanya Siska sekaligus menjelaskan, lalu Ghea lalu mulai berjalan pergi.

Siska memandangi sapu ijuk berdebu itu di tangannya dengan raut wajah bingung bercampur jijik. Seumur hidup, ia tidak pernah memegang sapu, apalagi harus membersihkan lantai ubin kusam sendirian, ini terasa seperti penghinaan sekali untuk hidup nya.

Siska ingin protes kembali, namun melihat raut wajah Ghea yang terlihat sangat lelah dan siap mengamuk kapan saja, Siska akhirnya hanya bisa mengangguk pelan dan menelan kembali kata kata yang sudah ingin ia keluar kan.

Siska menatap Ghea yang mulai berjalan pergi. "Jangan lama-lama Ghea..." cicit Siska. "Em... Sekalian belikan es teh manis atau air mineral dingin buat Tante yah, soalnya Tante haus banget" bisik Siska canggung dengan menunduk takut jika permintaan nya akan membuat Ghea marah.

Ghea melirik sekilas. "Iya" sahut Ghea singkat pendek.

Ghea melangkah keluar dari kontrakan, meninggalkan Siska yang kini berdiri mematung sendirian di tengah ruangan sempit yang panas, memegang gagang sapu dengan tangan gemetar, benar-benar harus menghadapi kenyataan pahit dari kehidupan barunya yang serba terbatas.

Siska menatap sekelilingnya, ruangan berdebu dan rumah yang kecil yang hanya sepertiga dari rumahnya ini akan dia tempati untuk bertahan hidup.

Siska menatap atap dengan mata menerawang jauh. "Kapan kamu keluar Arkan...? Mama udah gak tahan hidup di kontrakan kecil jelek kaya gini..." keluh Siska dengan raut wajah tersiksa. Dia kemudian mulai menyapu lantai dengan ogah ogahan tetapi harus tetap bersih.

Siska menyapu sebiji keringat di dahinya. "Kalo ada kamu pasti kamu bakal bantu mama di sini" lirihnya lagi menyendu. Demi apapun Siska sungguh tak terbiasa hidup miskin melarat seperti ini. Bayangkan dari kecil dia sudah hidup mewah, lalu jungkir balik bagai sinetron Indosiar jadi miskin menyedihkan seperti ini.

Siska rasanya ingin mati saja.

.

.

.

.

★★★

1
KakLia
bagus ceritanya!!
Rita Rita
memang harus begitu Ghea, kamu yang bikin si Arkan bangkrut dan terpenjara kamu juga yg wajib menolong
Rita Rita
modelan pria seperti si Arkan itu paling kapok cuma sementara,, karena selingkuh itu penyakit. dan si Ghea juga ga bakalan setia,,,
Ayamgoreng: Emang pnyakit sih selingkuh tu. tapi tidak boleh berprasangka buruk loh Yo, sapa tau dia beneran mau yobat🤭
total 1 replies
Rita Rita
pelakor selalu menikmati hasil orang lain,dan Arkan sama Ghea menikmati hasil juga dari merampas harta orang
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
Ayamgoreng: ayoo di baca, sapa tau nanti bacanya sampe end😄😍
total 1 replies
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!